Seorang Kaisar Wanita.

Seorang Kaisar Wanita.
Bertemu orang baru


__ADS_3

Begitu ia sampai di puncak gunung hari kini telah menjelang sore, matahari yang semula berada tepat di atas kepala-pun kini telah lengser dan hampir tenggelam di ufuk barat. Li Ying kini menghentikan kudanya untuk sesaat, menatap pemandangan di balik gunung yang tampak indah.


Beruntung di balik sana bukanlah padang gurun yang kering dan tandus, walaupun di depan sana masih ada hutan yang di penuhi pohon-pohon. Namun tak jauh darinya Li Ying kini dapat melihat sebuah perkampungan dan hamparan sawah milik warga. Perkampungan itu tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Ada banyak sekali rumah-rumah warga yang nampak berjejer dari atas sini. Jika ia turun dari gunung sekarang, mungkin ia akan sampai di desa itu pada malam hari.


“Kita beruntung, di depan sana ada desa. Aku akan mencari tempat untuk bermalam, kemudian membeli beberapa makanan sebagai bekal!” Ucap Li Ying.


Setelah itu, ia pun segera mengarahkan kudanya untuk mendekat ke perkampungan itu. Menuruni gunung, berjalan beberapa kilo ke-depan melewati hutan, kemudian melintasi sawah-sawah warga sebelum pada akhirnya sampai di desa tersebut. Dan benar saja, saat Li Ying sampai di desa itu hari pun telah menjelang malam. Banyak sekali pintu-pintu rumah yang tertutup, jalanan-nya pun sepi. Kalaupun ada yang lewat mungkin itu hanya satu dua orang. Bisa di bilang ini sudah larut malam, semua orang pasti telah tidur.


Namun walaupun begitu, nampaknya ada beberapa bangunan yang masih terlihat terang. Itu pasti rumah makan atau sejenisnya. Sepertinya ini adalah pasar, walaupun ada beberapa tempat yang tutup, namun tempat-tempat yang lain masih terbuka. Salah satunya adalah rumah makan yang ada di samping jalan, itu berada tepat di tempat yang akan Li Ying lalui.


Rumah makan dua lantai itu terlihat begitu terang, masih nampak sangat ramai walaupun ini udah malam hari. Di sekitarnya pun banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang, keluar masuk dari dalam bangunan tersebut.


Melihat hal itu Li Ying pun berjalan mendekat, semenjak memasuki desa ia sudah turun dari atas kuda dan berjalan kaki. Gadis kecil itu-pun menyuruh kudanya untuk tetap diam di samping bangunan, memberikannya beberapa buah untuk di makan dan membelai kepalanya sebelum masuk ke dalam rumah makan itu.


“Ah, aroma masakan yang hebat!” Li Ying bergumam pada diri sendiri, menyentuh perutnya yang tiba-tiba lapar setelah menghirup aroma lezat dari masakan yang di hidangkan.


Terlihat, kebanyakan pengunjungnya adalah laki-laki. Memang ada beberapa orang wanita, namun nampaknya mereka ke sini dengan membawa pasangan. Saat Li Ying masuk ke dalam tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Tubuhnya begitu pendek dan kecil, sedangkan orang-orang di sini rata-rata memiliki tubuh tinggi dan agak kurus.

__ADS_1


Saat gadis itu melewati meja-meja untuk mencari tempat kosong, sesekali ia sempat melirik beberapa orang pengunjung dan mendengarkan percakapan mereka. Kebanyakan dari mereka hanya sedang mengobrol biasa dan sesekali melemparkan kalimat candaan, itu memang hal yang biasa. Namun yang menjadi perhatian Li Ying adalah logat bicara mereka, bahasanya masih sama namun nada dan cara pengucapannya saja yang berbeda.


“Sepertinya aku telah benar-benar pergi sangat jauh!” Gumamnya pada diri sendiri.


Gadis kecil itu terus melihat-lihat sekitarnya, mencari tempat kosong untuk duduk namun tidak kunjung menemukannya. Alhasil ia pun memilih untuk naik ke lantai atas, sepertinya lantai bawah sudah penuh.


Dengan kaki kecilnya gadis itu pun menaiki tangga satu persatu, dan saat ia berada di lantai yang di tuju rupanya di sana juga sudah ramai. Namun beruntungnya Li Ying melihat kalau di sebelah pojok sana ada meja yang kosong. Itu benar-benar tepat di sisi pojok ruangan, satu meja dengan empat kursi di masing-masing sisi mejanya.


Li Ying pun memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di meja itu, menyandarkan dirinya yang lelah setelah seharian penuh menunggangi kuda. “Hah! Ini buruk untuk tulang punggung ku.” Gumamnya, sembari menepuk-nepuk punggungnya yang terasa pegal.


Gadis kecil itu terus diam di sana selama beberapa menit, menunggu seorang pelayan datang untuk mencatat pesanannya. Beberapa kali sempat ada orang dewasa yang melirik dirinya, menatapnya untuk beberapa saat dengan tatapan aneh—mungkin mereka sedang bertanya-tanya, mengapa ada seorang anak kecil yang duduk sendiri di sini? Apalagi sekarang sudah larut malam.


Mereka nampaknya juga sedang mencari tempat kosong seperti dirinya tadi. Pada awalnya Li Ying sama sekali tidak menghiraukan mereka, menganggap mereka seperti angin lalu yang tidak penting. Namun ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka, dan Li Ying pun mulai tertarik untuk diam-diam mendengarkan.


“Kuda siapa itu? Aku yakin itu adalah kuda yang sangat bagus!” Ucap salah seorang di antara mereka.


Lalu orang yang berjalan di sampingnya pun menjawab. “Maksud anda kuda yang ada di samping bangunan tadi? Yah, kuda itu memang terlihat sangat bagus!” Ucapnya, yang menyetujui pendapat tadi.

__ADS_1


“Kau juga berfikir begitu? Kalau begitu kuda itu memang benar-benar bagus!” Ia lagi-lagi memuji kuda yang di lihatnya beberapa saat yang lalu.


“Tuan, jadi apakah anda akan mengambilnya?” Tanya orang di sampingnya.


Dan pria itupun menjawab. “Jika aku bertemu dengan pemiliknya, aku akan membelinya. Tentu dengan harga yang bagus, namun aku rasa orang yang memiliki kuda itu akan sulit untuk memberikannya kepadaku!” Jawabnya.


Mendengar hal itu, Li Ying pun kini mengerutkan keningnya. Mereka sepertinya sedang membicarakan kuda miliknya, kuda yang terparkir di sebelah bangunan. Dan tidak di sangka, kedua orang itu rupanya kini sedang berjalan ke arahnya. Menyadari hal itu Li Ying pun segera mengalihkan pandangan, menatap dinding kosong dan berpura-pura tidak melihat mereka.


“Kita duduk di sini saja, sepertinya tempat ini kosong!” Ucap pria yang terus menerus memuji kudanya tadi. Sedangkan orang yang ada di sampingnya hanya mengangguk singkat.


Mereka pun duduk di meja yang sama dengan Li Ying, gadis kecil itu hanya diam saja seolah tidak perduli. Sedangkan kedua orang tadi kini masih terus berbicara, membahas hal lain tanpa menyadari keberadaannya.


“Jadi setelah urusan di sini selesai, mungkin besok siang kita bisa...” Ia menghentikan obrolannya, menggantung kata-katanya di tengah jalan.


Saat sedang asyik mengobrol, tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah wajah mungil yang kini sedang menatap dirinya. Dalam hati ia bertanya-tanya benda apakah itu? Itu adalah seorang anak kecil, duduk berhadapan dengan dirinya. Melihat rekannya diam, orang yang mengobrol bersamanya pun segera menoleh dan menatap ke arah Li Ying.


Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping, menengok sedikit ke bawah agar bisa melihat sosok mungil itu dengan lebih jelas.

__ADS_1


“Anak siapa ini? Sejak kapan dia duduk di sana?” Pria yang duduk berhadapan dengan Li Ying bertanya, sedikit terkejut dengan kehadiran sosok lain yang tiba-tiba.


__ADS_2