Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Sarapan + Makan Siang


__ADS_3

Akhirnya setelah kurang lebih 30 menit menyetir, sampai juga dirumah. Aku langsung memarkir mobil di garasi kemudian turun dan menggandeng Senja masuk ke dalam rumah.


"Ma, pa, Ega pulang nih bawa Senja" kataku setengah berteriak.


"Dih bawa bawa, dikira aku barang kali ya" protes Senja sambil memanyunkan bibirnya.


Aku langsung tertawa melihat ekspresi kesalnya.


"Sudah datang ya, ayuk sini langsung makan dulu aja." kata mama dari ruang makan.


Aku dan Senja langsung menuju ke meja makan. Disana sudah ada papa yang duduk di meja makan menikmati salad buah.


"Enak pa? " tanyaku sambil melirik salad buahnya.


"Enak banget ini. Kamu makan nasi dulu baru makan salad buah. Tadi kan kamu belum ada sarapan. Ini masih banyak di kulkas, tadi mama kamu bikin salad buah seger banget ini. Hmm.. enak pokoknya buatan mama kamu, ga ada duanya" kata papa sambil terus melahap semangkok salad buah di hadapannya.


Aku dan Senja hanya tertawa melihat tingkah papa. Mama pun tersenyum karena terus-terusan mendapat pujian dari papa.


"Mama masak apa aja ini? " tanyaku sambil melihat menu yang ada di meja makan.


"Hmm.. Rendang, tumis brokoli, asem-asem daging yang sudah pasti requesnya papa ini" kataku sambil ketawa.


"Itu menu favorit papa Ga. Pertama kali papa dimasakin itu sama mama kamu, papa langsung jatuh cinta pokoknya. Asem-asem daging buatan mama kamu memang luar biasa" kata papa sambil tersenyum melirik ke arah mama.


"Pa, ga usah lebay deh. Inget umur. Malu sama anak-anak ah" kata mama sambil duduk di sebelah papa.


"Gapapa ma. Kan memang gitu kenyataannya. Hehe." kata papa sambil tertawa.


"Oh iya Ga, gimana urusan perusahaan? Udah selesai? Udah beres semua kan? " tanya papa kemudian.


"Udah beres pa. Aku terpaksa memecat Albert sama Elena karena mereka sumber dari masalahnya." kataku dambil mulai mengambil nasi dan lauk.

__ADS_1


"Senja, makan juga ya. Tante ambilkan nasinya, sini piringnya" kata mama menawarkan.


"Iya tante, makasih" kata Senja sambil menyerahkan piring ke mama.


"Oh iya pa, rencananya aku mau bawa Beni ke perusahaan Prakarsa hutama, Beni harus mempertanggungjawabkan semuanya. Nanti biar mereka yang memutuskan" kataku sambil mulai mengunyah makanan.


Hmm, masakan mama memang juara, rasanya benar-benar enak banget. Mungkin karena aku begitu kelaparan kali ya, belum ada sarapan soalnya, batinku.


"Tunggu-tunggu, Prakarsa Hutama katamu? " tanya Senja tiba-tiba.


"Iya, kenapa sayang? " tanyaku heran.


"Itu perusahaan papaku Ga." jawab Senja.


Aku pun langsung terdiam dan memandang ke arah papa yang juga memandang ke arahku.


"Serius? " tanyaku kaget.


"Bukan masalah serius kok. Ya sudah lanjutin makannya Senja" kata papa menengahi obrolan kami.


"Iya om" jawab Senja sambil tersenyum.


Kami pun kembali menikmati sarapan sekaligus makan siang. Memang masakan mama ini rasanya enak banget. Paling enak, masakan restoran paling mahal pun masih kalah dengan masakan mama. Hehe.


Selesai makan, aku dan papa duduk-duduk diruang keluarga, sedangkan Senja bantu mama beresin meja makan sekaligus nyuci piring.


"Ga" panggil papa.


"Iya pa? " tanyaku.


"Kamu tau kan, perusahaan papanya Senja itu rival perusahaan kita"

__ADS_1


"Iya pa" jawabku.


"Meski begitu, papa ga akan menentang hubungan kalian. Masalah perusahaan itu urusan kami para orang tua, papa ga akan melibatkan kalian ke dalamnya, dan papa tetap merestui kalian" ucap papa dengan nada serius.


"Pa, aku tetap ga akan mengorbankan nasib perusahaan kita. Aku akan berusaha dan berjuang sebisaku supaya keluarga Senja menerimaku. Namun apapun yang terjadi ke depannya, aku tetap mengedepankan keluarga kita. " kataku sambil menatap ke arah Dapur. Kulihat Senja tampak sedang bercanda dengan mama.


Pemandangan itu sungguh membuatku merasa bahagia. Kulihat mama pun tertawa, mama benar-benar menyukai Senja. Semoga aku bisa memperjuangkan hubungan kami. Semoga keluarga Senja ga sekolot yang kupikirkan.


"Oh iya pa, besok rencana aku mau bawa Beni ke perusahaan Prakarsa Hutama. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan semoga perusahaan Prakarsa Hutama mau berbesar hati menerima kenyataan ini karena memang ini menyangkut sponsor yang besar." kataku setengah kawatir.


"Iya Ga. Semoga besok semua berjalan dengan lancar. Meski mungkin sponsor itu ga akan mengalihkan dana sponsornya ke perusahaan kita, setidaknya mereka tahu itu hasil kerja keras perusahaan kita yang telah dicuri dan dipakai oleh perusahaan lain. " jawab papa.


"Kalian ngobrolin apa si, kok kelihatannya seiurius banget" tanya mama yang ikut gabung duduk diruang keluarga diikuti Senja.


"Biasa obrolan laki-laki ini" kata papa sambil tersenyum melirikku.


"Kita jadi jalan sayang? " tanyaku ke Senja.


"Terserah kamu aja Ga, aku ngikut gimana kamu" jawab Senja.


"Yaudah kita jalan aja yuk. Aku udah janji ngajakin kamu jalan dari kemarin-kemarin" kataku akhirnya.


"Pa, ma kami jalan dulu ya, mau muter-muter bentar cari angin laut" kataku sambil pamit mencium tangan papa sama mama.


"Iya, hati-hati ya" jawab mama sama papa serentak.


"Om, tante, Senja pamit dulu ya. Terima kasih makan siangnya. Enak banget" pamit Senja sambil salam ke papa sama mama.


"Iya sayang, kapan-kapan makan bareng lagi ya. Sering-sering main kesini biar mama ada teman ngobrol. Obrolan cewek kalo diomongin sama papanya Ega suka ga nyambung" jawab mama tertawa kecil sambil melirik ke arah papa.


"Ya papa mana paham urusan cewek ma." papa ga mau kalah.

__ADS_1


"Kok kalian jadi ribut sendiri. Ega berangkat dulu ya. Ributnya ntar aja dilanjutin lagi" kataku mengakhiri perdebatan para orang tua.


__ADS_2