
"Iyaa" jawab Senja sambil tersenyum. Betapa cantiknya dia saat tersenyum seperti ini. Bahkan wajah pucatnya karena sakit pun tak bisa menutupi kecantikannya.
"Heii, kok bengong" kata Senja mengagetkanku.
"Aku selalu menyukai senyummu. Dari awal ketemu sampe sekarang" kataku sambil menatap wajahnya.
"Dih, gaje deh" kata Senja sambil malu-malu karena tatapanku.
"Serius" kataku sambil masih menatapnya.
"Udaah ih ngeliatnya. Malu tau" kata Senja sambil mendorong pipiku kesamping.
"Aku sayang kamu" kataku sambil memegang tangannya yang masih menempel di pipiku.
Senja hanya diam tanpa bicara sepatah katapun. Kami saling bertatapan. Beberapa saat kemudian, entah bagaimana awalnya, kudekatkan wajahku ke wajahnya hingga akhirnya aku mengecup bibir mungilnya yang tipis. Tak ada penolakan dari Senja.
Drrrrtttt....drrrttttt.....
Tiba-tiba hp ku bergetar dan aku langsung menyudahi ciumanku. Kulihat wajah Senja tampak merah, ntah karena malu atau ntah karena apa.
"Aku angkat telepon bentar ya. Mama telepon" kataku. Senja hanya mengangguk.
"Halo ma" aku menjawab telepon dari mama tanpa beranjak dari tempat duduk ku.
"Halo Ega, kamu dimana? Mama sama papa barusan sampe rumah. Kata bibi kamu keluar. Pulang gih. Kita makan bareng, sekalian ada yang mama sama papa mau omongin ke kamu" jawab mama.
"Iya ma, bentar lagi Ega pulang" jawabku.
"Mama tunggu dirumah ya" kata mama.
"Iya ma" jawabku kemudian kututup telepon.
"Mama kamu?" tanya Senja.
__ADS_1
"Iya, mama baru sampe rumah. Habis dari luar kota sama papa ngurusin kerjaan. Ga tau katanya ada yang serius mau dimongin ke aku" jawabku.
"Oh gitu. Yaudah kamu pulang gih." kata Senja setengah mengusir.
"Dih, ngusir" jawabku sambil tersenyum menatapnya.
"Engga ngusir. Kan disuruh pulang sama mama kamu. Aku juga mau istirahat lagi" kata Senja sambil menekuk muka.
Kelihatan banget dia sedang kesal karena aku disuruh cepat pulang sama mama.
"Yaudah aku pulang dulu ya. Kamu langsung istirahat lho. Kalo ada apa-apa jangan lupa kasih kabar ya" kataku sambil mengelus pipinya.
"Iya, kamu pulangnya ati-ati yaa" kata Senja sambil memegang tanganku.
Aku pun mengecup keningnya sebelum beranjak pergi.
"Love you" bisikku ditelinganya.
Kulihat wajahnya kembali memerah. Senja pun hanya tersenyum.
Sampai dirumah, aku langsung masuk menuju ruang keluarga. Kulihat mama sama papa sedang duduk sambil menonton tv.
"Ma, pa" panggilku.
Mama sama papa langsung melihat ke arahku.
"Sini duduk dulu sayang" kata mama tersenyum.
Aku pun menghampiri mereka berdua dan duduk di sofa.
"Mau ngomong apa ma, pa, kok serius banget kayaknya" tanyaku penasaran.
"Sabar dulu, gimana kerjaan kamu sekarang ga?" tanya mama.
__ADS_1
"Kerjaan lancar dan aman ma. Cuma belum ada klien lagi untuk difoto. Jadi Sementara nganggur" jawabku sambil menyenderkan badan.
"Gimana kalo kamu bantu papa dulu diperusahaan? " tanya papa tiba-tiba.
"Bantu papa? Maksudnya gimana pa?" tanyaku kurang paham.
"Yaa ,bantuin papa ngurus perusahaan. Kamu tau kan papa ini sudah mulai menua, butuh seseorang yang bisa dipercaya buat bantu ngurusin semuanya. Papa ga punya siapa-siapa selain kamu sama mama. Papa pengennya bisa hidup lebih santai sama mama" kata papa menerangkan.
"Ohh, papa mau minta Ega buat ngurusin perusahaan papa gantiin papa, gitu?" tanyaku sambil tertawa.
"Yaa kurang lebih gitu" jawab papa heran kenapa aku malah tertawa.
"Itu hal serius yang mama sama papa mau omongin sama Ega?" tanyaku lagi.
"Iya sayang. Gimana menurutmu?" tanya mama kemudian.
"Selama ini mama sama papa udah kerja keras buat Ega. Nyekolahin Ega, ngerawat dan mendidik Ega sampe segede ini. Apapun yang Ega minta selalu kalian usahakan buat menuhin. Kalo sekarang papa minta bantuan buat ngurus perusahaan, masa Ega ga mau bantu." jawabku sambil memperhatikan ekspresi mereka berdua.
"Beneran kamu mau Ga?" tanya papa seolah kurang percaya dengan yang barusan aku omongin.
"Beneran pa. Cuma Ega masih harus belajar dulu. Ga bisa langsung pegang kendali sepenuhnya. Papa ajarin Ega dulu bagaimana cara mengurus perusahaan papa. Apa aja yang harus dikerjakan dan diperhatikan. Kasih tau juga Ega musti ngapain. Semuanya pokoknya papa kasih tau ke Ega" jawabku panjang lebar.
"Oke, besok kita ke kantor ya" kata papa bersemangat.
"Lah, secepat itu pa?" tanyaku heran.
"Iya, kalo kelamaan keburu kamu berubah pikiran" jawab papa.
"Tapi aku masih boleh motret kan pa, papa tau sendiri aku cinta banget sama fotografi" kataku meminta ijin.
"Boleh. Papa ga akan ngelarang kamu. Lakukan hobi kamu, dan bertanggung jawablah pada pekerjaanmu" kata papa sambil tersenyum.
Yaa, mau ga mau memang aku harus menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang anak. Berkat perusahaan yang papa dirikan, aku bisa sekolah, keluargaku bisa makan dan hidup berkecukupan, aku harus mempertahankan dan menjaga apa yang sudah papa bangun untuk kami keluarganya. Kalo bisa, aku harus mengembangkan perusahaannya papa, gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku memang telah mempersiapkan diri dan mental untuk itu. Semenjak ditinggal Lara, aku hanya fokus dengan yang aku miliki sekarang. Dan aku cuma memiliki keluarga dan sahabat-sahabatku itu. Aku fokus kukiah hingga lulus dan menjalankan hobiku di dunia fotografi. Aku menjadi fotografer meski hanya freelance dan tidak aku buat sebagai pekerjaan yang serius. Makanya aku ga membuka studio foto. Kalo orang ingin menggunakan jasaku, silahkan langsung hubungi aku. Kontak dan biografiku sudah lengkap aku tulis di blog.
Dan ke depannya, aku bakalan sibuk mempelajari seluk beluk perusahaannya papa. Semangat Ega, demi masa depan kamu juga. Aku berharap dengan membantu papa diperusahaannya, aku bisa membuatnya bangga kelak. Aku pengen melihat mama sama papa menikmati masa tuanya dengan santai. Sekarang giliranku yang bekerja keras untuk mereka, batinku.