Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Kakek Baik


__ADS_3

Pagi cukup cerah hari ini. Langit terselimut awan, tapi sinar matahari sanggup menembus dan membuat terang kota kecil ini. Di antara orang-orang yang mulai beraktivitas, kendaraan yang mulai berlalu lalang di jalanan, aku berjalan menyusuri sebuah gang sempit. Sebuah gang kumuh yang tak dipedulikan. Di sisi kanan dan kirinya adalah tembok besar milik gedung tinggi menjulang, sementara di ujung sana terdapat sebuah pemukiman.


Setelah langkah demi langkah yang dihiasi hawa pagi, akhirnya aku tiba di ujung gang tersebut. Di sebuah pemukiman terbelakang di balik bangunan tinggi yang berdiri perkasa. Sebuah pemukiman yang terdiri dari bangunan rumah berdinding dan lantai papan, beratap daun, ciri khas asli daerah ini. Namun, kondisinya sudah tua, bobrok, lapuk, dan reyot. Begitu menyedihkan mengingat di antara bangunan yang hampir rubuh itu ada sekelompok kehidupan yang tetap bertahan di tengah banyaknya hantaman kenyataan. Hidup dalam kekurangan. Anak-anak berpakaian lusuh yang tak bisa bersekolah, atau orang tua yang tertatih lemas memaksa tubuh rentanya melawan nasib. Banyak hal yang aku pelajari di sini. Bahwa dua dekade aku hidup enak, tapi aku tidak bersyukur. Kesalahan terbesar dalam hidupku. Maka hari ini, aku mengunjungi tempat ini. Berharap aku tidak salah lagi mengambil keputusan.


Aku menyusuri deretan rumah, berhenti di salah satunya. Terlihat seorang anak kecil duduk termenung di berandanya. Anak kecil itu menatapku. Aku balas menatap dengan ramah. Menyadari aku menatapnya dan berjalan ke arahnya, anak kecil terkejut. Ia langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam rumahnya sambil berteriak ketakutan. Aku tersenyum saja.


Tak lama kemudian, anak kecil tadi keluar dengan teman-temannya. Sekitar enam atau delapan orang. Masing-masing berpenampilan lusuh dan usang. Salah satu dari mereka aku kenali, dan ia pun mengenali aku. Maka ia langsung maju menyambutku dengan antusias.


"Om Renato!" seru anak itu betapa senangnya.


"Steven," sapaku pula sambil duduk di pangkal langkan kayu.


"Akhirnya Om benar-benar datang kembali, ya!" Steven mendekat dan duduk di sisiku. Sementara teman-temannya bingung, mereka tidak pernah melihat aku sebelumnya. Wajah-wajahnya terlihat takut dan waspada. Mereka mulai mundur langkah demi langkah masuk kembali ke dalam.


"Teman-teman, kalian jangan takut. Ini Om Renato!" ucap Steven.


"Om ... Renato?" Anak-anak polos itu masih mendelik heran.


"Om Renato ini adalah orang yang kemarin memberi kita uang banyak sekali itu!"


"Ooohhh," Anak-anak itu berseru kompak. "Om Baik!"


"Iya," jawab Steven.


"Hay, Om Baik!" Mereka mulai menyapa dengan ramah.


Aku balas tersenyum ramah pula. "Hay, juga anak-anak baik!"


Mereka tersenyum dan tertawa riang. Mulai berani untuk duduk mendekat. Salah satunya bertanya, "Kami anak baik, ya?"


"Iya, kalian anak-anak baik!" jawabku dengan agak sedikit heran.


"Tapi kami tidak pernah memberi uang pada siapa-siapa."


Aku tersenyum menahan tawa. "Tapi tidak pernah meminta, 'kan?"


"Tidak," Mereka menggeleng.


"Nah, berarti kalian anak baik," ucapku.

__ADS_1


"Wah, terima kasih, Om Baik!" Mereka menjawab kompak kecuali Steven. Ia hanya memandang bingung pada teman-temannya dan aku. Kalau aku lihat-lihat lagi, di antara mereka semua Steven-lah yang paling tua. Entah karena posturnya lebih besar dibanding teman-temannya.


"Eh, Omong-omong, aku sudah tahu umurku berapa," ucap Steven.


"Oh, ya?" sambutku. "Berapa umur kamu?"


"Kata Kakek umur aku sepuluh tahun."


"Oh, sepuluh tahun." Aku tersenyum ramah saja. Di dalam hati ada perasaan lain yang berdesir begitu mendengar usia sepuluh tahun. Usia di mana aku mengalami peristiwa kelam. Yang bahkan setelah dua dekade fakta yang terkuak semakin kelam. Steven benar-benar mengingatkan aku pada diriku sendiri.


"Om ...." Steven melambai-lambaikan tangan di depan wajahku.


"Eh?" Aku terkesiap. Mengerjap beberapa saat.


"Om ada apa datang ke sini lagi? Ada urusan penting melawan orang jahat lagi ya?" tanya anak kecil itu.


"Kamu benar, saya datang ke sini karena ada urusan penting," jawabku. "Tapi bukan untuk melawan orang jahat."


"Wah, terus penting apa?" Steven terus bertanya.


"Urusannya dengan kalian!"


"Memangnya kami orang jahat, ya?" celetuk salah seorang anak kecil itu.


"Tapi kami 'kan anak-anak baik?" timpal yang lain pula.


"Bukan, bukan begitu!" Aku coba menjelaskan. "Begini saja, bisa kalian panggilkan Kakek Baik?"


"Oh, bisa," Steven langsung bangkit berdiri. "Tunggu sebentar!"


Anak kecil ini bergegas berlari masuk ke dalam rumah. Terdengar detak-detak langkahnya di sepanjang lantai papan. Anak-anak lain hanya memandangiku sambil tersenyum-senyum polos. Mereka meneliti penampilanku dari atas sampai bawah.


Tak begitu lama kemudian, Steven kembali dengan seorang kakek tua. Usianya mungkin sepantar dengan Om Sunaryo. Pakaiannya sama lusuhnya dengan anak-anak kecil tadi. Penampilannya menyedihkan. Badannya kurus pendek. Ia melangkah dengan tertatih-tatih mendekatiku. Lantas duduk bersusah payah dengan tubuhnya yang sudah sakit-sakitan. Wajahnya yang keriput memandangiku penuh haru.


"Kamu ... Kamu yang namanya Renato?" tanyanya dengan suara serak.


"Benar, Kek," jawabku sopan. "Saya Renato!"


"Oh, kalau begitu Kakek mau ucapkan terima kasih banyak atas bantuan kamu kemarin!" ucap sang Kakek pula.

__ADS_1


"Iya, Kek. Saya senang bisa membantu."


"Tapi, uang yang kamu berikan kemarin itu terlalu banyak, Nak!" ucap Kakek ini.


"Ah, masa iya, Kek?"


"Benar, Nak," jawabnya. "Uangnya masih tersisa banyak sekali. Kami tidak tahu uangnya mau dibelikan apa. Jadi karena kebetulan kamu ada di sini, sebaiknya uang itu Kakek kembalikan saja bagaimana?"


"Eh, jangan, Kek!" sangkalku lekas. "Uang itu untuk Kakek dan anak-anak. Kebutuhan kakek dan mereka pasti banyak. Pakai saja semuanya, habiskan saja kalau perlu. Nanti kalau kurang biar saya tambahkan lagi!"


"Nak, jangan!" ucap Kakek itu. "Kakek tidak berani memegang uang terlalu banyak. Kami orang susah sudah terbiasa dengan uang yang sedikit, yang penting cukup untuk makan."


Aku tersenyum simpul. Kemudian berkata, "Kek, saya sebenarnya datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu pada Kakek."


"Sesuatu? Sesuatu apa, Nak?" Kakek itu menatapku dengan bingung. Anak-anak kecil tadi pun kini menatapku serius dengan rasa penasaran.


Sebagai jawaban, aku tersenyum simpul.


***


Pagi itu aku mengobrol panjang dengan Kakek Baik dan anak-anak kecil yang super polos itu. Kami membincangkan banyak hal dan topik-topik santai. Mereka orang-orang yang asik untuk diajak ngobrol. Hingga aku menyampaikan tujuan sebenarnya aku datang mengunjungi mereka.


Jadi, aku menyampaikan niat untuk membantu mereka mengubah kehidupan agar menjadi lebih mudah dan hidup enak. Aku menawarkan mereka untuk pindah ke rumah yang lebih layak dan hidup dengan semua kebutuhannya benar-benar tercukupi. Aku akan carikan rumah untuk mereka, dan mereka akan pindah dari pemukiman kumuh ini.


Awalnya Kakek Baik terkejut bukan main. Berkali-kali ia menolak, dan merasa tidak enak denganku. Namun, dengan kemampuan berbicara yang sudah menjadi pekerjaanku, aku berhasil menyakinkan Kakek Baik ini. Untuk Steven dan teman-temannya, cukup diiming-iming untuk beli baju baru saja mereka sudah antusias bukan main. Setelah beberapa diskusi, Kakek Baik itu akhirnya bersedia menerima semua bantuanku untuk pindah ke rumah yang lebih baik dan meninggalkan kehidupan kemiskinan.


Kami mulai menyusun perencanaan dan apa saja yang akan kami lakukan. Berhubung aku bukan orang asli tempat ini, aku butuh orang lain untuk membantu. Aku tidak tahu apa-apa tentang Pulau Sawu dan isinya, jadi aku harus meminta bantuan orang asli di sini untuk mengurus banyak hal. Maka setelah mengobrol banyak dengan Kakek Baik dan anak-anak, aku pamit pergi. Untuk mencari orang yang bisa membantu kami dalam urusan ini.


Beruntung, tidak sulit untukku menemukan orang yang aku butuhkan. Adalah Kaka Danu, seorang pria paruh baya yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Sosoknya sangat dikenali dan punya relasi yang sangat luas. Ia punya kenalan di mana-mana, di seluruh penjuru Nusa Tenggara Timur. Dia adalah seorang pebisnis kaya di usianya yang masih muda. Hobinya adalah jalan-jalan ke mana-mana, tidak bisa diam di satu tempat. Kelihatannya sibuk dan banyak urusan, tapi sebenarnya ia hanya jalan-jalan mengunjungi banyak tempat untuk memuaskan diri saja. Mencari banyak pengalaman dan memperluas relasi.


Bagaimana aku bisa bertemu orang ini? Jadi, untuk mencapai tujuanku, aku menelepon rekan bisnisku di luar kota sana. Aku menanyai mereka satu per satu adakah mereka kenal dengan orang atau siapapun di Nusa Tenggara Timur khususnya Sabu Raijua yang sudah tahu banyak tentang tempat ini. Salah satunya ada yang menyarankan aku untuk mencari Kaka Danu. Ia mengirimkan aku profil dan informasi lengkap tentang orang bernama Kaka Danu ini dan serta alamat di mana aku bisa menemukannya. Maka aku terima saran itu.


Maka siang ini, aku dan Kaka Danu sudah makan siang bersama di restoran ternama kota. Kaka Danu adalah sapaan khas untuknya oleh semua orang yang mengenalnya. Nama aslinya Danu Alkatiri. Usianya lebih tua beberapa tahun dari aku. Setelah makan siang dan mengobrol santai, aku simpulkan bahwa Kaka Danu adalah orang yang pembawaannya sangat ramah, senang bicara banyak, berwawasan luas, asik untuk berbincang, dan mudah akrab dengan orang baru. Bahkan sebenarnya, ia sudah mengenal aku sebelum aku mengenalnya. Sebagai seorang pebisnis, tentu Kaka Danu tahu siapa aku dan sepak terjangku dalam dunia bisnis. Terlebih baru-baru ini ada urusan yang membawa aku sampai ke tempat ini.


Kami mengobrol banyak, hingga kusampaikan tujuanku sebenarnya. Aku meminta bantuannya, untuk membawa aku ke mana harus mencari perumahan siap huni dan orang-orang bersangkutan yang harus kutemui. Aku tidak tahu apa-apa di sini, jadi aku butuh dia untuk memandu. Dan aku benar-benar tidak salah pilih orang, Kaka Danu adalah orang asli tempat ini. Tanah ini adalah tanah kelahirannya. Dia hapal sekali seluk-beluk seluruh pulau. Apalagi kota kecil di tepi pelabuhan ini, sudah menjadi tempat mainnya sejak kecil. Menjadi gampang untuk menyelesaikan berbagai urusan jika bersamanya. Apa saja yang ingin aku lakukan di sini, Kaka Danu selalu tahu ke mana aku harus pergi dan siapa yang harus aku temui. Dia kenal dan dekat dengan banyak tokoh penting di kota ini. Bisa dikatakan, Kaka Danu adalah Jan-nya Pulau Sawu.


Maka siang itu juga kami berangkat. Bertolak dari restoran ternama kota, menuju komplek perumahan yang paling populer di kalangan penduduk pesisir. Kaka Danu adalah orang yang menyenangkan, sepanjang perjalanan kami lagi-lagi mengobrol banyak. Selain itu, aku menekankan satu hal padanya, bahwa jangan mengatakan pada siapapun bahwa ia bertemu dan ada urusan dengan aku di sini. Aku minta ia menyembunyikan perihal keberadaanku di sini. Dan orang itu, dengan santai menanggapi.


"Tenang saja, Ren. Walaupun kau tidak mau beri tahu kenapa, tetap akan aku jaga baik-baik. Tidak akan ada yang tahu bahwa kau di sini. Tenang saja!"

__ADS_1


__ADS_2