Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Tentang Lara (11)


__ADS_3

Akhirnya hari ini ujian terakhir selesai. Lega rasanya setelah dua minggu ini bergelut dengan ujian yang begitu menyesakkan.


"Selesai juga ujiannya Ya Allah. Otakku begitu tersiksa dua minggu ini. Ujian yang menguras tenaga waktu dan pikiran" teriak Heri dari arah belakangku.


"Anjay lebay lo" aku langsung melempar buku ke muka Heri diikutin tawa yang lainnya.


Aku melangkah keluar kelas, rasanya dada ini lega karena telah melewati ujian yang begitu berat menurutku. Entah kenapa udara hari ini begitu sejuk. Mungkin karena udah ga ada beban lagi. Semua plong. Tinggal mempersiapkan masuk universitas aja.


Pengumuman kelulusan pun tiba. Kami semua lulus dengan nilai baik, kecuali Lara dan Panji. Mereka lulus dengan nilai sangat memuaskan. Dan setelah itu, kami pun mulai sibuk mengurus pendaftaran kuliah.


Aku, Darto, Heri, Anton diterima di Universitas Padjajaran Bandung sesuai dengan jurusan yang kami pilih. Akhirnya bisa kumpul bareng mereka lagi, sahabat seperjuangan. Sekarang tinggal memenuhi janjiku ke Panji untuk membantu mengurus cafenya. Aku mulai bantu-bantu Panji ditemani Lara. Lara banyak kasih masukan mengenai interior dan penataannya. Panji pun senang dengan ide Lara. Dan akhirnya, cafe pun siap.


Dringgg..


Bunyi chat masuk. Kulirik sekilas ada chat di group WhatsApp.


"Guys, akhir pekan ini datang ya di opening cafe D'friends" pesan dari Panji.


"Shiiiiaaapppp" jawab Darto.


"Wokeeeeyyyy" jawab Heri.


"Bereeessssss" jawab Anton.


"Paaassttiiiiiiiiii" jawabku.


Kulihat hanya empat orang yang menjawab. Lara??


Aku, Panji, Heri, Anton, Darto dan Lara membentuk group chat guna mempermudah komunikasi kami. Group chat dari SMA pun berlanjut hingga sekarang.


Dringg..


Bunyi chat kembali masuk.


"Hadiiiirrrrrrr" balas Lara.


Aku lega, kupikir Lara ga bisa datang di acara opening cafenya Panji karena suatu hal.

__ADS_1


"Ga, akhir pekan ini jemput gue ya ke cafenya Panji" Lara chat secara personal ke aku.


"Iyaa, tumben lama munculnya. Biasanya paling semangat kalo ada chat group" kataku setengah penasaran.


"Lagi sibuk aja dirumah" balasnya singkat.


"Sibuk apaan?" tanyaku.


"Sibuk ngerusuh. Hehehe" balasnya becanda.


"Besok jalan yuk. Lama ga jalan sama ayang tercinta. Kangen bangettttt" kataku sambil terkekeh sendirian.


"Duh, ga bisa nih. Gue sibuk sampe akhir pekan ini. Ayang Ega sabar dulu yaa. Akhir pekan kita jalan dari pagi deh sampe malem" jawab Lara membuatku penasaran.


"Sibuk apa emangnya sampe ga bisa ketemuan? Tanyaku setengah kesel.


"Ntar kujelasin kalo kita udah ketemu. Ga usah kesel deh. Gue ga macem-macem kok. Tenang aja. Udah dulu yaa. Muuuaaachhhhh" balas Lara mengakhiri obrolan kami.


Aku masih memandangi layar hp dan membaca chat Lara berulang kali. Rasanya aneh, Lara menolak aku ajak jalan. Ga pernah sebelumnya seperti ini. Apa dia ada masalah? Punya pacar baru? Bosen sama aku? Pertanyaan demi pertanyaan ga penting dan ga jelas terus keluar dalam otak dan pikiranku membuatku pusing hingga mengacak rambutku sendiri. Tau ah, tunggu penjelasan Lara sampe akhir pekan aja. Akhirnya aku menyerah memikirkan alasan Lara menolak ajakanku.


Akhir pekan pun tiba.


"Jemput gue jam 9 ya" chat dari Lara pagi ini.


Kulihat jam menunjukkan pukul 7 pagi. Masih ada waktu buat ngumpulin nyawa sama siap-siap pikirku. Mataku masih lengket dan tubuhku masih terasa berat untuk bergerak bangun. Rasa kantuk masih menghinggapiku. Namun tiba-tiba aku teringat Lara. Hari ini akhir pekan dan aku akan mendapatkan jawaban dari rasa penasaranku kemarin.


Aku bergegas bangun dan langsung menuju kamar mandi. Hari ini aku ada kencan seharian sama Lara sekalian ke acara opening cafenya Panji.


Selesai siap-siap, aku langsung turun untuk sarapan terlebih dahulu. Bibi udah nyiapin nasi goreng telur ceplok. Tanpa menunggu lama, aku langsung melahap habis sarapanku.


Kulihat jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Aku terlalu bersemangat rupanya. Sambil menunggu jam untuk menjemput Lara, aku menyiapkan kamera yang mau aku bawa hari ini. Sekalian mau foto bareng di opening cafe Panji, pikirku.


Selesai menyiapkan semuanya, aku langsung menuju kerumah Lara.


"Heiiii" teriak Lara dari dalam rumah sambil melambaikan tangan. Aku membalas lambaiannya. Tak lama kemudian Lara sudah selesai bersiap dan langsung naik ke motorku.


"Yuuk jalan" katanya sambil memelukku dari belakang.

__ADS_1


"Mau kemana Ra?" tanyaku karena memang belum tau tujuan kita hari ini mau kemana dan ngapain selain ke tempat Panji.


"Kemana aja pokoknya kita jalan seharian ini Ga. Lo ga ada ide buat ngajakin kemana gitu?" tanya Lara.


"Engga..." jawabku dengan polosnya.


"Hmm, kita ke taman kota aja gimana? Masih pagi udaranya masih seger ini" tanya nya.


"Hmm, oke" aku iyain aja karena memang aku ga ada tempat tujuan juga.


Kami pun berangkat menuju taman kota. Jam 9 masih tergolong pagi menurutku, jadi masih bisa menikmati udara pagi apalagi di taman kota. Sesampainya di taman kota, aku memarkir motorku kemudian kami pun berjalan menyusuri taman. Sejenak suasana hening, Lara diam akupun juga membisu. Aku tak tau harus memulai pertanyaan darimana, jujur banyak banget yang ingin aku tanyakan terkait sikapnya kemarin-kemarin.


"Duduk disitu yuk" ucap Lara sambil menunjuk bangku taman di dekat pohon rindang.


Tanpa menjawab, aku mengikuti langkahnya dan duduk di sebelahnya.


"Ga" kata Lara lirih tanpa memandang kearahku.


"Iya sayang?" jawabku sambil tersenyum menatap wajahnya. Wajah yang sebentar lagi takkan bisa kutatap secara langsung seperti sekarang.


"Gue mo ngomong serius" kata Lara sambil menatap balik ke arahku.


"Ngomong aja Ra, apapun itu gue dengerin kok" jawabku sambil menyenderkan badan.


"Sebenernya dari kemarin-kemarin gue sibuk ngurus beasiswa. Gue pengen bisa kuliah kayak kalian. Gue udah daftar ke beberapa universitas dan akhirnya ada salah satu universitas yang nerima gue" jelasnya sambil menatap ke depan.


"Wah, bagus dong, akhirnya lo bisa kuliah juga. Itu mimpi lo kan? Gue seneng dengernya. Kenapa lo ga ngomong dari kemaren-kemaren sih Ra, kan gue bisa bantu lo. Gitu deh ma pacar sendiri masih sembunyi-sembunyi" kataku bersemangat. Aku ikut senang mendengar kabar Lara bisa lanjut kuliah. Aku berharap dia pun masuk Universitas Padjajaran sama seperti aku dan uang lainnya.


"Yaa maap. Bukan gue sembunyi-sembunyi. Cuma karena ngurusnya ribet dan lama, jadi gue fokus dulu. Kalo ada lo mana bisa fokus gue" kata Lara sambil nyengir.


"Yee, apapun itu pasti gue dukung kok" kataku sambil mengelus rambut Lara.


"Gue ketrima di Universitas Oxford, Inggris" kata Lara melanjutkan.


"Haahhh?? Inggris? Kenapa ga daftar di Universitas dalam negeri aja Ra? Kenapa lo mesti daftar jauh-jauh kesana coba? Tanyaku kaget.


"Impian gue Ga. Mimpi gue untuk bisa masuk Universitas dengan program kedokteran terbaik dan salah satunya itu Oxford. Gue daftar ke beberapa universitas, cuma yaa kebetulan aja Oxford memberi kesempatan gue untuk itu. Gue pengen jadi dokter Ga, impian gue setelah gue kehilangan nyokap gue. Lo tau kan nyokap gue meninggal gara-gara apa? Lo juga tau kan kehidupan keluarga gue kayak gimana. Gue cuma orang miskin yang bisa tetep sekolah dari beasiswa. Gue bisa bertahan sekolah selama ini karena gue berusaha keras untuk dapetin beasiswa. Gue bukan lo yang lahir dari keluarga berkecukupan sehingga ga pernah mikirin masalah biaya sekolah" jawab Lara panjang lebar dengan penuh emosi hingga air matanya menetes.

__ADS_1


__ADS_2