
Tatkala matahari naik tinggi di pagi itu, aku bersiap-siap berangkat meninggalkan pulau asing tersebut. Akhirnya aku membulatkan keputusan. Aku akan pulang kembali ke kota kelahiranku, menjemput takdir yang seharusnya tidak kuhindari. Menerima segala resiko dan konsekuensi yang nantinya boleh jadi terjadi.
Setelah bersiap dan memastikan tidak ada yang tertinggal, aku pun berangkat. Dengan pesawat sekaligus pilot yang sama dengan yang membawa aku ke pulau ini sehari lalu. Dan juga dengan rekan yang sama, Jan sahabatku. Hanya saja, semalam aku bersama Jan yang menyamar sebagai Kaka Danu, sementara hari ini aku bersama Jan yang sebenarnya, tidak lagi sedang menyamar. Jujur saja, Jan adalah orang paling perfeksionis yang pernah aku kenal. Pagi ini ia telah memberikan aku kejutan luar biasa yang membuat aku tak habis pikir. Meledakkan ekspektasi yang telah terbangun selama empat bulan. Bum, tiba-tiba semuanya serba ternyata. Ternyata Kaka Danu yang aku temui selama ini adalah Jan. Ternyata ia telah melacak aku sejak awal. Ternyata persembunyianku telah ditemukan dengan mudah. Ternyata percuma saja aku melakukan semua tindakan antisipasi untuk menghindari pelacakan oleh orang-orang yang mencariku. Ternyata sia-sia semuanya. Karena pada kenyataan, aku tak akan bisa lari dari Jan. Seorang intel kepolisian elit yang telah mengenal baik diriku ini bahkan sejak saat kami belum pandai membaca dan menulis.
Semua ini lagi-lagi merupakan sebuah pelintiran alur yang terjadi di luar nalarku. Jan melakukan semuanya dengan begitu rapi. Terukur, terlatih dan profesional.
"Jadi, sebenarnya semalam itu aku tidak benar-benar pulang," tutur sahabatku itu saat kami sudah berada di bangku dalam kabin pesawat. Dalam penerbangan meninggalkan pulau tak bernama di Laut Maluku. Kami terbang menuju Sabu Raijua dahulu untuk bertukar pesawat. Karena tidak mungkin pesawat amfibi milik Kaka Danu ini kami bawa pulang.
"Jadi?"
"Aku tidur di lantai bawah," jawabnya santai sambil menahan tawa. "Aku bangun pagi-pagi sekali, lalu melepaskan semua penyamaranku. Naik ke kamarmu sebagai Jan, dan begitulah aku mengejutkanmu."
"Dasar," tukasku. "Oh ya, jadi selama empat bulan aku di Sabu Raijua yang aku kira sudah kenal dekat dengan Kaka Danu, ternyata aku bahkan belum bertemu dengan sosok aslinya. Aku tidak habis pikir."
"Tidak juga," sangkal Jan. "Sebenarnya kau sudah bertemu dengan Kaka Danu yang asli tanpa kausadari."
"Sungguh? Kapan?"
"Orang tua yang aku panggil untuk menggantikanmu di rumah Kakek Baik. Orang yang saat ini mengurus keluarga itu. Ingat? Nah, dialah Kaka Danu yang asli."
"Ah!" Aku menepuk kening penuh rasa heran. "Bisa-bisanya kalian mempermainkan aku!"
"Yang terakhir itu ide Kaka Danu sendiri. Dia yang mengajukan diri agar tinggal bersama Kakek Baik."
"Tak apalah, setidaknya itu lebih baik. Aku hanya tidak habis pikir, aku merasa benar-benar tertipu."
"Mudah sekali mengelabuimu, sobat. Kau pria yang cerdas dan teliti, tapi di sini kita lihat kondisi hatimu berpengaruh pada naluri dan insting."
"Yah, kuharap lain kali aku bisa lebih awas, agar tidak tertipu dua kali."
"Dari aku? Heh, jangan bermimpi, sobatku!"
Aku tak menyahut lagi, memilih tertawa lepas saja. Jan pun demikian.
Sesaat kabin pesawat dipenuhi tawa kami. Hingga akhirnya kembali sunyi begitu tawaku reda.
"Ren, bolehkah aku bercerita sesuatu?" Jan tiba-tiba bertanya dengan nada serius. Kontras dengan suasana tadi saat dirinya penuh riang dan canda. Aku sedikit terkejut, ada sesuatu apa?
"Aku akan selalu bersedia mendengarkan," jawabku tegas.
"Aku mau mengajakmu pergi ke masa lalu sekali lagi," ucap Jan.
"Hah?" Aku tercengang seketika.
__ADS_1
"Aku mengerti, mendengar mesin waktu saja akan membuat perasaanmu terganggu. Aku mengerti, tapi aku hanya mengajakmu untuk menemaniku pergi ke masa lalu. Ke satu waktu yang ingin sekali aku datangi."
"Baiklah, sebenarnya tidak masalah," jawabku. "Aku tahu memang agak sulit untuk menerima kenyataan, tapi aku harus berusaha untuk berdamai dengan fakta. Tapi ada apa? Cerita apa yang kau mau ceritakan?"
"Mirip seperti ceritamu itu sobat," jawab Jan. "Tentang orang tua."
"Orang tua?" Aku tercengang lagi.
"Jujur, sebenarnya selama ini aku tidak tahu siapa orang tua kandungku."
"Hah?" Aku melotot. "Tapi ... Tapi bukankah ...."
"Bukan, sobat!" potong Jan langsung. "Mendiang ayah dan ibuku yang kau tahu, hanya orang tua angkat. Sementara orang tua kandungku tidak tahu entah siapa."
"Tapi mengapa aku baru tahu?"
"Maaf, mungkin setelah bersahabat tiga puluh tahun, aku baru bercerita hari ini. Karena sebelumnya, aku pikir tidak ada pentingnya bercerita hal itu padamu. Lagipula, sejak kecil kau sering bertemu orang tuaku. Tidak sedikit pun kau berpikir bahwa mereka hanya orang tua angkat. Lalu waktu berlalu cepat sampai kita dewasa. Aku juga sudah melupakan itu. Namun, sejak adanya mesin waktu, aku teringat lagi dan mendapatkan harapan untuk tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya. Aku ingin sekali pergi ke masa lalu untuk mencari tahu. Akan tetapi, di luar dugaan, sesuatu terjadi padamu. Kau mendapat kabar bahwa ayahmu meninggalkan dibunuh, dan kau bertekad mencari pembunuhnya dengan mesin waktu. Oleh karena itu, aku urungkan niatku dahulu. Biarkan urusanmu selesai dulu, baru setelahnya aku. Itulah mengapa, aku setulus hati berjuang bersamamu menyelamatkan Prof. Ram."
"Yah, kita punya motivasi hidup masing-masing, yang ternyata menyatukan kita."
"Mesin waktu selesai, kita pergi ke masa lalu. Aku kira urusan akan selesai sampai di situ, tapi justru kejutan besar yang terjadi. Kau harus menerima kenyataan pahit bahwa ayah kandungmu dibunuh oleh ayah angkatmu sendiri. Aku sudah bisa menebak kau akan menghilang. Atau paling tidak mengurung diri. Dan ya, kau pergi jauh. Aku harus bersabar, menyimpan niatku lebih lama lagi. Jadi, aku rasa sekarang saat yang tepat untuk bercerita padamu."
"Tenanglah, sobatku!" Aku meletakkan tangan di bahu sahabatku itu. Menepuk bahunya pelan. "Urusanku sudah selesai sekarang, semua luka dan kesedihan adalah sisa-sisa konsekuensi yang harus kutanggung sendiri. Aku janji, aku akan mendampingimu sampai urusanmu selesai."
"Lalu, bagaimana tentang orang tuamu? Kenapa kau sampai tidak tahu mereka dan malah tinggal bersama orang tua angkat?"
"Ayah angkatku adalah seorang dokter, kau tahu itu, kan?" Jan mulai berkisah. "Lebih tiga puluh tahun yang lalu, beliau dan istrinya menikah. Namun, setelah lama menikah, mereka tak kunjung diberi buah hati. Dan setelah diperiksa, ibu angkatku ternyata tidak sehat. Beliau mengidap suatu penyakit hingga tidak bisa mendapat keturunan. Memang menyedihkan, tapi dengan tabah mereka berusaha mengiklaskan hal itu. Nah, ayah angkatku itu dokter yang bekerja di rumah sakit tempat di mana aku dilahirkan. Tepat tiga puluh tahun yang lalu, rumah sakit tersebut mengalami kebakaran hebat. Sementara di dalamnya, banyak bayi yang baru lahir. Salah satunya adalah aku. Dalam bencana kebakaran itu, seorang dokter menyelamatkanku. Beliau membawaku pulang ke rumahnya untuk memberi pertolongan. Sementara rumah sakit rusak parah, banyak korban jiwa dalam kebakaran itu, mulai orang tua sampai anak bayi yang baru lahir. Selama beberapa hari, dokter yang menyelamatkanku itu mencari siapa orang tuaku sebenarnya, barangkali mereka selamat dari kebakaran. Namun, karena terlalu lama tak kunjung menemukannya, akhirnya mereka memutuskan untuk mengangkatku sebagai anak. Sejak itulah, sampai keduanya meninggal dunia, mereka selalu menyayangi aku seperti anak kandungnya sendiri."
Aku terdiam. Takzim mendengar tanpa tahu harus berkata apa.
"Aku juga menyayangi mereka, tapi aku tetap penasaran dengan orang tua kandungku yang sebenarnya. Jadi begitulah, aku ingin sekali datang ke masa lalu. Tepat saat kejadian kebakaran itu, untuk mengetahui saja, siapa orang tuaku yang sebenarnya. Barangkali mereka selamat dan masih hidup sampai hari ini. Atau mungkin mereka tidak selamat, setidaknya ... setidaknya aku bisa melihat wajahnya."
"Semoga kau tabah," ujarku. "Dulu aku selalu mengutuk diri, kenapa hidupku seperti ini? Aku tak pernah menatap wajah ibuku. Ibuku meninggal saat melahirkan aku, hanya ayah yang sejak kecil bersamaku. Itupun hanya berselang satu dekade, setelahnya ayah pun turut pergi. Aku merasa begitu menderita, tanpa aku sadari bahwa sahabatku lebih parah daripada itu."
"Begitulah kehidupan berjalan, sobat!" sambut Jan sambil tersenyum tawar. "Memang selalu penuh dengan kejutan, yang mengharukan atau justru menyakitkan."
"Maaf, Jan," selaku. "Kalau boleh aku bertanya, kenapa kau meminta aku yang menemanimu? Bukankah kau bisa mengajak Fitri?"
"Oh, ya, soal itu ...." Jan seketika tersenyum lepas. Rautnya berubah drastis.
"Sebenarnya aku memang mau mengajak Fitri untuk pergi ke masa lalu," jelasnya. "Tapi aku batalkan niat tersebut, karena sesuatu yang terjadi sebulan yang lalu."
"Sesuatu yang terjadi?"
__ADS_1
"Tebak apa?" Jan semringah. "Jadi, tiga bulan yang lalu, aku dan Fitri pergi ke dokter untuk periksa. Dan, Fitri ... Fitri positif hamil."
"Wah, laki-laki atau perempuan?" Secara spontanitas kalimat itu keluar dari mulutku tanpa sadar.
"Heh?" sergah Jan sambil tercengang. "Sobat, Fitri baru positif hamil, tiga bulan yang lalu. Bukan melahirkan!"
"Eh?" Aku garuk-garuk kepala malu sendiri. "Aku kurang fokus, Jan. Dan, ya aku turut senang mendengarnya."
Jan tertawa lepas. Lalu berkata, "Nah, karena itulah aku membatalkan niatku untuk mengajak Fitri. Aku takut terjadi apa-apa dengannya dan janin yang dikandungnya, sebaiknya dia banyak istirahat, 'kan?"
"Benar," sambutku. "Bangsal tidak boleh digunakan oleh ibu hamil, bisa berbahaya untuk kandungan."
"Itulah mengapa aku mengajakmu, sobat!"
"Yah, tidak masalah. Sekarang justru aku tidak sabar menunggu kelahiran buah hatimu, Jan!" ucapku antusias.
"Masih enam bulan lagi," jawab Jan. "Eh, tapi kenapa?"
"Ya, aku tidak sabar saja melihat bagaimana generasi penerus Jantoro dilahirkan, lalu tumbuh besar. Pasti ia akan sehebat ayahnya!"
"Wah, benar, aku juga berharap seperti itu!"
"Nanti di masa mendatang, dia yang akan menggantikanmu sebagai agen rahasia elit." Aku berujar.
Jan tertawa tergelak-gelak. Aku pun demikian.
"Bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya Jan tiba-tiba.
Seketika gelak tawaku putus. Menatap kosong pada sahabatku itu.
"Bagaimana maksudnya?" tanyaku—pura-pura tidak mengerti.
"Bagaimana dengan generasi penerusmu, sobat? Bagaimana dengan Renato Junior, yang nanti akan bersama-sama dengan anakku di masa mendatang? Aku yakin, dia nanti juga akan sesukses dirimu, 'kan? Tapi bagaimana?"
"Ehm, bagaimana ya?" Aku berseru-seru tawar sambil berlagak bingung.
"Ren," ucap Jan serius. "Menikahlah!"
"Jan, bisakah kita bahas hal lain saja?"
Jan tertawa tergelak sementara aku menghela napas malas.
"Baiklah, sobat. Maafkan aku, tapi kau ini memang keras kepala sekali!"
__ADS_1