Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Penyelidikan selesai


__ADS_3

"Halo pak" terdengar suara seseorang menjawab telepon.


"Halo, tolong umumkan rapat mendadak hari ini jam 9, kumpulkan divisi yang penting saja terkait pembocoran data kemarin. Divisi keuangan juga suruh hadir serta HRD di kantor ini. Saya tunggu diruang rapat ruangan 1" kataku.


"Baik pak"


Kemudian aku menutup telepon dan segera mengajak Bima dan Beni ke ruangan rapat. Rapat masih 30 menit lagi. Selama 30 menit itu, aku memikirkan langkah apa yang akan kuambil untuk menghukum Beni karena dia bagaimanapun tetaplah bersalah. Walau aku kasian kepadanya dan merasa bersalah karena melalaikan kesejahteraaannya yang merupakan salah satu karyawanku disini.


Aku pun memikirkan langkah apa yang harus aku lakukan untuk menghukum para cecunguk yang tidak punya hati itu. Bagaimana bisa mereka melakukan itu pada Beni tanpa melaporkan kepadaku atau papa terlebih dahulu. Seharusnya jika ada karyawan yang bermasalah atau butuh bantuan, mereka memberikan laporan terlebih dahulu.


Tanpa terasa 30 menit telah berlalu dan para anggota rapat pun sudah berkumpul semua diruangan ini.


Aku pun mulai membuka rapat.


"Terima kasih kalian semua sudah hadir pada rapat dadakan yang saya adakan pagi ini. Saya akan membahas masalah kebocoran data perusahaan kemarin. Disini saya telah menemukan siapa pelakunya. Dia adalah Beni, OB kita" kataku yang membuat seluruh isi ruangan terkejut.


"Apa yang akan kita lakukan untuk menghukumnya? Ada yang bisa memberikan masukan? " tanyaku.


"Pecat saja pak, karyawan seperti itu tidak ada tempat diperusahaan ini. Dia bakal jadi benalu. Apalagi cuma seorang OB" kata Albert selaku HRD.


"Ada yang lain lagi? " tanyaku.

__ADS_1


"Berikan hukuman yang adil untuknya pak, karena dia pasti mempunyai alasan untuk melakukannya, kita harus tau juga alasan dia kenapa bisa sampai seberani itu nekat mencuri data presentasi perusahaan" kata Thomas selaku wakil direktur yang tadi kusuruh mengumumkan rapat dadakan.


Aku hanya tersenyum mendengar tanggapan Thomas.


Kemudian aku mulai menjelaskan kronologi kejadiannya dan alasan dibalik kenekatan salah satu OB terajin di kantor ini. Tak lupa pula kujelaskan apa yang seharusnya dilakukan mereka semua ketika ada salah satu karyawan disini yang membutuhkan pertolongan atau dalam kesulitan. Kulihat sekilas muka Albert dan Elena selaku divisi keuangan tampak merah mukanya menahan malu sekaligus marah.


Akhirnya tanpa berlama-lama aku pun memutuskan untuk memecat Albert dan elena. Mereka ga layak bekerja di perusahaan ini karena attitude mereka yang buruk. Dan sebagai gantinya, aku mengangkat Bram sebagai pengganti Albert dan Nania sebagai pengganti Elena. Mereka berdua adalah bawahan Albert dan Elena yang record kinerjanya paling baik diantara bawahan lainnya.


Untuk Beni, aku akan Membawanya ke perusahaan Prakarsa Hutama Corp sesegera mungkin untuk menjelaskan perihal pencurian data perusahaan yang diakui sebagai hasil karya nya.


Rapat segera aku bubarkan mengingat aku ada janji dengan Senja.


"Halo, jadi kesini kan Ga? " tanya Senja.


"Jadi, tungguin yaa, aku segera meluncur kesana. Rapat baru saja selesai" kataku sambil mempercepat langkah menuju parkiran.


"Iyaa, ati-ati yaa Ga" jawab Senja.


"Kamu siap-siap yaa, aku jemput. Mama minta aku ajak kamu buat makan dirumah. Sebenernya buat sarapan, cuma kesiangan ya. Hehe" kataku sambil terkekeh.


"Iyaa, sarapan sekalian makan siang dong haha" jawab Senja sambil tertawa.

__ADS_1


"Yaudah, aku nyetir dulu yaa" kataku mengakhiri percakapan.


Aku langsung meluncur ke rumah Senja. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya aku sampai dirumahnya.


Senja langsung datang menghampiriku dan masuk ke mobil. Dia tampak cantik sekali memakai dress santai dengan motif bunga berwarna pink.


"Lama nunggunya? " tanyaku sambil mencium pipinya.


"Lumayan, gimana urusan kantor? Udah beres? " tanya Senja.


"Belum sepenuhnya. Tinggal keputusan akhir saja, semua tergantung papa" jawabku sambil mulai menyetir langsung menuju ke rumah.


"Hmm, ribet ya? " tanya Senja.


"Ga juga, cuma memang urusan perusahaan kan ga bisa diselesaikan secara sepihak tanpa mendengarkan pihak yang lain sayang. Egois itu namanya." terangku sambil mengelus pipinya yang halus.


"Iya sayang. Lanjutkan perjuanganmu" jawab Senja sambil tersenyum dan melirikku dengan tatapan menggoda.


"Perjuanganku masih panjang sampai aku bisa memilikimu seutuhnya dan sepenuhnya" kataku sambil tersenyum kemudian mencium tangannya.


Kulihat sekilas pipi Senja bersemu merah. Sungguh menggemaskan sekali. Rasanya aku makin ga sabar untuk bisa segera menikahinya dan menjadikannya milikku.

__ADS_1


__ADS_2