
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Dulu… aku tak percaya akan adanya makhluk bernama hantu, bagiku makhluk horor itu hanya ada dalam dunia perfilman saja, dan tidak ada di kehidupan nyata. Menurut pendapatku, arwah orang yang sudah meninggal itu bertempat di dunia lain, yaitu alam barza, jadi sangat mustahil jika ada arwah gentayangan untuk mengganggu manusia.
Tapi… itu dulu, sebelum aku mengalami kejadian yang sangat menyeramkan sekali seumur hidupku sekitar setengah tahun yang lalu, memang sudah agak lama, namun ingatan akan kejadian itu masih begitu segar di otakku, seolah baru semalam saja aku mengalaminya.
Jadi… begini kisahnya, sekitar enam bulan yang lalu, sekolah kami mengadakan acara hiking dan perkemahan di pinggir hutan yang masih perawan, alias hutan itu belum tersentuh tangan jahil manusia. Suasana di pinggir sungai itu sangat nyaman dan menenangkan, begitulah kata guru pembimbing kami, Pak Arif.
Sehari sebelum acara hiking itu, kami bergotong-royong menyiapkan segala keperluan, termasuk menyiapkan tenda untuk bermalam dan bahan makanan untuk bertahan hidup. Paginya, setelah semua peserta hiking telah berkumpul di pelataran sekolah, dengan menggunakan jasa transportasi bus, kami berangkat dengan hati gembira.
Perjalanan panjang dan melelahkan tak begitu terasa manakala bus yang kami tumpangi melewati persawahan yang hijau ruyu-ruyu dan beberapa perkampungan yang hiruk-pikuk akan binatang peliharaan dan ocehan anak-anak. Hingga sampailah kami pada sebuah tempat yang lapang nan hijau oleh rumput. Pukul 14:00, jam tangan digitalku menunjukkan bahwa kami telah sampai di lokasi perkemahan ketika Matahari telah bergeser kebarat. Sholat Dzuhur telah kami laksanakan di mushola yang kami temui di perjalanan tadi.
Benar kata Pak Arifin, lokasi perkemahan ini berada di tepi hutan yang lebat, pohonnya besar-besar dan tinggi pula, tetumbuhan rambat dengan suka-hatinya menjalar di batang-batang yang meraksasa itu. Sedangkan celah antara pohon-pohon itu nampak gelap, aku sempat merinding menatapnya, sungai yang airnya bening dan bersih mengalir tak jauh dari lokasi, jadi aku rasa kebutuhan air akan terpenuhi, bahkan melimpah ruah di sini.
__ADS_1
Setelah semua peserta turun dari bus, kami segera bergabung dengan kelompok masing-masing yang telah dibentuk sebelum keberangkatan dari pelataran sekolah tadi. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang, lima putra dan lima putri, dan setiap kelompok itu harus memiliki nama yang diambil dari nama negara. Aku bergabung dengan kelompok Inggris, bersama keempat anak putri lain dan kelima anak putra.
Sebelum mendirikan tenda, kami dijadwalkan untuk makan siang terlebih dahulu dengan bekal yang telah kami siapkan dari rumah. Seusai kami menikmati makan siang dan istirahat sejenak, barulah kami mendirikan tenda. Setiap kelompok mendirikan dua tenda, satu tenda untuk anak cowok dan satunya lagi untuk anak cewek, tentu saja itu perlu, bahaya sekali kan, kalau anak laki-laki berbaur menjadi satu di dalam tenda dengan anak perempuan?.
“Ssstttt… tahu tidak… katanya di dalam hutan itu angker…” bisik Anna, salah satu anggota kelompokku. Kami bersembilan serentak menoleh ke arah Anna. “Hust! Jaga mulut, Anna!” Bentak Roger, si ketua kelompok. “Aku hanya memberitahu…” kata Anna, membela diri. “Kau tahu dari mana?” Tanyaku, sambil mengikat pancang tenda. “Dari internet…” jawab Anna. “Halah… kau ini, jadi korban hoax!” Ketus Salma, salah satu anggota kelompok kami juga.
“Terserah… tapi aku percaya” kilah Anna. “Tapi, aku tidak!” Sahutku cepat. “Kau baru akan percaya, setelah… setelah mengalami sendiri, Mia!” Kata Anna, sinis. “Mengalami apa? memangnya kau sudah? kau mendoakan aku mengalami sesuatu yang-yang aneh di sini?” Tanyaku, tidak senang.
Waktu terus berlalu, kami berenang di sungai yang bening itu, bbbrrrr!!! Airnya dingin sekali, aku tidak tahan berlama-lama di dalam air, setelah menggosok badan aku segera keluar dari air. Kami dilarang menggunakan sabun atau sampo, karena kata kakak kelas yang menjadi panitia acara, bahan-bahan toiletris itu dapat mencemari air sungai.
Setelah kami semua selesai bermandi ria, sesuai jadwal, setiap kelompok sudah sibuk dengan kegiatan masak-memasak di alam bebas dengan kompor darurat. Kelompok kami memasak Mie rebus dan telur, serta menjerang air untuk menyeduh kopi sachet. Bau Mie yang sedap menusuk-nusuk hidung, membuatku lupa akan cerita Anna tadi.
Hari telah beranjak menuju gelap saat kami usai makan malam, lampu-lampu flash segera dinyalakan. Seusai Sholat Magrib di dalam tenda, teman-teman bebaringan santai sebelum acara Jurit, aku menyelinap ke luar untuk menikmati langit malam. Bintang nampak berkilauan di langit, indah sekali, aku belum pernah melihat bintang-gemintang seindah itu, sebab kalau di kota, bias mereka redup karena tertimpa sinar lampu gedung-gedung. Sedangkan Bulan nampak berbinar di balik kabut tipis di penjuru timur, walau tak purnama, tetap saja indahnya tanpa cacat.
__ADS_1
Ketika aku sedang terbengong-bengong menatap langit yang membius itu, tiba-tiba terdengar olehku kakak panitia memanggil, supaya kami berkumpul di lapangan. Segera aku masuk ke dalam tenda untuk mengambil jaket dan lampu flash. “Mau ke mana kau?” Tanya Anna dengan heran. “Kau tidak dengar? Kakak panitia memanggil kita” jawabku sambil lalu. Sebelum keluar dari tenda, kutatap keempat teman perempuanku dalam tenda itu, paras mereka nampak heran melihat tingkahku. “Ayo… nanti kena marah kalau terlambat” kataku kemudian, sembari melangkah keluar tenda.
Setelah mengenakan jaket tebal untuk melindungi tubuh dari udara dingin di tepi hutan, aku segera berlari ke arah lapangan, lampu flash kugenggam erat agar tetap di tangan. Namun, entah bagaimana ini terjadi, saat aku berlari ke arah lapangan, di mana anak-anak lain akan berkumpul di sana, aku merasakan ada yang aneh dengan diriku. Ya, aneh… kenapa tiba-tiba suasana menjadi sepi? Di mana mereka? Di mana teman-temanku yang lain? Di mana tenda-tenda yang kami dirikan tadi sore? Di mana kakak panitia yang memanggil tadi? Di mana aku sekarang? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di otakku, aku seperti di dunia lain… sepi dan mencekam.
“Ayo… anak-anak… segera berkumpul…” tiba-tiba suara teriakan seseorang, yang menurutku kakak panitia terdengar lagi. Aku celingukan, mencari-cari sumber suara itu. Aku agak heran, ketika kusadari suara itu berasal dari arah sungai. Agak gamang dan takut-takut, kuarahkan lampu flashku ke arah darimana datangnya suara. Di tepi sungai itu, kulihat nampak bayangan… oh… bukan bayangan, tapi sesosok manusia berdiri di sana.
Tanpa ragu, aku berlari menghampiri sosok itu, menurutku, kakak panitia menyuruh kami berkumpul di tepi sungai. Aku sudah melupakan pertanyaan-pertanyaanku tadi, aku sudah tak peduli di mana aku berada, di mana teman-temanku, di mana tenda-tenda kami dan di mana kakak panitia yang lain.
Sekitar sepuluh langkah lagi dari sosok itu, tiba-tiba aku merasakan darahku tersirap dan berhenti mengalir, langkahku terhenti seketika hingga aku hampir terjatuh. Mataku tak berkedip melihat apa yang ada di depanku, kau tahu apa itu?
Dari dalam sungai itu, muncul-lah berpuluh-puluh makhluk yang mengerikan! Postur tubuh mereka layaknya anak kecil, namun kepala mereka besar-besar, lebih besar dua kali lipat dari kepala manusia normal. Mata mereka menyala-nyala, merah membara, bahkan ada beberapa di antaranya, matanya lepas dan tergantung!.
BERSAMBUNG...
__ADS_1