
Aku hanya terdiam kemudian memeluknya. Aku tak kuasa membendung air mata melepaskan kepergiannya. Sungguh saat itu aku ga rela dia pergi gitu aja ninggalin aku dan menggantung hubungan kami yang sudah terjalin selama dua tahun terakhir. Berat buatku untuk menerima semuanya.
"Gue sayang elo Ra" cuma itu yang mampu aku ucapkan sambil menangis memeluknya. Lara pun membalas pelukanku. Dia juga tak kuasa menahan tangis.
"Gue juga sayang elo Ga. Jaga diri lo baik-baik ya. Kuliah yang bener. Gue bakal balik kok" kata Lara sambil terisak dalam pelukanku.
Malam ini suasana begitu mengharukan. Aku berusaha kuat walaupun hatiku merasa hancur. Rasanya dunia menjadi putih, ga ada warna sama sekali.
"Ga, gue pergi ya" bisik Lara sambil melepaskan pelukannya.
"Gue anter ya? Sampe bandara" kataku sambil menggenggam tangannya.
"Ga usah, kalo lo anter, yang ada gue ga jadi berangkat. Biar papa yang anter" kata Lara sambil tersenyum.
"Gue anter sampe depan cafe deh. Boleh?" kataku sambil membalas senyumnya. Senyum yang akan selalu kurindukan, senyum yang tak akan bisa kunikmati setiap saat.
"Boleh" jawab Lara sambil mencubit hidungku.
"Guys, gue pamit yaa. Ngejar pesawat tengah malam soalnya. Have fun semuanya. Bakal kangen kalian semua" ucap Lara berpamitan.
"Hati-hati yaa Ra. Safe flight" kata Anton, Panji, Heri, dan Darto bersamaan.
Aku mengantar Lara hingga ke depan cafe. Dia pulang naik taksi yang sudah dipesannya tadi. Sebelum dia pergi, aku kembali memeluknya untuk beberapa lama.
"Ga, ini buat lo" kata Lara setelah melepaskan pelukanku. Dia mengambil kotak yang dari tadi disimpan ditas nya.
"Roti bakar selai kacang" aku tertegun.
__ADS_1
"Sorry, gue ga bisa bikinin roti bakar lagi buat lo. Dimakan yah" kata Lara sambil tersenyum.
"Gue bakal kangen banget roti bakar bikinan lo Ra" kataku lirih.
Akhirnya Lara naik taksi dan pergi meninggalkanku dengan luka. Yaa, luka yang teramat perih. Entahlah, pikiranku melayang saat itu. Aku hanya bisa menatap taksi yang ditumpangi Lara pergi semakin jauh hingga akhirnya tak terlihat lagi.
"Ga" panggil Panji. Entah dari kapan Panji ada dibelakangku, bahkan kehadirannya pun tak dapat kurasakan. Duniaku seolah berhenti tepat saat aku melepaskannya pergi.
"Ga" kata Panji mengulang panggilannya serta menepuk bahuku.
"Iya Nji? Dari kapan lo disini? Tanyaku kaget.
"Dari tadi *****, gue panggilin kaga nyaut-nyaut" kata Panji setengah melotot.
"Sorry, ga fokus gue" jawabku singkat.
"Gue langsung pulang aja ya Nji" kataku dengan lesu.
"Yaudah, lo tenangin diri dulu. Dunia ga akan hancur hanya karena lo patah hati ditinggal Lara. Lagian Lara pergi buat kuliah, buat ngejar mimpi dia, bukan buat ngejar cowo laen. Jadi selow aja, ga usah lebay gitu dong" kata Panji seraya menepuk bahuku.
"Yaa gimana ga lebay coba. Dia kuliah jauh men. Gue ditinggalin disini. Yaa meski kita tetep bisa komunikasi, tapi kita udah ga bisa jalan bareng lagi. Lo kan tau sendiri gue sama Lara gimana" kataku setengah kesal dikatain lebay.
"Emang kayak gimana coba?" tanya Panji setengah meledek.
"Tau ah. Lo temen lagi susah gini malah diledekin" jawabku sambil pasang muka masam.
"Yeee ngambek dih jijay gue" kata Panji sambil ketawa.
__ADS_1
"Ji, gue pulang dulu ya. Mo nenangin pikiran dulu. Salam buat anak-anak ya" kataku mengakhiri bully an Panji.
"Pulang beneran lo?" tanya Panji.
"Iyaaaaaa. Dah ah gue cabut dulu. Bye" kataku sambil melangkah ke parkiran motor lalu tancap gas pulang kerumah.
Panji hanya tertegun melihatku. Dia tau pasti suasana hatiku seperti apa. Dia hanya mencoba menghiburku dan mengalihkan pikiranku dari Lara.
Thanks Ji. Gue bakal move on kok. Lo tenang aja. Palingan gue galau cuma bentaran doang, batinku seraya menghibur diri.
Setelah sampai rumah, aku cuci muka. Kupandangi kotak berisi roti bakar selai kacang bikinan Lara. Ah bodo amat, pusing mikirin masalah cewek. Aku pun langsung melahap roti bakarnya sampai habis tak bersisa dan setelah itu langsung kurebahkan badanku di kasur. Memandang langit-langit kamar yang begitu suram. Pandanganku menerawang jauh ke atas. Kuharap Lara kasih kabar begitu dia sampe Inggris, batinku.
Tak terasa mata semakin berat dan akhirnya aku pun tertidur.
Lara..
Lara..
Lara..
Nama itu yang terus terngiang dipikiranku, bahkan di alam bawah sadarku. Rasanya aku tak ingin terbangun dari tidur. Aku berharap semua hanya mimpi. Kepergian lara telah membuat hati dan pikiranku hampa, sejujurnya keputusannya tak bisa kuterima. Yaa, dia melangkah tanpa melibatkanku dalam keputusannya. Memang hak dia karena itu hidupnya, masa depannya. Namun, tak adakah aku di dalam masa depannya itu? Apakah memang hanya sedangkal itu perasaannya kepadaku? Entahlah, hanya Lara yang tau jawabannya, dan dia menyimpannya sendiri.
*
*
*
__ADS_1
flashback off