Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Kebenaran dari Masa Lalu


__ADS_3

Jalanan kota semakin padat. Menghambat aku untuk kebut-kebutan. Terpaksa aku menurunkan kecepatan. Aku dalam perjalanan menuju sebuah kompleks perumahan sederhana, tempat kediaman Om Sunaryo.


Setelah perdebatan dengan Pak Roy, aku memutuskan menunda dahulu agenda pekerjaanku. Aku memilih mengunjungi Om Sunaryo. Karena malam tadi, ia menelepon aku entah mengapa. Padahal jarang sekali menelepon. Aku bisa saja menelepon balik untuk menanyakannya. Namun, aku memilih datang dan berbicara langsung. Lagipula kami memang sudah lama tidak bertemu. Jadi tidak ada salahnya untuk mengesampingkan dulu kesibukan pekerjaanku dan datang berkunjung. Biar bagaimanapun juga, Om Sunaryo pernah menjadi orang tuaku. Om Sunaryo juga satu dari sejumlah kecil orang-orang berharga yang aku miliki. Dan boleh jadi, satu-satunya yang tersisa yang memiliki pertalian darah langsung denganku. Ia adalah adik kandung ayah yang masih hidup.


Menjelang siang, aku sudah tiba di sebuah kompleks perumahan di pinggir kota. Kawasan pemukiman yang didominasi rumah-rumah sederhana yang cenderung sepi. Aku berhenti di depan sebuah rumah bercat putih. Rumah itu telah berdiri puluhan tahun, dan masih tetap kokoh sampai hari ini. Rumah tempat dulu aku pernah tinggal. Rumah yang dengan kupandang saja, membawa aku kembali kepada kenangan masa kecilku, dua dekade yang lalu. Masa-masa pemulihan saat aku dihantam duka mendalam kepergian ayahku. Sampai akhirnya aku bisa menerima kenyataan, semua terjadi di rumah ini. Sekarang, setelah dua dekade berlalu, rumah ini masih berdiri. Aku termenung di depan pagar antiknya mengenang kembali kenangan itu.


Lama sekali aku termenung, sampai pemilik rumah muncul membukaan pagar.


"Eh, Renato! Masuk, nak!" ucap Om Sunaryo begitu mengetahui aku yang berdiri di sana. Aku tersenyum ramah menyapanya. Kemudian aku memarkirkan sepeda motorku di halaman rumah itu.


"Tadi, aku dengar ada suara sepeda motor berhenti di depan pagar, jadi aku keluar," jelas Om Sunaryo. Ia mengajakku masuk ke dalam. Aku melangkah sambil melihat-lihat ke segala sudut rumah, bernostalgia.


"Iya, Om, saya mau mengunjungi Om hari ini. Sebelum sibuk dengan agenda pekerjaan, jadi saya sempatkan ke sini," ucapku.


Kami sudah berada di dalam. Aku duduk di atas kursi rotan yang antik. Menghadap meja kayu kuno dengan ukirannya yang khas. Memandangi hiasan dinding rumah. Pajangan-pajangan yang sudah ada sejak aku kecil, bahkan semakin bertambah. Suasana rumah ini benar-benar membawa aku kembali ke masa lalu secara emosional.


"Bagaimana keadaannya, Om?" tanyaku.


"Begitulah, Ren. Semakin hari aku semakin tua, asam urat kambuh, pegal linu, sudah sakit-sakitan, tapi setidaknya aku masih bertenaga untuk melakukan kegiatan-kegiatan di sekitar sini," jawab Om Sunaryo dengan tawa hambar. Aku menangkap kesedihan dari suaranya. Wajahnya yang renta terlihat semakin berkeriput. Rambutnya memutih sempurna. Fisiknya sudah lemah, sering terserang penyakit yang komplikasi, tidak kuat lagi untuk bekerja. Untung dia punya anak tiri yang mau mengurus dan memenuhi kebutuhannya. Dengan anak tirinya itulah ia tinggal di sini. Sementara istrinya sudah lama meninggal.


"Kau sendiri bagaimana, Ren? Kau sangat sibuk sekali kulihat, setiap hari terus bekerja tanpa ada libur. Jangan sampai kau jatuh sakit karena terlalu bekerja keras, Ren!"


"Tidak, Om. Tenang saja, saya sehat-sehat saja."


"Syukurlah kalau begitu. Oh, ya, terima kasih, kau mau mengunjungiku ke sini, Ren! Lama sekali aku tidak melihatmu, kadangkala aku rindu juga."


Aku tersenyum ramah.


"Oh, ya ampun, maaf, Ren, aku sampai lupa memberikanmu suguhan! Sebentar ya ...." Om Sunaryo segera bangkit dari kedudukannya.


"Eh, tidak usah repot-repot, Om!" Aku berusaha menahannya. "Om jangan terlalu kelelahan, baiknya banyak istirahat!"


Namun, tetap saja adik ayahku itu melangkah menuju dapur, untuk membuatkan air minum untukku. Ia berkata, "Tidak apa, Ren, hitung-hitung olahraga untukku."


Aku menghela napas. Tidak menunggu lama-lama, Om Sunaryo kembali dari dapur membawa dua cangkir teh panas yang masih mengepul. Minuman klasik yang tak pernah kehilangan cita rasanya.


"Terima kasih, Om, maaf merepotkan!" Aku berusaha membantu Om Sunaryo yang terlihat kesulitan meletakkan cangkir ke meja.


"Om," ucapku akhirnya. "Sebenarnya kedatangan saya hari ini, untuk menanyakan satu hal."


"Oh, ya, Ren? Ada hal apakah?"


"Tadi malam, Om menelepon, 'kan? dini hari?" tanyaku.


"Ah, benar, Ren. Aku baru mengingatnya," jawab Om Sunaryo. Aku melihat perubahan di wajahnya. Terlihat ia seperti teringat sesuatu menyedihkan.

__ADS_1


"Ada apa, Om? Kenapa Om menelepon saat dini hari? Apakah ada sesuatu ... sesuatu yang ingin Om sampaikan?" tanyaku.


"Sebenarnya iya, Ren! Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu," jawab Om Sunaryo, wajahnya kali ini benar-benar terlihat sedih tak diragukan lagi. Ia menghela napas dengan berat.


"Tadi malam itu," ucapnya kemudian. "Aku bermimpi bertemu ayahmu. Dalam mimpi itu, ayahmu marah sekali padaku. Ia marah sekali pada satu hal yang menyangkut dirimu. Ia marah karena aku tidak berterus terang padamu, Ren. Karena aku masih menutupi satu hal dalam hidupku sampai saat ini. Dan ayahmu marah sekali, dia ingin aku bercerita segalanya padamu tanpa sedikitpun ditutupi."


Aku tercengang. Ada hal yang ditutupi dariku? Apa itu? Apakah Om Sunaryo membohongi aku? Atau ada sesuatu yang tidak pernah diceritakannya padaku tentang ayah setelah ayah meninggal? Namun, aku benar-benar tak tahu. Padahal ini sudah lama sekali sejak ayahku meninggal, sudah dua dekade berlalu.


"Maka saat aku terbangun, aku menjadi gelisah dan tidak tenang," lanjut Om Sunaryo. "Aku menyadari kesalahanku karena tidak berterus terang pada sampai sejauh ini. Aku ketakutan, merasa bersalah, dan gelisah sekali malam itu. Sangking tidak karuannya pikiranku, aku sampai menelepon nomor ponselmu berniat langsung menceritakannya malam itu juga. Namun, kau tidak mengangkat, tentu saja, pasti kau sedang tidur. Aku sampai tak memikirkan itu."


"Maaf, Om!" ucapku. "Tapi, apa yang Om sembunyikan dari saya? Apa ini menyangkut tentang ayah?"


"Benar, Ren!" Om Sunaryo mengangguk dengan pahit. Ia terlihat sedih sekali. "Ini tentang kematian ayahmu, yang tidak pernah aku ceritakan sampai hari ini."


"Apa ... Apakah itu Om?" tanyaku ragu-ragu. Melihat wajah Om Sunaryo yang begitu berkerut sedih sudah membuat perasaanku tidak nyaman. Ada hal apa yang tidak kuketahui tentang meninggalnya ayah? Apakah ayah punya rahasia kecil atau semacamnya? Atau ayah punya pesan yang belum tersampaikan padaku?


"Mungkin kau tahu ayahmu meninggal karena kecelakaan mobil," tutur Om Sunaryo. "Tapi sebenarnya, ayahmu bukan mengalami kecelakaan mobil biasa. Karena, sebenarnya ayahmu ... ayahmu ...."


Om Sunaryo kelihatan sulit sekali mengucapkannya. Suaranya seperti tersekat.


"Ayahmu sebenarnya ... menjadi korban pembunuhan."


Seketika itu wajahku panas. Sebuah fakta yang sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi ketika aku baru mengetahui hal ini setelah dua dekade yang lalu ayahku meninggal.


"Sungguh, aku minta maaf, Ren! Aku tahu kau akan marah sekali padaku, tapi aku tak pernah berniat untuk menyakitimu."


"Aku tahu ayahmu dibunuh, tapi aku tidak mau menceritakannya padamu. Karena melihatmu mengamuk lantas mengurung diri sampai sakit, sudah membuat hatiku hancur. Rasanya tidak tega untuk membuat hatimu lebih hancur lagi. Lagipula saat itu kau masih kecil. Dan lama kelamaan kau semakin besar, aku tetap tidak tega menceritakannya."


"Siapa lagi yang mengetahuinya?"


"Rata-rata, orang-orang yang mengetahui hal itu sudah meninggal, Ren. Mungkin, ayah angkatmu juga tahu hal itu."


Sialan, aku memaki dalam hati. Bahkan Pak Roy tahu hal itu dan sama saja tidak menceritakan padaku. Padahal aku tinggal dengannya belasan tahun. Apa aku tak berhak tahu?


"Kenapa aku tak pernah diberitahu hal itu?" aku bertanya dengan suara serak dan bergetar. Penuh emosi kesedihan dan kekesalan.


Om Sunaryo terdiam.


"Siapa?" tanyaku pula dengan tajam penuh kebencian. "Siapa yang membunuh ayah?"


Om Sunaryo menggeleng masam. Menjawab, "Tidak ada yang tahu, Ren! Sampai hari ini, kepolisian juga tidak berhasil mengungkap siapa orang yang bertanggung jawab di balik kejadian itu."


"Tidak ada yang tahu?" tanyaku lagi tak percaya.


"Aku juga menyesalkan hal itu, tapi begitulah, tidak ada yang tahu."

__ADS_1


Aku membisu setelah itu. Tertunduk penuh kesedihan. Dengan luka lama yang tiba-tiba menganga dan memberikan kepedihan. Kututup wajah dengan tangan, aku pun tersedu. Om Sunaryo bergeser dan merangkulku.


"Bersabarlah, Nak! Maafkan aku telah menyembunyikannya darimu. Sekarang aku lega kau sudah tahu, kuharap kau bisa menerima dengan lapang dada."


Aku mengangkat wajah dengan berat. Menghela napas panjang. Sekuat tenaga menguatkan hatiku. Kemudian beranjak berdiri.


"Maaf, Om, saya harus pamit!"


Om Sunaryo menatapku penuh iba. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia mengantarku sampai halaman luar. Kemudian aku pun akhirnya berlalu meninggalkan rumah tua itu membawa kesedihan. Melaju kembali ke jalan lintas membawa luka lama yang kembali menyakitkan. Ayah, kenapa aku harus merasakan semua ini? Kenapa?


Aku melaju dengan perasaan kacau. Pikiran tidak karuan. Bahkan aku hampir mengalami kecelakaan jika kurang sigap sedikit saja. Hari ini dimulai dengan banyak hal menyakitkan dan menyebalkan. Aku tak menyangka hariku akan rusak seperti ini. Aku benci hari ini.


***


Aku sampai di parkiran kantor, setelah berkendara dalam keadaan pikiran kacau hampir setengah jam.


Setelah turun dari kendaraan, aku bergegas memasuki kantor. Aku melangkah cepat tanpa sempat menyapa beberapa karyawan yang aku lewati. Mereka hanya menatap heran padaku. Aku buru-buru memasuki lift dan menunggu dengan tak sabar. Begitu pintu lift terbuka, lagi-lagi aku melangkah dengan tergesa-gesa sepanjang koridor. Mengabaikan semua staff kantor yang menyapaku dengan ramah. Menuju sebuah ruangan yang baru pagi tadi aku kunjungi. Ruangan Pak Roy.


Aku masuk ke ruangan tanpa mengetuk tanpa permisi. Hal itu membuat Pak Roy terkejut dan sedikit kesal. Namun, melihat yang masuk adalah aku, wajahnya berubah semringah.


"Ah, Ren, akhirnya kau kembali ke sini tanpa aku panggil. Apa kau sudah menentukan pilihanmu, Nak?"


Aku tak menjawab. Aku duduk di kursi, menghadap dengan wajah yang menatap tajam penuh emosi. Pak Roy heran melihatku.


"Kau kenapa, Nak?"


"Apakah bapak tahu tentang ... penyebab kematian ayah saya?" Aku bertanya tanpa basa-basi. Suaraku bergetar.


Tiba-tiba wajah Pak Roy mendadak syok seperti tersambar petir di siang bolong. Ia tak menyangka sedikit pun tentang hal yang akan aku tanyakan. Matanya terbalalak.


"Jawab, Pak! Apakah bapak tahu bahwa ayah saya ... meninggal karena ... pembunuhan?"


Wajah Pak Roy benar-benar syok tak terkirakan. Ekspresinya menampakkan kegelisahan dan ketakutan. Sedih dan sesal. Bercampur aduk.


"Jawab, Pak!" tegasku. Bahkan dengan suara yang membentak. Aku benar-benar emosi, sampai sanggup membentaknya. Lupa bahwa ia adalah ayah angkatku.


"Maafkan aku, Ren! Maafkan aku!" ucap Pak Roy dengan suara bergetar. "Kumohon maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini, tapi aku tak pernah sampai hati. Aku tidak ingin membuatmu sedih! Aku ...."


"Cukup!" potongku. Aku segera berdiri dari kedudukan. Menatap matanya dengan tatapan tajam penuh kebencian. Aku seharusnya mengerti dengan alasannya dan memaklumi itu. Namun, kondisi hati yang benar-benar sakit serta rasa kecewa menutupi pikiranku, membuat aku gelap mata dan kalap.


"Saya kecewa!"


Aku meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa.


"Maafku aku, Ren!" Kalimat itu terus diulangi Pak Roy sepanjang langkahku sampai aku tak bisa mendengar suaranya lagi.

__ADS_1


Sepanjang langkahku, para staff kebingungan melihat aku. Mereka ingin bertanya, tapi segan. Wajahku galak sekali menatap ketika mereka menyapa. Hadni juga memanggilku agar singgah di ruang kerja, tapi kujawab pun tidak. Aku tidak punya waktu untuk siapapun saat ini.


Aku kembali ke parkiran. Segera menaiki tungganganku. Melaju di jalanan kota yang padat. Tidak peduli pada suasana kota. Aku melaju membawa rasa sakit dan kesedihan mendalam. Pulang menuju rumahku. Persetan dengan agenda kerjaku hari ini. Semuanya aku batalkan. Aku tak ingin diganggu.


__ADS_2