
Dengan mobil super mewah, seharusnya tidak akan memakan waktu lama untuk kami mencapai tujuan. Namun, hal itu hanya menjadi ekspektasi belaka karena mobil berkecepatan tinggi milik Jan tak mampu menembus macetnya kota ini. Kami terpaksa harus menunggu lama karena terjebak kemacetan yang tak bisa ditolerir lagi di jam-jam ini. Bahkan aku sempat memerhatikan satu per satu mobil yang sama-sama terjebak selama berjam-jam. Berbagai macam jenis mobil ada di sana, dari jenis mobil yang terlihat dapat kuketahui taraf hidup pemiliknya. Mulai kelas biasa, menengah, elit, dan ke atas seterusnya. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah adanya mobil mewah yang menjadi kembaran kendaraan kami. Terlihat sama persis dari depan sampai belakang. Mulai dari merek, seri, sampai warna desainnya sama persis. Serupa pinang dibelah dua. Aku tidak tahu ini kebetulan apa. Saat kutanya Jan, ia hanya menanggapi itu sebagai hal yang biasa saja. Dan yang dikatakan Jan memang benar. Ada banyak orang kaya raya di kota ini, mulai dari pejabat besar, artis papan atas, para elit, konglomerat dan sebagainya. Bukan hanya yang selevel Jan, yang levelnya di atas Jan pun banyak sekali. Tentu tidak mengherankan bila ada mobil yang sama mewahnya di tengah-tengah kami siang ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada yang lebih mewah dan lebih mahal lagi. Meskipun yang menarik perhatianku adalah kesamaan desain luarnya, tapi ya, sudahlah lupakan saja. Tak terlalu penting. Setidaknya terjebak macet membuat aku bisa sedikit bersantai dari banyak hal.
***
Setelah penantian panjang di sepanjang kemacetan jalanan, akhirnya kami tiba juga di tempat tujuan. Meskipun hari sudah berangsur sore akibat kami terlalu lama di jalan. Tak mengapa, kami tetap tidak terlambat.
Lapas kota, terletak di daerah pusat metropolitan. Tempat di mana para narapidana dari berbagai kasus menjalani masa tahanannya. Salah satu bangunan penjara yang sudah kelebihan kapasitas. Di situlah kami sekarang. Untung saja menjelang sore hari ini, kunjungan terhadap narapidana tidak ramai. Jadi, kami tidak perlu mengantre lama-lama di meja petugas keamanan. Melewati beberapa prosedur normal, pemeriksaan, dan sebagainya dengan lancar. Lagipula, jabatan Jan di kepolisian cukup memudahkan urusan kami di sini. Hingga aku dan sahabatku duduk di sebuah ruangan yang cukup sunyi. Ruangan khusus yang terpisah dari ruang kunjungan lapas biasa.
Setelah menunggu tak terlalu lama, dua orang petugas lapas masuk ke ruangan bersama seorang narapidana. Seorang tua berusia lebih enam puluh tahun yang sudah renta dan lemah di balik seragam oranye yang membalut tubuhnya. Namun, berbanding terbalik dengan itu, wajahnya terlihat begitu semringah dan bahagia saat melihat aku dan Jan.
Petugas lapas langsung keluar meninggalkan kami setelah mengantarkan sang narapidana yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Pak Roy. Mantan direktur Korp. Masadepan, ayah angkatku, ayah kandung Jan. Ia tersenyum haru menatap kepada kami berdua. Aku berdiri dari kursi dan langsung menghampiri orang tua itu. Lantas memeluknya. Benar-benar memeluknya dalam artian sebenarnya. Aku tahu aku marah. Ada sakit hati mendalam yang kurasakan. Ada kekecewaan besar yang kutanggung. Ada segumpal emosi yang meluap tentang apa yang telah diperbuat Pak Roy di masa lalu. Secara logika saja, sangat wajar jika misalnya aku membenci orang tua ini. Namun, aku tak pernah mengerti dengan perasaanku sendiri, tiba-tiba saja ada dorongan dalam diriku untuk memeluknya. Tidak tahu kenapa, dorongan itu timbul begitu saja. Ada haru, pedih, dan perasaan yang entah apa namanya bercampur di dada. Dengan hati yang hancur dan wajah yang sinis, aku justru memeluk orang tua ini. Entah mengapa. Ia pun balas merangkulku dengan erat. Aku tahu, benar-benar mengharukan dan menyentuh pula untuknya.
"Ren!" Dengan suara yang berat dan penuh haru Pak Roy berucap. "Sekarang, aku bukan lagi ingin meminta maaf. Itu terserah padamu kau memaafkan atau tidak. Kau mau benci pun, aku tidak masalah. Namun, aku lega kau datang hari ini. Aku benar-benar tidak menyangka kau sudi mengunjungiku. Terima kasih, Nak!"
Aku membisu. Benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Sampai perlahan kami saling melepaskan dekapan. Kemudian duduk berhadap-hadapan pada sebuah kursi dan meja yang disediakan di sana.
"Ya ampun, Ren," ucap Pak Roy. "Aku masih terkejut dan tidak menyangka, kau datang kemari mengunjungi aku."
"Yah, sebenarnya saya juga terkejut, mendengar berita bahwa bapak menyerahkan diri," jawabku.
"Sudah cukup aku bersembunyi selama dua dekade, Ren," jawab Pak Roy. "Aku layak mendapatkan hukuman ini."
Aku terdiam lagi.
"Oh, ya, Agen Jantoro," ucap Pak Roy pula. "Terima kasih juga telah mengunjungi saya!"
Jan tersenyum simpul. Senyuman penuh arti yang aku tahu sekali apa artinya.
"Maaf, Pak!" jawabnya sopan. "Panggil saja saya Jan."
"Oh, iya. Jan, terima kasih," ucap Pak Roy kemudian. "Dan, Ren, aku tahu tidak mungkin kau datang ke sini jika sekedar untuk mengunjungiku saja. Aku yakin ada urusan penting yang ingin kausampaikan, kalau begitu kau boleh sampaikan sekarang. Aku rasa kau tidak sudi berlama-lama bertemu denganku!"
"Sebenarnya," jelasku. "Bukan saya yang punya urusan, tapi sahabat saya ini. Jan."
"Jan?" Pak Roy mengerutkan kening sambil menatap Jan.
"Ya," jawabku. "Tadi pagi, kami berangkat ke masa lalu. Untuk mencari tahu tentang potongan kisah orang tua Jan."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, ada apa ini?" Pak Roy semakin bingung.
"Selama ini saya tinggal dengan orang tua angkat," ungkap Jan. "Saya tidak tahu siapa orang tua kandung saya. Jadi, saya meminta bantuan Ren untuk pergi ke masa lalu dan mencari tahu tentang siapa orang tua saya sebenarnya."
Pak Roy terdiam. Wajahnya semakin berkerut. Bergantian menatap aku dan Jan.
"Pak," ucapku pula dengan suara pelan. "Pasti bapak masih ingat tentang anak kandung bapak, saat tragedi kebakaran di rumah sakit itu."
"Itu ... Itu sudah lewat tiga puluh tahun yang lalu, Nak!" Pak Roy menundukkan kepala. Menghela napas.
"Nah, anak bapak sebenarnya tidak meninggal, dan tidak hilang," jelasku.
"Maksudmu?"
Aku tersenyum tawar dan menatap Jan. Jan pun berkata dengan penuh suara bergetar.
"Anak bayi itu ... saya!"
"Hah?" Pak Roy melotot. Napasnya tertahan. Wajahnya syok berat.
"Benar, Pak," tambahku. "Bayi bapak selamat, dan Jan-lah orangnya. Dengan mesin waktu, kami melihat jelas semuanya."
Jan tak menjawab lagi. Ia bangkit dari kursi dan mendekati Pak Roy. Pak Roy sendiri turut bangkit dari kedudukannya. Maka ayah dan anak ini, berpelukan erat. Seerat-eratnya. Seerat rasa rindu yang tertanam tiga puluh tahun lamanya. Pelukan penuh haru yang benar-benar menyentuh hatiku. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku, aku melihat Jan menangis. Meneteskan air mata di kedua pipinya tanpa suara. Pak Roy apalagi. Tangis haru keduanya membuat aku tak sanggup melihat dan memilih memalingkan wajah.
"Bapak ...." Dengan bercampur isak Jan berucap terbata-bata.
"Nak, ini benar kamu, Nak?"
"Bapak ...."
Mereka masih berpelukan. Semakin erat. Aku mengerti sekali. Adalah sangat mengejutkan, bagi Pak Roy yang mengira buah hatinya telah meninggal tiga puluh tahun yang lalu dan tiba-tiba sore ini ia mendapati kenyataan ini.
"Bagaimana ... bagaimana bisa ...." Pak Roy berucap dalam suara seraknya.
Perlahan Jan melepaskan dekapan itu. Dekapan penuh emosi yang tak bisa lagi dijelaskan dengan apapun. Sahabatku itu kembali duduk di kursinya. Pak Roy pun demikian. Masing-masing menyeka wajah yang telah basah oleh air mata haru.
"Ya, Tuhan," Pak Roy berucap serak. "Ini benar-benar tidak bisa dipercaya ...."
__ADS_1
"Saat kejadian itu," Jan bercerita. "Seorang dokter menyelamatkan saya. Saya berhasil diselamatkan dan dirawat di rumah dokter tersebut. Akhirnya mereka mengangkat saya menjadi anak mereka, merawat dan membesarkan saya. Hingga hari ini, keduanya sudah berpulang kepada yang Mahakuasa."
"Ya ampun, bagaimana aku mau menggambarkan kebahagiaan ini. Tuhan, aku benar-benar bersyukur. Anakku, anakku masih hidup, Tuhan!"
"Begitulah, Pak. Itulah mengapa saya dan Ren datang ke sini sore ini. Saya benar-benar tidak menyangka, tapi saya juga sangat bersyukur bahwa ayah kandung saya masih hidup."
"Anakku, siapapun orang tua angkatmu itu. Aku ingin menyampaikan terima kasih pada mereka. Aku akan mengirimkan doa-doa untuk mereka. Sebagai rasa terima kasihku, telah menyelamatkan anakku, dan menjaga, merawat, hingga membesarkannya."
Jan tersenyum haru.
"Seandainya ibu kamu masih ada," ucap Pak Roy dengan nada sedih sekali. "Dan melihat kamu tumbuh dewasa, tapi sayang, Nak. Ibu kamu sudah tiada."
Jan menghela napas panjang. "Tidak apa-apa, Pak. Saya sadar, harus menerima segala keadaan dengan besar hati. Setidaknya saya masih punya bapak."
"Sedih sekali aku mengingatnya," ucap Pak Roy. "Ibu kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal. Menyedihkan, menyadari bahwa seumur hidupnya ia hanya tahu bahwa anaknya meninggal saat bayi. Tanpa ia ketahui, bahwa anaknya sebenarnya masih hidup."
"Memang benar, Pak," jawab Jan. "Tapi kita harus berlapang hati, menerima semua ketetapan Tuhan. Seperti halnya saya menerima keadaan bapak saat ini."
"Maafkan aku, Nak. Ayahmu ini hanya orang tua bodoh yang terlalu berambisi, hingga salah langkah dan menyesal seumur hidup. Lihatlah kini, mendekam di penjara. Aku harap kau tidak malu punya ayah seorang ... pembunuh."
"Justru saya malu jika ayah saya tidak bertanggung jawab," ucap Jan.
"Maaf," Seorang petugas lapas muncul dari balik pintu. "Waktu kunjungan sudah selesai."
"Baik, Pak," Ayah Jan menatap sopan pada petugas tersebut.
Petugas lain datang dan masuk menjemput Pak Roy. Dengan sopan menyampaikan pada kami bahwa Pak Roy harus kembali ke ruang tahanan. Sebelum dibawa, Pak Roy menatap kami penuh haru.
"Sampai di sini pertemuan kita hari ini, Nak!" ucapnya. "Terima kasih telah membawakan aku kabar gembira ini. Setelah ini, hari-hariku di sini akan dipenuhi kebahagiaan, kelegaan, dan rasa syukur. Untukmu, Ren, terima kasih telah mengunjungiku, terima kasih telah menemukan anak kandungku. Kamu juga anakku. Kalian berdua adalah anak-anakku. Terima kasih banyak, Nak. Sekarang aku bisa tenang."
Aku tersenyum tawar. Jan tersenyum haru. Kemudian Pak Roy pun dibawa keluar oleh dua petugas lapas tadi.
"Ren," Jan bangkit dari kedudukannya. "Terima kasih banyak atas semua bantuanmu, sekarang aku bisa tenang."
Aku menghela napas panjang. "Terima kasih kembali untukmu, sobat. Kau telah memberikan aku banyak pelajaran berharga. Juga, sekarang aku bisa tenang."
***
__ADS_1
Menjelang senja, kami berlalu meninggalkan bangunan lapas tersebut. Melaju di jalanan menuju pulang. Urusan orang tua Jan telah selesai. Cerita yang penuh dengan kejutan, ketidakpercayaan, dan kenyataan mengharukan dengan jalan yang kompleks. Namun, semuanya berakhir dengan sempurna. Sekarang kami bisa tenang.
Maka urusanku selanjutnya adalah, direktur perusahaan.