Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Si Orang Tua


__ADS_3

"Kau bukan Jan!" Aku membentak.


Laras senjata tertempel ke dahi Jan. Ia melotot dan spontan secepat kilat menepis senapanku itu. Gerakan tepisannya kuat sekali, sehingga senapan tersebut lepas dan terlempar dari tanganku. Aku tak mau kalah, segera kusambar lehernya dan kucengkeram.


"Apa-apaan ini, Ren?" tanyanya dengan wajah penuh kejut. Kepura-puraan.


"Kau bukan Jan!" Aku mendesis kesal. "Jan tidak pernah memanggil aku dengan sebutan 'teman'."


Jan terdiam.


"Hyaah!" Aku meluncurkan tinju yang tak dapat dielakkannya. Mukanya termakan tinjauan, ia terhuyung beberapa langkah. Sebelum ia mengembalikan fokus dan keseimbangan, aku buru-buru melompat melancarkan terjangan.


"Aakhh!" Terjanganku menghantam dadanya hingga ia terpelanting ke belakang. Jatuh terkapar ke hamparan pasir pantai.


"Ren, ada apa ini?" Prof. Ram di sampingku melongo tak percaya.


Aku tak menjawab Prof. Ram, aku bergegas mendatangi Jan palsu tersebut. Ia sedang tertatih-tatih berusaha berdiri. Menatap tajam padaku dengan seringai licik. Sangat menganggu untukku harus melihat wajah itu sebagai wajah sahabatku, meskipun itu hanya kedok. Jan palsu tersebut segera mencabut pistolnya.


Sebelum sempat ia menarik pelatuk, aku bergerak secepat kilat menerjang tangannya. Pistol langsung terlepas dan terlempar jauh dari tangannya. Ia menggeram kesal.


Kemudian dengan kalap ia maju melancarkan tendangan. Aku sigap menepisnya. Tubuhnya terputar, aku segera menangkap dan memiting lehernya hanya dalam hitungan detik. Ia terpekik dan meronta-ronta. Aku memperkencang cengkeramanku. Tanganku satu lagi menyusup ke wajahnya. Meraba mencari sisi dari kedok yang ia gunakan. Sementara ia terus berontak. Tapi akhirnya apa yang aku cari aku temukan, segera saja kutarik paksa kedok tersebut.


Kedoknya terlepas dari wajah bersamaan dengan terlepasnya dirinya dari pitinganku. Kedoknya tadi terlempar dan tergeletak ke tanah. Ia bergerak hendak memungutnya, tapi kakiku bergerak lebih gesit. Sebelum tangannya menyambar, kedok tersebut sudah terinjak keras hingga remuk. Menyisakan pecahan-pecahan material kaca di telapak sepatuku. Kedok tersebut adalah sebuah teknologi terbaru yang dikembangkan oleh organisasi ilegal yang mendukung dunia kriminal. Teknologi itu adalah alat semacam topeng atau penutup wajah yang digunakan untuk menyamar dengan sempurna. Dengan fitur utamanya dapat berubah menjadi wajah siapa saja. Membuat siapapun yang menggunakannya dapat memasang wajah siapapun yang ia inginkan. Mulai tokoh terkenal sampai orang biasa sekalipun. Jika telah dipakai di wajah, tidak akan terlihat lagi bahwa orang tersebut sedang memakai topeng atau kedok. Tidak dapat dideteksi. Itulah kenapa wajah orang itu persis sekali dengan Jan sampai-sampai aku tertipu. Untung saja aku menyadari hal sederhana yang ia katakan, jadi penyamarannya segera aku sadari.


Kini Jan palsu itu sudah terlihat wajah aslinya. Bukan lagi Jan, wajahnya terlihat merah padam penuh kebencian. Menyeringai licik dan penuh emosi. Tajam menyorot wajahku.


"Hyaa!" Ia membentak dan menghambur menyerangku. Ia maju dan mengirimkan pukulan-pukulan cepat. Dengan tak kalah gesit pula, semua pukulannya kuhindari dengan sempurna. Sesekali kutangkis dan kubalas dengan cepat.


Dapat kutaksir dan kuteliti, gerakan orang ini masih kurang lincah. Beberapa kali pukulannya hanya mengenai tempat kosong, sementara beberapa kali anggota tubuhnya termakan pukulan dan tendanganku. Selama beberapa menit, ia kewalahan dan terdesak ke belakang.


Ia mendengus kesal pada suatu jeda.


Lalu ia lanjut menyerang tak mau menyerah. Berusaha dengan sisa tenaga dan kemampuan untuk menaklukkan aku. Namun bagiku, mudah saja untuk melancarkan pukulan akurat. Sekali pukulan, dadanya terhantam dan ia pun doyong. Sekali tendangan berputar, kepalanya terhantam dan ia pun hilang keseimbangan. Sekali terjangan lurus, wajahnya terhantam dan ia pun tumbang terkapar. Staminanya yang sudah habis terkuras sudah tak sanggup lagi untuk mengelakkan semua serangan mautku. Maka pada terjangan terakhir itu, ia terkapar kelelahan dan kesakitan. Tak sanggup lagi untuk bangkit. Pasrah tergeletak dan terjejal ke hamparan pasir.

__ADS_1


Aku bergerak hendak berlutut. Tapi tiba-tiba datang tembakan dari belakang.


Dorr! Dorr! Dorr!


Aku terkesiap dan langsung melompat menghindar. Begitu membalik badan, terbelalak mataku melihat Prof. Ram sedang menodongkan senapan serbu ke arahku. Senapan tersebut adalah senapan milikku yang tadi jatuh saat ditepis oleh si Jan palsu.


Aku mendengus kesal.


Prof. Ram terlihat tersenyum licik dan segera memberondong peluru ke arahku. Pasti ia juga pasukan lawan yang sedang menyamar.


"Brengsek!" Aku mengumpat keras sambil merunduk berlindung. Aku membangkitkan tubuh lemas si Jan palsu yang telah tak berdaya. Tubuh itu aku gunakan sebagai tameng dari serbuan peluru Prof. Ram Ranayuda yang terus menderu. Selama beberapa menit aku berlindung di belakang tameng hidup.


Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!


Tanpa peduli sedang menembak teman sendiri, Prof. Ram palsu itu tak berniat sedikit pun untuk berhenti memberondong peluru.


Namun, rupanya ia berhenti juga. Sambil melirik kesal pada senapan yang dipegangnya, ternyata pelurunya telah habis. Senapan itu segera dibuangnya tanpa pikir panjang. Aku menatap tajam, kemudian beralih meneliti sekitar. Tubuh Jan palsu aku lepas dan kubiarkan tergeletak. Aku bangkit dan segera mengejar si profesor imitasi.


Orang tua itu langsung tergesa-gesa berlari menjauh. Akan tetapi, langkah kalang-kabutnya tak lebih cepat dari lariku yang buas mengejarnya. Dengan mudah aku langsung melompat menerkamnya. Tubuhnya kupiting, dan tangannya kubekuk ke belakang. Ia memekik kesakitan. Ia hampir jatuh bersimpuh, namun kupaksa kembali berdiri.


Ia mendengus.


"Lekas!" bentakku. "Bawa aku ke markas kalian!"


Prof. Ram palsu itu tak mengacuhkan seruanku. Ia terus meronta-ronta dan menggeram kesal.


"Cepat!" Aku berbisik lagi dengan halus, sambil mempererat bekukan tangannya. Sontak ia terpekik kesakitan.


"Ba .. Baik! Aku ... Aku tunjukkan!" jawabnya putus-putus dengan wajah dongkol. Penuh emosi kesal, benci, dan rasa menahan sakit.


Maka dengan tubuh yang kedua tangan kubekuk, ia mulai berjalan menuntunku. Membawa aku masuk kembali ke dalam area hutan. Tergopoh-gopoh sambil mengeluh. Melewati padang semak yang tadi rasanya sudah pernah aku lewati. Menerobos area semak tinggi. Perjalanan itu cukup panjang, hingga akhirnya kami keluar di sebuah padang yang agak lengang. Padang yang hanya ditumbuhi rerumputan rendah. Di tengah padang itu, berdiri sebuah gubuk besar. Terlihat seperti rumah tua yang tidak dihuni lagi, tapi siapa pula yang punya rumah di tengah hutan, di tengah pulau, terpencil seperti ini?


Aku tercengang lama memandang bangunan reyot tersebut.

__ADS_1


"Ini markas kalian?" tanyaku.


Si profesor palsu mengangguk malas. Maka aku mengendurkan bekukan tangannya. Saat ia berontak dan terlepas dari bekukanku, aku segera bergegas menerjang punggungnya. Tak ampun orang tua ia terperenyak menghantam sebuah pohon kayu besar. Akibat kepalanya terbentur keras, maka ia pun menggelusur jatuh dan terkapar tak sadarkan diri.


Aku meninggalkannya di situ. Segera melangkah mengendap-endap mendekati bangunan tua tadi. Terlihat sepi dan tidak berpenghuni. Sambil melangkah, aku meraba telinga. Sialan, radio komunikasiku telah hilang entah kemana. Aku berniat untuk menghubungi Jan, tapi sekarang bingung bagaimana mau melakukannya. Entah di mana dia berada saat ini. Aku tiba di tepi dinding papan yang terlihat lapuk itu. Perlahan aku menyusurinya sesenyap mungkin. Hingga aku tiba di muka pintu. Uniknya pintu itu tertutup tapi tidak rapat sempurna. Dengan hati-hati aku mengintip ke dalam, terlihat gelap dan seperti tidak ada siapa-siapa di sana.


Aku tak bersenjata. Tidak ada senapan, pistol, atau pisau. Aku berpikir dan menimbang sebentar untuk menerobos masuk. Aku hanya punya rompi antipuluru yang membalut tubuh, sementara dengan tangan kosong aku hanya bisa bertarung jarak dekat. Dan mereka pasti bersenjata lengkap. Aku berpikir lama. Namun, apa yang telah terjadi membuat aku benar-benar kacau. Aku tadi sudah girang akan keberhasilan, sebelum akhirnya aku ketahui bahwa semua tak lebih dari tipuan penyamaran. Harapan cerahku hancur begitu saja. Aku benar-benar kesal oleh itu. Rasa kecewa membuat aku benar-benar terbakar ambisi. Mentalku telah terguncang. Kini kepala dan hatiku membara oleh amarah. Maka setelah berpikir dan menimbang, aku mengambil keputusan paling berani dan berisiko itu. Yakni memilih untuk segera menerobos masuk meski aku bertangan kosong.


Brakk, pintu kayu segera pecah berantakan terkena terjanganku. Aku melompat masuk dan langsung bertiarap.


Akan tetapi, selama beberapa detik aku menunggu, tidak ada pasukan yang muncul. Masih senyap. Aku tercengang dalam ruangan temaram itu. Mulai bangkit berdiri dengan wajah heran. Apa aku sudah ditipu? Tempat apa ini?


"Selamat datang, Renato!" ucap seseorang di belakangku.


Aku spontan berbalik badan. Dan setelah mataku melihat siapa yang menyapa, terbelalak aku bukan main kejutnya. Aku melongo, kemudian menggeram kesal. Orang tua sialan ini.


"Hebat sekali, anak muda!" ucapnya lagi penuh senyum licik. Senyum tak asing yang sebelumnya pernah kulihat. Orang tua ini, adalah orang tua misterius yang kemarin menyerang laboratorium kami. Orang tua yang entah siapa namanya, yang memiliki kemampuan bela diri hebat hingga mempecundangi aku. Aku menatapnya penuh kebencian, sementara ia tersenyum licik penuh gaya. Aku tak terlalu heran bertemu orang tua itu di tempat ini. Ia memang bagian dari pasukan yang menyerang laboratorium kemarin. Namun, aku benar-benar tak dapat menahan emosi dan kemarahan begitu melihatnya.


"Di mana Prof. Ram?" bentakku.


"Sabar dulu, anak muda! Aku belum menjamu kedatanganmu. Pertama, terima kasih kau telah jauh-jauh datang mengunjungiku!"


"Omong besar!" tukasku. Tanpa basa-basi lebih panjang, aku maju mengantarkan tinju.


Satu sampai sepuluh pukulan yang cepatnya luar biasa langsung kuluncurkan. Mengincar buas ke berbagai bagian tubuh orang tua ini. Seranganku yang penuh amarah itu lama sekali menggebubu. Akan tetapi, orang tua ini penuh dengan ketenangan. Dengan gerakan yang tak pernah kusangka, ia mampu menghindar dengan sempurna. Aku tak sempat untuk kagum, amarahku benar-benar membara dan telah memberi aku suntikan kekuatan.


Maka dengan kemarahan, aku bergerak buas dan lincah. Belasan pukulan, terjangan, tinjuan, dan berbagai serangan menderu hanya dalam beberapa kejapan mata. Cepat luar biasa, tapi lagi-lagi orang tua sialan ini berhasil menghindar. Sebaliknya, begitu ia melancarkan sekali serangan balasan, pukulan tangan kanannya lewat secepat kilat dan tepat menghantam dadaku.


"Aaakkh!" Aku terpekik begitu tubuhku terlempar ke belakang. Berdebuk jatuh ke lantai papan. Aku menggeliat kesakitan. Bersusah payah untuk bangkit kembali.


Belum aku bangkit, tahu-tahu orang tua itu sudah muncul di depan mata.


"Kau masih muda, Renato!" ucapnya. "Nanti kau juga akan jadi sehebat aku, saat usiamu mencapai usiaku sekarang."

__ADS_1


Aku mendengus penuh benci. Segera bangkit lagi, tanpa peduli rasa sakit di dadaku. Aku memulai lagi serangkaian serangan seperti tadi. Namun, tidak bertahan lama, aku termundur beberapa langkah oleh pukulan orang tua ini. Maka ia maju mengejarku. Bersiap untuk menghajarkan dengan serangan ganas lagi. Namun, keajaiban terjadi. Orang tua misterius ini tidak sempat melakukan aksinya. Karena dalam kejap itu, muncul tubuh berkelebat yang menerjang dari arah luar.


"Aaak!" Orang tua ia mengeluh saat tubuhnya terperenyak ke samping.


__ADS_2