Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Pengkhianatan


__ADS_3

Aku dan Jan cukup lama saling bertatapan penuh dengan rasa ketidakpercayaan. Kemudian alih meneliti sekali lagi wajah-wajah bocah berandal tadi. Memang benar, kami tidak salah lihat bahwa wajah keenam bocah itu persis sekali dengan Enam Mata Dadu yang kemarin kami taklukkan dalam pertarungan sengit di puncak Gedung Lantai Hijau suatu malam. Memang, memang yang kami tatap adalah wajah bocah-bocah SD, tapi raut dan tampangnya tak dapat dibohongi, persis dengan Enam Mata Dadu. Wajah mereka saat kecil dan saat dewasa benar-benar mirip dan tidak akan membuat orang pangling. Itulah mengapa kami langsung mengenalinya. Aku bingung bagaimana mendeskripsikan rasa ini, melihat keenam orang yang paling berbahaya dalam dunia kriminal dengan nama besar yang dikenal di mana-mana, ternyata adalah bocah berandal yang bertahun-tahun merundung aku di sekolah. Benar-benar tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Cukup unik juga mengetahui bahwa jalan takdir mereka memang bukan menjadi orang baik-baik. Mereka sejak kecilnya sudah nakal, dan setelah beranjak dewasa jadi kriminal.


"Bagaimana bisa kita tidak sadar selama ini?" gumam Jan. "Padahal kita bertahun-tahun selalu berurusan di sekolah dasar dengan mereka, tapi baru mengetahui bahwa mereka adalah Enam Mata Dadu setelah dua dekade."


"Yah, kita terlalu benci dengan orang-orang ini," jawabku. "Setelah kita lulus sekolah dasar, kita tak pernah lagi berjumpa dengan mereka dan ... kita benar-benar lupa dengan mereka."


"Hmm, benar juga," Jan mengangguk-angguk. "Lagipula, nama Enam Mata Dadu baru muncul dan terkenal baru 3 atau 4 tahun yang lalu. Itu artinya, kira-kira sudah 16 atau 17 tahun sejak kita lulus SD. Wajar saja kita lupa!"


"Aku sendiri memang baru bertemu dan bertatap muka dengan mereka malam itu, di Gedung Lantai Hijau," tambahku. "Pantas saja aku seperti mengenal mereka. Kau ingat 'kan aku pernah bilang bahwa wajah mereka tidak asing dan seperti pernah aku lihat? Ternyata ini jawabannya."


"Haha," Jan tergelak. "Kalau begini adanya, berarti kita tak perlu lagi susah payah mencari mereka di masa depan untuk balas dendam."


"Ah, benar juga," sambutku. "Pertarungan di Gedung Lantai Hijau malam itu sudah cukup membayar lunas semua dendamku. Meskipun saat itu aku tidak tahu lawanku adalah orang yang selama ini semena-mena padaku di masa kecil."


"Itulah kejutan dan luar biasanya jalan cerita yang telah Tuhan ciptakan," ucap Jan. "Akhirnya mereka mendapat balasan atas perbuatannya. Benar kata orang, bahwa yang selama ini tersakiti akan bangkit dan membalikkan keadaan."


"Benar sekali, sobat!" Aku mengangguk penuh rasa lega dan bersyukur sekali. Kejutan hari ini membuat aku berpikir bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan bahwa kehidupan ini sudah pada alur terbaiknya. Senang sekali rasanya mengingat bahwa sakit hati dan sakit fisik yang aku simpan bertahun-tahun di masa kanak-kanak, akhirnya dapat terbalaskan sampai tuntas dalam pertarungan secara terhormat yang bahkan aku sendiri tidak sadar sedang melakukan aksi balas dendam. Luar biasa.


Aku tersenyum simpul, melirik layar di telapak tanganku. Sekali tekan pada satu pilihan kolomnya, waktu yang tadi terhenti kembali berjalan. Keenam bocah yang kelak menjadi kriminal berbahaya itu kembali bergerak setelah sebelumnya mematung lama. Mereka kembali melayangkan tinju, terjangan, dan berbagai serangan pada tubuh ringkihku yang tak berdaya.


"Baiklah, sobat!" ucapku pada Jan. "Kurasa cukup untuk di sini. Selanjutnya kita akan pergi ke tempat yang cari selama ini."


"Baik, ke mana kita?"

__ADS_1


***


Salah satu alasan kuat yang membuat aku berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Prof. Ram beberapa minggu lalu, adalah agar proyek mesin waktu dapat diselesaikan. Dengan diselesaikannya mesin waktu, aku akan pergi ke masa lalu untuk melaksanakan misi pribadiku. Mencari pembunuh ayahku yang telah menjadi misteri selama dua dekade.


Dan inilah dia, hari ini aku melakukannya. Aku sudah sampai di masa lalu, dua dekade yang lalu. Masa di mana aku dan Jan masih kanak-kanak usia sepuluh tahun. Aku sudah melihat masa kecilku yang menyedihkan, maka kini saatnya aku beralih pada tujuan sebenarnya aku pergi ke masa lalu. Dengan ambisi yang kuat dan segala macam rasa yang berguruh dalam dada. Aku hampir tak bisa sabar menunggu.


Bertolak dari bangunan Sekolah Dasar kami yang penuh kenangan, aku dan Jan berangkat menuju jalanan pusat kota. Kami melewati suasana kota yang benar-benar memberikan rasa nostalgia yang kental. Tidak ada gedung pencakar langit yang berjajar rapat, tidak ada mobil dan motor mewah yang berseliweran padat, tidak ada polusi udara yang membuat langit gelap, tidak juga keramaian kota yang meluap-luap. Di masa ini, kota kami masih diselimuti ketenangan, asri, segar, dan damai. Gedung tinggi masih hitungan satu-dua. Pinggiran jalan bisa dikatakan sepi. Bahkan kemacetan hampir tidak kami temukan. Persis seperti sedang menonton film zaman dulu dengan segala unsur kuno di dalamnya. Betapa pemandangan yang kontras dengan situasi yang akan berubah dua dekade kelak. Selama perjalanan kami, kami melewati banyak sekali bangunan pemerintahan, pertokoan, atau tempat-tempat umum yang lagi-lagi memberikan rasa nostalgia. Gaya khas zaman dulu.


Hingga kami tiba di sebuah persimpangan jalan empat arah, yang mana merupakan persimpangan paling ikonik di pusat kota. Aku dan sahabatku berdiri di pinggir jalan seperti orang mau menyeberang. Namun, kami sibuk memerhatikan sekitar dengan tajam seperti orang asing yang tersesat. Meneliti satu per satu mobil yang lalu-lalang.


"Benar di sini, sobat?" tanya Jan.


"Benar, aku ingat penuturan Hadni kemarin. Kejadiannya di sini," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari jurusan jalan dari selatan.


Aku tak menjawab. Aku hanya fokus pada tatapan lurusku. Detik-detik terasa menegangkan setelahnya. Suasana menjadi penuh rasa gelisah. Ada rasa khawatir dan takut, mengingat fakta bahwa meski belum terjadi apa-apa sekarang aku sudah tahu aku akan melihat pemandangan menyedihkan. Aku harus menyiapkan diri dan menguatkan mental. Berkali-kali aku menarik napas gugup. Aku benar-benar harus bisa mengendalikan diri saat hal itu benar-benar terjadi. Aku sanggup saja menyaksikan tubuh kecilku usia sepuluh tahun yang dianiaya oleh preman sekolah, bahkan jika berpuluh-puluh kali diputar ulang sekali pun. Namun, tidak untuk hal yang akan aku lihat setelah ini. Aku tidak yakin akan sanggup. Pada linimasa sebenarnya, aku tak pernah melihat kejadian itu sebelumnya. Karena saat ini, pasti diriku sedang berjalan tertatih-tatih membawa pulang luka dari sekolah menuju rumah.


"Ini dia ..." Aku melirih.


Jan menoleh, lantas menatap ke jurusan yang sama denganku. Dari sana, datang sebuah sedan hitam dengan kecepatan santai ke arah kami. Aku mengenali sedan itu dengan baik. Yakni sedan klasik yang sudah menjadi kendaraan ayahku bertahun-tahun. Jan mungkin tidak tahu hal itu, tapi ia cukup cerdas untuk langsung memahami dari pandangan mataku.


Mobil sedan itu perlahan mulai lewat di depan kami. Aku tak menekan tombol jeda di layar kendali, tapi waktu terasa berhenti begitu aku menatap wajah ayahku di kabin mobil lewat kaca jendela yang diturunkan. Dadaku panas. Kerinduan yang bercampur kesedihan bertahta di dadaku. Ingin aku datang mendekat dan merangkulnya, tapi aku tahu itu mustahil. Perlahan mobil itu berlalu dan membelok ke simpang kanan, meninggalkan aku dengan tangan menggapai-gapai.


Akan tetapi, aku tak mau larut dalam dramatisasi, segeralah aku mengambil langkah mengejar sedan tersebut. Tanpa aba-aba, Jan menyusul di sisiku. Sedan berjalan cukup santai dibanding lari kami. Tidak sulit untuk kami mengejar dan mencapai sisi depan sedan tersebut. Aku dapat melihat lagi ayahku yang sedang fokus mengemudi. Sekilas aku menoleh pada Jan, lalu memandang sekeliling. Satu per satu gedung yang tinggi aku teliti, setiap sudut kota kutatap tajam. Mataku bagaikan elang menyorot ke banyak arah. Kemudian kembali menatap ayahku dalam sedannya. Detik aku menoleh, detik itu tiba-tiba peluru datang dari arah belakangku langsung menembus kepala ayahku.

__ADS_1


Aku berteriak keras penuh histeris. Bagaimana tidak, ayahku ditembak di depan mataku. Aku dapat melihat dengan jelas bagaimana darah muncrat ke langit-langit kabin dan dasbor mobil, lantas ayahku tertunduk tak bernyawa ke setir mobil. Mobil mulai hilang kendali, dan bergerak keluar jalur. Sementara aku membeku di tempat aku berdiri. Pemandangan itu terlalu menampar keras mentalku hingga aku tak mampu berkutik.


"Ren, hentikan waktunya!" Jan berseru-seru.


Aku terkesiap dan mengerjap kaget. Demi mendengar seruan itu, aku langsung membuka layar dan melakukan arahan sahabatku itu. Tik. Waktu seketika berhenti. Semua orang mematung di posisi masing-masing. Kendaraan yang lalu-lalang terhenti. Sedan ayahku tadi yang mulai oleng juga terhenti pada posisinya.


"Gedung itu!" Jan menunjuk satu gedung di jurusan tenggara. Sebuah gedung pertokoan yang bertingkat-tingkat. Posisinya menyamping dari tempat kami berdiri. Jan menyorot tajam ke puncaknya, meski dari jarak ini kami tidak bisa melihat apa-apa meski ada seseorang di sana.


"Penembaknya di gedung itu!" Jan mengulang. Ia segera berlari berdahulu. Maka tanpa pikir panjang, aku segera menyusul. Kami berlari tergesa-gesa melintasi trotoar. Tiba di pintu masuk, kami langsung menerobos kerumunan orang yang mematung di sana. Terus berlari menyusuri tangga manual. Lantai berganti lantai. Semakin naik, semakin kami terburu-buru. Beberapa menit kami menyusuri gedung pertokoan ini, barulah tiba di atapnya. Puncak teratas di mana kita bisa melihat pemandangan kota dengan jelas dan luas.


Kami tidak punya waktu untuk melihat-lihat pemandangan, setibanya di sana kami langsung menuju pinggiran yang menghadap posisi jalan tempat sedan ayahku tadi. Benar sekali perhitungan Jan. Di pinggir sana, terlihat seorang pria yang membawa senapan sniper sedang berdiri mematung membelakangi kami.


Aku dan Jan berhenti sejenak dan berpandangan. Aku membuka layar kendali, dan melanjutkan waktu. Maka yang tadi terhenti seketika berlangsung. Yang tadi mematung kini bergerak. Demikian pula pria di depan kami, ia terlihat berlutut untuk menyimpan sniper ke dalam tempatnya. Dengan posisi masih membelakangi kami.


"Jadi ini manusia biadab itu, hah?" Aku membentak keras. Meski jelas sekali orang itu tidak akan mendengar apa-apa. Aku melangkah perlahan-lahan penuh gaya menghampiri pria itu.


Pria yang aku hampiri berdiri kemudian berbalik badan. Detik aku memandang wajahnya, detik itu seketika aku seperti tersambar petir. Membeku di tempat tak bisa bergerak selama beberapa saat. Syok berat. Aku menganga lebar dan mata hampir meloncat dari tempatnya. Aku menoleh Jan, sama persis wajahnya dengan wajahku. Bagaimana tidak, orang yang kami lihat teramat sangat tidak asing. Satu lagi kejutan dalam hidupku, kejutan yang memberi efek syok berat dan guncangan mental yang bukan olah-olah. Kejutan ini jauh lebih syok dan lebih sulit dipercaya dibandingkan Koh Shung yang tiba-tiba muncul di Nusa Tenggara Timur. Aku menggelengkan kepala penuh rasa tak percaya.


Kemudian aku buru-buru menghentikan waktu kembali. Pria di depan sana kembali mematung. Aku menatap tajam wajah itu penuh kebencian. Orang yang selama ini aku hargai, ternyata adalah pengkhianat dari masa lalu. Dalam satu detik saja, aku sudah melupakan seribu kebaikan orang itu padaku.


"BIADAB KAU!" Aku berteriak lantang sekencang-kencangnya hingga membahana sampai langit. Dalam teriakan penuh amarah yang meledak bagai bom itu, aku melompat ganas bak harimau menerkam mangsa. Aku melenting menerjang pria penembak ayahku ini. Namun apa guna, aku bahkan lupa pada prinsip sendiri bahwa aku tak akan bisa menyentuhnya. Aku mendarat di lantai dengan gerak hampa yang penuh amarah bercampur putus asa. Aku memekik-mekik penuh emosi bagai orang gila. Jan terlihat datang dan segera menenangkan aku.


"Ren, sadarlah!"

__ADS_1


"BIADAB!" Sekali lagi aku melepaskan umpatan beserta emosional paling panas ke udara. Rasanya kepalaku sudah membara dan hampir meledak dahsyat. Aku benar-benar kecewa mendalam. Setelah berjuang mati-matian demi mesin waktu, agar aku bisa pergi ke masa lalu dan menemukan orang ini, aku justru harus menerima kenyataan ini. Pengkhianatan.


__ADS_2