Seorang Kaisar Wanita.

Seorang Kaisar Wanita.
Melanjutkan perjalanan


__ADS_3

Matahari yang tergelincir ke barat kini memancarkan sinar merah keemasan. Sekawanan burung yang terbang di udara terlihat menjauh mengikuti arah matahari tenggelam, menyisakan siluwet-siluwet hitam di antara langit sore.


Semilir angin berhembus dengan lembut, menerpa wajah seseorang yang kini sedang memejamkan matanya. Selang beberapa saat, kedua mata pemuda itu-pun perlahan-lahan mulai terbuka. Sedikit mengerjap-ngerjap menatap sekitar. Wajahnya-pun di penuhi raut bingung, nampak linglung dengan keadaan dirinya saat ini.


“Apa yang terjadi?” Ia bangkit terduduk, memegang lehernya yang terasa sakit.


Kemudian ia menatap sekitar, posisinya saat ini berada tepat di samping pohon milik warga desa. Setelah itu pandangannya-pun mengarah ke samping, menatap seekor anjing yang kini tengah terduduk dan juga sedang menatap ke arahnya.


“Di mana anak itu?” Tanyanya.


Dan seakan mengerti dengan ucapan pemuda itu, anjing itu-pun menggonggong sebagai jawaban. Sedari tadi ia hanya duduk diam di sana dan menunggu tuannya hingga siuman. Di sisi lain, pemuda itu masih menatap sekitarnya. Kedua matanya menatap sekeliling dengan resah—seolah-olah sedang mencari sesuatu yang telah hilang.

__ADS_1


“Anak itu, anak kecil itu!” Ia berseru, segera bangkit berdiri dengan wajah panik. “Kemana anak itu pergi?” Tanyanya pada diri sendiri.


Sebelum pingsan, ia ingat kalau ada seseorang yang memukul lehernya dengan keras, itu adalah Li Ying. Saat ia menunduk dan sedikit membungkuk untuk mendekat, tiba-tiba lehernya di pukul begitu saja. Tangan anak itu memang kecil dan sangat mungil. Namun siapa yang akan menyangka jika tangan yang seperti akan patah jika di pegang itu bisa mengeluarkan pukulan hingga sekeras itu. Bahkan sasarannya-pun tepat, langsung mengenai titik lemah hingga membuatnya pingsan seketika.


“Aku tidak menyangka bahwa dia bisa melakukan hal itu, seakan-akan sudah terlatih. Dari awal aku melihatnya anak itu memang sudah aneh, tidak ada yang normal dari dirinya. Caranya menatap, caranya bertindak, dan caranya bicara seakan-akan ia bukanlah seorang anak kecil!” Gumamnya yang mengungkapkan pikirannya tentang Li Ying.


“Aku harus segera mencarinya!” Ia akan melangkahkan kakinya, namun baru beberapa detik ia tiba-tiba menghentikan kakinya di saat menyadari suatu hal.


“tunggu, apakah ini sudah sore?” Ia bertanya, kepalanya mendongak ke atas dan menatap langit-langit yang kini telah berubah warna.


Menyadari hal itu, ia pun menghela nafas panjang. Pandangannya masih menatap langit-langit sore. Dan sembari mengingat wajah Li Ying di dalam pikirannya ia pun kembali bergumam. “Aku tidak tau apa yang kau pikirkan, tapi di manapun kau berada aku berharap kau tetap aman.” Ucapnya pelan.

__ADS_1


...༶•┈┈⛧┈♛𓅪♛┈⛧┈┈•༶...


Langit sore yang keemasan kini telah hilang tergantikan malam. Awan-awan dan burung-burung yang berlalu-lalang di atas sana pun telah tiada—mungkin sedang bersembunyi. Yang tersisa di atas langit kini hanya bulan dengan titik-titik kecil cahaya bintang yang berkelap-kelip memenuhi langit yang gelap.


Dan di bawah kesiur angin malam yang dingin, suara langkah kaki kuda yang berlari cepat-pun terdengar. Sang penunggang kini nampak fokus melihat lurus ke dapan, tak ada ekspresi apapun di wajahnya, pikirannya pun tak tertebak. Kini ia telah pergi cukup jauh dari tempat pemuda itu berada, hanya saja tujuannya saat ini tidak jelas.


Gadis kecil itu hanya melajukan kudanya dengan kecepatan tinggi, menikmati kesiur angin yang menerpa wajahnya yang mungil. Mungkin jika itu anak kecil lain, mereka akan menangis dengan kencang lantaran takut. Menunggangi kuda dengan kecepatan seperti ini jelas berbahaya. Hilang keseimbangan sedikit saja ia bisa jatuh dan terluka parah. Namun Li Ying berbeda, ia sudah sangat ahli. Baginya ini semua hanyalah permainan—sebuah permainan yang seru dan menantang.


Apalagi saat ini ia sedang berlari di padang rerumputan yang luas, hanya ada lapangan hijau kosong di sepanjang mata memandang. Memang ada beberapa pohon, namun itu tidak banyak dan jarak-jarak di antaranya-pun cukup jauh. Ini jelas tempat yang sangat sempurna untuk gila-gilaan memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.


“Hahaha, ini menyenang-kan! Mengapa tidak aku lakukan dari dulu saja?” Ujarnya sembari tertawa riang.

__ADS_1


Memang tidak ada yang membuatnya harus terburu-buru, ia bahkan tidak tau tempat seperti apa yang sedang dia tuju. Namun dengan kecepatan seperti ini, adrenalinnya pun terpacu. Hanya saja ia tidak bisa terus-menerus melakukan hal ini, dari jarak beberapa puluh kilo meter ia dapat melihat rerimbunan pohon yang berbaris rapat membentuk hutan. Dan di belakang hutan itu nampak jelas gunung-gunung besar yang berjejer dari ujung ke ujung—mirip seperti dinding yang membatasi sesuatu.


“Hei, bagaimana kalau kita ke sana?” Li Ying bertanya pada kuda yang ia tunggangi. Sedangkan kuda itu tak menjawab, hal itu wajar karena dia hanyalah seekor kuda. Namun seperti sahabat yang saling mengerti, kuda itupun dengan sendirinya berlari ke arah yang Li Ying tunjuk sembari menambah kecepatan.


__ADS_2