
Dorr ... Dorr ... Dorr
Tembakan lain datang dari arah belakang saat aku fokus ke depan. Aku terkejut dan gesit menghindar. Aku sigap memutar badan, balas memberondong pasukan lawan tanpa ampun. Mereka pun bertumbangan tak berdaya. Tak mau membuang waktu aku kembali ke atas, tapi lengan dan kakiku mulai terasa perih. Ternyata tembakan dari arah belakang tadi telah melukaiku, meskipun peluru-peluru yang berdesingan itu tak ada yang tepat mengenaiku, tapi ada yang menyerempet kaki, lengan, dan bahuku. Menggores luka sobek kecil di banyak bagian. Namun, aku tak peduli. Aku terus maju dan naik, ruangan restoran tadi benar-benar kacau balau. Meja-meja jungkir balik, cangkir dan piring pecah berhamburan, tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan di mana-mana.
Tiba-tiba aku melihat sesosok bayangan melintas di depanku dengan gerakan yang teramat cepat. Aku tak heran, dia adalah Jan. Aku dapat mengenali dari pakaiannya yang berbeda. Ia bergerak lincah ke sisi ruangan dan melompati meja tinggi di pinggir dinding. Ia merangkak di balik meja menuju sudut ruangan tempat koki memasak masakan. Aku tak tahu apa yang hendak dilakukannya. Aku sendiri sibuk menembaki setiap pasukan yang turun dari muka tangga di seberang ruangan. Aku terus maju menuju tangga itu. Namun, aku tertahan oleh segerembol besar pasukan keamanan yang tiba-tiba menyerbu turun berdesakan. Jumlahnya berkali-kali lipat dari yang tadi. Aku sadar peluru senapan mesinku tinggal sedikit, mau tidak mau aku tersurut mundur. Bergerak lincah mengamankan diri di balik meja tempat sahabatku tadi, tapi pasukan yang luar biasa banyaknya itu bagaikan gelombang tsunami yang membeludak. Aku terus menembaki setiap yang berdatangan sebisa mungkin, sampai sisa peluruku habis.
"Tangkap ini!" pekik Jan sambil melempar sepucuk senapan laras panjang ke arahku. Segera saja aku melepas senapan mesin dan menangkap senjata pemberian Jan. Namun, senjata itu ternyata adalah senapan gentel jenis Benelli M4. Aku tercengang sedikit, senjata ini cukup rumit dan kurang praktis untuk menembaki banyak lawan dalam waktu singkat. Aku perlu senapan serbu. Namun, aku tak punya pilihan, aku tetap menggunakannya. Menembaki lawanku di depan sana. Untungnya mereka juga menggunakan senapan gentel, bukan senapan serbu atau pistol semi-otomatis. Jadi, aku juga punya waktu untuk lebih dahulu menembaki mereka. Meski tetap saja aku dalam tekanan karena jumlah mereka banyak tak terkira.
Sementara Jan entah apa yang dilakukannya.
Namun, tiba-tiba sahabatku itu keluar dari tempatnya dengan menyeret dua buah tabung gas. Pasti didapatnya dari tempat koki memasak di sudut restoran ini. Ia langsung menggelindingkan kedua tabung itu ke tengah ruangan, tempat kerumunan pasukan lawan. Sekarang aku mengerti mengapa ia memberikan aku senapan Benneli M4 ini. Segara saja aku berdiri dan keluar dari persembunyian. Menyingkirkan tiga sampai empat lawan di depan muka. Kemudian aku mencari sudut tembakan yang tepat, aku membidik kedua tabung gas yang berada di tengah ruangan.
Aku menarik pelatuk.
Duarrrr, tabung gas meledak dahsyat menyemburkan api ke mana-mana. Menyambar puluhan pasukan keamanan itu. Mereka terkejut dan panik. Buru-buru mencoba menyelamatkan diri, tapi kasip, mereka sudah tersambar api ledakan. Menyisakan tubuh yang tersulut dan berkobar.
Duarrrr, tabung gas satu lagi menyusul. Meledak dengan ledakan yang lebih dahsyat lagi menyambar seluruh pasukan keamanan itu hampir tiada sisa. Mereka meloncat ke sana kemari karena kejut dan panik. Api berkobar hampir di setiap sudut ruangan. Menyala mengerikan melahap semua benda dan semua orang yang ada. Sisa-sisa pasukan keamanan yang masih berdiri, satu per satu tumbang oleh tembakanku. Dari tangga, sejumlah pasukan masih bermunculan. Seakan tidak gentar melihat puluhan rekan mereka sudah bergelimpangan. Hingga tiba-tiba Jan menggelindingkan satu buah lagi tabung gas, yang kali ini ukurannya lebih besar. Dan begitu api menyulutnya, ditambah tembakan dari senapanku dan senapan Jan yang hampir bersamaan, maka tak ampun lagi,
__ADS_1
Duarrrrrrr, ledakan yang berkali-kali lipat lebih dahsyat mengguncang seantero ruangan itu. Bunyi letusannya memekakkan telinga. Aku dan Jan sendiri langsung meloncat berlindung ke balik meja. Nyala api membuat ruangan itu terang-benderang. Si jago merah melahap dan meledakkan segala sesuatu yang ia temui. Aku dan Jan sekarang kebingungan sendiri bagaimana caranya melewati ruangan ini. Sementara puluhan tubuh tak bernyawa pasukan keamanan bertumpuk-tumpuk dan dijilati lidah api.
Aku tertegun sejenak. Malam ini aku telah melampaui batas aksi-aksi yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku benar-benar menjadi monster penghancur yang ganas, kejam, dan tak punya rasa belas kasihan sedikit pun. Aku tak tahu perihal Jan, tapi tampaknya rasa peduli dan loyalnya terhadapku membuatnya juga rela melakukan apapun. Mungkin aku sudah melampaui batas terlalu jauh, tapi rasa amarah dalam diriku telah merasuk dalam. Ambisi ini hampir membuat aku hilang akal. Namun, pada kenyataannya, jika tidak melawan aku hanya akan mati konyol dan diremukkan tanpa sisa oleh ratusan pasukan ini. Mereka memang lemah, kurang profesional, tidak jago menembak, dan mudah sekali dilumpuhkan, tapi jumlah mereka banyaknya tak main-main. Dalam keadaan yang sangat mendesak ini, seharusnya wajar aku melakukan segala tindakan untuk melindungi diri. Pembelaan.
"Lewat sini saja," ajak Jan. Ia melewatiku dan berdahulu menuju tangga yang paling dekat dengan tempat kami. Yaitu tangga tempat aku datang tadi. Membawa senapan gentel Benelli M4 itu, aku menyusul Jan. Kami melewati area kebakaran itu dengan hati-hati. Turun lewat tangga, ke koridor panjang tempat awal aku berada. Aku dan Jan berlari sepanjang koridor. Sampai ke ujungnya di mana ada tangga yang sama yang mengantar ke ruangan yang sama. Kami menyusur naik, tiba kembali di ruangan restoran tadi, tapi di sisi seberang dari meja-meja dan dapur koki tadi. Dari sini kami bisa menyusur tepi dinding agar menghindari api yang terus menyala, untuk mencapai tangga yang merupakan jalan naik ke lantai atas.
Kami benar-benar memerlukan fokus dan kehati-hatian ekstra untuk melewati kobaran api yang entah kapan padamnya itu. Untungnya saja tidak ada pasukan keamanan yang datang menghadang langkah kami. Setelah ledakan maha dahsyat tadi, gelombang serangan mereka yang tadi tak ada putusnya itu berhenti. Entah pasukan mereka memang telah habis dimakan api, atau mungkin pimpinan mereka sengaja menahan serangan.
Akhirnya aku dan sahabatku berhasil di muka tangga. Baru beberapa langkah kami naik, sekitar lima orang pasukan muncul menghadang di atas. Maka tak ragu lagi saat senapanku berbicara, mereka jatuh tak berdaya. Kami naik terus tanpa halangan berarti. Tiba di koridor panjang. Koridor yang di sisi-sisinya adalah pintu-pintu kamar penginapan. Karena selain kasino, restoran, dan fasilitas prostitusi, Gedung Lantai Hijau juga memiliki penginapan. Hanya saja bukan untuk komersial melainkan tempat tinggal pasukan berani mati mereka ini. Terdapat total lima puluh unit kamar dari lantai tempat kami berada sampai sepuluh lantai ke atas. Ke atas lagi dari itu adalah ruang-ruang kerja dan kantor administrasi mereka.
Aku dan Jan melangkah cepat menyusur koridor itu. Sampai ke ujung koridor langsung naik melewati tangga. Naik satu lantai, tiba koridor yang identik. Berlari buru-buru, menemui tangga lagi. Naik satu lantai lagi, koridor lagi, tangga lagi, koridor lagi, tangga lagi, koridor lagi. Begitu terus sampai sepuluh lantai. Terasa seperti de javu atau juga seperti terjebak di lorong waktu, melakukan hal yang sama persis berulang-ulang kali seperti tak ada ujungnya. Mau tak mau kami harus seperti itu, karena jika menggunakan lift akan sangat berbahaya.
Maka selangkah demi selangkah kami masuk ke ruangan. Mengendap-endap melewati meja-meja kerja. Sambil terus mengawasi ke segala arah. Ruangan itu terang benderang, tapi sunyi bukan main. M16 di tangan Jan, dan Benelli M4 di tanganku teracung galak siap memangsa siapapun yang mengancam. Kami melewati ruangan itu, seperti tentara yang menyerbu persembunyian lawan. Sampai ke seberang ruangan, naik ke tangga. Naik satu lantai, tiba di ruang kerja lagi yang identik. Melewati lagi dengan gaya yang sama. Sampai di tangga lagi, naik dan tiba di sebuah koridor.
Kami menyusur koridor itu. Jika sampai ke ujungnya, kami akan tiba di tangga yang mengantar turun kembali ke ruangan kerja tadi. Kami berhenti di tengah koridor, di depan sebuah pintu yang tampak tidak terkunci.
"Ini menuju ruang kerja Junior!" ucap Jan. "Bersiaplah!"
__ADS_1
Aku mengangguk. Mengokang senapan gentelku. Jan membuka pintu. Terlihat anak tangga bersusun naik dan di ujungnya ditutup lagi oleh pintu. Jan memberi isyarat untuk naik. Aku mulai mengambil langkah. Hati-hati. Menatap tajam. Bersiaga. Jan di sisiku, melangkah lebih cepat. Ia berdahulu tiba di muka pintu.
Jan menatapku sejenak. Kemudian membuka pintu secara paksa. Aku langsung menerobos cepat. Masuk ke sebuah ruangan luas. Aku menodongkan senapan, tepat membidik kepala seseorang yang duduk di belakang meja kerja, di tengah ruangan. Jan menyusul dan turut menodongkan senjatanya. Orang itu terlihat tidak ada kaget-kagetnya akan kedatangan kami.
Orang yang tadinya duduk itu kini berdiri. Tersenyum dan bertepuk tangan.
"Pertama-tama aku berikan standing applause untukmu, Jantoro!" ucapnya. "Setelah aksi kejar-kejaran yang kami kira telah memanggangmu hidup-hidup, tiba-tiba kau muncul menantang di depan mataku malam ini. Hebat sekali!"
Jan memberi tanggapan dengan menyeringai.
"Kedua, selamat datang, Renato! Aku merasa tersanjung bisa terjumpa denganmu. Bahkan aku harus berhadapan dengan kau sekaligus dengan Jan, dua pemuda paling berbahaya di dekade ini, begitu, 'kan?"
Aku mendengus. Aku tak kenal orang ini, tak pernah bertemu juga sebelumnya. Menurut penjelasan Jan tadi, pastilah orang ini Junior Fadz-Riel, pemimpin gedung dan bisnis ini. Saat aku pernah berurusan dengan Gedung Lantai Hijau, pimpinan mereka bukan Junior ini. Kini sudah berganti, dan aku benar-benar baru berjumpa dengannya malam ini. Awalnya aku kira dia sebaya dengan kami, tapi saat aku akhirnya melihat wajah dan penampilannya, ternyata ia adalah seorang pria yang sudah cukup tua. Menurut perkiraanku dia lebih tua satu dekade dari aku dan Jan. Aku akui, dia orang yang sangat santai. Hampir seluruh pasukannya telah dihabisi, aku dan Jan menodong senjata ke kepalanya, dia sendirian di ruangan ini, tapi ia tetap tersenyum dan banyak lagak.
"Sekarang, aku mau bertanya baik-baik," ucap Junior pula sambil kembali duduk. "Tidak ada angin, tidak ada hujan, tapi ujuk-ujuk kalian datang ke sini mencari perkara. Ada apa?"
Merah padam wajahku mendengar itu. Aku langsung maju beberapa langkah. Menempelkan ujung laras senapan tepat ke dahinya. Siap membuat isi otaknya pecah berhambur keluar kapanpun aku mau.
__ADS_1
"Di mana Prof. Ram?"