
Aku tahu ini sudah lewat dini hari, tapi aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, melainkan menuju kantor pusat. Berangkat dari bandara internasional kota, kami bertolak dengan sedan hitam membelah jalanan kota. Ironinya, pada dini hari seperti ini tidak menjadikan kota megah ini lantas sunyi. Sepanjang jalanan yang kami lintasi, masih saja ada cukup keramaian dan aktivitas warga kota. Masih banyak makhluk malam yang berkeliaran. Begitulah realitanya kota besar.
Dani mengemudikan mobil dengan kecepatan santai. Kami berkendara selama hampir setengah jam, sebelum akhirnya sampai ke depan bangunan menjulang yang kami tuju. Bangunan kantor pusat Korp. Masadepan. Mobil segera masuk ke tempat parkir dan berhenti di sana. Menjadi satu-satunya kendaraan yang masih terparkir di sana. Karena sebelumnya, memang tidak ada satu pun kendaraan di tempat itu. Sepi sekali. Mengingat saat ini dini hari, jadi wajar saja.
Aku bergegas membuka pintu dan keluar dari mobil. Sebelum melangkah pergi, aku berhenti sejenak di samping jendela.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar," ucapku pada Dani dan dua pengawalnya.
"Siap, Pak!" jawab Dani tegas. "Seterusnya bagaimana?"
"Kalian boleh pulang atau kembali ke pangkalan, atau ... terserahlah!" jawabku.
"Siap, terima kasih!" ucap Dani pula.
Aku mengangguk dan tersenyum simpul.
Dani turut tersenyum, lantas menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin mobil mengaung, roda-rodanya berdecit. Lantas bergerak maju dan bermanuver putar balik tepat di depanku. Bagaikan pembalap profesional, Dani mengendarai sedan itu memutari tubuhku lantas melesat keluar dari area parkir. Menghilang di balik gerbang di depan sana.
Aku sendiri lalu melangkah menuju pintu masuk ke dalam gedung ini. Suasananya sangat sepi saat aku masuk. Tidak ada satu pun orang yang aku temui di sepanjang koridor dan ruangan-ruangan yang aku lalui. Aku melangkah santai saja. Masuk ke dalam lift, meluncur naik ke lantai bangunan di mana ruang kerjaku bertempat.
Pintu lift mengeluarkan bunyi desis ketika terbuka, dan aku pun segera keluar. Satu langkah aku di koridor itu, dua orang tak asing langsung menyambut kedatanganku. Tebakanku benar sekali. Memang tidak salah keputusanku untuk memilih datang ke kantor, alih-alih pulang ke rumah. Kedua orang ini benar-benar menunggu kedatanganku. Rela menahan kantuk sampai dini hari.
"Renato!" ucap Hadni penuh haru. Gadis ini berdiri tepat di hadapanku, menyambut dengan tidak sabar. Terlihat wajahnya seperti sedih bercampur gembira melihat kedatanganku. Aku tak tahu disebut apa perasaan yang ia rasakan, tapi terlihat sekali ia tak mampu menahan rasa yang berapi-api dalam dirinya. Terlihat jelas ia antusias dan bersemangat.
Sementara di belakangnya, berdiri Pak Roy, direktur utama perusahaan ini sekaligus ayah angkatku. Keduanya terlihat terharu melihat kedatanganku. Orang tua ini masih terlihat berwibawa seperti biasanya. Tersenyum simpul padaku dengan wajah yang juga haru, seakan mengatakan, syukurlah kau akhirnya kembali dengan keadaan baik-baik saja, anakku!
"Renato, aku senang sekali akhirnya kamu kembali!" Hadni melonjak girang. Hampir saja ia melompat dan merangkul tubuhku erat-erat. Aku melotot dan terkejut sekali, tidak menyangka Hadni akan melakukan itu. Untung saja aku lebih sigap bertindak. Aku segera mengelak dan menahan lengannya, membatalkan gerakannya itu.
"Jangan, Hadni!" Aku memperingatkan sambil tersenyum ramah.
Hadni tertegun. Mati langkah. Wajahnya benar-benar memerah karena malu. Saat ini wajahnya dekat sekali dengan wajahku, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sedang merasa gugup dan canggung. Gadis ini tersipu dan menjadi kikuk karena tindakan spontanitasnya tadi, perlahan-lahan ia mundur sendiri karena merasa tidak enak.
"Ma–Maaf, Ren!" ucapnya dengan suara tergegap.
Aku lagi-lagi hanya tersenyum.
"Bapak," Aku beralih ke Pak Roy di sebelahnya. Segera datang dan memeluk orang tua ini. Ia balas merangkul dan menepuk pelan punggungku.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya, Pak. Saya baik-baik saja," jawabku ramah. "Prof. Ram juga baik-baik saja. Beliau sudah pulang dijemput keluarganya tadi. Beberapa anggota juga mengawalnya tadi."
__ADS_1
"Terima kasih, Ren!" ucap Pak Roy kemudian. "Kau memang membanggakan dan sangat luar biasa, untuk kesekian kalinya kamu menyelamatkan perusahaan kita. Seandainya bukan karena kau, entah bagaimana nasib Korp. Masadepan setelah ini."
"Benar, Ren!" timpal Hadni pula.
Pak Roy melepas rangkulan lantas tersenyum ramah.
Aku pun demikian. Berkata, "Terima kasih atas semua sanjungannya, jangan berlebihan. Yang terpenting sekarang semua kondisi akan kembali seperti biasa. Prof. Ram sudah berhasil diselamatkan, mungkin beliau akan cuti beberapa hari untuk menenangkan diri dan mentalnya. Selanjutnya proyek mesin waktu akan berlanjut sampai terselesaikan."
Pak Roy tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang penuh kelegaan.
"Setelah ini kondisi perusahaan ini akan kembali stabil beberapa hari ke depan!" lanjutku.
"Tapi, Ren," ucap Hadni. "Bagaimana ceritanya? Siapa orang yang bertanggung jawab telah menyebabkan semua kekacauan ini?"
"Ah, itu dia," sambung Pak Roy. "Aku juga penasaran sekali, Ren. Siapa orang yang punya masalah dengan kita, dan apa masalahnya sehingga ia berbuat seperti ini. Aku akan sangat tertarik mendengarkan ceritamu, bagaimana bisa sampai ke Nusa Tenggara Timur?"
Aku tersenyum penuh arti. "Ceritanya sangat panjang, bisakah kita berpindah tempat terlebih dahulu? Saya yakin anda tidak ingin mendengar cerita panjang ini dengan berdiri di tengah koridor terus-terusan."
"Ah, benar juga," sambut Pak Roy. "Kalau begitu sebaiknya kita ke ruanganku saja."
Aku dan Hadni saling berpandangan dan bertukar senyum. Kemudian kami berdua berjalan bersisian menuju ruangan di ujung koridor. Mengekor Pak Roy yang berjalan agak tertatih dengan tubuhnya yang renta dan sudah lemah.
Sambil berjalan, aku diam-diam melirik wajah Hadni sementara ia memandang ke depan. Gadis ini terlihat sangat bersemangat dan bahagia. Aku tak mengerti, apakah yang aku lakukan selama ini hanya memberikan harapan untuknya. Membuat ia merasa aku memberikan tempat untuknya di hatiku. Padahal aku tidak bisa mengatakan iya untuk hal tersebut. Apakah aku menyakitinya dengan berbuat seperti ini? Aku heran sendiri, Hadni ini terlalu tulus mencintai. Padahal ia sudah tahu aku tidak mencintainya, tapi ia sedikitpun tidak mengubah caranya memperlakukan aku. Sudah sewajarnya jika ia sakit hati atau kecewa mengetahui hal itu. Namun, itu tidak terlihat sedikitpun, dengan mudah ia menerima apa yang aku sampaikan. Justru sampai kini ia masih menghargai dan memperhatikan aku. Ironi sekali. Kasihan juga kadang.
"Jadi, bagaimana ceritanya, Ren?"
"Pertama-tama saya minta bantuan Jan, sahabat saya yang merupakan seorang polisi elit," Aku mulai bercerita. "Dia bilang bahwa dia kenal beberapa wajah pasukan misterius yang menyerang laboratorium kita. Kata Jan, pasukan itu adalah pasukan milik Gedung Lantai Hijau."
"Gedung Lantai Hijau?" potong Pak Roy. "Oh, ya, aku mendengar beritanya. Kasino itu ditutup oleh pemerintah, izinnya dicabut. Kondisi bangunannya kacau, dengan semua pasukannya bergelimpangan tak berdaya. Junior Fadz-Riel juga tak sadarkan diri."
"Ya, itu ulah kami," sambungku. "Dari sana kami mendapat informasi bahwa Prof. Ram dibawa ke Nusa Tenggara Timur. Maka dengan fasilitas pesawat polisi milik Jan, kami terbang ke Nusa Tenggara Timur malam itu juga. Singkatnya, kami sampai ke sana pagi hari. Di Pulau Sawu, Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Tujuan kami adalah markas Tengkorak Hitam, karena pasukan Gedung Lantai Hijau dapat dipastikan berasal dari organisasi kriminal ini. Masalahnya, begitu sampai di markas itu, kami diserbu oleh pasukan misterius lain berjas hitam."
"Pasukan berjas hitam?"
"Ya, pasukan berjas hitam. Belakangan saya ketahui, bahwa merekalah sebenarnya pasukan yang menculik Prof. Ram, bukan Tengkorak Hitam. Tengkorak Hitam tidak memiliki kaitan apapun. Jadi begini, pasukan Gedung Lantai Hijau pertama-tama menyerang laboratorium dan menculik Prof. Ram. Kemudian Prof. Ram diserahkan pada pasukan berjas hitam itu untuk dibawa ke Nusa Tenggara Timur."
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah pasukan milik orang yang sebenarnya memiliki dendam dengan Korp. Masadepan."
"Hah? Siapa dia?"
__ADS_1
"Dengarkan dahulu!" ucapku. "Setelah kami diserbu oleh pasukan berjas hitam itu, kami lari ke pusat kota dan bersembunyi di balik gedung. Ternyata pasukan Tengkorak Hitam mengetahui kedatangan kami dan diperintahkan untuk memburu kami. Lalu kami mendapat kabar dari rekan Jan yang sedang menyusup di markas Tengkorak Hitam bahwa Prof. Ram tidak ada di sana, melainkan dibawa oleh pasukan berjas hitam ke sebuah pulau di selatan."
Aku berhenti sejenak. Kulihat Pak Roy dan Hadni serius sekali menunggu lanjutan ceritanya.
"Kami menyamar menjadi anggota pasukan Tengkorak Hitam. Dengan penyamaran itu kami sampai ke tepi pantai, lalu merampas perahu motor dari Tengkorak Hitam yang sedang memburu kami. Dengan perahu motor itu kami menyeberang ke pulau tujuan. Di pulau itu, kami dihadang ratusan pasukan berjas hitam. Hingga sampai ke sebuah gubuk tua, markas mereka. Setelah bertarung mati-matian, akhirnya Prof. Ram kami temukan di sana. Dan tebak siapa orang yang kami temukan?"
"Siapa?"
"Saya pertama mengira dia adalah Sam Soetadji, orang yang jelas sekali menyimpan dendam pada Korp. Masadepan."
"Lantas?"
"Ternyata dia bukan Sam Soetadji," jawabku.
"Jadi?" desak Hadni.
Aku menghela napas panjang. Menjawab, "Henry Purnomo, alias Koh Shung?"
"Hah?" Pak Roy melotot dan melonjak dari kedudukannya seketika itu juga. Sesaat ia terpaku melongo dengan mulut menganga laksana disengat listrik. "Apa aku tidak salah dengar?"
"Koh Shung?" Hadni juga sama terperangah dengan wajah tak percaya. "Bagaimana mungkin? Beliau adalah mitra kita sejak lama. Bagaimana bisa beliau melakukan semua ini?"
"Ini sangat sulit dipercaya, Ren!" tambah Pak Roy. "Bagaimana mungkin taipan itu bisa punya dendam atau benci terhadap kita? Bertahun-tahun lamanya kita bermitra dengannya, 'kan?"
"Saya juga sulit untuk percaya," jawabku. "Tapi kenyataannya memang begitu, bahwa Koh Shung menyimpan dendam dan sakit hati terhadap kita sejak lama, sejak runtuhnya PT. Jarilangit."
"Jarilangit?" ulang Pak Roy. Kejutnya berganti-ganti dan tak habis-habis. "Apa hubungannya?"
"Jadi, Sam pernah minta bantuan pada Koh Shung saat PT. Jarilangit sedang sulit-sulitnya." Aku lanjut bercerita. "Koh Shung menolak demi mengingat hubungan kerja samanya dengan kita. Itu membuat Sam kecewa dan benci padanya. Maka pada saat PT. Jarilangit benar-benar jatuh, Sam mengamuk dan lepas kendali sampai ia ... ia membunuh keluarga Koh Shung. Anak-anak dan istrinya tewas. Tinggal ia sendiri yang selamat."
Hadni meneguk ludah demi mendengar penuturanku. Pak Roy pula masih melotot dengan wajah berkerut-kerut.
"Sejak itu Koh Shung frustrasi, semua kesedihannya membuat ia kehilangan semangat hidup. Kebencian mulai tertanam di hatinya. Pertama-tama dia menghabisi Sam. Kemudian ia merencanakan segalanya untuk menghancurkan kita. Karena dia tahu, bahwa runtuhnya PT. Jarilangit adalah hasil dari permainan kita, terutama saya. Jadi dia berkesimpulan bahwa Korp. Masadepan juga bertanggung jawab atas kematian keluarganya. Itulah kenapa ia begitu berambisi untuk meruntuhkan Korp. Masadepan. Yaitu dengan menggagalkan proyek mesin waktu, dengan cara menculik Prof. Ram."
"Tapi, bukankah itu juga akan membawa kerugian untuk perusahaannya sendiri, PT. Kembang Indah?" tanya Hadni.
"Benar, tapi ia tak peduli lagi. Ia sudah kehilangan semangat hidup. Setelah rencananya selesai, ia berencana untuk bunuh diri."
Hadni terdiam setelah itu. Ia menggeleng tak percaya. Pak Roy pun masih terlihat syok dengan cerita yang aku tuturkan.
Aku menghela napas.
__ADS_1
"Untungnya kami menggagalkan rencananya dan menahannya dari aksi bunuh diri. Saat ini ia sudah dibawa oleh Jan, ke kantor polisi. Mungkin esok atau lusa akan dilaksanakan sidang untuk mengadilinya." Aku mengakhiri kisah.