
"Bagaimana kita akan pergi ke Nusa Tenggara Timur?" tanyaku.
"Pesawat tentu saja," jawab Jan. Ia melangkah menuju lift di seberang ruangan. Maka aku berjalan di sisinya.
"Kau punya pesawat pribadi?" tanyaku.
"Tidak, aku tidak punya, tapi ada pesawat operasional milik kantor yang bisa kita gunakan," jawab Jan.
"Tapi Jan, bukankah ini urusan pekerjaanku untuk menyelamatkan Prof. Ram, bagaimana mungkin kita menggunakan pesawat operasional milik kantormu?"
"Tenang saja," jawab Jan. "Kita ke sana akan berurusan dengan Tengkorak Hitam, dan jelas itu adalah urusan pekerjaanku. Jadi, tidak masalah."
"Baik, baiklah kalau begitu!"
Kami masuk ke dalam lift. Kali ini bisa lebih tenang dan santai. Tidak perlu merasa khawatir karena semua orang di Gedung Lantai Hijau ini sudah kami bereskan. Pasukan keamanannya kami habisi. Enam petarung terakhir mereka telah kami taklukkan. Bahkan pimpinan tertinggi mereka telah kubuat jatuh tak sadarkan diri. Jadi, kami bisa leluasa menggunakan lift tanpa takut akan terjebak oleh sistem keamanannya. Kami meluncur naik satu lantai ke atas. Tiba di lantai paling puncak bangunan tersebut. Keluar di sebuah ruangan yang suasananya seperti ruang tamu. Ada sofa-sofa, meja, televisi yang menempel di dinding, serta banyak fasilitas nyaman lain. Mungkin ruangan ini juga ruangan istirahat atau sejenisnya. Kami meneliti ke seluruh penjuru ruangan. Aku bisa melihat di salah satu sisi ruangan, ada lubang persegi di lantai sebagai jalan melompat turunnya Enam Mata Dadu tadi. Lewat celah itu aku bisa melihat ruangan Junior yang berantakan. Selain celah itu, ruangan ini sangat tertata rapi. Sementara lantai-lantai di bawah sudah begitu berantakan karena ulah kami berdua.
"Sebentar lagi pasukan polisi, anggotaku, akan datang mengamankan tempat ini. Lalu kita akan pergi dari sini dengan salah satu helikopter mereka!" ucap Jan.
"Helikopter?" Aku sedikit tercengang dan berhenti melangkah lantas menatap Jan.
"Tenang saja, Ren!" Jan tersenyum. "Nanti aku akan perintahkan bawahanku untuk mengurus soal kendaraan kita di bawah, karena kita harus buru-buru menuju bandara."
"Baiklah!" Aku mengangguk-angguk lalu lanjut melangkah. Menuju tangga di sudut ruangan. Tangga itu mengantar ke luar ruangan, ke atap gedung. Posisi paling tinggi di bangunan ini. Maka aku segera naik ke sana disusul Jan.
Begitu aku tiba di atap, segeralah aku menuju ke tepiannya. Menatap megahnya kota di malam hari. Cahaya-cahaya terang menghiasi di setiap sudut kota. Lampu-lampu jalan. Atau juga kepadatan lalu lintas di malam hari. Lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang dengan cepat. Di langit sana, bulan menggantung dengan terang. Kemudian aku berlutut memandang ke arah bawah. Menyorot dalam sekali sampai ke dasar. Sebuah mobil terlihat berhenti di persimpangan jalan, terlihat begitu kecil. Betapa tingginya aku berada. Lantas aku memandang jauh ke depan sana, ada banyak gedung-gedung penuh cahaya yang menjulang lebih tinggi berkali-kali lipat daripada tempat aku berada saat ini. Seharusnya aku paham apa maksudnya itu.
Aku terus menatap pemandangan malam kota. Betapa indahnya dengan cahaya berkilauan. Malam ini aku sudah terlalu larut dan tenggelam dalam berbagai macam emosi, amarah, dan kebrutalan, maka tak ada salahnya aku menenangkan diri sebentar. Menatap pemandangan yang penuh damai ini. Terpaan angin malam serta merta memberi rasa sejuk pada sekujur tubuhku yang lelah, gerah, dan dipenuhi memar ini. Di sudut lain tempat ini, Jan berdiri takzim menatap pemandangan kota seperti halnya aku. Namun, kami berdiri di sisi yang berbeda. Sejenak menenggelamkan diri dalam damainya kota setelah pertarungan melelahkan tadi.
Selama beberapa menit, aku asyik memperhatikan suasana malam kota kelahiranku ini. Sampai akhirnya kulihat di kejauhan, ada beberapa titik-titik cahaya yang melayang ke arah tempatku berada. Terlihat jauh dan kecil, tapi semakin lama semakin dekat dan mulai terdengar deru bisingnya. Maka setelah benar-benar dekat dan cahaya itu menyilaukan pemandanganku, baru aku ketahui bahwa itu adalah helikopter kepolisian. Deru baling-balingnya memenuhi udara. Ada sekitar tiga unit helikopter yang siap mendarat, cahaya sorotnya menjadikan atap gedung ini terang benderang. Semakin helikopter itu turun, angin dari baling-balingnya semakin kencang menerpaku. Membuat pakaianku berkibar. Satu helikopter akhirnya mendarat di tengah-tengah atap gedung ini, sementara dua lainnya masih melayang berputar beberapa meter di atas.
Aku dan Jan buru-buru berlari mendatangi kendaraan tersebut. Begitu kami sampai, dari pintu dalam helikopter keluar beberapa orang petugas kepolisian.
"Selamat malam, Komandan!" sapa salah petugas polisi itu.
"Selamat malam," sahut Jan dengan berwibawa.
__ADS_1
"Ah, Tn. Renato, senang bisa bertemu anda!" Petugas polisi itu ganti menghampiriku dan mengulurkan tangan dengan ramah.
"Terima kasih," Aku tersenyum ramah sembari menjabat tangan anak buah Jan itu.
"Dengarkan," ucap Jan kemudian. "Di bawah ini, Enam Mata Dadu sudah tergeletak tak sadarkan diri. Junior Fadz-Riel juga. Serta banyak sekali pasukan keamanan yang bergelimpangan, yang merupakan bagian dari Tengkorak Hitam. Kalian evakuasi semuanya, segel gedung ini! Lakukan inspeksi ke seluruh ruangan tanpa terkecuali, kumpulkan bukti dan dokumen penting untuk menuntut dan menutup bisnis Gedung Lantai Hijau."
"Siap!"
"Teruskan semua urusan kasus ini ke kantor pusat. Selesaikan laporan untuk Pak Komisaris! Saya tidak bisa mendampingi kalian di sini, saya harus pergi ke Nusa Tenggara Timur, jadi nanti saya akan beri arahan lagi!"
"Siap, Komandan!" jawab petugas polisi itu dengan tegas dan antusias.
"Baik, terima kasih!"
Setelah itu, petugas polisi itu langsung bergerak. Memberi arahan pada anggotanya untuk segera turun ke dalam bangunan tersebut. Satu per satu petugas polisi turun dari helikopter, sampai habis.
"Ayo, Ren!" ajak Jan begitu semua penumpang sudah turun. Ia berdahalu naik ke dalam helikopter. Maka aku pun menyusulnya tanpa banyak tanya. Aku duduk di tepi jendela. Sementara Jan di dekat pintu. Kabin helikoper ini cukup untuk memuat empat penumpang, tapi kini tinggal aku, Jan, dan pilot helikopternya.
"Ke Bandara!" Jan berkata singkat saja pada sang pilot. Pilot itu pun hanya tersenyum dan mengangguk tegap. Maka setelah pintu ditutup rapat oleh Jan, helikopter itu segera lepas landas. Naik tinggi menuju langit malam. Setelah helikopter kami meninggalkan atap Gedung Lantai Hijau, barulah dua helikopter lain mendarat, menurunkan petugas polisi dan menyusul rekan mereka yang sudah di sana.
Helikopter ini terbang dengan cukup laju. Aku menikmati penerbangan ini dengan memandangi pemandangan kota. Menatap gedung-gedung yang tinggi menjulang. Bahkan aku bisa melihat gedung kantor Korp. Masadepan. Kami melewati bangunan itu untuk menuju bandara.
Di sampingku, terdengar Jan sedang menelepon. Dari pembicaraannya, sepertinya Jan sedang berbicara dengan atasannya. Jan sesekali tergelak, meyakinkan bahwa Enam Mata Dadu benar-benar berhasil kami taklukkan. Aku tersenyum sendiri mendengar pembicaraan sahabatku itu. Setelah ia selesai, barulah Jan menatapku yang tersenyum menahan tawa melihatnya dari tadi.
"Komisaris besar," ucapnya. "Beliau tidak percaya kita mengalahkan Enam Mata Dadu!"
"Yah, kau 'kan tahu Enam Mata Dadu itu benar-benar legenda dunia hitam," celetukku.
"Legenda, ya? Benar juga kau!" sahut Jan.
"Dengan keberhasilan ini, aku yakin kau akan mendapat promosi!" ucapku.
"Ah, benar juga, terima kasih, sobat!" jawab Jan. "Tapi itu urusan nanti, sekarang bersiap untuk penerbangan panjang, menuju Nusa Tenggara Timur."
Aku tersenyum bangga. "Terima kasih kembali, sobat!"
__ADS_1
Setelah itu aku memandang keluar. Menatap pemandangan malam. Larut dalam gelapnya langit dan terangnya deretan bangunan. Jan sendiri tampak membuka lagi ponselnya, menelepon seseorang. Berbicara dengan santai. Dari yang aku dengar, aku tebak ia menelepon istrinya, Fitri. Untuk memberitahukan bahwa ia tak bisa pulang malam ini, bahwa ada keperluan mendadak dan mendesak yang mengharuskannya pergi jauh.
"Iya, aku akan hati-hati. Kamu juga, hati-hati. Aku sudah menyuruh beberapa anggotaku untuk berjaga di area rumah kita. Mereka aku beri tanggung jawab untuk melindungi kamu. Tenang saja, ya, jangan memikirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Baiklah, selamat malam!"
Jan mengakhiri teleponnya.
***
Sudah lewat dini hari ketika kami tiba di tujuan. Helikopter yang kami tumpangi mendarat mulus di lapangan terbang milik bandara internasional kota. Suasana bandara sangat sepi kala itu, hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga. Jan berdahulu turun, aku menyusul di belakangnya.
Begitu aku dan sahabatku telah turun, helikopter tadi langsung menderu lagi untuk lepas landas. Mengudara dan meluncur tinggi ke angkasa. Aku bergidik, merasa sejuk diterpa angin helikopter itu.
Aku memandang sekeliling lapangan luas itu. Beberapa pesawat penumpang terparkir di tempatnya. Angin malam sesekali menerpa kami. Inilah salah satu keuntungan aku bersahabat dengan Jan, seorang polisi elit yang punya relasi di mana-mana. Untuk masuk ke sini saja, kami tidak perlu melewati prosedur macam-macam yang menghambat perjalanan. Sebutkan saja nama Jantoro, maka segala urusan kami akan mudah di sini. Semua petugas dan pejabat maskapai, mengenal Jan.
Kami tidak perlu berjalan jauh. Beberapa langkah dari tempat kami mendarat, kami sudah disambut seorang laki-laki paruh baya di pinggir lintasan terbang. Juga telah sedia sebuah pesawat polisi jenis CN295, siap untuk lepas landas.
"Selamat malam, Kapten Arief!" sapa Jan. "Maaf jika kami datang agak terlambat!"
"Selamat malam, Komandan!" jawab pilot pesawat itu penuh ramah tamah. "Tidak apa-apa, saya senang menerima tugas ini. Berhubung penerbangan kita dini hari, saya yakin misi anda sangat penting!"
"Tentu saja," jawab Jan. "Ren, perkenalkan ini Kapten Arief!"
Aku tersenyum ramah dan segera berjabat tangan dengan kapten tersebut. Berkata, "Senang bertemu anda, Kapten!"
"Terima kasih, Tn. Renato, saya tidak menyangka bisa bertemu anda di sini. Saya sering mendengar berita tentang anda, agen perusahaan yang paling andal itu."
"Terima kasih!" Aku tersenyum simpul.
"Baiklah, Pak! Kita berangkat sekarang!" ucap Jan.
"Siap!"
Jan segera berdahulu naik. Aku bergegas menyusulnya. Mengambil tempat di kursi depan di sisi jendela. Pesawat ini memiliki kapasitas sampai 50 orang. Biasa digunakan untuk mengangkut pasukan kepolisian. Namun, malam ini, hanya aku dan Jan yang ada di antara deretan kursi penumpang. Sementara Kapten Arief sudah bersiap di kabin pilot. Mesin pesawat menyala. Aku dan Jan memasang sabuk pengaman.
Maka beberapa menit kemudian, pesawat itu meluncur mulus sepanjang lintasan. Mengudara dengan sangat cepat. Tak butuh waktu lama, saat aku memandang ke luar jendela sudah gulungan awan di gelap malam yang aku lihat. Jan terlihat menyandarkan tubuhnya, mungkin ia ingin tidur untuk beristirahat. Mengingat penerbangan ini akan memakan waktu sangat lama. Bertolak dari kota paling megah yang dulunya adalah ibukota, kami terbang menuju daerah kepulauan di timur negeri ini. Sejujurnya aku belum tahu pasti ke mana kami akan mendarat. Jan hanya bilang kami menuju Nusa Tenggara Timur, tapi ia tidak bilang lokasi yang lebih spesifiknya. Kepada Kapten Arief pasti sudah disampaikannya saat ia menelepon minta disiapkan pesawat untuk penerbangan kami. Mungkin dia lupa mengatakan padaku. Tak mengapa, toh aku akan sampai juga ke sana. Melanjutkan perjuanganku untuk menyelamatkan Prof. Ram. Menjemput takdir tentang masa lalu. Demi ayahku.
__ADS_1