Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Tentang Lara (7)


__ADS_3

Ga lama pesanan kami pun datang. Kami segera menyantap semangkok mie ayam yang ada di hadapan kami. Enak sekali mie nya, mungkin karena lagi laper banget kali ya, pikirku. Sesekali aku melirik ke arah Lara. Dia terlihat fokus makan mie ayam.


Akhirnya kami pun selesai makan siang.


"Mo langsung pulang ato mo mampir kemana dulu?" tanyaku ke Lara sambil berjalan ke arah parkiran motor.


"Langsung pulang aja" jawabnya mengikutiku.


Aku pun langsung mengantarnya pulang ke rumah. Tanpa mampir kemana-mana lagi. Sampai dirumahnya, aku mau ijin langsung pulang walaupun Lara basa basi menawariku untuk mampir masuk rumahnya.


"Mau masuk dulu?" tanya Lara.


"Kapan-kapan aja ya. Udah sore ini" kataku menolak halus.


"Oke, ati-ati dijalan ya" jawabnya sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Eh, Lara" panggilku.


"Ada apa?" jawabnya menoleh ke arahku.


"Boleh minta no hp ga?" tanyaku balik sambil mengeluarkan hp yang ada di kantongku


Tanpa menjawab, Lara langsung menghampiriku dan mengambil hp dari tanganku. Dia sendiri yang mengetik dan menyimpan nomor hp nya kemudian langsung mengembalikan hpku tanpa berkata sepatah kata pun. Hanya tersenyum kemudian berbalik masuk rumah kembali.


Akhirnya aku mendapatkan nomornya juga. Lara lara, sepenasaran ini aku sama kamu, batinku sambil tersenyum. Setelah itu aku langsung menyalakan motorku dan bergegas untuk pulang ke rumah kemudian ganti baju dan langsung rebahan.


*Dirumah Lara


Hmm, semoga Ega bisa mulai rajin sekolah. Sayang banget anak kayak dia kalo sampe harus putus sekolah cuma gara-gara bolos mulu. Aku punya mimpi yang tinggi. Kuharap dia pun juga punya mimpi yang tinggi.


Dalam hati Lara berharap. Meski dia bukan malaikat yang bisa dengan mudahnya menolong setiap orang, tapi dia punya harapan setidaknya satu orang temannya bisa dia bantu. Dan dia memilih Ega.

__ADS_1


"Ma, mama selalu menjadi penyemangatku, menjadi penghiburku, menjadi sahabat terbaikku. Walaupun akan susah berjuang sendirian tanpa mama, aku akan berusaha keras untuk wujudin mimpiku. Supaya mama bangga. Mama yang tenang ya disana. Lara janji akan sekolah dengan rajin, akan jagain papa, akan selalu jadi anak kesayangan mama yang penurut. Lara kangen banget ma. Kenapa mama harus pergi secepat ini, Lara sama papa masih butuh mama" ucap Lara lirik sambil terisak dikasur.


Papa Lara yang mendengar dari sisi pintu luar kamarnya pun ikut menitikkan air mata. Dia tak menyangka beban yang disimpan Lara dalam hati begitu berat.


"Kupikir kamu baik-baik saja nak. Ternyata kamu masih menyimpan duka itu di dalam hatimu. Maafkan papa sayang. Seandainya papa berusaha lebih keras, mungkin mama masih ada disini bersama kita" bisik papa sambil berlalu masuk kekamarnya sendiri.


Rumah yang dulu begitu hangat dan penuh kebahagiaan sekarang menjadi rumah yang penuh dengan tangis dan kenangan. Rumah itu kini kehilangan jantungnya.


Papa Lara hanyalah seorang buruh pabrik biasa. Mama Lara seorang penjahit. Meski keluarga Lara termasuk keluarga yang sederhana, namun mereka tidak pernah kekurangan cinta. Keluarga mereka sangat bahagia. Tidak ada kata menyerah dalam kamus mereka. Lara tumbuh dengan penuh kasih dan cinta dari kedua orang tuanya. Itulah kenapa sekarang dia mempunya sifat yang baik dan peduli.


Namun satu tahun yang lalu, mama Lara divonis kanker rahim stadium 1. Awalnya pengobatan dilakukan dengan kemoterapi, berharap bisa segera pulih, namun karena biaya yang besar akhirnya pengobatan pun kurang maksimal. Kemoterapi hanya dilakukan bila ada uang yang terkumpul. Kanker pun mencapai stadium akhir hingga pada akhirnya mama Lara tak dapat diselamatkan.


Duka menyelimuti Lara dan papanya. Namun mereka berdua berusaha menyembunyikan perasaan masing-masing agar tidak saling melukai. Lara berusaha menguatkan papanya, begitu juga sebaliknya. Mereka hanya punya satu sama lain. Meski hati Lara hancur kehilangan mamanya, dia tau hati papanya pun begitu remuk kehilangan pendamping hidupnya. Lara tidak ingin papanya menyalahkan dirinya sendiri hanya karena mereka tidak punya biaya untuk kesembuhan mamanya.


Semenjak kehilangan mama, papanya selalu terlihat murung, terkadang menangis dan meracau sambil berteriak menyalahkan dirinya sendiri kenapa dia memberikan kehidupan yang susah seperti ini pada keluarganya. Dan Lara selalu berusaha menenangkannya.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa mengalahkan takdir. Itu yang selalu ada dibenak Lara. Karena takdir itulah dia mau berjuang keras mewujudkan mimpinya, supaya kelak dia dan keluarganya bisa hidup lebih layak dan tidak kekurangan lagi.


__ADS_2