Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Tentang Lara (8)


__ADS_3

Pagi hari


Jam berapa ini ya, ga kedengeran suara alarm. Aku coba melirik jam yang ada dimeja sebelah kasurku. Jam menunjukkan pukul 6 pagi.


Ohh shiittt, aku kesiangan. Tanpa babibu aku langsung masuk ke kamar mandi, mandi seadanya cepet-cepet karena takut telat. Selesai mandi, aku langsung siap-siap kemudian langsung berangkat ke sekolah.


Pas banget, sampe sekolah, bel masuk tanda pelajaran segera dimulai berbunyi. Fiuuh untung tepat waktu, batinku.


Aku berjalan menuju kelas, sesampai dikelas kulihat bangku Lara kosong. Apa hari ini dia ga masuk ya? Pikirku.


"Her, Lara ga masuk hari ini?" tanyaku ke Heri.


"Masuk kok, cuma tadi dia keruang guru gitu, ada panggilan" jawab Heri.


"Oh" cuma itu yang terlontar dari mulutku. Ngapain ya dia diruang guru? Dipanggil kenapa coba? Masa iya baru masuk udah kena kasus?. Otakku sibuk menerka apa yang sebenarnya terjadi.


Ga berapa lama kemudian Lara datang bersama wali kelas. Pagi ini memang jadwal wali kelasku mengajar. Aku masih penasaran dengan apa yang Lara lakukan diruang guru. Pandanganku terus ke arahnya seolah ingin cepat mendapatkan jawaban.


Sepertinya Lara merasa kalo sedang diperhatikan, dia menoleh dan tersenyum. Setelah itu dia kembali menghadap depan serius mengikuti pelajaran. Hadeh, aku masih belum mendapatkan jawaban dari Lara. Ntar aku coba tanyakan waktu iatirahat saja. Akhirnya aku cuma bisa mencoret coret buku baru yang kemarin kubeli tanpa mencatat materi pelajaran sedikit pun. Pikiranku cuma tertuju pada Lara. Aku gambari buku baruku dengan tokoh-tokoh anime kesukaanku.


Ga kerasa bel istirahat berbunyi. Anak-anak mulai keluar satu persatu tersamuk Heri n the gengs. Cuma rasanya hari ini aku males banget keluar. Akhirnya kuputuskan istirahat dikelas saja.


Seperti biasa, Lara menghampiriku memberikan sekotak roti bakar untukku kemudian dia duduk di depanku. Aku cuma tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun.


"Lo sakit?" tanya Lara.

__ADS_1


"Engga" jawabku singkat sambil mulai mengunyah roti bakar.


"Trus?" tanya nya lagi.


"Ga ada terusannya" jawabku cuek sambil terus mengunyah.


"Lo kesambet?" tanya nya mulai jengkel.


"Ga juga" jawabku masih cuek.


"Lo ada masalah sama gue? Ngomong langsung lah jangan kek gitu kelakuannya" akhirnya Lara kesel.


"Gue ga ada masalah sama elo. Lo ngapa marah-marah? Lagi dapet bu?" tanyaku sambil tersenyum.


Dengan sigap aku langsung memegang tangannya kemudian menariknya hingga Lara terduduk kembali di bangku.


"Lo ada masalah apa sampe dipanggil keruang guru? Kenapa lo ga cerita Kalo ada masalah?" tanyaku to the point.


Bhuahahahhahaha....


Tawa Lara langsung lepas begitu mendengar pertanyaanku.


"Lo shit. Pikiran lo neting gitu ke gue" kata Lara sambil terus ketawa.


"Yaudah jelasin sekarang ke gue biar gue ga neting ke elo. Biar gue ga su udzon mulu" kataku mulai kesal karena ketawanya Lara asli jengkelin.

__ADS_1


"Gue dipanggil keruang guru terkait beasiswa yang gue ajuin di awal waktu pendaftaran. Kan sekolah sini membuka beasiswa untuk murid berprestasi, jadi gue ajuin diri, mumpung gue masuk kriteria penerima bantuan beasiswa. Tadi gue ke ruang guru untuk menyelesaikan semua syaratnya" katanya menjelaskan.


"Lo daftar beasiswa?" tanyaku ga percaya.


"Iya, kenapa?" tanya nya heran dengan pertanyaanku.


"Gapapa. Hebat" jawabku singkat karena aku ga mau salah ngomong dan menyinggung Lara.


"Gue ga kayak lo Ga. Bokap gue cuma buruh pabrik biasa. Gue harus kerja keras supaya bisa tetep sekolah n ngejar mimpi gue. Lo tau sendiri kan keadaan gue gimana, rumah gue kayak apa" terang Lara dengan wajah sendu.


"Iya Ra, lo hebat kok. Gue salut sama lo. Gue bahkan ga tau mimpi gue apa ke depannya" kataku dengan pandangan mulai menerawang jauh.


"Makanya Ga, lo harus rajin belajarnya, sekolah yang bener. Fasilitas gue yakin lo udah punya semua. Gue pengen kita mewujudkan mimpi bareng, suksea bareng ke depannya" kata Lara menyemangatiku.


"Iya Ra, bantuin gue ya. Tanpa lo, gue cuma butiran kerikil, remahan nastar" kataku melebay.


"Najis lo" kata Lara seraya nampol muka ku.


"Thanks ya Ra, elo udah mau nyemangatin gue. Meski sekarang gue belum nemuin mimpi gue, tapi yang pasti, gue pengen lo jadi salah satu mimpi gue yang akan gue raih. Itu harapan gue" kataku sambil memegang tangan Lara.


"Diihhh, geli gue sama lo" kata Lara spontan menarik tangannya.


Blush, kulihat sekilas wajahnya memerah karena malu.


Hari demi hari hubungan kami semakin dekat. Kami sering belajar bareng dirumah Lara. Belanja bareng, masak bareng. Papanya Lara juga baik banget. Welcome banget sama aku. Hingga akhirnya ujian akhir kenaikan segera dimulai minggu depan.

__ADS_1


__ADS_2