
"Ahhhh, kenyang perut. Memang the best nasi goreng si abah" kataku setelah menyelesaikan suapan terakhir.
"Iya, enak banget ya nasi gorengnya. Bisa sering2 kesini nih buat ngapelin si abah" kata Senja menimpali.
"Juaraaaa emang si abah. Dari dulu rasanya ga berubah. tetep enak" kata Panji ga mau kalah.
Setelah menghabiskan makanan dan minuman, Senja memutuskan untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Guys, aku pamit duluan ya. Udah malam. Sekalian kubayarin semua nasi gorengnya. Sini piringnya" kata Senja sembari membereskan piring makanan kami.
"Loh buru buru neng, duduk dulu biar melorot dulu itu perut" kata Panji mencoba menahan Senja.
"Udah malam, takut diomelin papa. Ga, aku tunggu fotonya besok ya. Kalo hasilnya oke, kerja sama kita berlanjut" kata Senja sembari berlalu keluar.
"Kalo hasilnya ga oke?" tanyaku sambil setengah teriak kearah Senja.
"Kelarrr idup lo" jawab Senja sambil terus berlalu keluar cafe.
__ADS_1
Aku tertawa mendengar jawabannya dan hanya melihat dia berlalu menyeberang jalan ke arah abah penjual nasi goreng. Membayar makanan kami. Kemudian dia menyeberang lagi dan masuk kembali ke cafe.
"Kok balik lagi? kangen ya ma aku" kataku sambil cengengesan.
"Dih, orang cuma mau pamitan. Aku pamit dulu ya Nji, kapan2 mampir lagi kesini" katanya kepada Panji.
"Cuma Panji doang yang dipamitin nih" kataku sambil cemberut.
"Mas Ega, Senja pamit pulang dulu yaa" kata Senja sambil tertawa.
"Sama2, makasih traktiran nasi gorengnya yaa. kapan2 ganti aku yang traktir" teriakku ke arah Senja yang sudah berlalu keluar cafe.
Tinggal aku dan Panji duduk berdua menikmati kopi panas yang kupesan kembali. Aku belum mau pulang, jadi kuputuskan untuk nongkrong dulu di cafe.
"Ga" Panji memanggilku.
"Hmm" jawabku sambil menyeruput kopi.
__ADS_1
"Lu suka ya sama Senja?" tanya Panji to the point.
"Hah? engga, biasa aja. Aku ma dia cuma sebatas rekan kerja aja. Sengaja ngakrapin diri biar kontrak kerja sama terus berlanjut. Minggu ini lagi sepi job soalnya" jawabku santai.
"Halah ngeles. Keliatan tu dari sikap norak lu itu" kata Panji sambil tersenyum.
"Njirr, norak gimana?" tanyaku
"Yaa, norak. Caper gitu ke Senja. Bukan lu banget deh. Ega yang gua kenal mah anaknya sok cool, jaim. Begitu ma Senja, jadi noraak alay gitu" jawab Panji sambil tertawa.
"Eh ngeselin ya ngatain gua norak alay" kataku sambil nonjok lengannya Panji.
Ga nonjok beneran. Cuma nonjok becanda gitu.
"Kalo beneran suka juga gpp kali. Gua sebagai temen sekaligus sahabat lu, pasti ngedukung. Apalagi lu jomblo lama banget, semenjak ditinggal Lara, ga pernah gua liat lu jalan ma cewe. Baru kali ini gua liat lu jalan lagi ma makhluk cewe yang namanya Senja" kata Panji dengan muka serius.
Aku hanya diam mendengar ucapan Panji. Anganku kembali ke masa 10 tahun yang lalu. Masa dimana aku masih belun memikirkan tentang hidup dan masa depanku. Masa dimana aku cuma sibuk dengan tugas sekolah dan ujian. Masa dimana duniaku hanya terisi dengan seorang cewe bernama Lara. Yaa.. Larasati.
__ADS_1
"Woi, bengong aja" Panji menggoyang tangannya di depan muka mengagetkanku.
Aku hanya tersenyum tak berkata kata lagi.