Senja Dalam Kenangan

Senja Dalam Kenangan
Tentang Lara (12)


__ADS_3

"Terus gue gimana Ra?" tanyaku tanpa bisa berpikir lagi mendengar penjelasan Lara.


"Ya lo tetep kuliah juga Ga. Cuma gue ga bisa pulang sebelum nyelesein study gue disana. Lo tau kan hidup gue sepenuhnya dari beasiswa. Segala tunjangan bakal ditanggung dan gue bakal tinggal di asrama. Kita masih bisa komunikasi Ga." terang Lara berusaha menenangkanku.


"Berapa lama itu?" tanyaku dengan lesu.


"Kalo gue ambil spesialis kanker setelah lulus program kedokteran, maka waktu yang dibutuhkan mungkin sekitar sepuluh tahun" kata Lara dengan pelan sambil menunduk.


"Trus? Hubungan kita?" tanyaku lagi.


"Jalani aja dulu Ga. Kita masih bisa komunikasi" kata Lara sambil menghapus air matanya yang mulai menetes.


Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa pasrah dengan keputusan Lara. Apapun itu, Lara sudah menentukan langkahnya. Dia melangkah meraih impiannya tanpa aku. Mungkin aku bisa mengunjunginya kapan-kapan. Aku masih belum bisa berpikir sejauh itu. Akhirnya aku hanya bisa menghela napas panjang.


Kami duduk berdua dalam diam dan hening. Tak ada lagi yang bisa kuucapkan, begitu juga dengan Lara. Tak ada hal yang ingin dia bagi denganku selain perasannya. Bahkan hidupnya, dia sendiri yang memilih langkah tanpa menyertakan aku didalam keputusannya. Begitulah Lara. Mungkin dia terlalu berambisi terhadap mimpinya itu. Buatku ga masalah, aku ga berhak melarang apa yang menjadi keinginan dan keputusannya. Dia berhak mengatur kehidupannya sendiri.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dalam keheningan. Waktu menunjukkan pukul satu siang.


"Hhh, ga kerasa udah siang, ke cafenya Panji yuk. Kita udah janji bakal dateng ke acaranya" kataku akhirnya memecah keheningan yang telah berjalan begitu lama.


"Yuk" kata Lara sambil berdiri dan berjalan menuju parkiran motor.


Kami pun meluncur ke cafe Panji. Selama dalam perjalanan pun kami hanya diam dan membisu satu sama lain. Entah kemana semua kata dan canda yang biasa kami lontarkan setiap kali kami jalan berdua.


Sesampai di cafe Panji, aku dan Lara masuk bersama. Di dalam sudah berkumpul teman-teman Panji dan juga geng kita. Anton, Heri, Darto juga sudah datang. Mereka duduk dalam satu meja di rooftop.


"Gabung sama mereka yuk" kataku ke Lara sambil menunjuk ke arah meja anak-anak.

__ADS_1


"Yuk" kata Lara sambil tersenyum.


Aku menggandeng tangan Lara, dan Lara hanya menunduk mengikuti langkahku.


"Cieeeeee makin mesra aja pasangan kita" ledek Heri disertai sahutan ciieeeee dari yang yang lain.


"Jangan reseh" kataku sambil menendang kaki Heri kemudian duduk di sebelahnya, Lara pun ikut duduk di sebelahku.


"Panji mana?" tanyaku karena aku ga melihat Panji diantara mereka.


"Lagi sibuk dia ngurusin para tamu. Mungkin masih dibelakang, tadi ada kok" jawab Darto sambil menyeruput minuman yang ada di meja.


"Ohh" kataku singkat.


Seperti biasa kami pun ngobrol dan becanda-becanda, termasuk Lara. Dia pun membaur dengan yang lainnya. Jam berlalu begitu cepat hingga tak terasa waktu sudah menjelang malam. Kami pun tak lupa berfoto bersama untuk mengabadikan moment ini.


"Guys, gue ada pengumuman" tiba-tiba Lara berbicara dengan nada serius. Sontak kami semua pun diam dan menatap ke arahnya.


"Pengumuman? Kalian mo nikah?" tanya Anton dengan nada becanda. Namun aku dan Lara tak tertawa sedikit pun. Karena aku tau apa yang akan dibicarakan Lara.


"Sorii, ngomong aja Ra, kita dengerin" ucap Anton karena melihat wajah serius Lara.


"Gue ketrima beasiswa di University of Oxford Inggris. Artinya gue bakal kuliah disana. Kalian bakal support gue kan?" tanya Lara penasaran dengan jawaban semuanya.


"Hahhhh??? Inggris??" tanya Darto kaget.


"Iya Inggris Darto" kata Lara meyakinkan.

__ADS_1


Kulihat sekilas anak-anak saling bertukar pandang lalu melihat ke arahku. Dan aku hanya diam tanpa memberikan penjelasan apapun.


"Kita sih dukung lo pastinya, cuma...." kata Panji menggantung sambil melihat ke arahku.


"Gue pasti dukung Lara, apapun keputusannya, gue yakin itu yang terbaik buat dia. Jadi ga ada yang perlu kalian kawatirkan tentang gue" jawabku akhirnya setelah melihat semua mata menatapku penuh kekawatiran.


"Ga, lo beneran gapapa?" tanya Heri yang sedari tadi diam karena kaget dengan pengumuman Lara.


"Gue gapapa. Kan ada kalian disini yang nemenin gue" kataku sambil memaksa tersenyum. Kulirik Lara sekilas, ada raut kesedihan di wajahnya. Wajar karena dia akan berpisah dengan kami semua.


"Lo berangkat kapan Ra?" tanya Panji.


"Malam ini. Bentar lagi gue cabut ya" jawab Lara menambah kekagetanku. Aku ga menyangka dia pergi secepat itu. Begonya kenapa tadi aku ga nanya kapan dja berangkat. Aku ga nyiapin apapun buat dia, setidaknya sesuatu yang bisa dia bawa untuk menemaninya.


"Oke, ada yang mau kalian ucapin buat gue? Sebelum gue cabut dan pergi untuk waktu yang lama" tanya Lara dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Sebelumnya gue mau ngucapin selamat ya Ra atas prestasi lo. Gue bangga banget punya sahabat yang pinternya kebangetan kayak lo. Jaga diri lo baek-baek ya disana" kata Anton sambil meneteskan air mata.


"Jangan lupain gue ya Ra. Belajar yang rajin disana biar cepet lulus trus cepet balik kesini" kata Darto sambil mengusap air matanya yang jatuh.


"Selamat Ra. Lo ter the best pokoknya. Jangan lupa kasih kabar ke kita ya" kata Heri sambil menangis pula.


"Selamat ya Ra. Jaga diri baik-baik. Good luck pokoknya" kata Panji singkat karena dia ga mau sampe ikutan mewek seperti yang lainnya.


"Thanks ya. Kalian semua sangat berarti buat gue. Gue ga akan lupain sahabat seperti kalian. Gue beruntung dan gue bangga punya kalian semua. Doain gue yaa" kata Lara sambil menangis.


Akhirnya kami berenam berpelukan dalam tangis karena hari ini terakhir kalinya Lara berkumpul dan berada ditengah-tengah kami semua.

__ADS_1


"Ga, ada yang mau lo ucapin Ga?" tanya Lara kemudian setelah kami melepaskan pelukan.


__ADS_2