
Setelah kobaran api tadi reda, aku dan Jan melompat turun. Aku dengan senapan serbu M16 di tangan, dan Jan membawa sebuah senapan gentel. Kami terjun dan menjejakkan kaki di pasir basah, menciptakan bekas jejak kaki yang dalam. Lalu berjalan mengendap-endap dan perlahan. Melangkah berhati-hati melewati tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan di hamparan pasir tersebut. Dari sana, kami lurus terus menuju arah hutan dan kawasan berpepohonan besar yang tumbuh rapat satu sama lain.
"Jan, kita tidak salah pulau, 'kan?" tanyaku.
"Aku yakin sekali tidak, Ren!" jawab Jan. "Deretan pasukan yang bergelimpangan itu buktinya. Mereka adalah pasukan berjas hitam, pasukan yang sama dengan yang menyerang kita di Pulau Sawu tadi. Pasti pulau ini merupakan tempat atau markas mereka."
"Oh iya, kau benar juga," ucapku. "Tapi mengapa ya pulau ini terlihat sepi dan tidak berpenghuni?"
"Jangan tertipu, sobat!" ucap Jan. "Pasukan itu bisa datang menyerbu dari arah mana saja, siapkan senjatamu!"
Aku mengangguk takzim. Jan benar sekali, kesunyian hutan ini pasti hanya kamuflase. Pasukan berjas hitam itu bisa saja tiba-tiba muncul dan mengerjap kami dari berbagai arah. Aku berhenti melangkah sebentar untuk menoleh ke arah pantai, menatap tubuh-tubuh yang terkapar di sana. Menghela napas, lalu lanjut berjalan.
Tak beberapa lama, kami sudah mulai memasuki hutan lebih dalam. Memasuki area penuh semak belukar dan berbagai macam pohon kayu besar yang rimbun dan lebat. Kami menerobos semak-semak itu, merintis jalan kecil. Semakin kami masuk ke dalam, suasana menjadi teduh karena cahaya matahari terlindung kanopi dahan dan dedaunan pohon. Sepanjang langkah senjataku terus teracung, waspada ke segala arah. Jan pun tidak ubahnya, ia berjalan sambil sesekali berbalik mengawasi sekeliling.
Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!
Tiba-tiba datang rentetan tembakan.
Aku dan Jan refleks segera menjatuhkan diri. Berguling dan berlindung di balik pohon besar. Tembakan terdengar menderu lagi. Peluru-peluru berdesing menghantam batang pohon. Berkelotakan membuat rontok kulit-kulit kayu.
Aku dan Jan menajamkan mata, mencari tahu dari mana asal tembakan. Dari desingan peluru yang laksana hujan, terlihat rentetan tembakan datang dari arah berbeda. Kami diserbu dari dua arah, yakni arah serong kiri dan serong kanan. Tembakan itu menderu membabi buta. Beberapa menit aku dan Jan tiarap di bawah hujan tembakan, pohon besar di kiri dan kanan kami sudah berlubang-lubang ditembus peluruku.
Aku membidikkan senapan ke arah kiri. Terus fokus, dan menarik pelatuk.
Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!
M16 di tanganku menyalak ke arah yang kubidik meskipun aku tak melihat ada siapa-siapa di sana. Jadi, sebenarnya aku hanya menembak sembarang ke arah asal datangnya peluru. Untungnya tembakan balasan dariku ampuh membuat hujan peluru tadi berhenti. Jan di sisiku, juga mulai menembaki lawan kami di arah satu lagi yang wujudnya juga tak kelihatan.
Aku mulai bangkit dari tiarapku. Perlahan-lahan berdiri sambil terus memberondong lawan-lawanku di depan sana. Detik demi detik berlalu dengan peluru berdesing balas berbalas. Dan entah pada detik ke berapa, barisan pasukan lawan akhirnya menyeruak keluar dari persembunyian. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera menggambil langkah berani dengan maju menyongsong desingan peluru. M16 di tanganku menyalak buas, memberondong pasukan itu dengan rentetan peluru kencang. Tubuhku dilindungi oleh rompi antipuluru, sementara lawanku di depan sana hanya berpakaian jas hitam yang mudah ditembus peluru. Maka dalam beberapa menit saja, pasukan itu mudah kubuat rubuh dan tumbang satu per satu.
"Ren!" panggil sahabatku. "Bisa kau bantu aku?"
Aku menoleh. Terlihat Jan sedang kewalahan menghadapi pasukan di hadapannya. Ia harus berkali-kali keluar masuk persembunyian untuk bergantian menembaki lawan dan bersembunyi dari serbuan peluru. Moncong senapan gentelnya meletus-letus melesatkan peluru, tapi lawannya masih banyak di depan sana. Maka tak perlu pikir panjang, aku membidik barisan pasukan berjas hitam yang dihadapi Jan itu. Lebih menguntungkan lagi untukku karena mereka terlalu fokus menyerbu Jan. Mereka sama sekali tidak sadar aku berdiri bebas dan sedang mengarahkan laras senjata ke kepala mereka.
Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!
__ADS_1
Pelatuk kutarik, laras senapan menderu memuntahkan timah-timah panas yang berdesing kencang. Aku tak perduli arah bidikanku bergeser, aku terus menembak dengan ganas. Kurang dari satu menit, puluhan peluru sudah bersarang di kepala, dada, dan berbagai anggota tubuh pasukan itu. Bahkan mereka tak sempat terkejut oleh datangnya tembakanku, mereka keburu berguguran dan terkapar.
Jan keluar dari persembunyian begitu pasukan lawan kubabat habis tanpa sisa. Aku pun beranjak ke dekat sahabatku itu.
"Aku bilang juga apa?" ucapnya kemudian. "Beberapa saat lagi pasti mereka akan bermunculan lagi."
"Benar." Aku mengangguk takzim.
Dorr! Dorr!
Aku melepas tembakan begitu mataku melihat ada gerakan di antara semak-semak. Meski ternyata tidak ada apa-apa di balik rumput tinggi tersebut. Aku menurunkan senjata, sekaligus membuangnya. Amunisi di senapan ini sudah habis. Aku tak punya amunisi untuk diisi. Maka senjata ini tak ada gunanya lagi.
"Bagaimana jika kita berpencar?" tanyaku.
"Berpencar? ulang Jan.
"Ya," jawabku. "Aku ke sana, sementara kau ke sana. Kita sisir pulau ini dari pinggir, dengan tujuan ke pusat pulau. Aku yakin di sanalah tempat yang kita cari!"
Aku menjelaskan pada Jan sambil mengangkat telunjuk ke beberapa arah. Jan mengangguk setuju.
"Berhati-hatilah, sobat!" ucapku. Jan tersenyum simpul dan segera membalik badan membelakangiku.
"Baik, Ren. Sampai jumpa!" sahutnya sambil melambaikan tangan. Selesai melambaikan tangan, ia lantas berlari menyusuri arah itu. Bergegas menghilang di balik rimbunnya hutan dan semak liar.
Aku sendiri berjalan mendatangi lawan-lawanku tadi. Melakukan hal yang sama seperti Jan, mengambil senjata milik pasukan tersebut. Aku mengambil sebuah senapan serbu M16, berharap peluru di dalamnya masih terisi banyak. Setelah memeriksa senjata itu, dan setelah memperhatikan sekitar, aku pun segera ambil langkah ke arah yang berlawanan dengan Jan tadi. Segera berlalu menyusuri hutan.
***
Perjalananku di dalam hutan itu tidaklah lancar dan mudah. Seperti yang sudah aku sangka sebelumnya, banyak sekali pasukan berjas hitam yang bermunculan dan tiba-tiba menyerang buas. Mereka banyak sekali. Bagaikan macan-macan yang lepas dari sarang dan berebut daging segar. Bersenjatakan senapan serbu berbagai jenis, belasan anggota pasukan berdatangan menyerbuku.
Dalam setiap gelombang serangan, aku terus bertahan dan sanggup menghabisi mereka semua. Seperti biasa, saat amunisi senjataku habis, aku mengambil senjata baru milik lawan yang telah terkapar. Kemudian, baku tembak terus berlanjut.
Hampir berjam-jam, aku merintis jalan dan menyusuri hutan tersebut. Selama itu pula pasukan berjas hitam terus berdatangan. Sialnya, aku tidak tahu darimana mereka berasal. Tiba-tiba muncul saja entah dari mana. Meskipun aku coba menyusuri dari arah kemunculan mereka, aku hanya terus berada sampai ke area hutan yang seperti itu-itu juga. Sialnya lagi, gelombang serangan mereka tidak juga berhenti.
Pohon-pohon, rumput, dan segala organisme di sana sudah tak bisa hidup tenang lagi. Di setiap sisi hutan dipenuhi letusan senapan, desingan peluru, dan ledakan-ledakan serta percikan api. Kondisi hutan menjadi serba berantakan. Porak poranda.
__ADS_1
Aku tak tahu sudah sampai mana penyusuranku, tapi semakin lama rasanya aku semakin hilang dari tujuan. Tersesat. Dan akhir dari perintisan jalan menerobos hutan itu, aku keluar di sebuah pantai.
Aku berdiri di pinggir pantai, menatap pemandangan laut dan ombaknya. Aku terperangah. Ini bukan pantai tempat aku dan Jan tiba tadi, tidak ada perahu motor kami di bibir pantai. Ini pasti pantai di sisi lain pulau ini. Ternyata luas juga pulau ini.
Aku mulai berjalan menyisir garis pantai. Selama beberapa menit, suasana sangat tenang sekali sepanjang langkahku. Sampai akhirnya pasukan berjas hitam berdatangan dari arah hutan. Mereka tanpa aba-aba langsung menyerbu dengan senapan di tangan masing-masing. Merusak ketenangan di pantai tersebut.
Aku buru-buru berlari sepanjang pantai. Mereka berhambur mengejar aku. Dalam lariku aku berpikir dan berakhir dengan kebingungan sendiri. Aku pikir, pasukan ini datang dari arah hutan persis di jalan datangnya aku tadi. Sedangkan aku sampai ke pantai ini karena menyusuri arah datang pasukan tersebut saat dalam hutan tadi. Bagaimana ini bisa terjadi? Sebenarnya di mana mereka bersembunyi?
Sementara aku kebingungan, peluru terus menderu di belakang. Aku berlari sekencang yang aku mampu. Aku sedang malas membuang peluru. Jadi, aku memilih menghindar saja dahulu.
Namun, tiba-tiba pasukan yang mengejarku berhenti sendiri. Aku jadi turut berhenti dan menoleh ke arah mereka. Bertanya-tanya apa yang terjadi? Ternyata mereka berhenti karena salah satu anggota mereka jatuh tertembak, oleh tembakan dari arah belakang mereka. Tentu mereka kaget sekali. Masing-masing kepala segera menoleh untuk mencari tahu. Akan tetapi, begitu kepala melihat ke arah belakang, peluru-peluru kencang segera menembus kepala mereka.
Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!
Beberapa kali tembakan yang cepat, langsung melumpuhkan semua anggota pasukan tersebut. Sebelum mereka sempat bereaksi, kepala mereka masing-masing sudah mendapat jatah. Maka mereka pun bergelimpangan tanpa sisa.
Aku menilik tajam. Siapa orang itu? Rupanya ia tidak sendiri. Ada satu orang lagi di sampingnya. Orang itu berpakaian serba putih dan sepertinya agak tua. Jarak yang jauh membuat aku tidak terlalu jelas melihat wajah mereka. Namun, mengingat orang itu telah menembaki lawanku dan menyelamatkan aku, berarti dia bukan ancaman. Maka aku tidak ragu untuk segera berlari mendatangi kedua orang tersebut.
Dan betapa terkejutnya aku ketika tiba dan melihat orang tersebut adalah Jan. Sahabatku yang tadi berpisah di pangkal hutan. Dan aku lebih syok lagi karena melihat orang yang ia bawa. Orang berpakaian serba putih itu adalah Prof. Ram Ranayuda. Orang yang selama ini kupertaruhkan nyawa untuknya. Orang yang telah membuat aku jauh-jauh sampai ke pulau ini untuk menyelamatkannya. Baru beberapa jam yang lalu aku dan sahabatku berpisah untuk menyisir pulau dan menghabisi penghuninya ini, tahu-tahu ia sudah kembali membawa Prof. Ram Ranayuda. Bukan main senangnya aku.
"Akhirnya, Jan!" Aku berseru girang. Setelah perjalanan panjang dari kota, dan membawa kami sampai ke pulau terpencil di daerah Nusa Tenggara Timur. Akhirnya perjuangan kami membuahkan hasil. Titik terang mulai terlihat dengan selamatnya Prof. Ram. Meski aku masih belum percaya bagaimana Jan bisa melakukannya.
"Prof. Ram? Anda tidak apa-apa?" tanyaku.
"Aku ... Aku baik, Ren!" jawab profesor tersebut. Wajahnya yang tua nampak berkerut menanggung beban mental setelah mengalami penculikan seperti ini. Aku menghela napas yang benar-benar lega.
"Terima kasih, Jan! Bagaimana kau akhirnya melakukannya?"
"Begitulah, teman!" jawab Jan. "Aku berhasil menemukan mereka, dan menyelamatkan Prof. Ram ini."
"Hah?" Aku bereaksi dengan spontan melotot kaget.
Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu dan mendadak seperti tersambar petir. Segala keriangan di wajahku langsung lenyap. Sialan, aku mengumpat dalam hati. Aku baru ingat sesuatu yang membuat semua ini menjadi tidak beres. Wajahku merah padam seketika.
"Kau!" Aku menatap Jan dengan tatapan tajam penuh emosi. Bergerak cepat dan langsung menempelkan ujung laras senapan ke lehernya.
__ADS_1
"Kau bukan Jan!"