
Dinding itu terbuka lebar. Aku dapat melihat ke dalam, ke sebuah ruangan yang lebih gelap lagi. Aku mulai meneliti. Beberapa langkah di depanku, terdapat sebuah kursi besi. Dengan penerangan seadanya, terlihatlah seorang pria duduk terbelenggu di kursi tersebut. Tidak salah lagi, pasti itu Prof. Ram Ranayuda.
"Prof. Ram!" Aku berseru senang. Langsung melangkah mendatangi kursi itu. Jan mengikut di belakang. Aku melangkah tergesa-gesa. Begitu tidak sabar untuk melepaskan profesor ini. Sehingga tidak sadar dengan datangnya tembakan yang mengincar kepalaku.
Dorr!
"Berhenti di tempatmu!" seru seseorang dari arah samping ruangan. Aku benar-benar terhenti dan mematung di tempat. Tembakan itu meleset beberapa senti di depan wajahku. Dapat aku lihat dinding papan berlubang ditembus peluru, membawa garis cahaya dari luar. Lubang yang tercipta di papan itu terletak sejajar dengan kepalaku. Apabila tadi aku terlambat menghentikan langkah, maka sudah pasti peluru itu telak bersarang di otakku.
"Bagus, tetap diam di tempat!" ucap orang misterius tadi. Suaranya terdengar berat seperti suara orang tua. Sayangnya, aku tak dapat melihat sosoknya oleh karena ruangan yang sangat gelap. Aku mencoba mengingat suara siapa, seperti suara orang yang aku kenal, tapi siapa? Aku menajamkan mata ke arah datangnya tembakan. Namun percuma, sisi ruangan bagian itu terlalu gelap tanpa ada penerangan sedikitpun. Aku menoleh ke belakang sekilas, Jan berada di luar. Saat terdengar letusan tembakan tadi, sahabatku ini langsung melompat mundur. Keluar dari ruangan rahasia yang baru beberapa langkah dimasuki ini. Kami sama-sama kebingungan di posisi masing-masing.
Aku gemas sekali dengan keadaan ini. Aku tak dapat melihat di mana posisi lawan. Jika bergerak, bisa saja ia melepaskan tembakan lagi yang langsung melumpuhkanku. Di samping itu, aku jadi berpikir, siapa sebenarnya orang ini? Ini artinya dugaanku tadi benar. Setelah Orang Tua Tanpa Nama kami bereskan, masih ada juga pasukan keamanan yang tersisa. Beberapa saat berpikir dan geram sendiri, aku kehilangan kesabaran.
"Siapa kau?" Aku bertanya setengah berteriak.
"Kau tahu aku, Ren," jawab orang itu. "Kau akan tahu jika kau lihat wajahku."
Aku mendengus. Sekali lagi aku merasa mengenali suara ini. Suara orang tua yang tidak asing dalam hidupku. Aku mulai berpikir hal aneh, yang membuat aku ragu sendiri tentang apa dugaanku tidak salah. Ini benar-benar sebuah asumsi yang gila. Berpikir bahwa orang tua ini adalah orang yang dekat denganku. Terlalu mustahil. Aku menggeram gemas. Siapa dia? Sialan, aku kesal pada diriku sendiri. Aku tak mau mengakui aku telah menebak siapa orang tua ini.
"Siapa kau?" Aku berseru sekali lagi.
"Baiklah, anak muda!" jawab orang tua itu dengan santai. "Kau akan tahu."
Setelah orang tua itu selesai berucap, tiba-tiba ruangan berubah menjadi terang-benderang. Lampu-lampu elektronik yang tergantung di dinding dan di langit-langit—yang tadi saat gelap aku lihat tidak ada di dinding atau sudut manapun—satu per satu menyala menerangi seantero ruangan. Membuat silau mataku hingga aku mengerjap sesaat.
Hidupku memang penuh dengan kejutan, dan aku pikir inilah kejutan paling tak terkira seumur hidupku. Karena begitu usai mengerjap, mataku lantas menatap ke seberang ruangan di mana seorang pria tua berusia lebih setengah abad, berwajah oriental dengan kumis tipis sedang berdiri menantang sambil menodongkan Pistol Glock 24. Seketika itu juga langsung melotot dan berseru geramlah aku melihat tubuh yang kemarin renta kini tampak bugar. Tak main-main, ekspresi terkejut, kesal, dan heran berpadu di wajahku. Aku geleng-geleng tak percaya. Tak percaya dengan siapa yang aku lihat. Apa mataku sedang berbohong hari ini? Rahangku mengeras, geraham mengertak, mata menatap tajam setajam belati. Aku hampir tak bisa berkata-kata.
"Koh Shung?" Aku berseru penuh emosi.
Orang tua itu menanggapi dengan tersenyum jahat sambil menurunkan pistolnya. Henry Purnomo alias Koh Shung, orang itulah yang telah membuat aku syok setengah mati, kini tertawa penuh kemenangan. Sementara aku masih terperangah tak percaya.
"Apa-apaan ini, Koh?" seruku lagi.
__ADS_1
"Itulah yang terjadi, anak muda." jawab Koh Shung dengan santainya.
"Anda yang menurunkan pasukan untuk menyerang laboratorium kami, dan menculik Prof. Ram?" Aku bertanya-tanya penuh keheranan.
"Kalau iya, kenapa?" tukas Koh Shung.
"Kenapa ... Kenapa anda melakukan ini? Apa maksudnya?" tanyaku.
"Apa maksudnya? Apalagi kalau bukan untuk menghancurkan kalian," jawab Koh Shung dengan tegas.
"Tapi, kita sudah bermitra bertahun-tahun, Koh. Apa yang membuat anda sampai melakukan semua ini? Bukankah dengan jatuhnya perusahaan kami, itu akan membawa kerugian besar untuk perusahaan anda sendiri?"
Koh Shung tergelak.
"Saya juga masih ingat dengan jelas," sambungku. "Apa yang anda katakan pada malam itu. Anda berkata bahwa anda ingin berhenti menyumbang modal untuk proyek mesin waktu kami, karena proyek itu sangat berpotensi gagal. Dan jika proyek ini gagal, semua pihak yang terlibat akan mengalami kerugian besar-besaran, termasuk anda sendiri. Lantas kenapa justru anda sendiri yang ingin membuat gagal proyek kami ini?"
"Kau akan mengerti jika kau jadi aku, anak muda!" Koh Shung menjawab dingin.
"Saya benar-benar tak bisa percaya," ucapku lagi. "Malam itu, anda berceramah pada saya tentang angka kriminal di negeri ini yang tak kunjung turun biar bagaimanapun majunya negeri kita. Anda bilang untuk apa kemajuan, jika korupsi dan kriminal masih tinggi. Namun lihat, Koh, perbuatan anda yang menyumbangkan angka dan menaikkan indeks kriminal itu sendiri. Lihat apa yang telah anda lakukan, banyak nyawa yang melayang. Anda yang kriminal sekarang."
"Saya punya alasan yang kuat untuk melakukannya," jawabku dingin.
"Itu dia," sambut Koh Shung. "Sebuah alasan yang kuat untuk melakukannya. Aku punya alasan kuat untuk melakukan semua ini. Jadi, berpikirlah berkali-kali sebelum kau menghakimi perbuatan orang lain, anak muda!"
"Namun apapun alasannya, tetap tidak bisa dijadikan pembenaran atas perbuatan anda!" ucapku.
"Itu hanya cara pikir orang-orang sepertimu, atau siapapun orang di luar sana yang merasa mereka itu orang baik. Kau tak akan mengerti, sebelum kau merasakan apa yang aku rasakan."
"Sebenarnya apa tujuan anda, Koh?" Aku bertanya tidak sabar.
"Untuk menghancurkan kalian," jawab Koh Shung tegas. "Seperti halnya kalian menghancurkan Jarilangit."
__ADS_1
Aku melotot lagi penuh heran. Lantas berseru, "Apa kaitan mereka dengan anda?"
"Apa kaitannya?" Koh Shung mengulang berseru dengan suara lebih lantang. "Kehancuran perusahaan itu, telah menghancurkan hidupku. Dan kau yang bertanggung jawab atas semua itu. Lantas bisa-bisanya kau bertanya apa kaitannya?"
"Tapi saya benar-benar tidak tahu, Koh!"
"Oh, ya. Kau memang tidak tahu," potong Koh Shung langsung. "Kau memang tidak tahu apa-apa, Renato. Kau tidak tahu bahwa kehancuran PT. Jarilangit telah menghancurkan hidupku tanpa sisa. Dan tidak ada orang yang tahu."
"Koh ...."
"Kau tidak tahu, Renato. Kau tidak tahu bahwa Sam Soetadji adalah teman lamaku. Lama sekali. Kau tidak tahu, bahwa suatu malam, saat PT. Jarilangit di ambang kejatuhan, Sam datang menemuiku secara personal. Kami mengobrol banyak. Dia meminta bantuanku. Dia ingin aku menolong perusahaannya yang di ujung tanduk itu. Dia memohon agar aku mau menalangi mereka. Namun, aku menolak secara baik-baik, mengingat pada hubungan kerja sama aku dan Korp. Masadepan yang sudah berlangsung lama. Tanpa aku tahu bahwa badai yang menimpa perusahaan itu, ternyata ulah kalian. Ulah kau, Renato. Aku menolak membantu mereka, menolak untuk berinvastasi pada mereka karena mengingat kalian. Akan tetapi, ternyata kalian yang sedang menghancurkan mereka perlahan. Aku tak tahu itu sama sekali."
Aku terperangah mendengar cerita itu.
"Dan kau tidak tahu, Renato. Kau tidak tahu bahwa karena aku menolak permintaan Sam, dia menjadi kecewa dan marah padaku. Kami bertengkar hebat malam itu. Pertemuan kami berakhir dengan temanku itu menjadi benci dengan aku. Benci sekali. Dia mengancamku macam-macam. Aku merasa bersalah, tapi aku juga dilema dengan posisiku yang serba salah. Dan kau juga tidak tahu, Renato, pada puncaknya, saat akhirnya PT. Jarilangit kolaps, hancur. Sam menghubungi aku menyampaikan ancaman."
Aku geleng-geleng kepala. Aku memang tidak tahu itu semua. Aku lihat Koh Shung mulai naik nadanya saat bercerita. Suaranya bergetar penuh kebencian dan kesedihan.
"Kehancuran perusahaannya, telah membuat Sam kehilangan akal dan menjadi gila. Mentalnya benar-benar terguncang luar biasa. Apakah kau tahu itu, Renato? Sam Soetadji kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia mengamuk-amuk frustrasi dan menyalahkan semua orang. Ia menjadi dendam dan ingin membunuh semua orang yang dianggapnya bertanggung jawab. Kebencian dan kecewaan telah merenggut kemanusiaan dari dirinya. Yang kau tahu, kau adalah sasaran utamanya. Dia telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhmu, meskipun gagal. Namun kau tidak tahu, Renato. Kau tidak tahu bahwa sasaran kemarahannya selanjutnya adalah keluargaku."
"Hah?"
"KAU TIDAK TAHU ITU, RENATO!" Koh Shung berteriak sekeras-kerasnya melepaskan emosi, amarah, dan kebenciannya ke udara.
"Koh ...."
"Kau tidak tahu, 'kan?" sambung Koh Shung lagi. "Kau tidak tahu bahwa kebencian Sam kepadaku sudah parah. Ia mengirim pembunuh bayaran untuk menyerang aku dan keluargaku. Apa kau tahu apa yang terjadi, Renato? Hah?"
Aku bungkam.
"Dalam penyerangan itu, aku berhasil selamat. Namun, tidak anak-anak dan istriku. Mereka tewas mengenaskan di tangan manusia-manusia biadab yang disewa Sam. Hanya beberapa orang terdekatku yang tahu kejadian itu. Sementara awak media, telah disumpal untuk menutupi semuanya. Dari sanalah segala benci tumbuh dan berkembang dalam diriku."
__ADS_1
Aku masih bungkam.
"Apa kau tahu rasanya, Renato? Apa kau mengerti? BAGAIMANA? HAH?" Koh Shung membentak penuh amarah.