
Aku berlalu keluar dari ruangan Pak Roy. Sementara orang tua itu tersandar lemas tanpa mampu berkata apa-apa lagi. Begitu aku tiba di depan pintu, Jan dan Hadni langsung menyambar. Mereka sibuk sekali mengerubungi menanyai banyak hal. Tak kuhiraukan, aku langsung melenggang melewati mereka. Mereka berulang-ulang memanggilku.
"Ren, kamu mau ke mana? Jangan pergi!"
"Ren, tunggu sebentar. Aku tahu tahu kau sedang marah dan kecewa, tenangkan dirimu!"
"Ren ...."
"Renato!"
Tak satu pun panggilan mereka aku gubris. Aku bungkam dan terus melangkah saja tanpa peduli mereka mengejar dan menahan tubuhku. Aku mendatangi pintu lift dengan penuh keacuhan. Hadni memegangi lenganku, tapi aku menyentakkan melepaskan diri. Jan juga mencoba menahanku. Namun percuma, mereka tidak akan bisa melakukan apapun untuk menenangkan aku. Mereka tidak akan bisa menahan langkahku. Panggilan mereka, pertanyaan mereka, perkataan mereka, semua lewat saja di telingaku. Tidak satu pun kudengarkan. Mungkin Hadni sudah setengah menangis, tapi aku hatiku sudah keras sekali untuk iba. Jan sempat menangkap tubuhku, maka aku terpaksa berontak dengan keras dan membuat sahabatku itu jatuh terbanting ke lantai. Hadni melotot tak percaya. Aku langsung berlalu masuk ke dalam lift. Mereka tak bisa mengejarku. Jan mungkin bisa, tapi dia mengerti bahwa percuma memaksa aku.
__ADS_1
Tiba di lantai dasar, aku buru-buru menyeberangi ruangan lobi. Keluar dari bangunan kantor, disambut sepeda motorku yang sejak aku datang sudah terparkir di sana.
Aku sudah menyalakan mesin motor saat Jan dan Hadni keluar dari pintu lift. Saat mereka berlari mengejarku, aku sudah mengebut keluar dari komplek bangunan. Naik ke jalanan, sepeda motorku menderum kencang. Saat itulah, aku melesat bagai pembalap di atas sirkuit balapan. Tidak peduli dengan apapun lagi. Aku akan pergi sejauh-jauhnya. Semua kenyataan terlalu menyakitkan. Sekarang aku mengerti apa yang dirasakan Koh Shung. Sekarang aku tahu mengapa ia sampai ingin mati saja, alih-alih hidup dengan menanggung semua beban kenyataan yang terus menusuk jantung bagai rentetan jarum tanpa ujung. Aku mengerti sekali, jika dunia bekerja dengan cara seperti ini, wajar jika banyak orang yang tewas mengakhiri hidupnya sendiri. Aku mungkin lebih parah dari mereka, karena aku tak ingin hidup dan tak juga ingin mati. Hidupku penuh kejutan. Dipuncaki oleh kejutan menyakitkan yang datang dari masa lalu. Setelah dua dekade, akhirnya segala-galanya terungkap. Yang belang terpampang, yang tersuruk menyeruak. Aku dengan lantang bicara di depan ribuan orang bahwa Gerbang Masa Lalu akan mengungkap kasus yang hilang dalam sejarah. Siapa sangka akulah orang pertama yang mengalaminya. Menerima kenyataan menyakitkan yang membolak-balikkan emosi bagaikan terjangan badai. Memporakporandakan seluruh logika yang selama ini aku sangkakan. Memberikan aku syok mental dari pemutarbalikan alur kisah yang mengerikan. Aku tak tahu apa maksud Tuhan membuat hidupku seperti ini. Ingin sekali aku teriak lantang, tapi habis sudah suaraku oleh kesedihan. Tak sanggup lagi aku berbuat apa-apa. Kekecewaan telah membuat aku tenggelam. Sekarang aku kehilangan semangat hidup. Kehilangan arah ke mana aku harus berlari. Untuk siapa pula aku berlari?
Sepeda motorku menggila di sepanjang jalanan. Namun, aku tak tahu ke mana aku harus pergi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah hidup memang seperti ini?
***
Maka menjelang sore, aku tiba di bandara internasional kota. Suasananya ramai. Aku membeli tiket penerbangan. Melewati prosedur biasa. Aku punya rekan dekat yang bekerja di maskapai tersebut, aku meminta tolong padanya agar merahasiakan penerbanganku. Menyembunyikan namaku dari manifes penerbangan atau apapun caranya untuk membuat tidak ada orang yang tahu ke mana aku pergi. Tentu saja mudah, temanku itu menyanggupinya. Hingga akhirnya duduk di kursi penumpang kabin pesawat. Lantas pada jadwal yang telah ditentukan, pesawat lepas landas. Bertolak menuju langit. Terbang setinggi-tingginya. Membawa aku pergi sejauh-jauhnya. Sekilas aku dapat melihat pemandangan kota, lengkap dengan kesan menyedihkan yang kurasakan begitu menatapnya. Apa mau dikata, aku pun pergi menghilang.
***
__ADS_1
Larut malam, aku tiba di tujuanku. Sebuah pulau asing ribuan kilometer dari tanah kelahiranku, sebuah kota kecil yang baru terbentuk zaman. Meskipun tidak ada sanak keluarga di sini, tapi tempat inilah satu-satunya pilihanku untuk pergi dari kota asalku. Berharap di sini aku bisa melupakan semua luka, dan menyembuhkan segala duka. Berharap di sini aku bisa menemukan ketenangan, setelah bertahun-tahun lamanya mencari arti ketenangan yang secara ironis pada puncaknya ketenangan justru semakin hilang diganti oleh keruhnya aliran sungai kenyataan. Pahit.
Maka ke kota kecil ini aku mendarat. Sebuah tempat di mana aku menemukan sisi lain kehidupan. Di manakah? Di mana lagi kalau bukan Pulau Sawu. Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Tardamu. Bandara yang sama saat dahulu aku melaksanakan misi penyelamatan Prof. Ram. Kota yang sebelum itu tak pernah kukunjungi, tapi kini jadi pilihan terakhirku untuk menjauh dari semua hal berbau masa lalu. Dari bandara, aku bertolak ke pusat kota dengan menumpang taksi yang kupesan secara daring. Turun dari taksi, aku lanjut berjalan kaki menyusuri suasana kota malam itu. Aku berkeliling kota seorang diri tanpa satu orang pun yang aku kenali. Melihat-lihat bagaimana kota ini terlihat damai sekali. Tidak sepadat dan seramai kota asalku. Mendekati tengah malam, aku memutuskan pulang ke penginapan yang sebelumnya sudah terlebih dahulu aku pesan. Aku memaksakan diri untuk tidur, meski masih banyak bayangan yang mengerayangi pikiran. Aku berharap bisa terlelap bagai hari-hari lalu. Melupakan semua yang menyakitkan. Berharap esok pagi matahari akan membangun aku dengan larik-larik sinar yang membawa kabar baik. Aku tak tahu masih bisakah harapanku terkabul, atau semua harapan hanya harapan. Entahlah, setidaknya aku biarkan aku tidur malam ini. Sekarang aku sudah ribuan kilometer jauhkan dari rumah, tidak ada kerinduan untuk kembali. Aku mulai berpikir untuk tinggal di sini saja. Memulai hidup dari nol lagi. Mengulang semuanya dari awal. Membangun lagi segala sesuatu. Mungkin saja, tapi itu bisa kupertimbangkan esok lusa. Aku harus mengumpulkan dulu semangat hidup yang jatuh berceceran. Memungut lagi semua asa. Baru nanti kehidupan akan dimulai lagi. Meskipun hidup tetap hidup, ada beberapa persen kemungkinan untuk kembali mendapat kenyataan serupa. Karena tidak ada yang menjamin kedamaian itu bertahan. Aku mengerti. Namun, ... Ah, sudahlah. Tidur lebih baik.
***
Pagi-pagi buta aku sudah bangun. Aku tak tidur dengan nyenyak. Pagi ini aku bersiap-siap untuk datang ke suatu tempat. Yang mana merupakan tujuan utama aku datang ke kota ini. Alasan mengapa kota ini kujadikan pilihan terakhir untuk tempat pelarian.
Aku memesan taksi seperti sebelumnya. Maka pagi itu, aku berangkat dari penginapan menuju pesisir timur kota. Kawasan yang dekat dengan pelabuhan dan pantai. Perjalanannya cukup lama. Dan akhirnya aku sampai juga setelah melewati pemandangan alam khas pulau tersebut.
"Benar di sini?" tanya sang supir taksi dengan bingung saat aku memintanya meminggirkan taksi. Berhenti di depan sebuah gang kecil di antara dua gedung tinggi.
__ADS_1
"Benar," jawabku sopan. Aku beranjak keluar dari mobil dan membayar ongkos taksi. Sejenak aku berdiri di pangkal gang tersebut. Memandang jauh ke sepanjang jalannya. Kemudian baru aku melangkah menyusurinya. Menuju sisi lain kehidupan.