
Setelah melalui penerbangan berjam-jam, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Pagi-pagi sekali saat matahari masih separuh terbit di ujung timur sana, pesawat CN295 yang kami tumpangi mendarat mulus di sebuah lapangan terbang di Nusa Tenggara Timur. Aku belum tahu pasti di bandara mana. Yang jelas, di manapun itu, aku yakin saat itu bandara masih sangat sepi, masih terlalu pagi untuk kegiatan penerbangan komersil. Belum ada jadwal keberangkatan atau kedatangan. Masih pagi buta.
"Ren, bangunlah, sobat! Kita sudah sampai!" Aku mendengar suara Jan membangunkanku, tapi mataku belum sempurna terbuka. Aku masih dalam kondisi setengah bangun, antara sadar atau tidak. Menggeliat dan mengumpulkan tenaga. Masih bersandar malas di kursi penumpang pesawat yang empuk itu.
"Renato," panggil Jan sekali lagi. Wajahku masih mengantuk dan lesu. Kali ini aku membuka mata, dan mengerjap beberapa kali. Aku sudah dapat melihat Jan dengan jelas, sahabatku ini tampak sudah siap dan segar. Ia sudah bangun sejak beberapa jam yang lalu.
"Kita sudah sampai?" tanyaku dengan nada setengah bergumam.
"Ya, kita sudah sampai, sobat. Cepatlah, kita harus bergegas!" jawab sahabatku itu.
"Baiklah." Aku melepas sabuk pengamanku. Sejenak bersandar lagi dengan malas, rasanya tubuhku masih letih dan masih perlu istirahat lebih lama. Namun, mengingat pada tujuanku datang ke sini untuk menyelamatkan Prof. Ram Ranayuda, maka aku sadar aku tak boleh membuang-buang waktu. Pekerjaanku masih banyak dan aku tak boleh terlambat. Lalu segeralah aku bangkit dari kedudukan. Sejenak menggeliat sekali lagi kemudian bergegas menuju ke kabin belakang pesawat, mencari kamar mandi untuk mencuci muka.
Beberapa menit kemudian, aku sudah kembali dengan wajah yang segar dan bersemangat. Siap untuk memulai petualangan selanjutnya. Jan langsung berdiri begitu aku sampai ke dekatnya.
"Ambil ini, untuk berjaga-jaga!" ucap Jan sambil melempar sebuah pistol padaku.
Aku sigap menangkap pistol jenis Glock 17 itu. Meneliti desainnya sebentar kemudian menyimpannya.
"Baiklah, ayo!" Jan berdahulu melangkah ke depan, menuju pintu keluar pesawat yang sudah terbuka membawa masuk cahaya pagi.
"Di mana kita berada sebenarnya?" tanyaku.
"Bandara Tardamu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur!" Jan menjawab begitu kami tiba di ambang pintu. Aku memandang keluar, menatap pagi yang cerah di kompleks bangunan bandara yang masih sepi.
"Pulau Sawu?" tanyaku.
"Benar, Pulau Sawu." Jan menjawab sambil melangkah menuruni tangga. Benar sekali perkiraanku, bandara itu sepi sekali. Aku tidak pernah datang ke sini sebelum ini, tapi aku tahu kondisi bandara ini beberapa tahun lalu. Sekarang sudah berbeda, terlihat maju dan berkembang.
Kami turun dari pesawat. Menghirup segarnya udara pagi. Tidak membuang waktu lebih lama, kami segera keluar dari area bandara tanpa perlu melewati prosedur apapun. Beberapa petugas keamanan bandara di sini juga mengenal Jan dengan baik. Mereka menyapa kami dengan ramah.
Begitu keluar dari gerbang bandara, sebuah mobil polisi juga sudah menunggu kami di pinggir jalan. Jan telah menghubungi kepolisian setempat dan berkoordinasi dengan mereka untuk membantu urusan kami di sini. Maka aku dan Jan menumpang mobil polisi itu untuk bertolak menuju tujuan kami. Tanpa ruangan sirine, mobil yang kami tumpangi meluncur cepat di jalanan. Melintas di antara kegiatan penduduk kota yang baru dimulai di pagi hari. Sabu Raijua sudah maju dan megah saat ini. Kabupaten di Pulau Sawu, Nusa Tenggara Timur itu telah berkembang menjadi kota metropolitan yang dihiasi gedung-gedung pertokoan dan fasilitas umum. Kami melintas di jalanan kota itu, menuju daerah pesisir pulau.
"Kita menuju ke Pelabuhan Biu," jawab Jan saat aku bertanya.
__ADS_1
"Pelabuhan Biu?" Aku membeo.
"Tempat markas cabang Tengkorak Hitam di kawasan timur negeri ini," jawab Jan pula. "Dengan data dari komputer kerja Junior yang aku dapatkan, aku bisa melacak keberadaan pasukan yang menculik Prof. Ram. Sejak malam tadi, aku perhatikan titik koordinatnya terus berpindah menunjukkan perjalanan yang aku yakini dengan pesawat. Dan saat ini titik koordinat itu berhenti di Pelabuhan Biu. Mereka pasti ada di sana."
Jan mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar yang menampilkan peta Pulau Sawu. Di sana aku dapat melihat dua titik yang berkelap-kelip, satu merupakan titik keberadaan kami yang melintas di jalanan kota, dan satu lagi merupakan titik koordinat buruan kami. Titik itu berada di pesisir timur pulau ini, yakni Pelabuhan Biu yang disebut-sebut sahabatku tadi.
"Baguslah, kalau begitu kita harus cepat-cepat sampai ke sana!" ucapku antusias.
"Maaf menyela, Tn. Jan," ucap petugas polisi yang mengemudikan mobil. "Apakah anda sudah yakin akan datang ke sana hanya berdua? Kami sekali lagi menawarkan pasukan untuk menyertai anda, kami bisa menurunkan pasukan Brimob Polda Nusa Tenggara Timur!"
"Terima kasih, Pak, tapi saya yakinkan sekali lagi, tidak usah repot-repot menurunkan banyak pasukan. Saya tidak sedang mengundang perang dengan mereka. Kami hanya menjemput rekan kami dan cepat-cepat pergi dari sini."
Petugas polisi menghela napas pasrah.
Maka kami terus melaju. Jarak yang kami tempuh ternyata cukup jauh. Perjalanan dari Bandara Tardamu menuju Pelabuhan Biu itu memakan waktu yang lumayan lama. Untung saja kondisi jalanan kota tidak macet dan tidak padat seperti kota asal kelahiranku. Jalanan ini tidak ramai dan tidak juga terlalu sepi. Entah karena memang seperti ini adanya atau hanya karena masih pagi. Sepanjang jalan, aku meneliti suasana kota ini. Sudah sangat maju dibanding beberapa tahun yang lalu. Sudah bukan lagi daerah terpencil.
***
Menjelang siang, akhirnya kami tiba ke tempat dituju. Mobil polisi yang kami tumpangi merapat ke pinggir dermaga dan berhenti di sana. Suasana pelabuhan tidak ramai saat itu, hanya ada beberapa petugas keamanan yang berlangsung lalang, atau beberapa pengunjung yang tiba-tiba heboh karena kedatangan mobil polisi ke pelabuhan itu.
"Itulah dia," ucap Jan sembari menuding kapal yang sedang aku perhatikan.
"Apanya?" tanyaku.
"Markas Tengkorak Hitam," jawab petugas polisi tadi mendahului Jan.
"Benar," timpal sahabatku sambil tersenyum simpul.
"Kapal kargo itu?" tanyaku sekali lagi seakan tak percaya. Bergantian menatap Jan dan kapal kargo di depan sana.
"Benar, Ren!" jawab Jan. "Kapal kargo yang sudah tak digunakan lagi itu, beserta puluhan kontainernya disulap menjadi markas operasi mereka, untuk kawasan ini. Orang-orang hanya tahu itu bekas kapal kargo milik Belanda yang sudah tak bisa digunakan lagi dan tidak dimiliki siapapun lagi. Akan tetapi, di dalamnya, kegiatan bisnis dunia hitam berjalan terkendali di sana. Juga merupakan sarangnya para kriminal dan pasukan tempur yang berjumlah ratusan."
"Begitulah, Tn. Renato," sambung petugas polisi tadi. "Sudah bertahun-tahun mereka bermarkas di sana, hanya kepolisian dan beberapa orang penting yang tahu. Sampai saat ini, kami belum bisa menghentikannya kegiatan bisnis ilegal mereka. Sudah beberapa kali operasi penyerangan atau serbuan kami lancarkan untuk meruntuhkan mereka. Meskipun kami berhasil menumpas semuanya tanpa sisa, hanya dalam hitungan hari markas itu akan bangkit lagi dengan anggota-anggota dan pasukan baru yang dikirim dari markas pusat. Orang-orang baru itu segera menguasai markas itu menggantikan rekan mereka agar bisnis itu kembali berlanjut di sini. Hal itu terjadi beberapa kali sampai kami putuskan untuk tidak menyerang mereka lagi. Ibarat mati satu tumbuh seribu, mereka tidak ada habisnya."
__ADS_1
Aku tercengang mendengar penuturan itu.
"Itulah mengapa aku tidak mau merepotkan kepolisian setempat untuk menurunkan banyak pasukan," ucap Jan pula. "Karena itu hanya akan menjadi sia-sia, menciptakan banyak kerugian; membuang-buang amunisi dan tenaga, apalagi jika sampai ada korban jiwa dari pihak kepolisian. Itu sangat merugikan sekali. Sedangkan mereka akan selalu ada penggantinya."
"Jadi, bagaimana cara untuk menaklukkan mereka?" tanyaku penasaran.
"Itulah misiku saat ini, Ren," jawab Jan. "Tugas terkini dari kantor pusat untukku adalah Tengkorak Hitam ini, meskipun aku belum benar-benar berhasil. Namun, aku akan menyusun rencana yang akan berjalan perlahan tapi efektif. Dan aku awali dengan membantumu, menyelamatkan Prof. Ram!"
Aku mengangguk setuju.
"Sekarang kita ke sana, Pak!" ucap Jan.
Sang polisi di kabin kemudi mengangguk takzim dan segera menginjak pedal gas. Kami maju menyusuri tepian dermaga sejauh beberapa puluh meter. Lalu berhenti tepat di pangkal depan kapal itu, di muka sebuah tangga besi. Tangga besi yang merupakan jalan naik menuju ke atas kapal tersebut.
Sejenak aku meneliti dan memandang jauh ke arah tangga itu. Tiba-tiba kulihat ada beberapa orang yang turun dari sana terburu-buru menuju ke arah kami. Mereka berpakaian jas hitam rapi, seakan-akan menyambut hendak kedatangan kami. Namun, seketika aku terbelalak begitu melihat orang-orang itu semakin turun. Bukan apa-apa, tapi mereka membawa senapan serbu yang sudah teracung galak siap menyerbu kami.
Aku dan Jan terkesiap. Dalam terkejut itu, kami sigap bergegas menaikkan semua kaca mobil. Persis ketika kaca tertutup, senapan orang-orang itu seketika menderu. Peluru-pelurunya berdentingan menghantam kaca dan badan mobil—yang untungnya tahan peluru—. Apa-apaan ini? Tak tahu ada perkara apa, tiba-tiba saja mereka muncul menyerang kami dengan ganas. Aku pikir, mungkin mereka adalah pasukan penjaga
markas ini, dan mereka sensitif terhadap mobil polisi yang tiba-tiba datang ke sini.
Maka mau tidak mau kami terpaksa putar balik. Polisi itu memainkan setir mobil dengan lihai. Bermanuver memutar balik dan tancap gas.
"Apa-apaan ini? Siapa mereka?" Jan berseru kesal. Ia tampak terkejut sekali sambil menoleh-noleh ke belakang dengan heran saat kami melaju meninggalkan orang-orang itu. Aku sendiri terkejut karena melihat wajah Jan yang terkejut.
"Bukannya mereka itu ...."
"Bukan, Ren," potong Jan. "Itu bukan pasukan milik Tengkorak Hitam, aku kenal sekali ciri-ciri penampilan mereka. Pasukan Tengkorak Hitam selalu berpakaian baju kaos hitam dan rompi anti-peluru dengan logo di punggungnya. Yang barusan itu bukan mereka."
"Benar," tambah si petugas polisi pula. "Pasukan Tengkorak Hitam tidak akan keluar membawa senjata dari markas itu. Mereka biasanya akan muncul tiba-tiba dengan tampilan khas mereka, tapi tidak ada yang tahu dari mana munculnya."
"Kalau begitu siapa mereka?" Aku berseru pula karena menjadi bingung kali ini.
"Aku juga tidak tahu!" jawab Jan.
__ADS_1
Aku terdiam. Saat aku menoleh ke belakang lagi, sebuah mobil sport mewah yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul mengejar kami. Mobil itu melaju kencang dan semakin lama semakin mempersempit jarak. Penumpangnya adalah orang-orang bersenjata tadi, mereka mengacungkan senapan serbu lewat jendela mobil. Memberondong mobil kami tanpa ampun.
Aksi balapan kami itu berlanjut sampai keluar dari kawasan pelabuhan. Kami sekarang melaju di jalanan kota. Sirine mobil kami dinyalakan, meraung-raung sepanjang jalan. Sementara deru senapan menyahut di belakang. Hal itu tentu membuat gempar orang-orang. Membuat heboh warga yang berlalu lalang dan membuat panik para pengguna jalan lain.