
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Anto berjalan pelan. Tidak ada kendaraan sama sekali yang lewat. Jam satu dini hari. Jalanan pedesaan benar-benar sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Ia berniat menumpang bila ada mobil atau motor yang lewat.
Ia tadi turun dari bis antar kota antar propinsi di pertigaan jalan raya. Lalu ia menunggu kendaraan yang lewat menuju ke arah desa rumah neneknya. Lokasi desa sekitar 10 kilometer dari pertigaan jalan raya antar kota.
Sebenarnya ia tidaklah kemalaman sampai di sini. Rencananya tadi ia sampai di pertigaan jam 9 malam. Berhubung ada kecelakaan sebuah truk terguling dan menutup akses jalan utama. Kemacetan pun tak terhindarkan. Bis berhenti selama 3 jam menunggu mobil crane datang untuk memindah truk terguling tadi.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Anto pun sampai dipertigaan jam 1 dini hari. Alhasil tidak satu pun kendaraan lewat menuju desa neneknya. Setelah lama menunggu, Anto pun memutuskan berjalan kaki menuju desa nenek. Jarak 3 kilometer bukanlah jarak yang pendek. Jarak yang sangat jauh jika ia berjalan kaki.
Anto sudah menempuh setengah perjalanan. Ia tahu saat ia lihat jembatan yang menyeberangi sungai bengawan solo terlihat dari kejauhan. Anto pun semakin bergegas jalan.
Beruntung jalan yang ia lalui memiliki penerangan. Jadi ia tidak perlu takut melintasi jalanan tersebut meski dengan jalan kaki. Dulu waktu kecil ia terbiasa main bersepeda bersama teman-temannya. Pernah pula dimarahin neneknya gara-gara nenek tahu klo Anto bersepeda malam-malam melewati jembatan penyeberangan. Ia tidak tahu kenapa neneknya marah-marah waktu itu. Yang ia tahu, cerita dari teman-temannya bahwa jembatan ini dijaga oleh kereta kencana yang di dalamnya terdapat seorang putri kerajaan. Hahaha.. Anto ketawa dalam hati. Dulu ia percaya dengan cerita teman-temannya. Sekarang, setelah ia dewasa, ia meyakini jika cerita teman-temannya hanyalah cerita takhayul. Ada-ada saja, namanya juga anak kecil.
Sesaat setelah Anto mengingat hal itu, saat pula langkah kakinya memasuki jembatan tua, seketika itu pula angin seolah bertiup dengan keras. Hawa dingin menyeruak tiba-tiba. Anto menghentikan langkah kakinya. Kakinya berasa kaku tidak dapat digerakkan. Hawa dingin ini seolah membekukan kakinya dari telapak kaki hingga pinggangnya.
Aroma bunga melati bertebaran di sekitar jembatan. Hidung Anto seolah ditusuk-tusuk aroma bunga. Anto benar-benar kebingungan dengan keadaan ini.
Sesaat ia berpikir bahwa ia mengalami suatu penyakit. Namun setelah hawa sejuk bertiup di wajahnya, saat itu pula hawa dingin yang ada di kakinya berangsur-angsur hilang.
__ADS_1
Anto pun lega. Ia sudah bisa menggerakkan kakinya. Ia mulai melangkah kembali namun perlahan, ia agak takut jika sampai hawa tadi tiba-tiba datang kembali.
Perlahan ia sudah berada di tengah jembatan. Jembatan ini membentang dari utara ke selatan. Lumayan panjang ukurannya.
Kembali ia merasakan keanehan, di sekitar tempat ia berjalan, ia tidak merasakan angin malam. Air bengawan seolah berhenti seketika. Tidak ada bunyi suatu apapun yang ia dengar. Dunia seolah hampa dalam lengangnya. Aneh, pikir Anto. Ada apakah gerangan dengan malam ini? Pikirnya.
Anto berhenti melangkah. Ia memandangi sekitar jembatan. Berusaha melihat air bengawan dalam kegelapan. Benar sekali, air bengawan benar-benar berhenti mengalir. Tidak terlihat geliat airnya yang diterpa angin. Ia melihat ke atas, bulan sedang dalam purnama sempurna. Hanya awan, ya hanya awan yang bergerak di saat ini. Pula tubuhnya yang juga bergerak. Selain itu dunia seolah tiada kehidupan sama sekali.
Anto berpikir, buat apa dia berpikir yang tidak-tidak, lebih baik ia melanjutkan perjalanan. Masih jauh jarak yang harus ia tempuh dengan jalan kaki.
Sebelum kakinya sempat bergerak, telinganya mendengar sebuah suara dari depan sana. Seperti dari kejauhan di depan sana, ia mendengar suara derap kaki kuda disertai suara gemerincing. Seolah kereta kuda yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Heran, perasaan sudah tidak ada yang menggunakan kendaraan tersebut di daerah ini. Ia tahu betul.
Anto pun menghiraukannya. Mungkin masih ada yang simpan kendaraan tersebut dan ia tidak mengetahuinya. Lagian dini hari seperti ini biasanya kan pedagang pasar pada siap-siap dan berangkat ke pasar. Lumrah dan masuk logika Anto. Maka Anto pun melanjutkan langkahnya kembali.
Sudah hampir sampai di sisi jembatan ujung utara, Anto pun berpapasan denga kereta kuda tersebut. Ia melihat seorang kusir duduk mengendarai kuda. Sang kusir tidak terlihat jelas wajahnya. Anto berusaha memicingkan mata untuk melihatnya berharap ia mengenali kusir tersebut. Siapa tahu beliau tetangga nenek. Namun matanya tidak dapat menangkap wajah kusir tersebut. Hanya bayangan gelap yang menutupi wajah kusir.
Kereta yang ia lihat sejenis kereta tua namun terkesan mewah dan terawat. Layaknya kereta kerajaan.
Tiba-tiba kereta berhenti tepat di samping Anto. Dari samping kereta, Anto melihat jendela kereta terbuka. Dan sekejap sebuah wajah wanita dengan kecantikan yang luar biasa melongok keluar jendela.
__ADS_1
Wanita cantik tersebut memakai sebuah mahkota kecil. Layaknya kontestan yang memenangkan ajang pemilihan putri indonesia. Mahkota kecil tersebut berwarna emas berkilauan. Dengan sebuah batu permata merah di tengah mahkota tersebut. Anto tidak pernah melihat mahkota emas dengan warna berkilauan selama ini. Biasanya ia hanya melihat di film dan televisi mauoun channel youtube. Tapi semua itu hanyalah mahkota biasa. Yang ia lihat di hadapannya sekarang benar-benar mahkota berkilauan.
Wanita tersebut juga memakai anting emas berkilau dengan batu permata merah di tengah anting tersebut. Benar-benar menyiratkan seorang putri keraton entah dari kerajaan mana.
"Mas, mau tanya boleh?" tanya wanita tersebut.
Seolah mantra yang menghipnotis Anto, ia pun menjawab,"boleh, mbak"
"Ke jalan raya saya harus lewat mana mas?" tanya wanita tersebut.
“Lurus saja, nanti ketemu pertigaan itu sudah jalan raya” jawab Anto.
“Terima kasih, Mas Anto” Ucap wanita cantik itu.
“Sama-sama” Anto hanya memandangi kereta itu pergi menjauh. “Seingatnya, ia tidak pernah menyebut namanya tadi. Kok wanita tadi bisa tahu namanya ya. Hmm.. apa dia dari desa nenek? Lalu kenapa dia memakai pakaian seperti itu? Kalau mau ikut karnaval bukankah terlalu pagi dandan seperti itu? Terlalu pagi pula jika sampai di kota? Ahh.. sudahlah, jaman sekarang orang suka yang aneh-aneh” Anto pun melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di desa nenek, seluru penghuni rumah kaget melihat Anto datang malam-malam dini hari. Setelah menceritakan semua kejadian hingga alas an Anto tidak mau nelpon paman agar tidak mengganggu istirahatnya, sang nenek pubn berkata, “Oalah To.. dari dulu nenek bilang, itu jembatan ada penunggunya. Itu punggawa kerajaan yang menjaga perbatasan sejak jaman kerajaan. Prajurit dari golongan jin. Untung saja kamu gak diapa-apain. Klo kamu dibawa kea lam lain… kamu dari dulu gak percaya, makanya tadi ditemui penjaganya” cerocos nenek tidak henti.
“Sudahlah nek, Anto ngantuk, mau tidur.” Anto tidak mau memperpanjang, ia ngeloyor tidur.
__ADS_1
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.