
Begitu sepeda motorku sampai di pekarangan rumah. Aku memasukkan perintah suara untuk membuka pintu garasi. Maka pintu garasi pun terbuka.
Sepeda motor aku masukkan ke dalam garasi. Begitu sepeda motor sudah terparkir rapi, pintu garasi tertutup dengan sendirinya.
Aku segera menuju ruang tengah. Melangkah hampa tanpa semangat. Membawa pulang rasa kesal dan rasa kecewa. Saat aku menginjakkan kaki di dalam ruangan itu, ada sistem sensor otomatis yang mengetahui kehadiranku.
"Selamat datang kembali, Tuan Renato. Bagaimana hari anda?"
Aku tak menjawab sapaan itu. Aku tak peduli. Aku terus menuju kamarku di seberang ruangan. Rumah ini benar-benar sepi dan sunyi. Namun, justru inilah yang aku butuhkan.
Banyak sistem otomatis yang bekerja di rumahku ini. Salah satunya adalah pintu kamar yang terbuka otomatis saat aku berdiri di depannya. Aku melangkah pelan-pelan. Kemudian pintu itu tertutup lagi begitu aku masuk.
Tidak ada hal apapun yang bersemangat untuk kulakukan, maka aku mengempaskan badan ke atas tempat tidur. Terbaring lemas dengan perasaan hancur. Terkenang kenangan menyakitkan dua dekade yang lalu. Hanyut dalam kesedihan. Aku membenamkan wajah ke permukaan bantal. Tubuhku tergeletak di sana seperti tak berdaya. Lama sekali. Dengan setelan kerja yang enggan aku ganti.
Aku bangkit sebentar, memandang kosong ke arah jendela yang membawa masuk sinar matahari. Aku beranjak untuk menutupnya rapat-rapat. Kamarku kontan menjadi gelap, sebelum akhirnya menjadi terang lagi saat lampu ruangan menyala otomatis. Meski tidak lama, karena lampu itupun kemudian aku matikan. Sehingga kamarku benar-benar menjadi gelap. Tersisa layar SOD-32 yang menyala di tembok, menjadi satu-satunya cahaya yang ada.
"Dhen, aktifkan sistem keamanan tinggi di setiap bagian rumah!"
"Sistem keamanan ditingkatkan!"
"Tutup semua jalan masuk. Tolak semua permintaan tamu!"
"Melaksanakan arahan!"
"Matikan semua lampu ruangan, nonaktifkan semua perangkat yang tidak penting. Aktifkan mode hemat daya listrik!"
"Melaksanakan arahan!"
"Blokir semua panggilan telepon masuk dari siapapun, tanpa pengecualian!"
"Memblokir!"
"Ganti status semua jejaring media sosial menjadi luring!"
"Mengganti!"
"Matikan aliran data yang terhubung ke kantor pusat Korp. Masadepan!"
"Perhatian, mematikan aliran data akan mengakibatkan putusnya informasi, pembaruan terkini, serta agenda dari kantor. Konfirmasi?"
"Konfirmasi!"
"Terkonfirmasi!"
Aku berhenti. Merebahkan kembali tubuhku yang penat oleh duka. Memejamkan mata berharap semua ini cepat berlalu. Namun, tetap saja aku tak sanggup melawan hati, rasa kecewa ini mengalir dalam-dalam.
"Perhatian, rumah telah dikunci total dan terputus akses dari dunia luar. Disarankan menetapkan pengecualian untuk orang-orang tertentu!"
Aku menatap malas ke arah layar itu.
"Tidak ada pengecualian! Tolak semua panggilan, tinggalkan pesan suara untuk setiap orang yang membunyikan bel bahwa aku tidak ingin diganggu."
"Menyiapkan!"
Ruangan itu sudah gelap sejak tadi. Aku pun kembali membenamkan wajah ke dalam bantal. Membenamkan pikiran. Mencoba untuk melupakan segala hal selama jangka waktu yang tidak aku tentukan. Inilah kebiasaanku sejak kecil yang tak pernah berubah sampai kini. Ketika aku bersedih, terlebih lagi kesedihan mendalam, aku akan mengurung diri dalam kamar lama sekali. Tidak ingin diganggu siapapun. Tidak perlu siapa-siapa untuk menghibur. Aku hanya perlu sendiri. Dengan semua perintah yang aku sampaikan pada Dhen, maka tidak ada siapapun yang bisa menghubungi atau mengunjungi aku di sini. Semua panggilan telepon akan otomatis diblokir. Pagar dan pintu rumah dikunci. Setiap ada orang yang datang dan membunyikan bel, sistem otomatis akan membunyikan pesan suara bahwa aku sedang tak bisa menerima tamu, siapapun. Jadi, sempurna aku akan sendirian di sini. Sampai kesedihanku hilang.
***
Aku mengurung diri lama sekali. Lama sekali tak melakukan apapun. Tidak berangkat ke kantor, melupakan semua agenda pekerjaanku. Tidak melakukan aktivitas apa-apa di rumah. Tidak mandi. Tidak berganti baju. Bahkan juga tidak makan. Jangankan keluar rumah, keluar kamar pun tidak. Itu berlangsung selama berhari-hari.
Pada pagi yang entah ke berapa, aku terbangun dengan tubuh lemas sekali. Lemah dan tak berdaya. Bangkit dari tempat tidur saja rasanya aku tak sanggup. Lemas sekali, entah berapa hari lamanya aku tidak makan. Rambutku kusut, wajahku juga. Badanku benar-benar tidak bertenaga. Bahkan aku masih mengenakan setelan kerja kemarin.
Setelah bersusah payah, akhirnya aku berhasil bangkit berdiri. Ruangan itu masih gelap gulita. Setelah berhasil bangkit aku tak serta merta langsung berjalan. Lama sekali aku berdiri untuk mengumpulkan tenaga. Tetap saja diriku lemas dan ringkuh. Aku melepas jasku dan melemparnya sembarangan. Kemudian melepaskan kemejaku. Menyisakan kaus dalam.
"Perhatian, penguncian rumah dan pemutusan akses berlangsung terlalu lama, sistem otomatis telah mengembalikan akses seperti semula dan semua penutupan kembali dibuka karena alasan keamanan."
Setelah itu lampu-lampu menyala dan seantero ruangan menjadi terang benderang. Aku baru teringat, penguncian semua sistem yang aku lakukan tidak boleh terlalu lama. Sistemnya diprogram untuk kembali ke pengaturan awal jika telah melampaui waktu cukup lama. Namun, aku tidak peduli. Aku tak sempat memikirkan itu. Dengan terhuyung-huyung aku melangkah menuju kamar mandi.
Aku menatap wajahku sendiri di cermin. Kusut sekali. Kemudian aku membasuh wajah. Setelah itu kembali terpaku di depan cermin menatap wajah sendiri. Kali ini sudah terlihat lebih segar daripada tadi. Aku mengusap rambut kemudian melangkah keluar. Keluar dari kamar, kemudian menuju ruang tengah. Melangkah dengan hati-hati karena tubuh yang masih lemah. Melangkah hampa tanpa tujuan dan semangat.
"Laporan, seseorang berada di depan pagar, membunyikan bel beberapa kali. Menunggu izin untuk membukakan pagar!"
Aku berpikir lama sekali. Jendela-jendela dan pintu semua masih tertutup. Aku tak bisa melihat keluar, tidak tahu entah siapa yang ada di depan sana.
Aku memaksakan diri berjalan ke depan pintu kemudian membukanya lebar-lebar. Cahaya terang milik matahari menerobos masuk menyilaukan mata. Menerangi ruang tamu. Beberapa meter di depan, pagar masih tertutup. Namun, dari celah-celah logam itu aku dapat melihat sosok seorang gadis berdiri menunggu. Hadni, sekretarisku di kantor. Gadis itu, mau apa dia datang ke sini?
__ADS_1
Aku tertegun lama di depan pintu. Berpikir dan menimbang harus berbuat apa. Aku malas sekali harus berurusan dengannya, tapi tidak mungkin pula aku mengusirnya.
"Ren! Apakah kamu ada di sana?" Hadni berulang-ulang memanggilku.
Aku tetap tertegun. Badanku lemas, tak bertenaga, tambah lagi kebingungan.
"Maaf, Tuan Renato! Disarankan untuk mempersilakan dia masuk!"
"Tapi, Dhen, dia itu ...."
"Namanya Hadni Runisti." potong Dhen tiba-tiba. "Sekretaris Timsus Anti-Konflik di Korp. Masadepan. Tinggal di kompleks perumahan Melati Indah. Data menunjukkan tidak ada catatan kriminal, dia orang baik-baik. Terverifikasi bukan ancaman. Konfirmasi untuk mendapatkan informasi lebih rinci?"
"Aku tahu itu, Dhen! Aku kenal dia!" tukasku sebal. Sistem kecerdasan buatan ini adalah buatan manusia, tapi tidak akan persis seperti manusia. Selalu ada kekurangannya. Padahal yang tadi ingin aku katakan adalah dia itu wanita dan aku tidak senang berurusan dengannya. Kecerdasan buatan tetap kecerdasan buatan, ia hanya menjalankan program yang diciptakan penciptanya.
"Tapi dia itu gadis muda, Tuan! Belum memiliki pasangan, sama seperti anda! Bukankah itu hal yang baik? Tentu anda mengerti maksud saya?"
Astaga, apa-apaan ini? Kenapa Dhen ikut-ikutan menjadi seperti orang-orang. Aku tercengang sambil menggaruk kepala. Aku tahu sistem kecerdasan buatan ini juga diprogram untuk menjadi asisten pribadi dengan fitur-fitur lengkap dan bisa diajak mengobrol seperti halnya seorang teman. Namun, aku tidak tahu ternyata Dhen diprogram sampai seperti itu.
"Ren ... Ren! Kamu mendengarku?" Hadni masih berdiri di depan sana dan memanggil-manggilku.
Akhirnya mau tak mau dengan berat hati aku melangkah menuju pagar depan itu. Melangkah pelan sekali seperti orang mabuk.
"Semoga berhasil, Tuan!" Terdengar suara Dhen dari dalam rumah. Membuat aku langsung terhenti dari langkahku. Menatap ke arah belakang dengan sebal dan heran. Apa-apaan maksudnya itu?
"Jangan ikut campur urusan manusia, Dhen!" celetukku dengan acuh lalu lanjut melangkah. Pagar langsung bergeser dan terbuka otomatis begitu aku sampai. Hadni tersenyum lebar menyambutku. Sementara aku memasang wajah yang terlipat.
"Ren?" ucap Hadni dengan heran. Ia tampak prihatin melihat wajahku. "Kamu kenapa?"
"Silakan!" ucapku. Dengan tak acuh aku kembali menuju ke ruang tamu. Hadni berjalan di belakangku. Dengan tubuh yang lemas itu, berjalan dari depan pagar ke ruang tamu terasa jauh sekali. Aku langsung melemaskan tubuh ke atas sofa begitu tiba. Hadni duduk di depanku setelah meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja.
"Kamu terlihat pucat sekali, Ren? Apa yang terjadi?" tanya Hadni. Ia bergeser ke dekatku. Aku bergeser agak menjauh.
"Sudah berapa hari aku tidak masuk kantor?" tanyaku. Mengabaikan pertanyaannya.
Hadni mengerutkan kening. Kemudian menjawab, "Tiga hari, Ren! Sudah tiga hari kamu tidak masuk kantor, tidak bisa dihubungi, tidak bisa ditelepon. Media sosialmu juga mati semuanya. Aku sudah datang ke sini untuk menjengukmu, tapi rumah ini dikunci oleh sistem keamanan. Untungnya pagi ini kelihatannya sudah dibuka, jadi aku menunggumu di luar. Aku khawatir sekali, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Berarti sudah tiga hari aku tidak makan," jawabku sambil menyandarkan punggung ke sofa. Menghela napas.
"Ya ampun, Ren! Kamu bisa sakit, pantas wajahmu pucat sekali. Ini, aku membawakannya untukmu, makanlah!" Gadis itu menyodorkan kantong plastik yang tadi diletakkannya di meja. Ternyata itu adalah makanan yang dibawakannya untukku.
"Ren, kumohon, makanlah! Nanti kamu bisa sakit, jangan seperti itu!"
Aku tidak suka melihat wajah memohon seperti itu. Apalagi dia seorang wanita. Aku benci mengakuinya, tapi dia terlihat menawan. Mau tak mau aku pun menuruti kehendaknya. Aku mulai meraih kantong plastik itu. Kemudian aku beranjak dari kedudukan dengan niat mengambil piring ke dapur, tapi gadis itu langsung menahanku.
"Katakan kamu perlu apa, biar kuambilkan!" ucapnya. Dengan lembut ia memegang lenganku dan menuntunku kembali duduk. Aku tidak senang dalam situasi seperti ini, tapi tubuhku yang lemah tak berdaya membuatku tak bisa apa-apa. Belum lagi aku menjawab, gadis itu sudah bergegas menuju dapur.
"Biarkan kuambilkan piring untukmu, kamu tunggu saja di situ! Kamu harus makan, Ren!" ucapnya.
Apa-apaan ini? Ini rumahku. Kenapa dia yang mengatur? Aku mengerutkan kening dengan sebal. Namun, aku harus mengakui, dia benar-benar membantuku yang lemah ini.
Tak lama kemudian, gadis ini kembali dari dapur membawakan piring, sendok, dan segelas air. Aku tak mau banyak bicara. Segeralah aku menyantap makanan yang dibawakannya itu. Dan entah mengapa, Hadni dengan sabar menunggu aku selesai makan. Ia terlihat senang sekali.
Begitu aku selesai makan. Barulah ia kembali mengajakku mengobrol.
"Jadi, Ren? Sebenarnya apa yang terjadi? Pak Roy bilang kamu sedang bersedih sehingga mengurung diri dan tak ingin diganggu!"
"Ya," jawabku dengan nada yang terdengar acuh tak acuh. "Aku sedang bersedih, ada kesedihan dari masa lalu."
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Maksudku, keadaan hatimu?"
Aku menatapnya dengan heran. Kemudian menjawab, "Sudah lebih baik dibanding kemarin!"
"Maukah kamu bercerita padaku?" tanyanya dengan hati-hati. Sepertinya takut sekali menyinggung perasaanku.
"Ayahku meninggal dua dekade yang lalu," jawabku dengan nada bergetar. Aku berbicara tanpa memandang lawan bicaraku. Aku hanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Turut berduka, Ren!"
"Yang aku tahu, ayah meninggal karena kecelakaan mobil. Akan tetapi, ternyata, beberapa hari yang lalu baru aku ketahui ternyata ayahku dibunuh, dan pembunuhnya tidak diketahui sampai sekarang." Aku bercerita dengan sebisa mungkin meringkas. Sebenarnya aku enggan sekali bercerita, terlebih lagi pada seseorang wanita. Namun, mau bagaimana lagi, aku sudah terjebak dalam situasi ini.
"Turut berduka, Ren. Semoga kamu tabah!" ucap Hadni. Ia mengusap-usap bahuku, mencoba menghibur. Namun, melihat wajahku yang merasa tidak nyaman, ia menarik balik tangannya.
"Mungkin nanti siang aku akan mulai bekerja lagi!"
"Jangan, Ren! Kamu masih lemah, kamu masih perlu istirahat. Sebaiknya jangan bekerja dulu!" ucap Hadni dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi mengatur-atur hidupku?" tanyaku dengan ketus. Kali ini aku benar-benar menatapnya, tapi dengan sebal.
"Bukan begitu, Ren!" jawab Hadni. "Tapi kamu masih terlihat lemah, masih pucat. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu!"
Aku terdiam. Menatap wajah gadis itu dengan tajam. Sementara dirinya hanya sedikit terkejut melihat ekspresi wajahku. Aku lama sekali menatapnya dengan wajah seakan marah itu. Namun, dia malah tersenyum polos menanggapi.
"Sebenarnya kau kenapa, Hadni?" tanyaku.
"Maksudnya?"
"Apakah mengkhawatirkan aku, memperhatikan aku, juga termasuk tugasmu sebagai sekretaris?" tanyaku.
Hadni tertunduk mendengar itu. Aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku yakin raut wajahnya berubah. Cukup lama ia terdiam, berpikir, seperti memaksakan diri untuk berani. Barulah ia berucap lagi.
"Maaf, Ren! Mungkin seharusnya aku sudah sampaikan padamu sejak lama,"
Aku mengerutkan kening.
"Kumohon kamu jangan marah padaku, sebenarnya aku ... aku suka padamu, Ren!" Hadni berkata begitu sambil kembali menatapku. Wajahnya memperlihatkan ketulusan. Sementara aku tercengang.
Lama kami saling tatap seperti itu. Hadni dengan wajah yang harap-harap cemas. Aku dengan wajah yang heran dan tak percaya.
"Hadni," ucapku akhirnya. "Seharusnya kau jangan suka atau cinta padaku! Aku hanya akan menyakitimu, Hadni. Aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa, tolonglah jangan berharap lebih! Aku berbeda dengan laki-laki di luar sana."
Wajah Hadni terlihat meredup. Ia berkata, "Kita tidak bisa mengatur perasaan, Ren! Kamu tahu itu, bukankah rasa itu tidak akan pergi dan tak bisa dihilangkan kecuali ia yang hilang sendiri? Demikian pula, rasa itu tidak bisa dimunculkan dan didatangkan kecuali ia yang datang sendiri."
Aku terdiam. Dia benar, dan aku mengerti sekali. Situasi ini benar-benar sulit.
"Tapi selama ini aku tak pernah menghargaimu, aku selalu acuh tak acuh, tidak perduli. Bahkan aku kasar!"
"Tidak mungkin seorang laki-laki tidak senang dekat dengan seorang wanita, tanpa alasan, kecuali ia sudah berpasangan. Namun, aku tahu betul, Ren, kamu tidak punya pasangan. Tidak ada satupun wanita dalam hidupmu. Jadi, meskipun kamu selalu acuh dan tidak perduli, bahkan menghindari aku, aku selalu memaafkan perbuatanmu. Aku tak pernah masukkan dalam hati. Aku selalu maklum, karena aku yakin kamu punya alasan yang kuat untuk menjadi seperti itu."
Aku terdiam lagi. Kadang aku berpikir, terbuat dari apa hati gadis ini? Dia benar-benar sabar menghadapi aku.
"Tapi Hadni," ucapku lagi. "Aku tak bisa menjamin kau akan bahagia dengan sifatku yang seperti ini."
"Aku hanya perlu tahu bahwa kamu baik-baik saja, fisiknya dan hatinya, maka aku akan bahagia dengan sederhana."
"Tapi ...."
"Ren, aku mengerti kamu tidak ingin menjalin hubungan. Aku tidak memintamu menerimaku, aku juga tidak mengajak untuk menjalin hubungan. Aku hanya mengutarakan perasaanku agar hatiku tenang. Hanya itu. Jadi apapun perasaanmu, lupakan saja."
"Baiklah, terima kasih kau sudah mau mengerti."
Setelah itu kami berdua hanya mematung lama sekali. Bingung mau membicarakan apa. Terjebak dalam situasi yang canggung. Sampai akhirnya, Hadni yang membuka lagi pembicaraan.
"Ren, apa kamu tidak punya rencana apa-apa untuk mencari informasi tentang siapa orang yang membunuh ayahmu?"
"Hmm," gumamku. "Sebenarnya aku ingin sekali melakukannya, tapi aku tak punya data apa-apa."
"Aku bisa membantumu mencarikan informasi, apapun yang kamu perlukan."
"Tidak, tidak perlu," jawabku. "Aku hanya ingin pergi ke masa lalu, saat Mesin Waktu kita selesai nanti."
"Ren," ucapnya dengan nada prihatin. "Apakah kamu ingin pergi ke masa lalu, untuk mencegah ayahmu terbunuh?"
Persis, wanita ini bisa membaca pikiranku. Aku menjawab dengan suara bergetar, "Ya, aku ingin mengubah masa lalu itu."
"Tidak bisa, Ren! Kamu tidak bisa melakukannya. Maaf, bukan maksudku merusak harapanmu, tapi kamu jangan pernah lupa bahwa mesin waktu tidak bekerja seperti itu!"
Aku tersadar. Terasa kecewa pada diri sendiri yang bodoh dan berpikir pendek. Aku menyandarkan tubuh ke sofa sambil menghela napas. Bagaimana mungkin aku ingin mengubah masa lalu. Padahal aku tahu, mesin waktu yang sebentar lagi akan tercipta tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Aku juga banyak mengerti soal konsep waktu dan kehidupan. Entah mengapa tadi tiba-tiba aku menjadi seperti orang putus asa yang tak terima kenyataan. Keinginanku tadi sangat tidak berdasar, hanya tercetus semata-mata karena emosional, karena aku terbawa suasana kesedihan dan rasa kecewa. Padahal jelas sekali itu mustahil.
Kemudian aku menunduk sedu. Menutupi wajah dengan tangan. Hadni bergeser mendekat, ia mengusap-usap bahuku. Dan kali ini aku membiarkannya saja.
"Jangan berpikir untuk mengubah masa lalu, Ren!" ucap Hadni dengan lemah lembut. "Biarkan saja yang lalu telah berlalu. Tuhan tidak akan memberikan kesedihan tanpa tujuan yang baik. Dan secanggih apapun kita bisa berinovasi, kita tak akan pernah bisa melawan takdir Tuhan. Jadi ingatlah, jangan berpikir untuk mengubah masa lalu, tapi kitalah yang harus berubah. Berubah menjadi lebih baik dan lebih kuat lagi dari pelajaran dan pengalaman yang telah lewat."
Aku masih terdiam. Ucapan gadis itu dalam sekali maknanya, dan tepat menyentuh hatiku yang sedang sedih-sedihnya.
Sementara Hadni akhirnya beranjak dari kedudukannya.
"Aku harus pamit, Ren! Maaf, aku tak bisa berlama-lama menemanimu. Semoga kamu baik-baik saja, dan jangan sedih lagi, ya!" Gadis itu mengusap bahuku lagi sebelum kemudian melangkah pergi. Aku mengangkat wajah dan menatap punggungnya yang terus menjauh.
"Hadni," panggilku. Gadis itu berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar dari ruangan, ia menoleh.
"Terima kasih!" Aku akhirnya tersenyum padanya. Hal yang rasanya tak pernah aku lakukan.
__ADS_1
Gadis itu terbelalak kaget entah mengapa. Namun, setelah itu terlihat dirinya girang bukan main. Ia balas tersenyum simpul dengan polosnya. Senyumnya terlihat berbeda kali ini, terlihat lebih bahagia dibanding sebelumnya. Aku tak mengerti, tapi dari senyum itu aku merasakan kedamaian. Aku seperti melihat wajah seseorang, tapi entah siapa. Gadis itu melambaikan tangan kemudian berlalu.