Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Tanpa Nama


__ADS_3

Tubuh si penerjang misterius mendarat di depan mataku. Tampak hanya sebagai siluet hitam. Ruangan yang kurang penerangan membuat aku tak dapat melihat siapa orang itu. Namun, begitu ia berlutut dan mengulurkan tangan, tahulah aku siapa adanya.


"Kau tidak apa-apa, sobat?" tanyanya.


Jantoro. Itulah dia sahabatku yang selalu memanggil aku dengan sebutan "sobat", bukan "teman". Aku tak tahu bagaimana ia bisa sampai juga menyusulku, tapi kedatangannya memberi angin segar dan berita baik untukku. Aku tak perlu meneliti dua kali, ia adalah Jantoro yang benar-benar asli. Tidak perlu diragukan lagi. Maka aku segera menerima uluran tangannya. Bangkit berdiri dengan semangat baru.


"Aku baik-baik saja, Jan!" jawabku.


Kini aku dan sahabatku berdiri bersisian. Memasang kuda-kuda siap bertarung. Siap menghajar si orang tua menyebalkan.


Sementara, orang yang sedang kami tatap tajam justru terlihat bangkit dengan wajah semringah. Entah apa yang membuatnya gembira, tapi wajahnya benar-benar terlihat senang seperti anak kecil yang mendapat mainan kesukaannya. Orang tua ini sampai tertawa tergelak-gelak bagai orang sinting.


"Akhirnya, aku bisa berhadapan dengan kalian berdua!" serunya.


"Akhirnya juga," balas Jan. "Sudah lama aku menunggu-nunggu kesempatan ini, Orang Tua!"


"Kau mengenal orang ini, Jan?" tanyaku.


"Tentu saja," jawab Jan. "Dia adalah gembong kriminal paling legendaris, lebih legendaris daripada Enam Mata Dadu. Sebagian orang di dunia hitam bahkan tidak percaya akan keberadaannya, ia dianggap tidak ada dan hanya cerita mitos belaka."


"Siapa namanya?"


Si Orang Tua memotong Jan dengan tawa. Tawa gelak yang hambar. Lantas menjawab, "Bukankah sudah aku katakan padamu, anak muda, bahwa aku bukan siapa-siapa. Percuma kau bertanya, karena aku tak punya nama."


"Jan," ucapku sambil mendelik heran menatap sahabatku.


"Dia berkata benar, sobat!" jawab Jan. "Dia memang tak punya nama. Tidak juga informasi pribadi. Di dunia hitam, orang-orang menyebutnya sebagai Si Orang Tua Tanpa Nama."


"Orang Tua Tanpa Nama?" Aku tercengang.


"Benar sekali," sambung Si Orang Tua Tanpa Nama tersebut. "Orang-orang menyebut dan mengisahkan aku sebagai Si Orang Tua Tanpa Nama. Setiap aku muncul, tidak satu pun orang yang mengenali wajahku. Kau juga tidak akan bisa menemukan fotoku atau informasi tentangku di mana pun."


"Dan hanya orang-orang tertentu," sambung Jan. "Yang terpilih untuk tahu siapa dia dan mengenal wajahnya. Salah satunya adalah aku!"

__ADS_1


"Tenang saja, Jantoro!" ucap Si Orang Tua Tanpa Nama. "Hari ini kau menatap wajahku. Bukan yang pertama kali, tapi bisa jadi ini yang terakhir."


"Oh, ya?" Jan tersenyum licik. "Aku tidak sedikitpun gentar."


"Kudengar kabar, kalian telah menaklukkan murid-muridku yang sepanjang sejarah tak terkalahkan. Bagus sekali, hebat. Maka kini hadapi aku, guru mereka!" Orang Tua Tanpa Nama berkoar-koar sepenuh ruangan.


"Muridmu?" Aku tercengang. Siapa muridnya yang aku kalahkan? Dia bilang kalian berarti maksudnya aku dan Jan, bukan Jan sendiri.


"Muridmu siapa?" tanya Jan. Ternyata sahabatku ini juga terkejut dan tidak tahu apa maksud Si Orang Tua Tanpa Nama. Kami sama-sama melongo bingung untuk sesaat.


"Tentu saja, bukankah kalian telah berhasil dan menjadi orang pertama yang merusak rekor panjang milik Enam Mata Dadu?"


"Ohh ...." Aku dan Jan kompak terbelalak tak percaya.


"Jadi mereka muridmu, hah?" tukas Jan dengan penuh gaya. "Aku akui mereka hebat, apalagi kau sendiri yang tentu lebih daripada mereka."


"Tapi kau harus tahu, Orang Tua. Berani hilang tak hilang, berani mati tak mati. Murid-muridmu sudah takluk, kini giliranmu menanti!" ucapku dengan suara bergetar penuh emosi. Aku merasa energi dalam diriku penuh sekali. Kepala membara. Mataku bagai menyala. Kombinasi amarah, dendam, semangat, dan ambisi. Melawan Enam Mata Dadu sudah membuat aku cukup kewalahan. Sekarang justru gurunya yang aku hadapi. Dan aku tidak peduli, kobaran amarah di kepalaku membuat aku tak memikirkan resiko apapun.


"Baiklah," jawab si orang tua sambil mulai memasang kuda-kuda. Siap kembali bertarung. "Majulah kalian satu per satu!"


Aku tersenyum. Kami mulai maju dan melancarkan serangan bersamaan. Pukulan yang bertenagakan emosi dan semangat. Kecepatan yang telah meningkat. Pukulan demi pukulan pun menyerbu.


Si Orang Tua sedikit kaget, tapi ia mampu menguasai suasana dengan cepat. Bergerak mengelak dan menangkis dengan baik. Namun, selanjutnya ia mundur beberapa langkah ke belakang. Keluar dari kalangan pertempuran.


Aku menggeram kesal.


"Tunggu sebentar!" ucapnya. "Apa-apaan ini? Apa begini prinsip kalian bekerja? Kalian mau mengeroyok aku dengan pertarungan dua lawan satu? Apakah itu adalah satu tindakan terhormat?"


Aku tersenyum licik. Lantas menjawab dengan lantang, "Kau sudah menang pertarungan satu lawan satu melawan aku, Orang Tua. Sekarang level kesulitanmu naik tingkat!"


Orang tua itu langsung menyeringai mengejek. Menimpali dengan berkata, "Aku tidak sedang ujian!"


Aku tertawa puas. Segera bergerak maju menyerangnya. Jan sempat bingung sesaat, tapi ia lekas bergabung kembali untuk menyerbu Si Orang Tua Tanpa Nama.

__ADS_1


Maka pertarungan dua lawan satu yang sengit dan ketat pun terjadi. Di arena pertempuran yang merupakan ruangan temaram dalam sebuah gubuk kayu berdinding papan. Pukulan demi pukulan saling balas-berbalas. Terjangan demi terjangan. Serap-menyergap. Hentakan. Tendangan. Begitu cepat dan lincah. Kombinasi aku dan Jan menjadi kombinasi maut dalam pertarungan ini. Duo pemuda paling berbahaya di dekade ini. Jika saat kami mengalahkan Enam Mata Dadu kami bertarung masing-masing, maka kali ini kami bertarung bersisian melawan guru dari Enam Mata Dadu itu sendiri.


Akan tetapi, tetap saja tidak semudah yang aku kira. Orang Tua Tanpa Nama ini tetap saja lincah luar biasa untuk menghindar dan balas menyerang. Beberapa kali aku dan Jan dibuatnya mundur dan terhuyung. Namun, semangat dan amarah kami membuat tenaga kami kembali terisi ulang. Serangan kami terus bertingkat menjadi ganas dan buas. Semakin lincah dan gesit luar biasa.


Waktu bergulir, menit demi menit terus berlalu, pertarungan semakin panas. Berbagai macam suara berpadu di sana. Deru napas, suara bentakan dan seruan, keluh kesakitan, dan detakan lengan beradu atau bunyi tubuh yang terhantam bertalu-talu bising memenuhi udara. Atmosfer ruangan tersebut memanas seiring dengan pertarungan yang begitu sengit.


Bertarung dalam waktu selama ini, akhirnya lawan kami kewalahan juga. Menjadi angin segar untukku. Baru kali ini aku bertarung dengan Orang Tua Tanpa Nama ini dengan mendominasi di atasnya. Baru kali ini aku berkali-kali dapat melayangkan tinju ke wajah dan dadanya. Kombinasi serangan dahsyat dari aku dan Jan, berhasil membuatnya terdesak beberapa saat. Butuh gabungan dari kemampuan kami berdua, untuk sanggup menandingi kecepatan dan kelincahan gerakannya. Itu juga ia masih sanggup meladeni kami selama ini. Ketenangannya luar biasa sekali.


Pada serangan yang kesekian, aku menerjang dada kanannya. Sementara Jan datang dari belakangnya dengan tinju menggebubu. Si Orang Tua Tanpa Nama bergerak menghindar terjanganku, tapi tidak sempat untuk menghindar tinju Jan. Maka tak ampun, Orang Tua itu terperenyak oleh hantaman keras di kepalanya. Tanpa jeda barang setengah detik, aku berputar menendang tengkuknya. Ia langsung tertunduk dan tertekuk lutut. Begitu ia memaksa untuk bangkit, Jan datang dari samping menghadiahinya pukulan. Orang Tua ini sudah bergerak menangkis, tapi dengan cerdas Jan mengelak tangkisan dan mengganti serangan dengan terjangan secepat kilat. Orang Tua itu pun jatuh terkapar menahan sakit.


Aku dan Jan tak memberi celah sedikitpun. Sebelum lawan bangkit, kami bergerak cepat mengejar dan mengepungnya dari dua arah.


Dalam kejap itu, aku melancarkan pukulan tangan kanan. Jan dari samping juga melepaskan pukulan cepat yang mengincar kepala lawan. Dalam detik-detik menegangkan, Si Orang Tua Tanpa Nama bergerak dengan gerakan sangat cepat. Ia bangkit dan langsung mengirimkan pukulan ke dada Jan lantas berputar cepat menerjang tubuhku. Gerakan itu dilakukan hanya dalam hitungan detik. Demikian cepatnya, hingga aku dan Jan tak sanggup mengelak. Seketika kami langsung terlempar.


Brakk, tubuhku menghantam dinding papan sampai rubuh berantakan. Papan lapuknya patah dan remuk, aku terbanting keras ke lantai. Aku kira aku terlempar keluar dari gubuk karena aku menabrak dinding. Namun nyatanya, tubuhku terkapar dalam sebuah ruangan. Sama temaramnya dengan ruangan tadi.


Aku bangkit perlahan-lahan dengan linglung sambil merasakan sakit di punggungku. Di depan sana, Si Orang Tua Tanpa Nama telah berdiri kembali. Sementara Jan tak terlihat, kondisi pencahayaan yang benar-benar kurang membuat aku tak bisa melihat posisi Jan entah di sudut mana.


Aku alih melihat-lihat ke sekeliling ruangan ini. Aku terperangah. Tidak banyak yang bisa aku lihat di sini. Maka aku memilih kembali ke tempat Orang Tua Tanpa Nama itu. Karena terlihat Jan dan lawan kami sudah mulai bertarung lagi. Aku buru-buru melangkah pergi.


"Ren, tunggu!" ucap sebuah suara di belakang.


Seketika langkahku terhenti. Aku terkesiap dan langsung membalik badan. Segera menilik tajam di tengah temaramnya ruangan. Aku mencoba mengingat suara siapa yang memanggilku tadi. Sambil mengedarkan pandangan ke semua arah.


"Ren, tolong!" Suara itu terdengar sekali lagi.


Ya ampun, aku ingat sekarang. Itu suara Prof. Ram Ranayuda. Aku yakin sekali. Semoga itu benar-benar Prof. Ram dan bukan penyamaran. Maka dengan semangat aku bergegas melangkah mencari datangnya suara tersebut.


Sialnya, langkahku lagi-lagi terhenti. Ada tangan yang datang dari belakang dan menarik bahuku. Aku terkesiap. Tak perlu melihat, aku tahu itu adalah tangan Si Orang Tua Tanpa Nama. Ia menarik tubuhku hingga terempas ke lantai. Aku jatuh dan mengaduh.


"Mau ke mana, Ren? Kita belum selesai," ucapnya. Ia berlutut ke dekatku, tapi Jan datang menerjang sehingga memaksanya untuk melompat menghindar serangan.


"Bangun, Ren!" ucap sahabatku sambil mengulurkan tangan. Aku langsung menyambutnya dan bangkit berdiri.

__ADS_1


"Prof. Ram ada di ruangan ini," desisku pada Jan.


Jan terbelalak.


__ADS_2