Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Secret Love (Cerita Remaja)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Rasanya masih ingin berlama-lama dengan selimut yang menutupi.Akhir-akhir ini cuaca tak menentu, kadang dingin menusuk tulang, kadang panas membakar. Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari, ketika gawai berbunyi beberapa kali. Hanya missed call, setelahnya ada pesan masuk.


[Sudah tahajud, belum? Aku sudah menunggu depan pintu gerbang dari tadi. Pinjam uang 50.000.lupa bawa uang ke warkop tadi]


[Kebiasaan, tunggu sebentar, aku keluar]


Hampir tiap hari, lelaki ini seperti tak jera mengganggu tidurku, alasannya selalu sama, lupa bawa uang ketika pergi menikmati kopi bersama rekan-rekannnya. Tanpa cuci muka, kuambil jaket dan segera menemuinya, kasihan juga kalau ia terlalu lama menunggu.


Kusodorkan lembaran biru bertuliskan angka 50.000 di sela-sela pagar gerbang kosku.Iatersenyum manis ketika melihatku menghampirinya.


“Kebiasaan kau ini Rend, sering banget tak bawa dompet kalau mau ngopi.”


“Tak apa-apa warkopnya, kan, dekat dengan kosmu. Sekalian pengen lihat wajahmu kalau baru bangun tidur.”


“Ah, masak pengen lihat cewek ‘rembes’ sih, Rend?”


“Kenapa? Malu?”


“Enggaklah, aku ini, kan, manis, mau mandi atau tidak tetap manis. Sudah sana pergi!”


Ia terkekeh mendengar jawabanku. Sambil berlalu, ia teriak, “Tahajud ya! Jangan tidur lagi”.Lelaki itu menghilang ditelan remang-remang lampu jalanan.


***


Rendi Akbar Alamsyah, mahasiswa asal luar Jawa. Tampan dan berotak encer, “insklopedia” begitu banyak teman menjuluki lelaki itu.Aku mengenalnya ketika mengikuti diklat kegiatan organisasi ekstra kampus. Ia teman seangkatan, hanya saja beda jurusan, aku di jurusan Bahasa, sedang Rendi menyukai sejarah.


Aku lupa, sejak kapan diri ini mulai akrab dengan Rendi.Walau hanya sebatas teman tapi tak segan kutunjukkan kekurangannya.“Aku suka ceplas-ceplosmu,” begitu katanya.Kami biasa berdiskusi banyak hal.Koleksi buku-buku Rendi seperti perpustakaan tempat meminjam buku, terutama saat ada tugas makalah. Bahkan tak segan aktivis ini mengantar ke kos, memaksa diriku membaca beberapa buku yang baru saja dibeli. Lelaki ini memang penggila buku.Dari fiksi sampai ilmiah dilahapnya.Mata ini selalu berbinar melihat kecakapan yang dimiliki pria ini.


Obrolan kami semakin hari bertambah intens, tak hanya soal buku atau materi perkuliahan.Rendi adalah penghibur dan penenang kala aku mengalami banyak masalah. Entalah, pemuda ini seperti punya cara membuat tertawa. Sering kali sahabat karib ini mengirim puisi ketika melihatku sedih, pun ketika marah. Sajak-sajak itu membuat luluh lantak. Aku masih ingat ketika nilai IPK-ku tiba-tiba terjun bebas di satu semester, seketika lelaki ini mengirim puisi tentang wanita, dan diakhir kalimat,ia tuliskan, “Jangan bersedih! Kau tetap wanita hebat, nilai-nilai itu tak mempengaruhi siapa dirimu, Rania Salsabillah.”


****


Hari demi hari, kunikmati perhatian Rendi. Tak banyak yang tahu kedekatan kami sebab kami seperti punya cara menyembunyikan perasaan terutama ketika berkumpul bersama banyak kawan.Diam-diam saling mencinta dan mencemburui.Hanya teman tapi mesra sebab ada penghalang yang tak mungkin bisa ditembus. Melihat kebahagian masing-masing adalah cara kami mencinta, walau itu menyakitkan.


Beberapa semester berikutnya, ketika hubungan kami sedikit berjarak. Aku melihat Rendi sedang pendekatan dengan adik kelas kami, mahasiswa baru, ia pun memintaku untuk menjadi Makcomblang. Karibku ini sering menelefon kembali tengah malam hanya untuk bercerita dan meminta pendapatku tentang tindakan yang seharusnya,ia lakukan untuk mendapatkan cinta Raisa.


“Datang saja ke kos Raisa, pura-pura tanya ada berapa orang yang ikut ekstra organisasi kita di kos dia.”


“Gitu ya? ”

__ADS_1


“Iyalah…”


“Aku ragu, boleh tanya sesuatu, tidak?”


“Tanya saja.”


“Kalau misalnya ada cowok yang suka padamu, Bagaimana?”


“Emang ada ya?”


“Tentu ada, kau itu tipe-tipe perempuan yang mudah dicintai laki-laki.”


“Gombal, emang siapa saja yang suka padaku?”


“Ah, kau tahu tapi pura-pura tak tahu.”


Kami hanya saling diam digagang gawai masing-masing. Kesunyian malam mengingatkan kami tentang kondisi yang akan terjadi bila kami meneruskannya. Bagaimana pun juga, kedekatan kami akan tetap selamanya berstatus sahabat. Rendi tak ingin menyakiti wanita manapun, sebab ia tak bisa memilih wanita yang akan menjadi pendampingnya. Keluarga sudah memberi ultimatum bahwa lelaki ini harus menikah dengan anak kolega ayahnya. Aku memahami kondisi yang terjadi, pun tak berharap lebih selain menjadi sahabat terbaik.Kami berdua saling tahu perasaan kami, tapi lebih memilih memendam rasa biar tak terluka.Perasaan ini akhirnya hanya menjadi cinta rahasia antara kami saja.


***


Seiring berjalannya waktu, aku mulai realistis, ketika ada lelaki lain yang menyatakan keseriusan, maka kuambil resiko untuk belajar mencintai yang lain. Mengubur dalam-dalam perasaan terhadap Rendi.


Gawaiku berbunyi terus-menerus. Kulihat ada dua puluh lima kali panggilan masuk dari satu orang yang sama. Rasa ini, tak bisa membuatku tak acuh begitu saja.


[Datang ke sini! Aku menunggumu dekat taman fakultas. Cepetan!]


Kulihat Rendi bersikap sedikit aneh. Wajah yang biasa teduh terlihat merah menyalah dengan alis nampak saling beradu. Tatapan tajam seperti ingin menelan.Kalau aku roti, mungkin sudah dilumat habis. Kuuntai senyum, tapi tak ada respon balik.


“Kau marah?” lirihku menyembunyikan resah. Jarinya memberi isyarat agar segera duduk di sebelahnya.


Untuk beberapa waktu, kamihanya terdiam,sesekali menarik nafas panjang. Kubiarkan ia nyaman, sebelum akhirnya ada yang terucap dari bibirnya.


“Apa kau sekarang jalan dengan Saka?”


“Iya”


“Kenapa harus dengannya?”


“Maafkan aku, bukankah kau juga mendekati perempuan lain?”


“Hanya agar kau cemburu.”

__ADS_1


“Kau tahu betul perasaanku, Rend.Bukankah kau tahu ada alasan lebih dari sekedar cemburu?”


“Ya, aku tahu, tapi hatiku sakit melihatmu dengan yang lain.”


“Kita harus belajar merelakan, Rend, atau akan lebih semakin terluka.”


“Jika suatu saat kau jadi menikah dengan Saka, apa kau akan tetap menghubungiku?”


“Tentu tidak, Rend. Bukankah kau tahu alasannya. Tak pantas bukan jika seorang istri sering menghubungi lelaki lain tanpa adanya alasan. Aku yakin kau pun tak suka melihat wanita seperti itu.”


“Ini yang membuatmu berbeda dengan beberapa wanita yang kukenal.”


“Kau akan bercerita dengan suamimu tentang persahabatan kita?”


“Tentu, tak ada yang perlu disembunyikan, bukan?”


“Baguslah kalau begitu”


“Aku masih boleh menghubungiku?”


“Tentu, tapi atas sepengetahuan suamiku.”


“Apa kau bahagia dengan keputusanmu ini?”


“Bahagia,” lirihku walau kurasakan ada sesuatu yang berkecamuk di dada.


Rendi hanya menarik nafas panjang, kemudian mengajakku makan siang di warung favorit kami. Tak banyak yang dibicarakan. Kami hanya menikmati hidangan pesanan. Berpisah di pertigaan gang menuju kos kami masing-masing. Sebelum sosok itu benar-benar menjauh, ia katakan, “Jika Saka tak bisa membahagianmu, maka hubungi aku.”


Itu adalah obrolan terakhir dengan Rendi. Kami melanjutkan hidup masing-masing. Tak banyak yang kudengar tentangnya. Pernah sahabatku itu mengirim pesan kalau lambungnya bermasalah lagi. Aku hanya membalas pesan dan menyarankan agar tak mengosumsi ini itu. Penyesalan terbesarku adalah ketika tak bisa menjenguknya walau atas nama persahabatan.


Rendi masih memperhatikanku walau dari jauh.Lelaki borjuis itu bisa tahu kalau aku ada masalah dengan Saka. Seperti yang dulu-dulu, ia akan pura-pura butuh pinjaman uang yang tak seberapa, hanya untuk mengetahui kondisiku baik-baik saja. Padahal semua tahu, tabungan di rekeningnya tak habis tujuh turunan.


***


Sepuluh tahun telah berlalu.Kebahagiaanku dengan Saka semakin paripurna dengan kehadiran buah cinta kami.Sementara aku telah fokus sebagai ibu rumah tangga, kabar tentang Rendi pun tak banyak kuketahui. Mendengar tentangnya hanya dari laman jejaring sosial yang ia ikuti. Aku turut bahagia melihatnya menjadi bait puisi bagi perempuan lain.


Selain Saka, taka ada yang tahu kisah kami perdua. Hanya suamiku itu yang tahu bait-bait puisi yang dikirim Rendi untukku. Pun ia tahu seberapa besar kami saling mengagumi walau kondisi tak bisa menyatukan kami. Apapun itu, Ayah dari putriku inilah penyelamatku. Ia mengajarkanku arti mencintai, dan aku mencintainya hingga detik ini.


Pagi ini, 25 Oktober 2018, aku melihat sebuah stasiun televisi memberitakan kecelakaan beruntun di sepanjang jalan Johor Malaysia. Salah satu korbannya adalah putra mahkota dari perusahaan properti ternama PT. CIPTA ALAMSYAH, ialah Rendi Akbar Alamsyah, meninggal dalam perjalanan bisnis keluarga.


Bibirku keluh, butiran air menetes dari netraku.Saka hanya terpaku melihatku. Bagaimana pun juga Rendi adalah sahabat karibku.Ia pernah berada dalam kisah perjalanan hidupku. Aku mengaguminya dalam diam. Selalu mendoa untuk kebahagiannya. Kali ini kulepaskan ia menuju alam keabadian dengan doa yang kupanjatkan.

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2