
"Haha, kau benar, sobat!" Jan dengan santainya malah tertawa tergelak-gelak.
Aku mengusap-usap mata sekali lagi. Mengerjap beberapa kali. Masih tidak percaya dengan apa yang mataku lihat. Jan sahabatku duduk sambil tersenyum geli. Apa-apaan ini? Baru semalam Kaka Danu bilang tempat ini tidak diketahui sembarang orang. Tersembunyi. Bahkan tak ada dalam peta. Ribuan kilometer jauhnya dari kota kami. Dan bahkan aku sudah menghilang selama empat bulan dari mereka. Bagaimana bisa Jan tahu-tahu ada di sini?
"Hey, bisakah wajahmu itu biasa saja, sobat?" celetuk sahabatku itu.
Aku garuk-garuk kepala tak habis pikir. Menatap bingung dan geleng-geleng. Kemudian duduk saja di atas tempat tidur itu dengan kepala tiba-tiba diserang banyak pertanyaan lagi.
"Aku tahu kau bingung, sobat!" ujar Jan. "Tapi begitulah, aku memang tahu di mana kau berada."
"Aku sudah menghilang empat bulan. Tidak ada tanda-tanda dari kalian, aku kira kalian sudah kehilangan jejak dan tidak lagi mencari," jawabku.
"Oh, tidak. Itu salah besar," sangkal Jan lekas. "Justru selama empat bulan ini aku sengaja membiarkanmu. Aku tahu kau ingin mencari ketenangan, dan ingin jauh dari kota. Percuma saja aku mengejarmu walaupun aku tahu. Jadi, aku memutuskan untuk membiarkan saja dulu kau pergi kemana pun kau mau, selama empat bulan ini. Aku yakinkan pada semua orang yang mencarimu, agar membiarkan dulu kau sendiri. Semoga saja waktu selama itu bisa memulihkan hatimu!"
"Ya, kurang lebih begitu," jawabku. "Meski malam tadi tidurku belum bisa nyenyak. Baiklah, terima kasih, Jan!"
"Terima kasih untuk apa?" Jan turun dari pinggir jendela. Beralih ke sisi tempat tidur lantas duduk di atas meja sambil menyilangkan tangan di dada.
"Terima kasih kau sudah mengunjungiku di sini meski aku tak mengerti bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini," jawabku.
"Kau salah, sobat," timpal Jan. "Aku datang bukan untuk mengunjungimu, tapi untuk menjemputmu. Pulanglah, Ren!"
"Untuk apa aku pulang?"
"Korp. Masadepan sangat membutuhkan kehadiranmu."
"Tidak," Aku mengeleng. "Jangankan Korp. Masadepan, dunia saja tidak lagi membutuhkan aku. Untuk apa aku pulang?"
"Siapa bilang begitu," balas Jan. "Semua orang sedang mencari-carimu, sobat. Mereka kalang kabut. Bukan hanya Korp. Masadepan, tapi banyak pihak lain yang kehilangan. Sosokmu sangat dibutuhkan. Aku mengerti sekali bahwa kau butuh istirahat dan menenangkan diri. Seharusnya empat bulan sudah cukup untukmu, sekarang pulanglah."
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" Aku buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.
Jan tersenyum. Menjawab, "Sudah menjadi pekerjaan sehari-hari untukku, sobat. Bagaimana mungkin seorang intel kepolisian elit paling andal tidak bisa mencari keberadaan sahabatnya sendiri?"
"Tapi aku bertanya lebih spesifik. Bagaimana kau melakukannya?" cecarku.
"Karena sebenarnya, kau memang tak akan bisa lari dariku, sobat. Ke mana pun kau pergi, aku akan selalu tahu ke mana harus mencari. Di mana saja kau berada, aku akan selalu ada di sekitarnya. Di penjuru bumi manapun kau bersembunyi, aku akan datang untuk membongkar persembunyianmu. Kau bisa lari sejauh mungkin, tapi kau tak akan bisa bersembunyi dariku, sobatku Renato!"
"Karena kau seorang intel kepolisian elit paling andal?" tukasku.
"Bukan," sangkal Jan cepat-cepat. "Bukan karena aku seorang intel, tapi karena kau ... adalah sahabatku!"
"Yah, 30 tahun memang waktu yang panjang." Aku menunduk pasrah. "Bodohnya aku ingin bersembunyi dari seorang intel terlatih yang sudah mengenal aku dengan baik bahkan sebelum ia menjadi intel itu sendiri."
"Hahaha," Jan tergelak. "Begitulah kita, sobat. Mana mungkin aku bisa kehilangan jejakmu. Dan satu lagi, mungkin kau akan terkejut, tapi ada rahasia yang harus kau tahu."
"Rahasia?"
"Sebenarnya, aku ada bersamamu selama empat bulan ini, sobat. Bersama Kakek Baik, dan Steven, dan juga anak-anak lainnya."
Seketika aku melotot lagi. Menatap Jan dengan terperangah. Terpaku dengan pandangan seperti itu.
"Maksudmu, kau sebenarnya adalah ...."
"Benar," potong Jan. "Kaka Danu adalah aku."
"Wah, ini benar-benar gila. Aku benar-benar kecolongan besar!" Aku berseru-seru.
__ADS_1
"Sebenarnya, sejak awal penerbanganmu ke Nusa Tenggara Timur, aku sudah tahu," jelas Jan.
"Jan, kau ini benar-benar ... Ahh, sudahlah!" Aku melonjak naik ke atas kasur penuh rasa geram, kagum, tidak percaya, dan banyak lagi bercampur aduk. Aku tidak marah, hanya saja aku benar-benar kesal pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku tidak sadar? Bodoh sekali.
"Duduklah dulu, biar aku ceritakan!" ucap sahabatku itu.
Aku pun segera menurut. Duduk di hadapannya penuh rasa penasaran. Bagaikan anak kecil yang tidak sabar menunggu dongeng dari ayahnya.
"Pertama-tama, lepaskan jasmu itu!" pinta Jan.
Aku mendelik heran. Aku segera melakukan perintahnya. Jas di badanku segera kutangggalkan. Jas ini sudah kukenakan sejak aku pergi dari kotaku. Sampai sekarang jas ini masih kupakai, aku malas membeli jas baru untuk gantinya. Bahkan malam tadi aku langsung tidur tanpa melepas dulu jas ini, jadilah pagi ini aku bangun dengan masih dalam setelan jas.
Jan mengambil jasku dan memperlihatkan bagian punggungnya.
"Lihat!" ucapnya.
Aku mendekatkan wajah untuk melihat lebih dekat. Dan yang kulihat adalah benda sangat kecil seukuran kartu memori telepon yang berdesain transparan menempel erat di punggung jasku tersebut. Tak perlu dijelaskan, aku sudah tahu dengan baik benda apa yang aku lihat.
"Kau meletakkan alat pelacak pada jasku?" Aku menatap sahabatku itu dengan heran.
"Yah, begitulah caraku melakukannya." Ia melemparkan jasku ke atas kasur. Lantas beralih duduk di sisiku.
"Kau ingat saat di koridor gedung Korp. Masadepan?" lanjutnya. "Saat itu aku sempat menyergap tubuhmu, tapi kau memberontak sampai aku jatuh terempas ke lantai. Kau tidak sadar bahwa aku telah menempelkan benda itu pada jasmu!"
"Sialan kau, ya!" timpalku.
"Itulah mengapa setelah itu aku tak terlalu khawatir. Karena dengan itu, aku akan dengan mudah tahu ke mana kau pergi!"
"Mengapa kau begitu yakin dengan alat pelacak yang hanya kau tempelkan di jas. Bisa saja jas itu aku ganti dan aku buang."
"Tapi nyatanya sampai pagi ini masih kau kenakan, 'kan?" Jan tersenyum lebar penuh kemenangan. "Kau adalah sahabatku, Ren. Aku mengenal dengan baik bagaimana sifatmu sampai ke detil-detilnya. Makanya aku tahu, kau adalah tipe laki-laki yang tidak suka berganti jas kalau tidak benar-benar kotor parah. Kau akan mengenakan jas yang sama ke manapun kau pergi selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan, paling hanya kemeja dalam yang kauganti. Begitu, 'kan? Itu semua karena kau hidup sendiri. Coba saja kau punya istri, pasti istrimu akan mengomel-ngomel tentang betapa dekilnya dirimu."
Jan tertawa sejenak. Lalu lanjut berkisah,
"Selanjutnya aku melacak posisimu dengan perangkat lunak di gawaiku. Mudah saja, terlihat bahwa arah gerakmu menuju bandara. Pasti kau akan pergi jauh. Sebenarnya tanpa perlu melacak, aku bisa menebak dengan tepat ke mana kau akan terbang. Jadi, sore itu juga aku menyusul ke bandara. Terbang ke Nusa Tenggara Timur, Sabu Raijua."
Aku mengangguk-angguk. Mulai tertarik dengan cerita sahabatku ini. Dia selalu punya cara unik dalam melaksanakan misi atau melakukan sesuatu. Menarik perhatianku. Mengagumkan. Meski dalam kasus ini, targetnya adalah aku sendiri.
"Informasi untukmu, benda yang aku tempelkan di punggungmu itu bukan hanya bisa digunakan untuk melacak. Karena benda itu juga dilengkapi alat perekam, sehingga aku bisa mendengar apa saja yang kau bicarakan."
"Bagus sekali, ya. Aku sudah seperti anggota mafia berbahaya kauperlakukan!" celetukku.
"Nah, saat aku dengar kau menelepon rekanmu di luar kota. Dan kau mendapat saran untuk menemui Kaka Danu. Aku cepat-cepat mendahuluimu. Aku dan Kaka Danu sudah saling kenal. Jadi aku ...."
"Tunggu sebentar," Aku memotong penuturannya. "Tadi kau bilang Kaka Danu itu adalah kau, lalu bagaimana bisa kau dan ...."
"Dengarkan dulu," Jan balas memotong. "Kaka Danu itu benar-benar ada, tapi bukan orang yang selama empat bulan ini mendampingimu, itu aku dalam penyamaranku."
"Maksudmu, Kaka Danu itu benar-benar ada. Hanya saja kau menyamar menjadi dirinya untuk mengelabui aku?"
"Tepat," Jan menepuk-nepuk punggungku. "Aku dan Kaka Danu memang sudah saling kenal. Jadi, sebelum kau menemuinya. Aku melakukan langkah cepat untuk segera menghubunginya lebih dulu. Aku menyampaikan rencanaku untuk mengelabuimu, kuceritakan sedikit tentang kejadian di kota. Dan Kaka Danu mudah saja diajak kompromi, dia orang yang seru. Jadi dia setuju saja. Maka aku mulai melakukan aksiku itu. Dibantu dengan sebuah teknologi topeng yang benar-benar realistis, maka sempurnalah penyamaranku. Sampai-sampai sahabatku yang telah puluhan tahun bersama-sama tidak sadar."
"Jujur, aku sedang kacau. Hatiku kacau, pikiran juga. Semuanya. Wajar saja jika insting, naluri, atau kemampuanku menurun. Aku benar-benar tidak memikirkan apapun saat tiba di Sabu Raijua, aku hanya ingin tenang."
"Aku mengerti, sobat."
"Lalu bagaimana kau menjalankan peranmu dengan sempurna? Kau tahu seluk-beluk kehidupan Kaka Danu?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak juga," jawab Jan. "Kalau kau perhatikan, ada radio komunikasi di telingaku setiap kali aku bertemu denganmu. Apapun yang kau katakan, Kaka Danu yang asli bisa ikut mendengar. Jadi, dia akan menyampaikan jawaban yang diperlukan padaku. Aku tinggal menjawab pertanyaanmu sesuai arahannya, seakan-akan aku adalah Kaka Danu yang sebenarnya."
"Jadi, Kaka Danu mengontrol dari jauh dan menuntunmu untuk berkata apa, begitu?"
"Tepat. Jadi, apapun yang kau mau tanya tentang Kaka Danu, aku akan bisa menjawabnya."
"Bagaimana dengan agen properti dan orang-orang yang kita temui?"
"Mereka sama sekali tidak menganggap aku Kaka Danu. Mereka kenal Kaka Danu, kecuali keluarga Kakek Baik dan orang-orang komplek itu. Hanya kau yang mengira aku Kaka Danu."
"Huh, benar-benar bodoh aku ini."
"Tidak, sobat. Kau cerdas, hanya saja kondisi hatimu sedang kacau dan kehilangan semangat. Itu saja masalahnya."
"Ya, begitulah. Setidaknya empat bulan ini mungkin cukup mengobati luka hatiku."
"Semoga saja begitu. Asal kau tahu, awalnya aku ingin mengajakmu pulang saat kita bertemu di restoran itu. Rencananya aku langsung mengakui penyamaranku, tapi aku teringat tentang niat baikmu membantu keluarga Kakek Baik. Jadi, aku tunda dahulu. Aku kagum dengan kemurahan hatimu. Alih-alih membuang-buang untuk foya-foya, kau justru menghabiskan uang untuk membantu orang susah. Tak tanggung-tanggung, kau memborong satu komplek perumahan untuk mereka semua. Lengkap dengan isinya. Ditambah lagi modal buka usaha. Semuanya tunai. Aku yakin angkanya mencapai triliunan rupiah."
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menenangkan hatiku. Karena dengan suasana hati yang sedih, mengingat pada harta yang terlalu banyak sedangkan aku tak tahu mau diapakan, hanya membuat aku merasa bersalah. Aku harus memanfaatkan kelebihan itu untuk hal yang berguna."
"Karena kemurahan hatimu itulah, Kaka Danu juga tertarik untuk memberikan bantuan. Kau membuat hatinya terketuk, sampai ia memutuskan untuk menghibahkan usaha restoran miliknya untuk Kakek Baik."
"Ya, aku juga senang mendengarnya."
"Saat semua sudah selesai kau urus. Steven sudah sekolah, keluarga lain sudah nyaman di komplek. Aku kembali terpikir mengajakmu pulang. Namun, aku setelah aku pertimbangkan lagi, tidak ada salahnya aku biarkan kau menenangkan dirimu lebih lama lagi. Menyegarkan pikiran dan hati bersama keluarga menyenangkan itu. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu beberapa bulan lagi. Aku menelepon ke kantor Korp. Masadepan, mengabarkan bahwa kau baik-baik saja. Dan hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk membawamu pulang. Aku perkiraan lima bulan, tapi ternyata di bulan keempat kau sudah menghubungi aku karena ingin pergi dari Nusa Tenggara Timur. Aku kira kau ingin pulang, ternyata kau ingin bersembunyi lebih jauh. Maka atas saran Kaka Danu yang asli, kau kubawa ke sini. Pulau tak bernama, dengan bangunan klasik yang memang kepunyaan Kaka Danu."
"Bagus, bangunan ini benar-benar sempurna untukku. Terutama di malam yang gelap." Aku bangkit dan beranjak ke tepi jendela. Menatap pemandangan padang rumput yang membentang tanpa sisi.
"Nah, sobat. Aku sudah ceritakan semuanya. Sekarang, pulanglah!"
Aku terdiam. Menoleh ke arah sahabatku, tapi melongo saja tanpa berucap apa-apa.
"Percayalah padaku, Korp. Masadepan benar-benar membutuhkanmu. Ingatlah, perusahaan itu adalah milik ayahmu. Dia pasti bangga!"
"Jan, sulit untukku menerima semua ini. Aku malas membicarakan hal ini. Kalau hanya untuk Korp. Masadepan, masih banyak orang lain yang bisa menggantikan aku, bahkan kau juga bisa. Masalahnya, aku benar-benar hilang semangat sekarang, jangan paksa aku untuk pulang. Berat rasanya untuk kembali ke sana. Aku sendiri bahkan tidak mengerti."
"Justru itu, pulanglah. Agar kau mengerti semuanya, bahwa beberapa hal di dunia ini diciptakan menyakitkan untuk menyampaikan pesan berharga yang nantinya akan membuatmu sempurna di masa depan."
"Tidakkah kau mengerti dengan kondisiku, sobat?"
"Aku sangat mengerti, sobat. Tapi percayalah padaku!"
"Pulanglah, Jan. Aku baik-baik saja di sini, kau tak usah menghibur atau membujukku!" tegasku.
Jan tersenyum simpul. Sebuah senyum yang mengandung banyak spekulasi sehingga membuat aku mengerutkan kening melihatnya.
"Setelah dua dekade berlalu, ternyata kau tidak berubah, sobatku. Kau masih sama, persis seperti Renato yang dulu."
"Maksudmu?"
"Kata-katamu barusan," jawab Jan. "Sama persis dengan yang kau ucapkan dua dekade lalu. Saat itu kau tengah mengurung diri di kamar berhari-hari karena bersedih, kehilangan ayah. Lama sekali. Banyak orang yang datang untuk membujukmu keluar, tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan aku juga. Ingatkah kau saat aku datang mengunjungimu hari itu? Aku menghiburmu, mengajakmu keluar, berharap kau tidak bersedih lagi. Namun, kau tetap menolak. Aku ingat sekali kata-kata yang kau ucapkan saat itu. Kau bilang, 'Pulanglah, Jan. Aku baik-baik saja di sini, kau tak usah menghiburku atau membujukku!' "
Aku tertegun. Meneguk ludah.
Jan tersenyum tawar. Menatap serius padaku.
"Sekali lagi aku tegaskan, sobat!" ucapnya. "Kali ini bukan tentang Korp. Masadepan, atau bisnis, atau apapun. Aku ... Aku membutuhkanmu. Jadi kumohon, pulanglah!"
__ADS_1
Aku tertegun lagi. Menatap kosong pada wajah Jan yang menunggu jawabanku. Di dalam kepala, aku berpikir keras.
Lalu akhirnya menghela napas panjang. "Baiklah."