Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
pocong penggoda (Cerita lucu)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Sedari tadi Burhan menunggu notifikasi aplikasi ojek miliknya namun tidak segera ia dapatkan pelanggan. Ia mangkal sejak sore hari karena pagi hingga siang molor di atas kasur. Harap maklum, kan Burhan mangkal sejak sore sampe shubuh, itu pembelaannya saat diamuk emaknya disuruh bangun pagi.


“Kerja gak niat gitu minta kawin” Tiap pagi Emaknya selalu berteriak demikian. “Rejeki itu adanya pagi hari, makanya pagi-pagi bangun aktifitas, kamu malah mulai tidur. Tau gak kenapa kelelawar klo tidur terbalik? Soalnya mereka hidupnya gak wajar. Untung aja kamu gak ikut-ikutan tidur terbalik.”


“Aku ini anakmu, Mak. Burhan bukan kalong. Jangan disamain dong…” Burhan membela diri.


“Ya jadi anak itu haruse nurut apa kata Emak, gak bantah mulu.” Sergah Emak Burhan.


“Aduh, Emak ini tetep aja. Iya Mak, iya…” balas Burhan.


“Iya iya aja gak pernah dilakuin” kembali Emak Burhan ngomel-ngomel.


“Ealah jadi anak salah mulu.” Pikir Burhan.


Hanya 1 pelanggan yang ia dapatkan tadi sore. Mengantar pulang seorang karyawan yang berjarak 3 kilometer dari kantor orang itu menuju rumah tinggalnya. Ojek makanan tidak ia dapatkan. Ia masih menunggu di pangkalan khusus ojek online.


Biasanya sih Burhan tidak sendirian, tapi hari ini seolah semua orang benar-benar sibuk. Tidak ada yang mangkal malam ini. Kadang jam 11 malam kayak gini selalu ada order makanan. Bahkan jam 2 pagi juga ada.


Kali ini kesepian dirasakan Burhan, andai saja sore tadi ia dapatkan pelanggan banyak. Pasti sekarang ia akan pulang daripada nongkrong tidak ada temannya. Eh.. enakan sendirian lah tidak ada driver lain. Jadi kalau ada order ia dapatkan sendiri tanpa harus berebut dengan temannya.


Jalanan terlihat ramai, namanya juga kota. Sampai shubuh pun masih ada kendaraan berlalu-lalang. Tapi bagi Burhan tetap saja sepi tidak ada teman-teman yang biasa nongkrong bersama. Kadang ada driver lain yang ikutan mangkal bila tempat ini sepi driver.


“Mas, kosong mas?” tiba-tiba seorang wanita muda menyapa Burhan.


Burhan kegirangan mendapat seorang pelanggan wanita muda. Cantik dan putih mulus. Memakai pakaian tank top warna putih. Glek.. Burhan meneguk air ludahnya. Tank top gadis itu menyembul di bagian dada. Ia kikuk dan kebingungan. Di satu sisi Ia harus sopan dengan pelanggan, di sisi lain gairah mudanya membara hingga matanya tidak lepas dari tubuh aduhai wanita muda itu.


Burhan menaksir wanita muda dan sudah matang ini mungkin berumur sekitar 30an. Kurang lebih dikitlah. Ia berumur 25 dan wanita ini mungkin 30 tahun. Tidak apalah namanya juga cinta. Meski beda 5 tahun masih bisa bersatu.


Hidung Burhan membaui sesuatu. Hmm.. wangi melati, wanita ini benar-benar membuatnya bergairah untuk mengantarnya ke tempat tujuan. Atau bahkan mengantar ke pelaminan pun Burhan mau, hehe… Burhan tersenyum kecil membayangkan wanita di depannya. Meski bau parfum melati itu agak aneh menurutnya. Mungkin itu menariknya parfum tersebut, pikir Burhan.


Sebenarnya ada sesuatu hal yang mengusik hati Burhan, entah apa itu. Burhan tidak mengerti.


“Kosong, Mbak” jawab Burhan. “Mau diantar ke mana, Mbak?” Tanya Burhan.


“Jalan Cempaka, Mas” jawab wanita muda itu.


Burhan pun mengambil helm penumpang dan menyerahkannya ke wanita itu. Wanita itu memberi isyarat pada Burhan untuk memakaikan ke kepalanya. Burhan jadi ke-ge-er-an memakaikan helm pada wanita muda itu. Jantung Burhan seakan mau copot saat helm sudah terpasang namun mata Burhan tertuju pada dada wanita itu. Buru-buru Burhan mengalihkan matanya tepat ke mata wanita di depannya. Hanya berjarak sejengkal saja wajahnya dengan wajah gadis itu.


Perasaan aneh itu datang kembali. Sepasang mata seperti tatapan kosong. Tidak ada gairah hidup di dalamnya. Hup.. Burhan menahan nafas sejenak. Ia membaui sesuatu. Bau busuk sempat menusuk hidungnya. Namun semerbak melati kembali menggantikan posisi bau busuk yang melintas di hidungnya.


Burhan segera kembali ke motornya. Lalu Memakai helm.


“Yuk, Naik” ajak Burhan sambil menstater motor maticnya.


“Iya” jawab wanita itu lalu menaiki motor matic dari belakang.

__ADS_1


Burhan kaget, tidak biasanya wanita yang memakai pakaian seperti ini duduk dengan cara mengangkang dan menghadap depan. Gak papa lah rejeki nomplok, hehe.. pikir Burhan. Pikiran mesum.


Burhan sudah menjalankan motornya. Perjalanan menuju jalan cempaka bakal memakan waktu lumayan lama. “Lumayan juga bersama wanita cantik. Anggap aja pacar. Ini rejeki orang sabar. Jadi orang itu harus sabar, biar subur.” Begitulah yang ada dipikiran Burhan.


Burhan membetulkan kaca spion motornya. Spion kanan ia arahkan untuk melihat kendaraan di belakang. Sedang spion kiri ia arahkan persis ke wajah penumpangnya.


Deg!


Seketika Burhan kaget bukan kepalang, sampai-sampai motornya oleng ke kanan dan kiri. Beruntung Burhan masih menguasainya sehingga tidak sampai terjadi kecelakaan.


“Kenapa sih mas? Kok tiba-tiba motor oleng?” Tanya wanita itu.


Burhan perlahan melihat kaca spion, syukurlah yang terlihat adalah wajah wanita itu. Aneh juga sih, tadi yang ia lihat pocongan, bukan wanita cantik ini.


“Oh, ndak papa, Mbak. Dekat wanita cantik jadi gugup saya, Mbak” kata Burhan menutupi kekagetannya dan masih dengan lagak genitnya.


“Hati-hati mas.. ntar klo sampe kecelakaan gimana? Trus kita mati gimana? Mas mau nemenin aku dikuburan? Saya gak mau mati lagi” Tanya wanita itu dengan polosnya.


“Klo nemenin cewek secantik mbak sih, saya mau aja mbak” Burhan mengerling genit melalui kaca spion. “Ngomong-ngomong kok tadi bilang ‘mati lagi’ sih, Mbak? Emangnya pernah kecelakaan, Mbak?” Tanya Burhan polos juga.


“Enggak mas, hihihi…” jawab wanita itu sambil ketawa kecil.


“Iya, Mbak. Saya akan hati-hati kok” kata Burhan sambil tersenyum. “Duh, Mbak. Cantik amat sih” Batin Burhan.


Perjalanan pun dilanjut menuju jalan cempaka. Jalan tujuan.. katanya sih rumah Mbaknya itu.


Motor telah memasuki jalan cempaka. Sebuah jalan beraspal kecil. Seukuran kampung tapi penuh sesak dengan bangunan di kiri kanan jalan. Beginilah kota metropolis. Kehidupan penuh sesak.


“Nomor berapa mbak rumahnya?” Tanya Burhan.


“13 mas” jawab wanita itu.


“sebelah mana, Mbak?” Burhan kembali bertanya.


“Lurus aja, nanti tak kasih tahu” kata Mbaknya.


Hampir berada di persimpangan jalan, tiba-tiba wanita cantik itu meminta Burhan berhenti.


“Stop.. stop.. mas.. sudah sampai”


Burhan pun berhenti.


“Rumahnya yang mana, Mbak? Astaga!!!” Burhan kaget, tiba-tiba wanita itu sudah berdiri disamping Burhan. Padahal Burhan tidak merasakan wanita itu turun dari motor.


“duh Mbak ngagetin saja” kata Burhan dengan nafas agak tersengal.


“Itu mas rumah saya.” Wanita itu menunjuk ke samping kanan jalan, sebuah rumah besar bergaya eropa dengan pintu gerbang yang tinggi. Agak kontras apabila disandingkan dengan rumah di kiri kanan yang lebih mirip perkampungan.

__ADS_1


“Berapa mas?” wanita itu menanyakan biaya ojek.


“Klo buat Mbak sih gratis deh” jawab Burhan dengan pedenya, padahal dari tadi ngeluh gak dapat penumpang.


“Ya udah makasih ya, Mas ganteng dan baik” wanita itu mencubit dagu Burhan. “Besok main ke sini ya Mas, katanya mau nemein aku” kata wanita itu dan berlalu menyeberang jalan memasuki pintu gerbang rumah bergaya eropa tersebut. Tidak lama wanita itu pun sudah menghilang.


Burhan benar-benar kegirangan. Ia merasa mendapatkan durian runtuh. Wanita secantik itu dan punya rumah besar kayak gini menyuruhnya main ke rumah wanita itu. Apa kata Emaknya nanti klo tahu punya calon menantu secantik dan sekaya ini.


Burhan kembali menstater motornya dan menjalankannya lurus ke depan. Di atas motor ia tersenyum sendiri. Membayangkan kecantikan wanita itu. Namun ia menyadari sesuatu. jalan arah pulang haruse memutar balik bukan lurus. Klo lurus ia akan semakin menjauh karena lokasi ini di ujung timur. Sedangkan rumah dan pangkalan ojeknya berada di sisi barat pinggiran kota.


Burhan pun memutar motornya. Ia sekarang berbalik berlawanan arah datangnya tadi. Jadi ia akan melewati rumah wanita tersebut. “Hihi.. kali aja wanita itu di depan rumah, siapa tahu sekalian ngobrol” kata Burhan dalam hati.


Namun betapa kagetnya Burhan saat melewati lokasi rumah wanita tadi. Yang ia lihat sekarang bukanlah rumah bergaya eropa, melainkan tanah kuburan!


Burhan tidak percaya dengan yang dilihatnya. Ia pun menghentikan motornya, lalu mengucek-ucek matanya. Jelas sekali yang ia lihat ini adalah kuburan. Tiba-tiba terdengar suara ngikik di samping kanan.


“Hihihi.. sini Mas, temenin aku di sini katanya mau nemenin aku dikuburan hihihi…” suara wanita tadi.


Burhan pun perlahan menoleh ke asal suara. Ya ampun, ia melihat pocongan wanita ketawa-ketiwi. Detik itu pula Burhan melarikan motornya secepat kilat menjauh dari lokasi pemakaman umum. Jalanan malam tidak begitu banyak kendaraan, Burhan pun leluasa melarikan motornya dengan kencang.


Setelah jauh dari area pemakaman, Burhan baru menyadari bahwa dari tadi terdapat keanehan yang dirasakannya namun selalu ia tepis. Makanya tadi motornya tidak terasa membonceng orang, rasanya seperti ia sendirian di atas motor.


Ia juga menyadari bahwa bau busuk dan bau melati itu bersumber dari wanita tersebut yang merupakan se.. seorang apa seekor? Atau seonggok pocong? Masa bodohlah.. pokoknya bagi Burhan ia harus segera pulang. Satu lagi keanehan yang baru disadari oelh Burhan. Wanita itu tidak memiliki bayangan tubuh!!!


Hiii… tubuh Burhan bergidik ngeri.


Motor telah sampai di pekarangan rumahnya. Ia memarkirkan motornya sekenanya. Lalu berlarian masuk rumah dan tidur di samping Emaknya yang sedang tidur pulas.


Emaknya pun kaget bukan kepalang. “Eh, ini anak kenapa sih?” Tanya Emaknya.


“Hiii.. Mak, Burhan habis anter pocong, Mak” kata Burhan masih dengan nada ketakutan.


“Hah? Yang bener?” Emaknya tidak percaya.


Burhan pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Emaknya.


“Makanya jadi anak itu nurut sama orang tua. Untung kamu gak diculik sama tuh pocong, dia suka sama kamu.” Kata Emaknya sembari tertawa terkekeh dan mengambilkan minum untuk anaknya tersayang.


“Ampun, Mak.. ampun.. Burhan bakal narik ojeg pagi aja, gak berani lagi ojek malam” kata Burhan. “Tapi besok Burhan libur dulu ya Mak. Burhan ambil cuti dulu.”


Sudah dulu ya gaes, daripada semakin ngelantur.


Cerpen karangan : Windy aira


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2