Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Alasan Sempurna Untuk Jatuh Cinta


__ADS_3

Hadirin hening. Puluhan pasang mata fokus menatapku. Maka aku melanjutkan pidatoku.


"Teman-teman sekalian, mungkin pidato saya adalah kabar menyedihkan untuk kita semua. Namun, tenang saja, karena saya punya kabar gembira untuk anda semua. Karena saya yakin, untuk anda yang mengenal saya, ini adalah kabar gembira. Saya tidak akan menyampaikannya langsung, tapi nanti anda akan mengerti sendiri."


Jeda sejenak.


"Tapi sebelum itu, bolehkan saya minta kesediaannya, Nona Hadni, untuk naik ke atas panggung."


Hadirin bersorak. Hadni sendiri terlihat tersipu malu, dengan ragu-ragu dan bingung ia naik ke atas panggung. Karena kantor mengadakan acara, staf yang hadir tidak mengenakan pakaian formal, melainkan setelan rapi seperti dalam acara besar. Hadni sendiri terlihat anggun dan menawan di dalam balutan gaun putih. Ia kini berdiri di atas panggung bersamaku.


"Teman-teman sekalian, inilah dia, Hadni Runisti. Sekretaris saya yang paling penyabar, serba bisa, profesional, dan sempurna."


Hadirin bertepuk tangan riuh. Sementara Hadni, kuperhatikan wajahnya tersipu malu dan salah tingkah. Merasa sedih atas perpisahanku, tapi di sisi lain merasa bangga bercampur haru.


"Mungkin anda semua bertanya, mengapa saya meminta Hadni untuk naik ke atas panggung bersama saya. Jawabannya adalah, saya ingin menyampaikan beberapa ucapan terima kasih sebelum saya meninggalkan perusahaan ini, yang khusus kepada Hadni. Hadni adalah orang yang paling berpengaruh di balik kesuksesan karir saya, profesionalitasnya bekerja telah membantu saya dalam banyak hal. Hadni pantas untuk mendapat penghargaan terhormat, itulah mengapa saya memintanya untuk naik ke atas panggung."


Aku melepaskan mikrofon dari stand mic-nya. Kemudian berputar menghadap ke arah Hadni. Melirik matanya dengan serius. Mata kami bertemu, membuatnya tersenyum malu. Menampilkan senyum khasnya yang semanis senyum ibuku.


"Nona Hadni Runisti," mulaiku. "Mungkin ini akan terdengar personal. Aku ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya, karena kamu telah mendampingi aku dalam seluruh pekerjaanku. Kamu adalah wanita yang luar biasa sabar yang pernah aku temui, terlihat dari bagaimana sabarnya dirimu yang menghadapi aku saat dulu aku acuh tak acuh. Kamu adalah wanita yang perhatian, meski dulu tak pernah aku pedulikan. Kamu tak pernah menyimpan sakit hati atau dendam, padahal aku dulu kasar. Kamu mampu tulus dan iklas mengerjakan pekerjaanmu, termasuk memerhatikan aku."


Hadirin hening. Fokus mendengarkan kata per kata yang keluar dari mulutku. Sementara Hadni, tertunduk malu dipuji demikian rupa.


"Hadni Runisti. Dahulu, aku adalah laki-laki yang benci akan cinta. Bertahun-tahun hidup seorang diri, menghindari wanita dan sama sekali tak terbesit untuk menjalin hubungan. Aku adalah laki-laki yang anti pada asmara, terbakar oleh amarah masa lalu, tentang benci, trauma, dan penyesalan telah membawa aku menjadi laki-laki yang terbang seorang diri tanpa arah. Bertahun-tahun lamanya aku benci akan cinta, aku tak percaya adanya ketulusan dalam rasa. Aku menolak untuk percaya bahwa cinta sejati itu nyata. Hingga suatu ketika, kamu menyadarkan aku. Kamu membuat aku sadar masih ada ketulusan yang tersisa. Kamu mengajarkan aku bahwa cinta adalah memperlakukan orang lain sebaik mungkin, tanpa mengharap timbal balik. Kamu mengajarkan aku tentang arti bahagia secara sederhana, cukup dengan mengetahui bahwa orang yang kita cintai itu bahagia, fisiknya dan hatinya."


Hadirin seketika bersorak riuh. Termasuk Jan di baris paling depan.


"Nona Hadni Runisti," Aku mengulangi gaya yang sama. "Dulu aku takut sekali menjalin hubungan. Gagalnya hubungan di masa lalu membuat aku jera, dan enggan mengulanginya. Aku tak percaya wanita mana pun lagi, memilih hidup sendiri dan menjauhi mereka yang datang mendekat. Aku takut, aku takut ketika hubungan itu terjalin, yang terjadi adalah masalah. Pertengkaran, perdebatan, dan berakhir pada perpisahan lagi. Aku takut akan hal itu. Sampai akhirnya, dari ayahku sendiri aku belajar pelajaran berharga. Bahwa jalan terbaik dari segala kenyataan pahit, adalah iklash dan bersabar. Apapun kata takdir, kita tak bisa protes. Selama ini aku salah, aku memaksakan kehendak dan menomorsatukan ego, sehingga hubungan itu tak dapat diselamatkan. Akan tetapi, ayahku sendiri telah memberikan pelajaran, bahwa pertengkaran dalam hubungan adalah hal wajar, jika mampu bersikap bijak. Ayah telah membuat aku berani untuk menjalin hubungan lagi. Aku sudah belajar dari ayahku sendiri."


Hadirin semakin riuh dan bersorak sorai.


"Hadni Runisti. Dahulu aku sering merasa aneh menatap senyumanmu. Mengapa aku merasakan suatu sensasi berbeda? Aku merasa begitu damai dan tenang. Senyumanmu manis, raut tulus yang menawan telah meluluhkan kerasnya hatiku. Sampai akhirnya aku tahu, bahwa senyumanmu persis seperti senyuman ibuku. Jadi, Hadni, setiap kali kamu tersenyum, kamu akan selalu mengingatkanku pada ibu. Sebuah alasan yang sempurna untuk jatuh cinta. Selama ini aku merindukan sosok ibuku, dan sekarang sosok itu dapat kutemui dalam dirimu. Senyum yang manis, cinta yang tulus, sabar selalu perhatian, dan kasih sayang yang tiada batas. Kamu persis seperti ibuku. Lagi, sebuah alasan yang sempurna untuk jatuh cinta."


Aku dapat melihat pipi Hadni yang memerah karena tersipu malu. Ia tak dapat menahan senyum bahagianya. Begitu manisnya.


"Hadni Runisti. Aku beritahukan, bahwa aku sudah berubah. Aku bukan lagi Renato yang benci akan cinta. Aku bukan lagi Renato yang enggan menjalin hubungan. Aku bukan lagi Renato yang acuh tak acuh. Aku sudah berubah, dan kamu adalah faktor nomor satu mengapa aku berubah. Ketulusanmu mencintai, telah sukses merubah pola pikirku. Sekarang, aku tak lagi benci akan cinta. Karena sekarang, setelah bertahun-tahun lamanya, aku kembali merasakan cinta. Aku jatuh cinta, Hadni."


Hadirin bersorak tak tertahankan. Aku dapat mendengar suara Jan di tengah gemuruh itu.


"Jan, sahabatku pernah bertanya. Kapan aku akan berubah? Sampai kapan aku terus seperti ini? Terus bekerja sepanjang hari sepanjang bulan, tapi untuk siapa? Untuk apa? Aku bekerja dan aku semakin kaya, tapi untuk siapa? Aku hidup mewah, apapun yang aku inginkan bisa kudapatkan, tapi tak pernah mendapat ketenangan sempurna. Aku sadar, yang aku butuhkan adalah keluarga. Namun bagaimana aku mendapatkannya? Ayahku sudah tiada, ibuku sudah tiada. Aku sebatang kara, hidup tanpa tujuan dan berlari tanpa arah. Jadi, hari ini kutetapkan dan aku tegaskan agar jelas hidupku untuk apa. Aku berjuang untuk siapa. Ayahku memang sudah tiada, ibuku memang sudah tiada, tapi kupastikan mereka akan bangga jika mereka melihatku kini. Hari ini aku tak lagi ragu, aku sudah temukan jalan hidupku yang baru. Sekarang aku tahu, aku berjuang untuk siapa. Yaitu, untukmu, Hadni."


Hadirin bersorak heboh tak terbendung. Mereka semua antusiasnya bukan main. Histeris sepanjang perkataanku. Seperti sedang menonton drama luar negeri.

__ADS_1


"Jadi, atas semua yang telah aku sampaikan tadi, Nona!" ucapku.


Aku berlutut di hadapan gadis yang aku cintai itu. Merogoh kantong, mengeluarkan sebuah kotak kecil merah. Membukanya, memperlihatkan sebuah cincin emas yang berkilau ditimpa cahaya.


"Hadni Runisti, will you marry me?"


Seketika itu teriakan hadirin yang menyaksikan sampai pada puncaknya. Betapa histerisnya mereka semua, melihat acara serah terima jabatan ini berubah menjadi acara perpisahan dan tiba-tiba berubah lagi menjadi acara melamar. Aku berhasil mempermainkan emosi seluruh hadirin dalam ruangan ini.


Hadni tertunduk diam. Tersipu dan malu luar biasa. Mata kami bertemu, tatapannya benar-benar membuat aku terpana. Itulah yang selama ini aku rasa, cinta.


"Hadni, kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Aku ... Aku tidak menyangka, akan ... akan seperti ini," Hadni terbata-bata. Ia gugup, grogi, dan salah tingkah sepanjang pidatoku.


"Hadni Runisti," ucapku. "Tolong jawab pertanyaanku. Pertama-tama aku sampaikan, aku bukan lagi direktur Korp. Masadepan. Bukan juga Ketua Timsus Anti-Konflik. Bukan juga orang kaya, harta kekayaanku sudah habis kusumbangkan. Sekarang aku hanya laki-laki sederhana yang tinggal di pinggir pantai, di rumah yang juga sederhana. Aku bukan orang kaya lagi, Hadni."


"Aku 'kan pernah bilang," jawab Hadni. "Sekalipun kamu jatuh miskin, aku masih bersedia untuk mendampingi."


Penonton sontak berteriak histeris.


"So, will you marry me?" tanyaku sekali lagi, memastikan dan menunggu jawaban "yes" darinya.


"Sure, i will." Hadni tersenyum dengan senyuman paling manisnya.


"Terima kasih, Hadni!"


***


Begitulah acara pagi itu. Di mana akhirnya aku mengungkapkan perasaanku dan melamar Hadni. Hari paling bersejarah di mana Renato yang terkenal anti asmara telah berubah sedemikian rupa dan akhirnya menikah. Hari itu juga kami melangsungkan akad. Aku sendiri tak pernah menyangka hari itu akan terjadi. Aku tak pernah sekalipun berpikir jalanku seperti ini. Namun, takdir membawaku sampai pada hari itu, di mana kerasnya hati dan ego yang berkuasa akhirnya luluh dan takluk pada ketulusan. Dua tahun lamanya hatiku beku akan cinta, kini mencair.


Setelah menyelesaikan urusan Jan, Pak Roy, dan pergantian direktur saat itu, aku mulai merencanakan segalanya. Dan hari perpisahanku dengan Korp. Masadepan menjadi momentum yang sempurna. Maka terlaksanalah rencanaku itu, di depan seluruh karyawan, staf, sahabatku, bahkan Pak Roy, aku menegaskan bahwa aku berubah. Dengan melamar Hadni.


Dan hari ini adalah acara resepsi pernikahan kami. Digelar sederhana di tepi pantai. Berlokasi dekat dengan rumah kediamanku. Aku sengaja memilih lokasi pantai, jadi aku akan bersanding dengan Hadni di pelaminan sambil menatap pemandangan laut yang indah. Sempurna.


Resepsi pernikahanku ini sebenarnya tidak diadakan secara mewah dan besar-besaran, hanya saja dihadiri oleh orang-orang kelas atas. Yang pastinya ada dua Chevrolet Camaro ZL1 yang datang ke sini, milik Jan dan milik Pak Roy tentu saja. Hampir semua tamu yang datang mengungkapkan ketidakpercayaan atas berita ini. Mereka juga menunjukkan sukacita, betapa leganya mendengar akhirnya aku menikah. Salah satunya dan yang paling utama, adalah sahabatku yang turut berperan besar dalam proses perubahan diriku ini, yakni Jantoro.


"Sumpah, Ren, aku senang sekali!" ucapnya begitu ia dan istrinya naik ke pelaminan untuk menyalami aku dan Hadni.


"Ini adalah hari paling bahagia untukku, Ren." lanjutnya. "Ini adalah hari paling berharga, paling penting, paling bersejarah, dan paling aku tunggu-tunggu. Sudah bertahun-tahun lamanya aku menantikan hari ini, akhirnya sahabatku menikah. Wah, gila, bagaimana aku menggambar perasaanku!"


"Tentu saja, sobat," jawabku. "Terima kasih telah memotivasi aku. Kau juga berperan besar atas terciptanya hari ini."

__ADS_1


"Ren, aku benar-benar bangga. Kau berani mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari Korp. Masadepan. Dan aku juga salut sekali, kau benar-benar cerdas dan sukses memberikan kejutan besar untuk kami semua hari itu."


Aku tertawa.


"Renato, temanku sejak SMA," ucap Fitri. "Kamu itu dari dulu memang tak pernah berubah, selalu saja misterius dan suka membuat kejutan dengan langkah yang terduga."


Aku tersenyum menanggapi kata-kata istri Jan itu.


"Selamat ya," ucapnya pula. "Semoga pernikahan ini diberkahi dan hubungan kalian abadi sampai usia tua."


"Aamiin, terima kasih, Fit!" jawabku.


"Terima kasih, Kak Fitri!" ucap Hadni pula. "Kak Fitri mengandung, ya? Sudah berapa bulan?"


"Iya, sudah tiga bulan lebih," jawab Fitri dengan ramah.


"Oh, iya, Ren!" ucap Jan. "Aku baru ingat, sekarang 'kan kau sudah menikah. Jadi, sudah pasti nanti akan ada Renato Junior, aku tidak sabar menantikannnya."


"Ya, aku juga tidak sabar menantikan Jantoro Junior," balasku.


"Tunggu sebentar," sela Hadni. "Kita 'kan belum tahu anak kita nanti laki-laki atau perempuan."


"Eh, benar juga kamu!" ucapku.


"Aku punya ide," ucap Jan. "Saat anak kita lahir nanti, dan jenis kelaminnya beda, misalnya anak kami laki-laki dan anak kalian perempuan ataupun sebaliknya, bagaimana kalau kita jodohkan saja?"


"Wah, ide bagus tuh," sambutku. "Aku setuju sekali. Bagaimana menurut kamu, Hadni?"


"Ya, aku setuju saja, tapi nanti tergantung mereka juga bagaimana," jawab istriku.


"Iya," tambah Fitri. "Setuju, tapi lihat juga nanti bagaimana anak kita ketika tumbuh besar. Kita tidak mungkin memaksakan kehendak."


"Lagipula, itu 'kan kalau jenis kelaminnya beda," ucap Hadni. "Kalau sama. Sama-sama perempuan misalnya, aku mau anak kita jadi koki."


"Setuju, Kak," sambut Fitri. "Kalau perlu anak kita nanti satu sekolah, satu universitas dan jadi koki sampai punya restoran sendiri."


Setelah itu, Hadni dan Fitri tampak tertawa riang. Sementara aku dan Jan bertatapan dengan bingung. Kami memikirkan hal yang berbeda dengan apa yang dipikirkan istri kami.


"Itu 'kan kalau sama-sama perempuan," celetuk Jan.


"Kalau sama-sama laki-laki?" tanya Hadni dan Fitri kompak.

__ADS_1


Aku dan Jan saling bertatapan dan tersenyum penuh arti. Kemudian menjawab kompak, "Mereka akan jadi agen rahasia kepolisian paling elit."


Lantas kami melakukan tos tangan diiringi tawa tergelak-gelak.


__ADS_2