Seorang Kaisar Wanita.

Seorang Kaisar Wanita.
Tiba di tujuan (kehidupan mereka sangat sulit)


__ADS_3

Dengan menggunakan kereta kuda yang nampak begitu sederhana tanpa ada sedikitpun sentuhan kemewahan ala keluarga kerajaan, mereka bertiga pun kini berangkat menuju desa mati tanpa ada seorang pun prajurit yang berjaga di sekeliling mereka.


Namun di sisi lain, sebagai gantinya beberapa penjaga bayangan pun di tempatkan oleh Kaisar untuk mengawasi sekaligus menjaga keselamatan ketiga orang penting itu dari kejauhan.


Dan di dalam kereta, Li Ying kini nampak diam sembari memejamkan matanya. Gadis itu terlihat seperti bayi kecil yang sedang tertidur pulas, wajahnya pun terlihat begitu damai dan tenang bagaikan air danau yang membeku.


Mungkin jika itu adalah orang biasa, mereka akan berfikir seperti itu. Namun, untuk para pangeran yang sudah terlatih, mereka berdua pun tentunya tau bahwa gadis kecil itu kini tidak sedang benar-benar tidur.


Kedua matanya hanya sedang terpejam, namun kesadaran gadis itu masih tetap utuh. Dan hal itupun dapat dilihat dari daun telinganya yang sedikit bergerak di saat ia mendengar sesuatu yang samar-samar.


“Perjalanan kita masih cukup jauh, dan di sekitar sini bukanlah tempat yang berbahaya, jadi kau tidak perlu sewaspada itu, Ying meimei! ” Ucap Wang Yelu, yang sedari tadi memang sedang mempertahankan gadis itu.


Dan Wang Zeming yang mendengarnya serta merasa setuju itu pun kini menganggukkan kepalanya dan berkata. “Itu benar, tidak ada yang perlu di khawatirkan jika ada kami di sampingmu!... ” Ucapnya, kemudian setelah terdiam beberapa saat, pangeran itupun kembali berkata. “... di tempat yang begitu aman, kau masih saja waspada!.... walaupun itu bukanlah hal yang buruk, namun itu semua mengingatkanku akan para prajurit yang sedang berada di medan perang. ” Ucapnya lagi.


Lalu Wang Yelu pun menambahkan. “ Mereka selalu waspada bahkan saat sedang tertidur di dalam rumahnya sendiri!.... aku tahu hal itu karena kaisar yang sebelumnya juga melakukan hal yang sama.” Ucapnya, yang tiba-tiba teringat akan sosok sang paman yang sudah meninggal.


Mendengar hal itu, Li Ying pun pada akhirnya membuka kedua matanya. Kemudian, ia melirik kedua pangeran itu satu persatu dan berkata dengan nada bicara yang begitu tenang.


“Entahlah, mungkin itu sudah menjadi kebiasaan!.... karena seseorang yang memegang pedang tidak boleh lengah sedikitpun....” Ucapnya, lalu kemudian ia kembali berkata. “.... terkadang kalian sendiri juga seperti itu, bukan? ” Tanyanya, setelah itu ia memejamkan kedua matanya kembali.


Baik Wang Zeming dan Wang Yelu yang mendengar hal itupun kini hanya bisa terdiam. Apa yang gadis itu katakan tidaklah salah, mereka memang sering melakukannya, namun hal itu hanya di saat situasi tertentu.


Berbeda halnya dengan Li Ying, gadis itu seperti sudah terlatih untuk terus melakukannya kapanpun dan di manapun.

__ADS_1


Seolah-olah ia adalah orang yang selalu terlibat dalam situasi yang berbahaya, seperti seseorang yang nyawanya selalu berada di ambang jurang yang dalam.


Melihat hal itu, Wang Zeming pun kini menundukkan kepalanya. Entah kenapa hatinya kini merasa sakit, dan dalam hati ia pun bergumam. “Aku tidak mengerti, sebenarnya kehidupan macam apa yang selama ini kau jalani?.... kau tidak bersikap selayaknya gadis kecil pada umumnya, kau begitu cerdas dan mandiri, begitu berbakat hingga mampu mengejutkan semua orang yang kau temui.... ” ia terdiam untuk sesaat, kemudian sedikit melirik ke arah gadis kecil itu dan kembali bergumam. “.... yah, aku tahu kalau itu adalah sesuatu yang patut untuk di banggakan!.... akan tetapi, tidakkah itu semua memerlukan perjuangan yang begitu keras dan menyakitkan?... tidak seharusnya kau seperti ini, aku terkadang senang, namun di sisi lain aku lebih sering mengasihani mu! ” Gumamnya lagi, dengan tatapan sendu.


Sungguh tak habis pikir dengan seberapa banyak penderitaan yang gadis kecil itu alami sebelum bisa menjadi sehebat ini.


Apakah pada saat itu, ia pernah menangis kesakitan tanpa ada seorang pun yang menolongnya?.... Kira-kira, seberapa banyakkah tubuh mungil itu terluka dan menderita?


Membayangkannya saja sudah sangat menyedihkan!.... Wang Zeming bahkan masih menangis kencang hanya karena terjatuh ketika berjalan pada saat ia seusia dengan Li Ying.


...༶•┈┈⛧┈♛𓅪♛┈⛧┈┈•༶...


Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kereta kuda, mereka pun kini akhirnya tiba di tempat tujuan dengan selamat dan tanpa ada hambatan sedikitpun.


Namun, begitu mereka turun dan melihat sekitarnya. Mereka pun langsung dikejutkan dengan pemandangan kumuh yang tampak mengerikan.


Melihat hal itu, Li Ying pun kini mengerutkan keningnya. Kemudian ia mengeratkan genggaman tangannya sembari bergumam. “Ini bahkan lebih buruk dari sebelumnya! ” Ucapnya, dengan suara lirih.


Namun Wang Yelu yang tak sengaja mendengarnya pun kini melirik gadis itu dan berkata. “Apakah sebelumnya kau benar-benar pernah ke sini?” Tanyanya dengan ragu untuk memastikan.


Dan Li Ying pun menganggukkan kepalanya dan menjawab. “Iya, tapi itu dulu sekali!... ” Kemudian, ia melirik beberapa orang di sana, setelah itu kembali berkata. “.... Tidak ku sangka keadaannya akan menjadi seperti ini, seharusnya sedari awal aku menyelesaikannya sampai tuntas!....Namun siapa sangka, aku malah__” Ia menghentikan ucapannya, menggertakan giginya dan tak berniat untuk meneruskannya.


Kemudian, setelah itu merekapun melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam menyusuri jalanan kumuh di desa itu.

__ADS_1


Sesekali merekapun sempat di hentikan oleh beberapa orang yang mengemis-ngemis uang dan makanan kepada mereka, bahkan ada beberapa gadis muda yang tidak segan-segan untuk menawarkan tubuhnya kepada dua pangeran yang sedang menyamar itu.


“Di siang-siang begini mereka masih ingin mel*cur?!!.... tidakkah mereka malu?! ” Gumam Wang Zeming dengan nada heran setelah berhasil meloloskan diri dari ajakan gadis-gadis tadi.


Mendengar hal itu, Li Ying yang kini berada dalam gendongan Wang Yelu pun berkata. “Jangan terlalu kesal pada mereka, pangeran!... ” ucapnya, kemudian ia menghela nafas dan kembali berkata. “... jika bisa memilih, mereka mungkin tidak akan mau melakukannya!.... akan tetapi, di tempat seperti ini kehidupan begitu kejam pada mereka!... rasa malu dan kehormatan tidak akan membuat perut mereka kenyang, karena yang mereka pikirkan saat ini hanyalah cara untuk bertahan hidup! ” Ucapnya lagi, yang memberikan sebuah penjelasan.


Setelah itu, Li Ying pun melirik ke arah salah satu rumah kecil yang di depannya terdapat seorang nenek tua dengan seorang anak perempuan di sampingnya.


“Tunggu, aku ingin berbicara kepada mereka!” Ucapnya, kepada Wang Yelu sembari menunjuk-nunjuk tempat yang ia maksud.


Dan Wang Yelu yang mendengarnya pun hanya mengangguk, dan segera membawa gadis itu ke arah yang ia inginkan.


“Permisi, aku ingin bertanya sesuatu!! ” Ucap Li Ying, yang memanggil nenek beserta cucunya itu dengan suara yang sedikit kencang agar bisa terdengar oleh mereka.


Dan saat nenek tua itu pun menoleh dan menatap ketiga orang asing yang berjalan mendekat ke arahannya, setelah itu ia pun membuka mulutnya, dan berkata dengan suara lemah. “Iya, ada apa?.... kami sedang terburu-buru, jadi cepatlah! ” Ucapnya.


Dan Li Ying pun segera turun dari gendongan Wang Yelu lalu berdiri tepat di hadapan sang nenek tadi. “Maaf mengganggu, tapi aku hanya ingin bertanya, kenapa sedari tadi tidak ada anak kecil yang terlihat?!.... kemana mereka semua?! ” Ucapnya, yang lantaran merasa heran.


Mendengar hal itu, sang nenek pun kini sedikit terdiam. Kemudian ia melirik cucu perempuan yang sedang ia gandeng, lalu menjawab dengan ragu. “Mereka kini di serahkan ke seorang kaya raya untuk di rawat dengan baik!” Jawabnya dengan singkat.


Namun, saat nenek itu akan melangkah pergi. Li Ying pun kembali bersuara dan menghentikannya. “Tunggu dulu!! apa maksud mu?!!.... dimana orang tua mereka?!! ” Tanyanya lagi.


Dan sang nenek pun menghela nafas dan menjawab. “Mereka sudah tidak mampu untuk membesarkan anak-anak mereka, karena itulah mereka memilih untuk menyerahkan anak-anak itu kepada salah seorang saudagar yang baik hati dan mau merawat mereka semua! ” Ucapnya.

__ADS_1


Kemudian, ia melirik ke arah sang cucu dan kembali berkata. “Begitu juga dengan diriku, aku sudah tak sanggup lagi untuk merawatnya!.... lagipula sekarang aku sudah tua, sebentar lagi akan mati, jadi lebih baik anak ini ku serahkan untuk di rawat oleh saudagar kaya raya itu! ” Ucapnya, dengan ekspresi wajah yang nampak begitu sedih.


Karena sebenarnya ia sama sekali tidak ingin berpisah dari sang cucu, hal itu sungguh sangat berat untuk di lakukan. Namun, apalah daya?..... tubuhnya yang tua rentan itu sudah tak sanggup langi untuk berkerja, lebih baik ia mengambil keputusan yang sulit daripada harus membiarkan sang cucu kesayangan hidup menderita bersamanya hingga akhir hayat.


__ADS_2