
"Ga" Senja memanggil lirih.
"Iya?" tanyaku sambil masih menatap ke depan.
"Pulang yuk. Makin dingin udaranya disini. Takutnya ntar kamu masuk angin" katanya sok perhatian.
"Dih, sok perhatian. Bilang aja kamu yang kedinginan. Gayanya sok2an bilang takut aku masuk angin" ucapku tertawa sambil menyikut lengannya.
"Yee, dibilangin juga. Kamu kan ga bawa jaket" Katanya lagi.
"Yaudah kita pulang yuk. Kayaknya ada yang kedinginan nih. Tapi nanti mampir makan dulu ya. Ada nasi goreng enak di seberang cafe. Biasanya buka malem gini." kataku sambil berdiri.
"Oke. Pas banget perut laper" katanya sambil tersenyum.
Kami pun kembali berjalan menyusuri jalan setapak sebelum akhirnya tiba di parkiran mobil. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku mulai menjalankan mobil dan segera meninggalkan parkiran. Berbeda dengan waktu berangkat, pulangnya kami hanya diam menikmati alunan lagu yang kusetel.
"Kalo ngantuk, tidur dulu aja" kataku memecah keheningan diantara kami.
"Iya, ga usah diingetin juga ntar ketiduran" Jawabnya sambil menyenderkan kepalanya di bangku.
__ADS_1
"Tenang aja, aman kok kalo sama aku. Ga akan macem2" kataku sambil ketawa kecil.
"Yee" jawabnya sambil mencubit lenganku.
Ga berapa lama kemudian kulihat sekilas Senja sudah ketiduran. Mungkin dia kecapean karena jalan bolak balik di bukit moko tadi, pikirku. Buatku yang sudah biasa kesana mungkin biasa saja jalannya. Cuma buat yang belum kesana atau ga terbiasa jalan ke alam, pastinya bikin capek.
Akhirnya sampe di cafenya Panji juga. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Kulihat penjual nasi gorengnya baru persiapan buka. Masih menata meja kursi dan beberapa perlengkapan jualan lainnya.Kuputuskan untuk menunggu sampai si abah (panggilanku kepada bapak penjual nasi goreng) selesai menyiapkan dagangannya sambil ngopi dulu di cafe. Kubiarkan dulu Senja beristirahat di mobil. Jendela kubuka sedikit agar dia mendapatkan sirkulasi udara yang cukup.
"Nji.."
"Panji...." aku masuk sambil setengah berteriak memanggil Panji.
"Lah, lu dari mana kok tiba tiba muncul dari belakang" kataku kaget.
"Dari habis ngelap meja depan pojok tu" Jawabnya sambil nunjuk meja yang tadi siang aku tempati dengan Senja.
"Gimana kerjaan, lancar? Pesen minum apa?" Tanya Panji sambil mengambil catatannya dari saku.
"Kerjaan hari ini lancar. pesen capucino panas satu. Gua tunggu di situ ya." jawabku sambil berjalan menuju meja pojok depan yang baru di lap Panji.
__ADS_1
"Satu doang? Senja kemana? lo bawa mobilnya tapi orangnya kaga ada" kata Panji sambil menyerahkan catatan pesanan ke anak buahnya kemudian dia berjalan mengikutiku duduk di kursi depanku.
"Ada di mobil, lagi molor dia. Mungkin kecapean habis naik turun bukit. Tadi kan pemotretannya di bukit moko" jawabku sambil senderan dan merenggangkan tubuhku yang terasa agak pegal.
"Rencana mo makan nasi goreng depan situ. Kan enak tu, cuma si abah baru persiapan buka. Makanya gua tinggal ngopi dulu disini" kataku melanjutkan.
"Oalah. ngomong2 gua juga laper. Ntar pesenin juga buat gua ya nasi gorengnya" kata Panji.
"Siap" kataku sambil maenan hp.
Tiba tiba ada yang mukul bahuku dari belakang.
"Udah sampe kok ga bangunin si" Senja muncul di belakangku kemudian duduk di kursi antara aku dan Panji.
"Kamunya molor kayaknya nyenyak banget, jadi aku ga berani bangunin" kataku nyengir.
"Yee, alesan mulu. Eh Nji, pesen capucino panas satu dong" katanya ke Panji sambil tersenyum.
"Siap, ditunggu, gua kesana dulu ya" kata Panji menepuk bahuku sambil berdiri dan berlalu menuju ke arah dapur cafe.
__ADS_1