
Akhirnya sampe juga dirumah Senja. Kok sepi rumahnya. Pada kemana penghuninya, Senja ada dirumah atau enggak ya. Aku turun dari mobil dan membunyikan bel rumahnya.
Ceklek, suara pintu dibuka.
"Nyari siapa mas?" tanya bibi.
"Nyari Senja bi" jawabku.
"Non Senja lagi istirahat di kamarnya mas" kata bibi menerangkan.
"Senja masih sakit bi?" tanyaku.
"Masih mas, mari silahkan masuk" jawab bibi mempersilahkan aku masuk ke dalam.
"Bibi panggilkan sebentar ya mas" kata bibi berpamitan.
"Ga usah bi, saya langsung ke kamarnya aja. Mau nyerahin pesenan Senja sekalian" kataku menahan bibi.
"Oh iya mas. Silahkan. Kamarnya ada di lantai atas pintu nomor dua" jawab bibi menerangkan.
"oke bi. Makasih ya" kataku sambil langsung naik ke atas menuju kamarnya Senja.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Aku mengetuk pintu kamar Senja. Tak ada jawaban dari dalam. Kuberanikan diri membuka pintu kamarnya, kuintip ternyata Senja sedang tidur. Aku masuk pelan-pelan ke kamarnya supaya Senja ga terbangun karena kedatanganku.
Aku duduk di sisi tempat tidurnya. Kulihat Senja begitu nyenyak, ga tega banguninnya. Akhirnya kuputuskan untuk meletakkan flashdisk yang berisi fotonya dan juga sekotak roti bakar selai kacang yang khusus aku bikin untuknya, setelah itu aku beranjak pergi. Niatnya mau pulang aja, aku sudah cukup lega bisa melihatnya seperti sekarang. Aku berdiri kemudian melangkah keluar pintu dengan hati-hati supaya ga berisik.
Baru beberapa langkah,
"Siapa?" tiba-tiba Senja terbangun dengan mata masih setengah merem.
"Ega" jawabku singkat sambil membalikkan badan.
"Ega? Kamu kesini? Dari kapan? Udah lama? Kok ga bangunin aku" tanya Senja bertubi-tubi sambil mencoba duduk.
Spontan langsung kubantu kupegangi Senja supaya bisa duduk dengan bantal sebagai sandarannya.
"barusan datang kok. Aku liat kamu lagi tidur sepertinya nyenyak banget, makanya aku ga bangunin kamu" jawabku sambil tersenyum.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Masih pening kepalanya?" tanyaku penasaran.
"Lumayan, tapi ini udah mendingan kok" jawabnya sambil tersenyum.
"Itu apa?" tanya nya sambil melihat kotak yang tadi kutaruh di nakas sebelah tempat tidurnya.
"Itu roti bakar selai kacang, aku bikin khusus buat kamu. Sama flashdisk yang isinya foto-foto kamu yang kemarin" jawabku sambil mengambil kotak roti bakar.
__ADS_1
"Dimakan ya. Kamu belum makan kan?" tanyaku sambil membuka kotak roti bakarnya.
"Ntar aja ya Ga. Kepalaku masih berat. Ga nafsu makan aku" jawab Senja menolak.
"Aku suapin. Haaaak, buka mulutnya" kataku sambil menyodorkan roti bakar di depan mulutnya.
"Ega.. Beneran aku lagi ga nafsu makan" kata Senja sambil mendorong tanganku menjauh dari mulutnya.
"Harus makan pokoknya. Ga ada penolakan. Aku ga biasa dan ga mau ditolak. Yuk buruan buka mulutnya, keburu pegel ini tangan. Enak loh ini. Beneran, suerrr, kalo ga percaya cobain deh" kataku sambil terus membujuk Senja supaya mau makan.
"Iyaaaaa" jawab Senja sambil membuka mulutnya.
Aku berhasil membuatnya makan. Setidaknya perutnya keisi supaya dia ada tenaga juga. Ga terasa akhirnya sekotak roti bakar ludes dimakannya.
"Aku ambilin minum dulu ya. Sekalian aku ambilin obat. Obat kamu dimana Ja?" tanyaku sambil mengambil gelas air minum di atas nakas sebelah kasurnya.
"Obatnya di laci Ga" jawabnya sambil menunjuk laci nakas.
Aku segera mengambil obat dan menyerahkannya kepada Senja. Dia pun segera meminumnya.
"Makasih ya Ga udah repot-repot anter flashdisk sama bawain aku roti bakar. Pake nyuapin segala" kata Senja sambil tersipu malu. Pipinya memerah padahal wajahnya masih terlihat pucat, sungguh menggemaskan, batinku.
"Iya, kayak apa aja pake bilang merepotkan. Aku pengen jagain kamu terus Senja. Jadi ga usah sungkan, kalo ada apa-apa aku harap kamu ngasih tau aku. Kalo bisa ga pake ngilang" kataku sambil mencubit hidungnya.
__ADS_1