
Tidak memakan waktu lama dengan jip yang merintis jalan di semak, kami keluar di sebuah kawasan pantai. Pantai itu membentang sejauh ratusan meter. Pasirnya bersih dijilati ombak berkali-kali. Pohon-pohon kepala berdiri condong di beberapa titik. Namun, di samping semua keindahan itu, tidak ada orang di sini. Sama sekali tidak ada. Sempurna sepi. Mobil jip kami melaju sampai ke benar-benar ke tepi laut. Menyisakan jejak ban di hamparan pasir.
Aku memandang jauh ke arah laut. Angin bertiup santai dan membelai. Sementara Si Tengkorak Hitam di kabin kemudi menatap heran dan kebingungan. Aku dan Jan buru-buru menunduk saat orang itu menoleh.
"Ke mana? Ke mana dua orang itu?" tanyanya dengan dahi terlipat.
"Hmm, pasti mereka sudah meninggalkan pulau ini," ucapku sambil mematut.
"Aku tidak yakin," ucap orang itu. Ia mendekatkan wajah untuk meneliti kami lebih dekat.
Aku berpikir cepat. Maka aku membuka pintu dan melompat keluar. Aku melangkah cepat ke tepian laut. Jan dan Si Tengkorak Hitam itu menyusul di belakang. Kami berhenti saat air laut sudah semata kaki. Aku memandang jauh ke hamparan laut tak berujung itu, kemudian menoleh ke kiri kanan meneliti bibir pantai sampai ke ujungnya. Sial sekali tidak ada kendaraan di sini.
"Aku yakin mereka sudah kabur dari sini," ucapku begitu kulihat Si Tengkorak Hitam tiba di belakangku.
"Lantas bagaimana sekarang?" tanya Si Tengkorak Hitam.
"Tidak bisakah kita mendapatkan kapal atau perahu untuk mengejar mereka?" Aku balik bertanya.
Si Tengkorak Hitam mundur beberapa langkah, ia merogoh kantong mengeluarkan sebuah radio komunikasi.
"Bantuan dibutuhkan di selatan pulau, bawa kapal ke mari!" ucap Si Tengkorak Hitam pada rekannya lewat radio komunikasinya.
Aku dan Jan sabar menunggu. Setelah selesai, Si Tengkorak Hitam lekas menyimpan kembali alat komunikasinya.
"Beberapa menit, mereka akan tiba di sini," ucapnya kemudian.
"Baik, terima kasih," ucapku sambil menyeringai.
"Hah?" Si anggota pasukan Tengkorak Hitam tercengang dan langsung menatap aneh ke arahku.
"Kau bilang apa tadi?" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
"Jan,"
Dorr! Tembakan meletus dan si Tengkorak Hitam langsung tumbang tak berdaya. Tubuhnya terempas dan tergeletak di hamparan pasir basah pantai dengan kepala berdarah ditembus peluru. Sekali-kali terguncang diterpa ombak. Sementara Di belakangku, Jan penuh gaya meniup moncong pistolnya usai melepaskan tembakan yang akurat.
"Bagus sekali," pujiku.
Jan tersenyum simpul.
"Sekarang kita tunggu beberapa menit," ucapku. "Bersiap-siap jika yang datang jumlahnya banyak."
Jan mengangguk saja. Kemudian mengawasi sekitar dengan tajam. Pistolnya siap menyalak lagi. Sementara aku hanya fokus menatap laut, menunggu kedatangan kapal yang dipesan Si Tengkorak Hitam itu.
Kami menunggu beberapa menit. Aku tertegun dan hanyut dalam suasana pantai amat sunyi itu. Hanya ada suara desir angin, kicau burung, dan debur ombak. Benar-benar suasana yang tenang untukku. Kalau saja aku tidak sedang dalam urusan mendesak, aku pasti sangat ingin bersantai di tempat seperti ini untuk melepas penat. Seumur-umur memang rasanya tak pernah aku berlibur ke pantai. Pergi ke tempat wisata dengan tujuan semata-mata untuk liburan saja, bahkan rasanya tidak pernah. Tentu saja karena hidupku penuh dengan kesendirian, tidak punya sanak keluarga, tidak punya kekasih apalagi istri. Hidupku hanya dipenuhi kerja, kerja, dan kerja. Pemandangan indah pantai ini, membuat aku akhirnya terpikir dan teringin juga untuk berlibur menikmati alam murni, melepas diri dari belitan dunia teknologi. Namun bagaimanalah, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan urusanku saat ini. Urusan menyelamatkan Prof. Ram Ranayuda adalah urusan sangat penting yang menyangkut seluruh aspek kehidupanku. Ini menyangkut pekerjaan, karir, nasib perusahaan, harta kekayaan, dan masa lalu. Nasib keberlangsungan Korp. Masadepan berada di tanganku. Bergantung pada berhasil atau tidaknya aksiku ini. Malang sekali membayangkan perusahaan yang telah membesarkan namaku kini berada di ujung tanduk. Nasib karir dan pekerjaanku ke depan juga terancam pupus. Cerita masa laluku juga menuntut penjelasan, tentang ayah dan manusia laknat yang merenggut nyawanya. Banyak sekali beban yang kutanggung di otak, alih-alih di pundak. Semua ini membuat aku tertekan. Namun, dalam sekali hatiku yakin, demi ayah, semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula pada waktu yang seharusnya.
Beberapa menit telah berlalu dalam penantian. Maka dari kejauhan, terlihat sebuah perahu motor melaju ke arah kami. Bentuk perahu motor itu mirip dengan kapal pesiar yacht Sky Lounge, tapi ukuran lebih kecil. Aku dan Jan kompak berlari menyongsong perahu tersebut. Dalam waktu singkat, perahu motor dan kami pun bertemu di bibir pantai paling tepi. Perahu itu membawa sekitar empat sampai lima pasukan Tengkorak Hitam, mereka berpakaian persis seperti kami. Begitu tiba, aku dan sahabatku langsung melompat naik ke atas perahu. Jan naik di haluan, sementara aku naik di bagian belakang dekat deretan mesin-mesin perahu. Pasukan Tengkorak Hitam di dalam kapal itu agak terkejut melihat kami, yang mereka kira rekan mereka, tapi terlihat agak aneh dan berbeda.
Setelah aku sempurna berdiri di buritan kapal itu, tanpa ragu-ragu kucabut pistol. Dan tanpa aba-aba, Glock 17-ku menyapa mereka. Tembakan kulepaskan ke arah dalam kabin perahu, tempat orang-orang itu.
Dua kali letusan, dua orang tumbang. Dua orang yang tersisa terkejut bukan main, melotot tak percaya. Mereka segera naik pitam dan kalap, buru-buru menyambar senapan serbu M16 di bangku kapal. Tapi terlambat, peluru-peluru pistol Jan datang dari belakang, lebih dulu menembus kepala mereka. Hingga keduanya seketika tumbang dan terkapar tak berdaya. Aku menurunkan Glock 17, aku kira mereka sudah habis dan hanya tersisa aku dan Jan di atas kapal itu. Namun, ternyata masih ada satu lagi di kabin kemudi. Anggota pasukan Tengkorak Hitam yang tersisa itu tampak sedang menyambungkan sebuah alat komunikasi. Ia mencoba memanggil rekan-rekannya untuk meminta bantuan.
"Tolong! Ini darurat, kami di ...."
Dorr.
"Akhh!"
Tembakan penuh akurasi Jan tanpa ampun langsung membungkam orang itu. Si Tengkorak Hitam terakhir jatuh ke dasbor kemudi perahu, dengan kepala berdarah-darah. Perlahan-lahan berangsur meluncur turun dan tergeletak di lantai.
"Kau pandai mengemudikan kendaraan ini?" tanyaku pada Jan.
"Tenang saja, sobat, ini mudah!" jawab sahabatku itu penuh yakin.
__ADS_1
Ia tersenyum simpul sambil menyimpan pistolnya kembali. Kemudian melangkah hati-hati menuju kabin kemudi. Tubuh korbannya tadi yang tergeletak di sana disingkirkan agar tak mengganggu. Maka setelah itu, dengan lihai bagaikan profesional, Jan memainkan kemudi perahu tersebut. Yang bahkan aku tak mengerti sama sekali. Dan sesaat kemudian, kendaraan kami pun melesat menjauh dari bibir pantai. Meluncur laju membelah hamparan laut yang bagai tiada ujung. Aku segera berjalan mendekati Jan, berdiri di sampingnya. Kuteliti bagian dasbor dengan segala macam perangkat canggihnya. Mataku berhenti pada sebuah layar yang menampilkan peta besar. Titik merah berkelap-kelip di tengah laut menunjukkan posisi kami. Sepertinya Jan sudah menyambungkan koneksi perangkat dasbor kapal ini dengan gawai miliknya.
"Kita menuju ke sini," ucapnya sambil meletakkan telunjuk di atas layar, di sebuah pulau kecil.
"Pulau apa itu?"
"Aku tidak tahu namanya, tapi hanya pulau itu satu-satunya pulau di selatan Pulau Sawu," jawab Jan.
"Hmm." Aku mengangguk-angguk.
"Kita sudah jauh dari pantai, 'kan?" tanyaku sambil menoleh ke belakang. Dan aku tahu aku benar tanpa menunggu jawaban Jan, kelihatan Pulau Sawu tertinggal jauh di sana.
"Ya, sudah jauh. Perahu ini ternyata lumayan laju juga," sahut sahabatku.
"Baiklah," ucapku. Aku beranjak dari tempat semula. Menghampiri tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan di dalam kapal ini. Pertama-tama adalah tubuh si Tengkorak Hitam yang tergeletak di dekat Jan. Aku menarik paksa tubuh kaku itu. Menyeretnya sampai ke bagian belakang kapal. Maka dengan sekuat tenaga, tubuh itu kujatuhkan ke laut. Menceburlah tubuh orang malang itu, kemudian tenggelam beberapa saat sebelum naik terapung ke permukaan. Satu beres, masih ada empat tubuh lagi yang harus kularung. Satu per satu kuseret, satu per satu kujatuhkan, satu per satu mencebur dan tenggelam ke dasar laut. Dalam beberapa menit, tugasku beres. Kelima-lima anggota pasukan Tengkorak Hitam tadi, kini sudah tinggal tubuh yang terapung-apung di tengah laut. Aku tegak mematut menatap mereka yang tertinggal jauh di belakang sana. Memang terlihat kejam untuk orang seperti aku. Sejujurnya aku juga tidak suka melakukan tindakan kotor seperti ini, tapi tidak ada jalan lain yang bisa kupilih. Lagipula orang-orang ini memang orang-orang yang pantas mendapatkan balasan seperti itu. Mereka bukan orang yang pantas dikasihani. Di atas itu semua, ini juga masih tetap selaras dengan kata-kata Hadni, bahwa aku pasti punya alasan yang kuat untuk menjadi seperti ini.
Aku masih takzim berdiri di buritan perahu. Mengawasi arah belakang. Pulau Sawu kini tinggal bayang-bayang dan hampir tidak kelihatan lagi. Kami semakin menjauh. Sementara di arah kiri, matahari bersinar terik tanpa awan menghalangi. Juga tidak ada pohon atau gedung yang menjulang. Kami benar-benar dikelilingi hamparan laut. Keindahan pemandangan tentu tidak membuat aku terlena, mataku masih tajam mengawasi arah belakang. Sejauh mata memandang. Barangkali ada ancaman datang. Dan benar saja, karena tiba-tiba mataku menangkap adanya siluet yang bergerak mendekat. Sebenarnya masih terlihat jauh, tapi lama-kelamaan semakin dekat dan jelas. Seperti mengejar kami. Beberapa menit berlalu dengan aku terpaku menatap bayang-bayang aneh tersebut. Hingga pada jarak yang tepat, aku dapat melihat jelas bahwa itu adalah dua buah perahu motor cepat yang sedang mengejar kami. Jenis dan bentuknya sama persis dan perahu kami. Aku dapat melihat salah satu anggota pasukan Tengkorak Hitam berdiri di haluannya, mengangkat tinggi senapan mesin. Senapan mesin? Celaka, aku segera bangkit dan berlari masuk ke kabin. Berlindung dari serangan lawan yang semakin dekat. Gila, laju sekali perahu mereka.
"Jan, kita dikejar! Mereka mulai menembaki kita!" Aku berseru panik.
"Kau lihat itu?" Jan menunjuk bangku di sisi kabin. Di kolong bangku tersebut terletak sebuah senjata berat. Sebuah senjata granat berpeluncur roket, alias RPG. Keluaran terbaru dan mutakir. Aku seketika tersenyum paham melihat itu. Jan turut tersenyum penuh maksud.
"Kau tahu 'kan harus apa?" tanya sahabatku itu.
Aku mengangguk. Tanpa membuang waktu, aku segera menyambar senjata itu. Mengangkat dan memikulnya di bahu. Senjata ini sudah siap untuk ditembakkan dari sebelum kuambil. Satu keuntungan untukku. Aku kembali ke buritan perahu. Dengan RPG di bahuku, aku membidik perahu di depanku yang melaju ganas mengejar kami. Terutama anggota pasukan yang tegak di haluannya itu.
Dapat. Aku mengunci sasaran. Tersenyum puas. Dengan satu tarikan pelatuk, proyektil granat pun menderu meluncur deras. Aku sedikit termundur karena daya dorong senjata ini. Di depan sana, tembakanku buas mengincar sasaran. Si Tengkorak Hitam di haluan terkejutnya bukan main, tapi terlambat untuknya menyelamatkan diri.
Duarrrr, ledakan hebat terjadi saat proyektil granat menghantam badan perahu. Perahu segera terbakar dan hilang kendali. Api menjalar-jalar sampai ke belakang.
Duarr, lambung perahu meledak lagi dengan dahsyat. Menciptakan kobaran api di tengah laut. Aku tak tahu lagi bagaimana nasib orang-orang dalam kapal tersebut. Yang aku lihat hanyalah kobaran api yang menyala-nyala di tiap sisi.
__ADS_1