
Keesokan harinya..
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, aku bersiap ke kantor untuk menyelesaikan misiku kemarin mencari tahu siapa si pencuri data perusahaan.
"Ga, mau kemana pagi gini, kok udah rapi? " tanya papa sambil duduk membaca koran diruang keluarga.
"Ke kantor bentar pa, ada urusan yang harus Ega selesaikan" kataku sambil menghampiri papa dan duduk di sebelahnya.
"Pagi gini? Ga kepagian? Kan kantor jam masuknya jam 8" kata papa heran.
"Justru karena masih pagi gini pa, lebih leluasa Ega. Belum banyak yang datang ke kantor" kataku sambil tersenyum.
"Ga sarapan dulu Ga? " tanya mama ikut gabung dan duduk di sebelahku.
"Ntar aja ma setelah pulang kantor, Ega mau sarapan bareng Senja. Ke kantor cuma bentar aja kok"
"Sarapan disini aja ajak Senja, makan bareng-bareng dirumah" kata mama kemudian.
"Mama sama papa ga kesiangan sarapannya kalo nungguin Ega? Sarapan dulu aja gapapa ma, ntar Ega belakangan sama Senja"
"Yaudah, pokoknya nanti bawa Senja kerumah ya" kata mama sambil tersenyum.
"Siap ma, yaudah aku berangkat ke kantor dulu ya ma, pa" pamitku sambil mencium tangan mama sama papa.
"Iya sayang, hati-hati ya" kata mama sambil mengelus kepalaku.
Aku langsung meluncur ke kantor. Sesampai di kantor, aku menuju ruangan Bima. Aku cuma duduk-duduk saja di depan komputer yang masih mati.
Ceklek..
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka dan ada seseorang yang masuk.
"Beni" panggilku.
"Pak Ega, maaf pak saya tidak tahu bapak ada disini" kata Beni terkejut melihatku sudah ada di dalam ruangan Bima.
"Kamu ternyata karyawan yang rajin ya. Jam segini sudah bekerja" kataku memuji.
"Lebih enak kerja pagi gini pak, masih sepi, jadi lebih leluasa membersihkan ruangan" katanya sambil tersenyum.
"Iya ya, kalo pagi gini masih sedikit yang sudah datang, jadi lebih leluasa bersih-bersih. Kalo banyak orang pasti agak ribet ya karena pada lalu lalang" kataku kemudian.
"Iya pak. Agak susah kalo udah banyak yang lalu lalang" sambung Beni.
"Hmm, mungkin aku perlu mempertimbangkan kinerjamu untuk naik jabatan" kataku sambil meliriknya. Kulihat raut mukanya tampak sumringah mendengar ucapanku.
"Oh iya, pak Ega kenapa pagi begini sudah datang ke kantor? " tanya Beni kemudian.
Kulihat Beni sedang berpikir dan menghentikan sejenak pekerjaannya.
"Ben" panggilku membuyarkan lamunannya.
"Eh iya pak. Saya bisa bantu" jawab Beni sambil mulai menyalakan komputer milik Bima dan memasukkan passwordnya.
"Silahkan pak, kalau ada data yang mau dicari" kata Beni.
"Wah, terima kasih Ben, kamu sangat membantu" pujiku.
"Sama-sama pak" kata Beni sambil tersenyum kemudian berlalu dan melanjutkan pekerjaannya bersih-bersih.
__ADS_1
Kena kamu ya. Sekarang aku sudah tau siapa dalang dibalik semua kekacauan ini. Cuma yang aku belum tau, bagaimana cara dia mengetahui password kompiter Bima, sedangkan cuma Bima sendiri yang tau apa passwordnya. Hmm, mungkin dia bisa kupaksa mengaku setelah menangkapnya.
Tak lama kemudian Bima datang dan masuk ke ruangan.
"Pak Ega" kata Bima kaget.
"Hai Bim, duduk sini" kataku sambil tersenyum.
"Bagaimana bapak bisa menyalakan perangkat komputer saya? " tanya Bima heran.
"Dibantu Beni OB kita itu" kataku seraya melihat ke arah Beni.
"Beni?" tanya Bima heran.
"Benar Ben? " tanya Bima memastikan.
"Benar pak Bima. Saya minta maaf kalau lancang, pak Ega yang meminta tolong kepada saya" kata Beni seraya menunduk.
"Bagaimana kamu bisa menyalakan dan tau password komputer saya Ben? Di kantor ini ga ada yang tau passwordnya selain saya lho. Bahkan tim saya pun ga ada yang tau. Sekarang bisa kamu jelaskan semuanya? " tanya Bima setengah emosi.
"Jawab Ben, bagaimana caramu mengetahui semuanya? " tanyaku menimpali.
Beni diam tak berkutik. Tangannya tampak bergetar menandakan ketakutan mulai menghinggapinya.
"Kamu juga kah yang mencuri data presentasi perusahaan kita dan membocorkannya ke perusahaan lain? Tanyaku lagi.
Kulihat Beni masih diam tak berkutik, tak ada jawaban bahkan sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya.
"JAWAB?!!!!!" bentakku akhirnya.
__ADS_1
"Pak, maafkan saya. Ampuni saya pak" kata Beni sambil menangis kemudian berlutut menghadap ke arahku.
"Jelaskan semuanya" kataku sambil menurunkan nada suaraku.