
Waktu terus berjalan hingga tiba di penghujung tahun ajaran ketiga. Kami mulai dicecar dengan kegiatan belajar tambahan untuk persiapan ujian kelulusan. Tetapi kegiatan ngumpul dan hangout bareng tetap kami lakukan. Aku dan Lara pun sering menghabiskan waktu untuk jalan berdua bila ada waktu senggang. Selalu kubawa kamera kesayanganku kemana pun kami berdua pergi. Ntah kenapa aku ingin mengabadikan setiap moment bersamanya. Aku ambil fotonya sebanyak yang kubisa.
Dan tanpa kusadari itu adalah sebuah pertanda.
Akhirnya kami mulai serius belajar dalam menghadapi ujian akhir supaya bisa lulus dengan nilai baik dan masuk universitas yang sudah kami incar.
Ahh, aku belum tau mereka pada mau kuliah dimana, gumamku.
Hari ini rencana mau kumpul belajar kelompok lagi sebelum ujian akhir yang akan dimulai besok. Mungkin ada baiknya aku bertanya ke mereka pada mau lanjut kuliah dimana dan ambil jurusan apa, siapa tau aku tertarik masuk juga. Biar kita bisa tetep sama-sama. Hehe. Aku belum memutuskan untuk lanjut kuliah dimana. Jangankan memutuskan, memikirkan saja belum. Ntah kenapa ngeblank tiap mikirin mau ambil jurusan apa. Rasanya aku ga tau minatku dimana.
*Dirumahku
"Her, habis lulus ini kamu mau rencana lanjut kemana?" Tanyaku ke Heri.
"Rencana gue mau masuk FISIP mo ambil program studi Ilmu Hubungan Internasional di Unpad" kata Heri dengan penuh semangat.
Hadeh, aku ga berminat kalo harus masuk Hubungan Internasional, pikirku.
"Kalo elo To?" tanyaku ke Darto.
"Gue Unpad juga sih rencana mo ambil Hukum, habis itu lanjut lagi ambil PPAT" jawab Darto.
Duh ni orang mo jadi notaris ya. Bukan bidangku, batinku.
"Lo Ton?" tanyaku ke Anton.
"Gue mungkin ambil akuntansi di Unpad juga biar ngumpul sama kalian, hehe" jawab Anton cengengesan.
Aku masih belum sreg juga dengan jurusan yang mereka ambil.
"Kalo Panji?" tanyaku akhirnya ke Panji yang daritadi terlihat diam.
__ADS_1
"Gue ga tau. Belum nentuin" jawab Panji singkat.
Sekilas kulihat raut muka Panji nampak muram. Kelihatannya dia lagi ada masalah. Mau nanya juga ga enak karena lagi pada ngumpul gini, takutnya ntar Panji tersinggung, batinku. Akhirnya kuurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
"Ra, lo lanjut kemana?" Tanyaku ke Lara.
Lara hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kearahku. Aku ga berani bertanya lebih lanjut karena kupikir ada masalah ekonomi, jadi mungkin Lara belum bisa lanjut kuliah dulu.
Dan tebakanku yang sok tau itu ternyata salah. Lara bukanlah tipe cewek penyerah. Dia cewek yang tangguh yang akan berusaha mati-matian mewujudkan mimpinya. Dia sudah berjalan sejauh ini, dia ga akan menghentikan langkahnya bahkan meski aku menghadangnya sekalipun.
"Lo gimana Ga?" tanya Lara membuyarkan lamunanku.
"Gue ga tau. Mungkin ambil ilmu komunikasi. Cuma ga tau juga sih" jawabku kurang yakin.
Akhirnya kami pun belajar guna persiapan ujian akhir. Setelah selesai belajar bareng, satu persatu dari mereka mulai pulang kecuali Panji dan Lara.
"Ga, anterin pulang sekarang yuk. Ngantuk nih" rengek Lara manja.
"Masih jam segini udah ngantuk aja" kataku ga percaya.
"Iyee, yuuk. Nji, gue anter Lara pulang dulu ya. Elo disini dulu aja. Kataku sambil berjalan keluar menyusul Lara.
"Oke" jawab Panji sambil maenin hp nya.
Akhirnya aku mengantar Lara pulang, sampai rumahnya, aku langsung berpamitan tanpa mampir karena ga enak ninggalin Panji dirumah sendirian.
Sesampai dirumah, ga sengaja aku mendengar Panji sedang telepon dengan seseorang dan dia terlihat emosi. Aku langsung duduk tanpa bersuara sampai Panji selesai dan menutup teleponnya.
Kutatap raut mukanya yang masih menyisakan amarah tanpa bertanya apapun kepadanya. Aku tau dia menyimpan emosi besar, jadi kutunggu sampai emosi itu reda, sampai dia mau berbicara kepadaku dan menjelaskan masalahnya kepadaku.
"Ga" ucap Panji sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Hmm" jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku darinya.
"Gue nginep sini ya?" tanya nya sambil mengangkat wajahnya yang daritadi menunduk.
"Iyaa, bebas lo mo ngapain Nji. Lo udah gue anggep sodara, jadi ga usah sungkan-sungkan" jawabku sambil tersenyum.
"Makasih Ga" kata Panji seraya merebahkan badannya di karpet.
"Gue bingung" ucap Panji sambil melihat ke langit-langit rumah.
"Kenapa?" tanyaku datar.
"Nyokap gue telepon, bilang mau pisah sama bokap. Secara mereka ribut mulu dari dulu. Gue bingung mo ikut siapa. Nyokap nyuruh gue ikut dia." kata Panji sambil memejamkan mata.
Aku diam, hanya mendengarkan tanpa bisa memberikan saran apapun. Masalah keluarga memang rumit, dan aku pun ga berani masuk ke dalam masalah keluarganya Panji. Bukan karena apa, aku cuma takut salah memberikan saran.
"Gue pergi dari rumah aja kali ya. Jujur gue ga pingin ikut siapa-siapa. Bokap sama nyokap kelakuan sama ajaa. Sama-sama egois. Lagian juga mereka ga pernah mikirin perasaan gue. Gue bisa hidup sendiri" kata Panji melanjutkan.
"Lo yakin bisa Nji?" tanyaku kemudian.
"Lo pikir selama ini gue hidup kayak gimana Ga? Selama ini gue hidup sendiri dirumah. Bokap sibuk mulu, nyokap di apartemennya. Gue udah dibuang dari dulu rasanya" kata Panji dengan tatapan nanar.
Aku melihat kesedihan di dalam matanya. Kesedihan bercampur kekecewaan yang mendalam. Panji hanya korban keegoisan orang tuanya. Untung dia anaknya kuat. Kalo ga, mungkin dia udah depresi berat.
"Lulus sekolah ini gue ga kuliah dulu deh. Gue buka cafe aja." tiba-tiba Panji berkata dengan nada semangat.
"Hah? Yakin lo? Lo kan ga ada basic sama sekali Nji" tanyaku heran dengan idenya itu.
"Yakali cafe pake basic, modal duit sama modal nekat udah cukup buat gue mah" kata Panji sambil tersenyum ke arahku.
Disaat seperti ini dia bahkan masih bisa tersenyum. Hebat lo Nji, batinku.
__ADS_1
"Oke, gua bakal bantu nyiapin semuanya" kataku sambil tersenyum bersemangat.
Hari itu, Panji nginep dirumah. Kita ngobrol banyak hal. Tentang keluarga, tentang rencana masa depan, termasuk rencanaku untuk hidup dengan Lara. Semua kuceritakan ke Panji. Panji adalah sahabat sekaligus pendengar yang baik. Aku beruntung mengenalnya.