Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Bukit Moko


__ADS_3

"Kamu marah?" tanyaku sambil meliriknya


"Engga" jawabnya singkat


"Trus?" tanyaku lagi


"Yaa ga ada terusannya" jawabnya lagi sambil terus menatap ke depan


"Heii, aku take foto karena ini bagian dari pekerjaanku. Kan kamu sendiri yang bilang ini untuk koleksi pribadi kamu. Aku take beberapa foto untuk bisa kamu pilih sendiri nantinya. Kamu ga ge er kan? Jangan2 kamu mikirnya aku ambil foto kamu untuk koleksi pribadiku? Kataku sambil menyenggol sikutnya


"Apaan sii" jawabnya sambil berjalan cepat meninggalkan aku di belakang.


Aku langsung ketawa seketika kemudian mengejarnya. Langsung kuacak acak rambutnya yang panjang lurus tergerai sepunggung.


Rambutnya sangat halus, pikirku.


Akhirnya tiba juga di puncak bukit. Waahhh, pemandangannya sangat indah. Mentari sore bersinar cerah di ufuk barat.


"Kita langsung take foto disebelah sana yaa, kamu duduk di bangku kayu itu" kataku sambil menunjuk bangku kayu tanpa senderan yang ada di sebelah kiri kami


" Oke" katanya langsung berjalan dan duduk di bangku yang kumaksud.

__ADS_1


Dia duduk santai dan menatap kearah matahari terbenam. Sejenak aku memperhatikan raut wajahnya. Terlihat sendu dan matanya sayu. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Kulitnya yang putih terlihat berkilau terkena sinar matahari.


Cekrek.. Cekrek..


Aku mengambil beberapa foto dari segala arah. Setelah kurasa cukup, aku mengajaknya berjalan untuk mencari spot selanjutnya.


"Kesitu yuk" aku menunjuk salah satu spot yang biasa digunakan orang untuk foto. Spot ujung bukit yang diberi pagar.


Tanpa babibu Senja langsung berjalan kesitu, kemudian dia sedikit mengangkat wajahnya dan memejamkan matanya. Tangannya dia rentangkan seolah olah sedang meresapi alam.


Indah sekali objek fotoku kali ini. Tanpa kusadari, aku mulai mengagumi sosoknya yang natural dan sederhana. Aku mulai mengambil beberapa foto dan dia pun sempat berganti beberapa pose.


Setelah kurasa cukup, aku menyudahi sesi foto. Aku mengisyaratkan oke dengan jariku tanda pengambilan foto sudah berjalan dan berakhir dengan baik.


"Sudah" kataku


"Kamu itu aslinya foto model ya?" tanya ku melanjutkan obrolan.


"Hahaha, bukan. Cuma memang udah sering aja take foto. Jadinya yaa udah biasa berpose di depan kamera tanpa canggung dan tanpa pengarah gaya" jawabnya sambil tertawa.


"Oh" kataku singkat mengakhiri percakapan kami.

__ADS_1


"Eh, duduk disana yuk" katanya sambil menarik tanganku menuju bangku kayu yang tadi kami pakai untuk take foto.


Hari pun mulai beranjak malam. Matahari sudah benar benar tenggelam dan beristirahat. Giliran bintang yang sekarang menghiasi langit malam ini.


Pemandangan di bukit moko malam hari begitu indah. Lampu kota Bandung terlihat gemerlap warna warni bak permadani yang bersinar.


"Indah banget ya pemandangan malam hari dari sini" kata Senja membuka percakapan.


"Iya, kadang kalo lagi suntuk, aku kesini ngeliat lampu kota Bandung. Iseng aja sih. Cuma itu lumayan buat ngilangin suntukku. Ngeliat lampu warna warni kayak gitu udah bikin aku seneng" kataku sambil menatap ke depan.


"Bisa suntuk juga ya?" katanya dengan nada ngeledek.


"Bisa kaleee, kan aku manusia biasa" balasku


"Yaa kirain situ manusia super. Super cuek maksudnya" masih dengan nada mengejek.


"Emang aku cuek ya?" tanyaku sambil ngelirik dia.


"Ga tau. Ya barangkali cuek gitu terhadap masalah. Jadinya ga mikirin mau ada masalah ato ga, hepi aja" jawabnya.


"Emang aku keliatan hepi ya?" tanyaku lagi

__ADS_1


"Enggak sih. kliatan kusut sekarang" jawabnya sambil ketawa.


Ni cewek kok ngegemesin ya. Langsung kuacak acak rambutnya sampe kusut berantakan. Senja cuma nyengir.


__ADS_2