
SELAMAT MEMBACA ๐๐๐๐
[Aku akan datang sebagai salam perpisahan kita, sekaligus aku rela kau bersanding dengannya]
Sebuah pesan kukirimkan untuknya. Pria yang kutemani hingga lima tahun. Mantan kekasihku itu hanya berucap maaf dan beberapa emot tangan tertangkup.
Kusandarkan kepala di kursi, memijat-mijat pelipis walau sebenarnya tak sakit. Hatiku terlalu remuk menerima keadaan ini. Mas Doni, pria yang selama ini, kuharapkan menjadi imamku. Kini, ia bersanding dengan wanita lain. Temanku sendiri, Raina.
Ah, temanku itu tak pernah salah. Bahkan tak pernah tahu hubungan yang terjalin antara aku dan calon suaminya. Ia baru menyelesaikan kuliahnya dari negeri seberang, Malaysia. Ya, Raina hanya korban perjodohan orang tua. Yang kusesalkan kekasihku itu tak ada upaya untuk mempertahankan hubungan yang terjalin sekian lama. Ia seperti terpesona dengan sosok Raina, hingga lebih rela melepasku dan menerima segala titah kedua orang tua.
Sekarang aku di antara keduanya, sahabat dan mantan kekasih.
Sungguh hati sahabat yang mana, yang tak ingin sahabatnya bahagia, tapi ini sangat sulit sebab kebahagiannya adalah patah hatiku.
***
Beberapa rangkaian bunga sempurna menghias tiap sudut rumah sahabatku itu. Orang berlalu-lalang menyiapkan acara pengajian yang digelar nanti malam dan akad esok hari.
"Kamu sudah datang, Lun. Aku menunggumu dari tadi, lo. Kemana saja, si?" tanya Raina saat menyambutku datang.
"Tadi ada urusan pekerjaan sedikit, Rain. Maaf ya." Tangan Raina langsung merangkul pundakku dan membimbingku menuju kamarnya.
Terdiam. Aku hanya menuruti saja kemauannya. Di tunjukkan segala pernak-pernik hantaran yang kemaren dibawa oleh Mas Doni. Barang-barang yang terbungkus dengan apik itu membuat hatiku semakin remuk redam, sebab semua itu adalah barang yang pernah kuinginkan saat Mas Doni dulu menanyakan.
"Pilihan calon suamiku bagus-bagus, ya, Lun?" ucap Raina dengan semringah.
Aku hanya mengangguk. Tersenyum tipis.
"Oia katanya Mas Doni itu teman akrab kamu, makanya kalau milih barang bagus seperti kamu, Lun," lanjutnya masih berbunga-bunga.
"Baguslah, kalau kamu suka, Rain. Memang benar Mas Doni pernah tanya aku harus bawa untuk seserahan," jawabku sedikit berbohong.
Dipeluknya tubuhku dari belakang, "Seneng banget aku, Lun. Ada kamu yang ternyata juga sahabat calon suamiku. Jadi aku tidak bingung kalau mau tanya apa-apa."
Aku hanya tersenyum dan membalas rangkulannya.
Menit berikutnya ia membuka lemari dan mengeluarkan kebaya warna salem, diserahkannya baju itu padaku.
"Seragam ini harus kau pakai untuk acara besok!" Perintah Raina tak mau ditolak.
Sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum menerima pemberiannya. Kuletakkan baju berpayet itu di atas kasur dan beransur menuju balkon kamar Raina yang berhadapan dengan taman depan Rumah. Menghirup udara luar ternyata sedikit menenangkan perasaanku yang berkecamuk.
Malam ini, aku akan bertemu dengan Mas Doni di pengajian. Menyiapkan mental dan tentu saja berlaga bahagia satu-satunya yang bisa kulakukan. Andai waktu bisa berputar, aku akan memilih tak berkawan dan tak mengikat janji dengan mempelai pria itu. Andai waktu bisa kembali, maka seharusnya tak kuhiraukan saja segala janji yang telah ia ucapkan.
Bantu aku, Tuhan! Sedikit memerankan wanita lajang yang bahagia melihat sabahat berkawin dengan kekasihnya. Itu saja untuk saat ini.
***
Semua tamu sudah duduk di tempat yang disediakan. Raina dan Mas Doni, tentu saja duduk di depan. Sengaja aku mengambil tempat paling belakang, agar nanti ketika ada yang tumpah di pelupuk mata. Aku bisa segera menghentikannya agar tak menarik perhatian.
__ADS_1
Sesi permintaan maaf pada orang tua telah dimulai. Beringsut, kulangkahkan kaki menuju taman belakang rumah Raina. Menghapus air mata yang mulai menganak sungai.
Ini masih pengajian, dan aku sudah tak sanggup. Bagaimana jika besok akad berlangsung?
"Butuh bahu untuk bersandar?" ucap Romi--teman Doni--menggagetkan.
"Tidak terima kasih."
"Tenang saja. Aku bahkan bisa menjadi pacar pura-pura kok selama acara berlangsung. Besok, kan?"
Aku terbahak. Pria itu tersenyum sambil menyunggingkan bibir.
"Aku tahu, Lun. Tak mudah berada di posisimu saat ini. Memaafkan orang yang bahkan tak memperjuanganmu dan mendampingi sahabat di hari bahagianya."
Tiba-tiba aku terisak mendengar ocehannya. Aku sedikit lunglai, tapi seketika pria itu memeluk dan mendekap kepalaku di dadanya.
"Menangislah ... menangis saja! Tumpahkan segala sesakmu ... aku di sini, bisa menjadi teman berbagi," bisik Romi menenangkan.
Tak peduli lagi. Kutumpahkan segala sesak dan tergugu dalam rengkuhnya.
Kaos lelaki yang terkenal dengan kelakarnya itu basah dengan ingus yang keluar dari kedua hidung.
"Gila baju mahalku. Kau lukis dengan ingusmu."
Kami berdua tertawa berbahak.
"Ternyata kamu di sini, Lun? Dari tadi kami mencarimu lon." Raina dan Mas Doni datang menghampiri.
"Sudah, itu semua tamu sedang makan-makan. Ngapain kalian berdua di sini? Mojok lagi," sahut Mas Doni menimpali.
"Aku kan lagi PDKT dengan Luna, Don. Masak hanya kau saja yang bahagia. Kita juga pengen mendapat kebahagiaan, kan, Lun? Romi menatap dan langsung merangkul pundakku.
Aku terdiam. Mas Doni tersenyum kecut.
"Baguslah ... setelah pernikahanku, nanti biar bisa dilanjut pernikahan kalian," tutur Raina penuh bahagia.
Ada raut tak suka dari Mas Doni. Ia memberi isyarat pada Romi agar membawa Raina pergi sejenak agar bisa berbicara denganku. Kesal akhirnya Romi melakukan apa yang diminta Mas Doni.
"Rain, boleh dong aku lihat-lihat persiapan untuk besok?" tanya Romi sambil mengajak Raina beranjak.
Raina hampir menggandeng tangan Mas Doni. Sampai akhirnya, Romi kembali berucap, "Sudah biarkan saja Doni bersama Luna dulu. Biar dia belajar memperlancar akad besok."
Raina mengiyakan ide Romi. Mereka berdua berlalu dari hadapan.
Aku dan Mas Doni sama-sama terdiam.
"Maafkan aku, Lun." Mantan kekasihku ini memulai pembicaraan.
"Sudahlah, Mas. Semua sudah terjadi memang mau apalagi. Kau telah memilih sahabatku dibanding aku." Mataku lurus menghadap ke depan. Tak ingin lagi memandangnya, sebab bisa meruntuhkan pertahanan.
__ADS_1
"Aku--"
Tak kubiarkan ia berbicara kembali.
"Hubungan kita sudah berakhir, Mas. Saat ini, aku tak mengharapkan apa pun darimu. Aku sudah rela melepasmu. Aku hanya ingin melihat Raina bahagia. Mari kita kubur saja segala kisah kita."
Pria itu tak lagi bisa berucap. Aku pamit untuk beristirahat lebih awal agar besok bisa menemani Raina dengan baik. Lelaki itu hendak mencegahku dengan menarik tangan, tapi secepatnya kutampik. Aku tak mau hatiku berubah pikiran saat aku lebih lama bersamanya.
"Lho mau kemana?" Romi tiba-tiba langsung menarik tanganku tanpa permisi. Ia membawaku keluar dari tempat acara. Disaksikan Raina yang hanya tersenyum, dan Mas Doni yang tak mengerti.
Sepanjang perjalanan, aku terus saja mengumpatinya. Ia hanya tertawa. Menyusuri beberapa rumah dengan angin malam yang mendera. Entalah, ada lega yang tercipta. Langkah Romi terhenti pada sebuah taman dengan bangku kosong.
Lelaki gondrong itu menyuruhku duduk.
"Menangislah." Perintahnya sambil menaruh kepalaku di pundaknya.
Seketika tangisku pecah. Air mata itu berjatuhan. Lelaki itu tetap mematung di posisinya.
"Doni masih ragu dengan pernikahan ini, tapi aku tak suka jika akhirnya kamu dijadikan permainan perasaannya saja. Sikapnya ini sudah tak benar lagi," ucapnya kala melihatku sudah sedikit tenang.
"Sungguh aku terluka, Rom," liriku masih dengan isak yang sama.
"Kau tak boleh di lingkaran Doni lagi, Lun. Kau berhak bahagia. Sebagai teman, aku bisa kau andalkan. Kau perlu keluar dari patah hatimu."
Aku hanya sesekali bertemu pria ini saat Mas Doni ada kerja sama dengannya. Selama ini, dia memang cukup baik. Tapi kesan cuek yang ditampilkan olehnya, membuatku enggan untuk dekat dan mengenalnya lebih jauh. Siapa sangka, justru kali ini yang yang membantuku dari situasi yang memilukan hati.
"Terima kasih, Rom." Hanya itu kalimat yang mampu terucap.
***
Raina terlihat memukau dengan kebaya putihnya. Berkali-kali ia melempar senyum padaku. Aku sendiri sudah bersiap dengan kebaya salem pemberiannya.
Andai saja Raina tahu kalau Mas Doni adalah lelaki yang sering aku ceritakan. Apa Raina masih akan sama dan tetap melakukan akad ini? Ah, entahlah.
Aku menemani Raina menuju altar pernikahan. Di sana sudah Mas Doni yang menunggu sedari tadi.
Aku mundur dan menepati kursi yang kosong.
Sang pembawa acara sudah membuka acara. Lantunan ayat suci pun menggalun dengan indah. Kini giliran acara inti. Janji suci pernikahan. Akad yang akan disaksikan oleh penghuni langit dan bumi.
Aku sudah mencoba menahan rasa, tapi tetap saja ada bulir menetes tanpa diminta saat Mas Doni mengucap ikrar pernikahan itu.
Tiba-tiba tanganku digengam seseorang yang datang di sampingku.
"Kamu kuat, Lun. Ada aku di sini," ucap Romi sambik memegang erat jari jemari.
Setidaknya untuk saat ini, aku merasa nyaman dengan persahabatan yang diulurkannya, karena aku hanya penjaga jodoh teman, yang sekarang sedang berikrar.
Tamat.
__ADS_1
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH