Seorang Kaisar Wanita.

Seorang Kaisar Wanita.
Menjelajahi hutan


__ADS_3

Kini ia telah dekat dengan area hutan, pepohonan-pun mulai berjejer merapat di sekitarnya. Melihat hal itu Li Ying pun melambat-kan lajunya, bergerak santai menjelajah masuk ke dalam hutan. Pohon-pohon di sekitarnya nampak tumbuh menjulang tinggi, daun-daunnya yang rimbun dan rapat itupun seolah-olah membentuk atap-atap hijau nan sejuk. Jika ini siang hari mungkin pemandangannya akan bagus, namun sayang ia tiba di hutan ini tepat pada malam hari.


Pemandangan di sekitarnya tanpak gelap, dedaunan yang rimbun itu menutup langit dengan sangat rapat, membuat cahaya rembulan sulit untuk merambat masuk. Li Ying kini turun dari punggung kuda, kemudian pandangannya pun menatap sekitar dan seolah-olah sedang mengamati keadaan.


“Aku rasa kita harus beristirahat sebentar di sini, akan lebih baik jika melanjutkan perjalanan saat matahari telah terbit!” Gumamnya, yang berbicara dengan kuda miliknya.


Li Ying pun kini mulai mengumpulkan beberapa ranting-ranting kering untuk menyalakan api unggun, setelah itu ia duduk di bawah sebuah pohon dan membuka bungkusan berisi ikan bakar pagi tadi.


“Besok aku juga harus mencari makanan!” Ia bergumam dan menoleh ke arah hutan dalam. “Aku harap kita bisa menemukan beberapa buah-buahan, atau mungkin hewan untuk di buru!” Gumamnya lagi.

__ADS_1


Untuk beberapa menit pandangan Li Ying kini tertuju pada api unggun yang menyala-nyala. Suasana malam yang dingin dan kelam saat ini tidak begitu terasa, setidaknya ia masih bersama seorang teman (kuda kesayangan-nya) dan sebuah api unggun untuk menghangatkan diri-nya.


...༶•┈┈⛧┈♛𓅪♛┈⛧┈┈•༶...


Langit kini masih terlihat gelap, namun sebentar lagi mungkin akan segera terang saat matahari terbit. Api unggun yang semalam menyala pun telah padam dari beberapa jam yang lalu, Li Ying yang sedang menutup matanya-pun kini mulai terbangun dari tidurnya, sedikit merenggangkan badan, lalu segera berdiri menghampiri kuda miliknya.


“Kita harus segera melanjutkan perjalanan, akan lebih baik jika kita keluar dari hutan ini sebelum hari menjelang malam!” Ucapnya, dan setelah berkemas beberapa saat ia pun segera naik ke atas punggung kuda dan melanjutkan perjalanannya.


Semakin masuk ke dalam hutan pohon-pohon di sekitarnya nampak tumbuh lebih besar, jarak-jarak di antaranya pun sangat rapat hingga ia tidak bisa melaju dengan cepat seperti saat berada di padang rumput kemarin. Namun itu bukan masalah besar, setidaknya ia masih bisa terus berjalan. Lagipula tempat ini cukup mengagumkan untuk terus di pandangi.

__ADS_1


Sekitarnya lima enam jam kemudian, Li Ying kini telah masuk sangat jauh ke dalam hutan menuju deretan gunung di depan sana. Meskipun matahari kini bersinar begitu terik, gadis kecil itu tetap baik-baik saja dan sama sekali tidak merasa terganggu. Dedaunan rimbun di atas sana seolah menjadi payung yang begitu teduh, menghalangi sinar matahari yang begitu panas untuk menyengat kulitnya yang masih lembut.


Sesekali ia juga berpapasan dengan hewan-hewan kecil seperti kelinci dan tupai, namun Li Ying tidak berniat untuk memburu mereka lantaran ia sudah memiliki satu kantong penuh buah-buahan, umbi-umbian, dan beri-berian yang ia kumpulkan selama perjalanan tadi. Karena tidak hanya indah, hutan ini juga kaya akan sumber makan. Banyak sekali buah-buahan yang tumbuh di dalamnya, hingga di bawah pohon-pohonnya terdapat banyak sekali buah yang berjatuhan dan akhirnya kotor lalu membusuk.


“Apa tempat ini jarang di lalui orang? Ranting-ranting pohon terus tumbuh dan hampir menghalangi jalan!” Ucapnya.


Kemudian ia kini meraih Kompas di dalam sakunya, memastikan arah yang ia tuju saat ini benar dan memasukkan kembali. “Tepat lurus ke dapan, kira-kira ada apa di balik gunung itu? Apakah akan ada hutan seperti ini atau aku akan menemukan sebuah perumahan?” Ia bergumam pada dirinya sendiri, sedikit penasaran dengan tepat apa yang ia tuju saat ini.


Hari pun hampir menjelang sore, namun pohon-pohon di sekitarnya masih terlihat rimbun dan rapat. Jalanan pun kini mulai sedikit menanjak ke atas, sepertinya ia kini telah berada di kaki gunung. Sempat sekali gadis kecil itu berhenti untuk makan siang saat menemukan sebuah sungai kecil tadi. Melepas penat dan mengisi perut, kemudian mengisi persediaan air di dalam kantong yang terbuat dari kulit hewan. Siapa tahu di depan sana ia justru malah menemukan padang pasir tandus yang tidak ada sumber airnya sama sekali.

__ADS_1


“Akan lebih baik jika di sana ada perkampungan atau sejenisnya, kota kecil atau apalah itu agar aku bisa istirahat dan mencari beberapa informasi!” Ucapnya, yang lagi-lagi bergumam sendiri.


Satu-satunya mahluk hidup yang terus mendengarkan ocehannya hanyalah kuda miliknya itu, mereka memang tidak bisa berkomunikasi selayaknya manusia dengan manusia lain. Namun setidaknya mereka saling mengerti, seperti teman yang sudah hidup puluhan tahun. Saat Li Ying akan turun kuda itupun berlutut, begitu juga saat Li Ying akan naik ke atas punggungnya. Kuda itupun tidak perlu di ikat dengan tali pengekang agar tidak kabur, walaupun Li Ying sempat meninggalkan-nya beberapa saat untuk mencari sesuatu kuda itu pun tetap diam di tempatnya dan menunggu sang majikan sampai kembali.


__ADS_2