
Agak jauh di depan sana Li Ying dapat melihat sebuah cekungan di antara tebing-tebing bebatuan. Menyadari kalau rintik hujan kini mulai bertambah deras, Li Ying pun menambah kecepatannya. Kuda hitam yang di tungganginya pun berlari dengan lebih cepat, menerobos kencangnya angin dan buliran-buliran air hujan yang jatuh.
Pakaian yang Li Ying kenakan hampir basah kuyup, namun itu sudah bukan masalah karena ia kini telah masuk ke dalam gua.
“Syukurlah ada tempat untuk berteduh!” Li Ying menghela nafas lega dan turun dari atas kudanya.
Kemudian, pandangan mata gadis kecil itu pun melirik sekitarnya. Ia dengan seksama memperhatikan setiap sudut gua dan melihat kalau ternyata gua yang ia singgahi itu sebenarnya hanya cekungan besar pada tebing batu yang terbentuk secara alami.
Itu bukan benar-benar sebuah gua dengan lorong-lorong panjang ke dalam. Akan tetapi hal itu bukanlah masalah besar. Lagipula mau itu gua atau hanya cekungan biasa keduanya sama saja, bagi Li Ying yang terpenting adalah bisa berteduh dan menghindari hujan. Dan lagi gua ini juga cukup besar untuk di singgahi oleh seorang gadis kecil dan seekor kuda.
“Sepertinya badai ini akan berlangsung semalaman.” Li Ying bergumam pelan pada dirinya sendiri.
Dari dalam gua gadis itu dapat melihat suasana di luar, kedua matanya kini melirik ke atas dan memperhatikan awan-awan gelap yang mengeluarkan gemuruh guntur dan kilatan petir di langit.
Suara tetesan air hujan kini semakin bising, ratusan dedaunan hijau pun terlepas dari tangkai pohon dan berterbangan kemana-mana. Angin yang berhembus kencang itu seakan-akan menembus tubuh hingga ke tulang-tulang. Sangat dingin dan terasa begitu mencekam.
“Sangat tidak mungkin bagiku melanjutkan perjalanan dengan hujan badai sederas ini, jalanan yang penuh dengan bebatuan itu jelas akan sangat licin!” Gumamnya lagi.
Angin badai yang dingin itu berhembus kencang dan masuk ke dalam gua. Li Ying pun kini melirik ke arah kudanya, kuda hitam yang gagah itu nampak sedang terduduk dengan tenang di salah satu sudut gua.
Melihat hal itu Li Ying pun berjalan ke arahnya, gadis kecil itu pun ikut duduk dan menyenderkan punggungnya pada perut kuda hitam miliknya itu.
Dari luar suara guntur yang menggelegar terus terdengar bersamaan dengan kilatan-kilatan petir yang menyambar. Mungkin kebanyakan anak kecil akan takut dengan suara-suara yang bising seperti ini, apalagi di saat mereka sedang berada di tempat asing dan seorang diri.
__ADS_1
Anak-anak kecil itu pasti akan menangis kencang, merasa takut dan bingung. Tubuh kecil mereka akan gemetar ketakutan, meringkuk di sudut gua sembari memanggil-manggil nama ibu dan ayahnya.
Akan tetapi hal itu jelas tidak berlaku terhadap Li Ying. Hal-hal yang akan anak-anak kecil lakukan sangatlah tidak alami jika gadis kecil itu juga melakukannya. Situasi saat ini sama sekali tidak membuatnya merasa terancam. Di dalam pikirannya badai ini hanyalah sekedar badai. Yang turun dari langit hanyalah kumpulan air, suara guntur, dan kilatan petir.
Satu-satunya hal yang sedikit mengganggunya adalah hembusan angin dingin yang masuk kedalam gua, akan tetapi itu bukan masalah besar. Gadis kecil itu hanya duduk diam sembari memejamkan kedua matanya, tangan-tangannya yang mungil itu di lipat di depan dada, kedua kakinya lurus dengan kaki kanan yang di silang-kan di atas kaki kiri.
Gadis kecil itu nampak sangat tenang di antara cuaca penuh badai, ia bahkan dengan santainya tertidur tanpa menghiraukan hujan lebat di luar sana.
...༶•┈┈⛧┈♛𓅪♛┈⛧┈┈•༶...
Hujan badai itu berlangsung sepanjang malam, bahkan saat hari menjelang pagi hujan badai itu masih meninggalkan sisa-sisa gerimis dan awan abu-abu di atas langit.
Li Ying yang sedari tadi telah bangun dari tidurnya pun kini nampak berdiri di mulut gua dan memperhatikan cuaca. Melihat kalau hujan sudah reda dan hanya menyisakan gerimis kecil gadis itu pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.
Ia kini telah berhasil memutari tebing batu, berjalan masuk ke dalam hutan dengan daun-daun yang meneteskan sisa-sisa air hujan dari badai semalam.
Pagi ini jelas bukanlah pagi yang cerah, namun di sisi lain Li Ying merasakan suasana yang begitu damai. Angin paginya terasa sangat sejuk, memang sedikit dingin tapi Li Ying amat sangat menyukainya.
“Pernahkah aku merasa begitu terhibur dengan suasana gerimis pagi seperti ini? Andai aku masih seperti dulu, mungkin aku tidak akan pernah tahu betapa menyenangkannya berjalan di bawah gerimis hujan sembari memegangi selembar daun talas sebagai payung.”
Gadis kecil itu bergumam di dalam hati, sudut bibirnya kini melengkung dan membentuk sebuah senyuman tipis yang nampak begitu indah.
Bahunya yang tidak tertutupi oleh lebarnya daun talas itu nampak sedikit basah. Suasana hutan masih terasa dingin, beberapa ranting dan pohon-pohon kecil nampak tumbang di tanah. Mungkin itu semua karena angin badai semalam yang berhembus dengan kencang dan merobohkan pohon kecil malang yang akarnya masih belum kuat menahan hantaman badai.
__ADS_1
Dan mumpung sedang ada di dalam hutan, Li Ying pun kini memutuskan untuk mencari buah-buahan untuk di makan. Tidak seperti hutan yang ia lewati sebelumnya, kini Li Ying hanya bisa mendapatkan sedikit pasokan makanan. Pohon dengan buah-buahan yang bisa di makan rupanya tidak banyak tumbuh di sekitar sini. Namun apa yang Li Ying dapatkan saat ini mungkin sudah lebih dari cukup, dan jika kurang ia tinggal mencari sungai dan menangkap ikan.
“Pria itu bilang jika ingin sampai kesana harus menempuh perjalanan selama satu minggu. Kalau begitu mari kita nikmati saja!” Gadis itu bergumam sembari mengigit buah di tangannya.
Perjalanan yang panjang ini pasti akan menyenangkan. Li Ying tidak sabar untuk sampai di tempat tujuannya. Gadis kecil itu ingin segera melihat keindahan tempat yang pria paruh baya itu katakan.
...༶•┈┈⛧┈♛𓅪♛┈⛧┈┈•༶...
Di sisi lain, di saat Li Ying kini tengah menikmati hidupnya yang penuh dengan petualangan dan hal-hal baru. Di tempat lain saat ini, tepatnya di kediaman tuan besar Li beberapa orang pelayan nampak sedang sibuk membawa beberapa barang untuk di bakar.
Wajah-wajah pelayan itu nampak sangat buruk. Ekspresi yang mereka tunjukkan saat ini penuh dengan tekanan. Beberapa orang pelayan nampak berwajah sedih, merasa sayang dengan barang-barang yang akan segera hangus terbakar. Sedangkan beberapa pelayan yang lain kini terlihat sangat ketakutan, pikiran mereka kini sedang bimbang antara harus menanggung amukan dari tuan besar mereka atau nyonya besar mereka.
Barang-barang yang mereka bawa saat ini tidak lain adalah barang milik Li Ying yang masih tersisa. Beberapa di antaranya adalah pakaian dan main-main yang biasa Li Ying kecil pakai dulu. Namun entah mengapa, pagi-pagi buta nyonya besar mereka datang dan memerintahkan kepada para pelayan untuk membawa barang-barang milik nona kedua keluar dari kediaman dan membakar semuanya hingga hangus tak tersisa.
“Apakah kita harus menurutinya? Perintah dari nyonya besar jelas di luar sepengetahuan tuan, dan saat mengetahui semua ini tuan besar pasti akan sangat murka!” Ucap salah seorang pelayan yang berbisik kepada yang lain.
Mendengar ucapan pelayan itu, seorang pelayan lain pun kini sedikit mendekat dan berbisik. “Tuan besar jelas akan marah, tapi apakah kau berani menentang perintah nyonya besar?!” Ia berbisik dengan suara yang sangat pelan, melirik ke-kanan kiri untuk memastikan apakah orang yang mereka bicarakan ada atau tidak. “Kau tahu sendiri kan seberapa galaknya wanita itu? Bagaimana jika kita semua terkena hukuman cambuk hanya karena dia merasa kesal?” Ucapnya lagi.
“Tuan besar Li memang terlihat mengerikan jika sedang marah, namun setidaknya dia bukanlah orang yang kejam!”
“Itu benar, lebih baik kita turuti saja perintah wanita itu terlebih dahulu!”
“Yah, dan jika tuan besar marah katakan saja kalau ini perintah langsung dari nyonya!” Ucap pelayan-pelayan itu yang saling berbisik antara satu sama lain.
__ADS_1