Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Telepon Mengejutkan


__ADS_3

"Om tidak apa-apa?" tanya Steven. Ia bingung menatap wajahku yang melongo.


"Ti‒tidak, saya tidak apa-apa," jawabku. Kemudian tersenyum ringkas pada anak kecil ini. Aku mengerjap dan mengusap wajah sebentar. Lalu kulirik wajah anak ini.


"Jadi," ucapku. "Kamu tinggal di sini?"


"Iya, Om!" jawab Steven singkat.


"Kamu benar-benar tidak sekolah?" tanyaku.


"Iya, aku tidak sekolah, Om. Aku tahu angka satu sampai selanjutnya, cuma aku tidak pandai berhitung."


"Kamu pandai membaca?"


Steven geleng-geleng.


"Teman-teman kamu banyak di sini?"


"Lumayan banyak, Om!"


"Apakah mereka semua sama seperti kamu? Maksud saya mereka juga ...."


"Iya, Om," jawab Steven langsung. "Mereka juga tidak sekolah, tapi ada kok yang pandai berhitung dan pandai juga membaca."


Aku mengangguk-angguk. Lalu lanjut bertanya, "Jadi sehari-hari kegiatan kalian apa?"


"Sebenarnya, kami tidak ada kegiatan apa-apa, Om. Aku sama teman-teman cuma bermain-main bersama saja, atau sekedar jalan-jalan kalau bosan."


"Terus, tadi kamu mau pergi ke mana?" tanyaku.


"Nah itu, Om, sebenarnya aku mau pergi ke warung. Bukan untuk beli makan, aku mau bantu-bantu sedikit apa sajalah, biar aku bisa dapat uang."


Aku terdiam. Malang sekali anak ini, tapi hatinya benar-benar mulia. Dia tidak sedikit pun terpikir untuk berbuat tindakan tak terpuji seperti mencuri atau semacamnya. Ia memilih mencari cara yang jujur dan baik. Luar biasa sekali.


"Kamu ... Kamu mau bekerja?" tanyaku dengan wajah tak percaya.


"Sebenarnya Kakek tidak boleh, Om," jawab Steven. "Tidak boleh kami bekerja atau mengamen, atau apapun itu untuk mencari uang di jalanan. Kami disuruh diam di rumah saja menunggu Kakek pulang dan membawakan makanan untuk kami. Ya, tapi aku bosan, Om, jadi sementara Kakek lagi bekerja, aku diam-diam keluar!"


"Kasihan sekali kamu. Seharusnya kamu diam saja di rumah, menurut sama kata-kata Kakek," ucapku sambil mengusap kepala anak kecil itu.


"Tapi aku kasihan sama Kakek," jawab Steven. Setelah itu ia tertunduk lesu dan menghela napas panjang.


"Begini saja," ucapku sambil merogoh kantong. Mengeluarkan beberapa lembar uang yang aku bawa. Semua kantong yang ada di pakaianku ini kuperiksa, semua uang yang ada aku keluarkan. Untung saja ada uang tunai yang aku bawa di kantong, meskipun jarang sekali aku gunakan karena transaksi apapun biasanya aku lakukan melalui media daring. Lembaran-lembaran merah dan biru itu kubeberkan di lantai. Aku tak menghitungnya. Berapapun itu, kuharap cukup dan berarti untuk menolong anak-anak ini. Sejujurnya, seumur hidupku aku jarang sekali bersedekah atau berbagi rezeki pada orang lain. Bukan karena tidak mau, tapi karena aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga tidak sempat melakukan hal semacam itu. Namun kali ini, hatiku benar-benar terketuk untuk membantu anak kecil ini. Aku sangat prihatin dan iba melihatnya. Tidak ada salahnya aku memberikan sedikit bantuan. Ada pelajaran hidup yang berharga yang aku dapatkan di sini.


"Eh ...." Steven terbelalak tak percaya menatap lembaran uang yang aku beberkan itu. Ia mengusap-usap matanya beberapa kali, memastikan apakah dirinya tidak salah lihat.


"Ini semua untuk kamu sama teman-teman kamu. Kamu boleh pakai untuk beli makanan atau apapun yang kamu mau!" ucapku. Aku tersenyum simpul penuh rasa bangga dan lega. Senang rasanya melihat anak ini tersenyum lepas.


"Benarkah ini?" Steven mengulurkan tangan dengan ragu-ragu. Berkali-kali ia menatap wajahku dengan gugup. Masih tidak yakin.


"Benar, ambillah, dik!" jawabku dengan ramah.


Steven akhirnya memberanikan mengambil lembaran-lembaran uang itu dengan tangan yang gemetar. Wajahnya terperangah tak percaya. Raut yang terharu terlukis jelas di wajahnya. Ia merasa sedih sekaligus gembira. Tidak menyangka.


"Teman-teman kamu ada di dalam?" Aku melirik ke arah pintu rumah yang setengah terbuka.


"Ada, Om, ada."


"Nah, kamu bagi-bagi, ya, sama teman-teman kamu!"


"Terima kasih banyak, Om. Terima kasih. Om baik sekali. Om sudah menyelamatkan aku dari orang jahat tadi, lalu sekarang Om memberikan kami ini. Terima kasih sekali lagi, Om memang orang paling baik!"

__ADS_1


“Orang paling baik? Haha, kamu berlebihan,” jawabku.


“Tapi ‘kan benar, Om. Om sudah menolong aku banyak,” ucap Steven.


“Orang paling baik itu Kakek yang menjagamu itu,” jelasku. “Saya hanya punya uang dan saya berikan untuk membantu kamu, sedangkan Kakek itu tidak punya apa-apa tapi tetap menolong kamu, teman-teman kamu, sampai sekarang. Benar, ‘kan?”


“Benar, Om. Kakek dan Om sama-sama orang baik. Terima kasih, ya!”


Aku tersenyum ramah. Lantas menjawab, "Sama-sama, dik. Saya senang bisa membantu kamu, tapi maaf saya tidak bisa lama-lama di sini!"


Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sini, berbaur dengan anak-anak ini, Steven dan teman-temannya, tapi aku teringat dengan urusan awalku. Tujuan penting yang membawa aku sampai ke pulau ini. Prof. Ram Ranayuda. Ia masih tersekap di markas Tengkorak Hitam tanpa aku ketahui bagaimana kondisinya. Aku harus buru-buru menyelamatkannya.


"Kenapa?" tanya Steven.


"Maaf, saya harus pergi," jawabku. "Saya ada urusan pekerjaan. Lain waktu kalau ada kesempatan, saya janji saya akan datang kembali ke sini untuk mengunjungi kalian. Sampaikan salam saya untuk Kakek, ya!"


"Siap, Om!" jawab Steven antusias.


Aku berangsur bangkit dari kedudukan sambil mengusap kepala Steven. Ia tersenyum polos padaku.


"Sampai jumpa, Steven!"


"Sampai jumpa, Om baik!"


Aku tersenyum simpul. Lantas beranjak melangkah meninggalkan rumah itu. Menoleh sesaat, kemudian buru-buru berlari kembali ke tempat sahabatku tadi. Dalam aku berlalu menjauh, aku dapat mendengar Steven berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil teman-temannya dengan riang gembira.


***


Aku tiba di pangkal gang tadi, saat Jan bersandar ke tembok menatap serius pada layar ponselnya.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Tidak ada," jawab Jan tanpa semangat.


"Jadi kita benar-benar tidak tahu siapa mereka? Dan dari mana mereka berasal?"


"Sayangnya benar," jawab Jan. "Aku sebenarnya ingin memindai wajah mereka langsung di sini untuk dicari identitasnya di database kepolisian, tapi alat pemindainya tidak kubawa. Tertinggal di ruang kantorku."


"Apakah tidak bisa jika kau ambil foto orang-orang ini lalu kau kirim fotonya ke kantormu untuk dipindai?" tanyaku. Aku mendekati salah seorang musuh kami yang tergeletak itu. Mencoba meneliti wajahnya. Kemudian jas hitam dan kemeja putihnya, sampai celana hitam dan sepatunya. Meski percuma, karena aku juga tidak mengenali siapa orang ini.


"Bisa, dan sudah aku lakukan," jawab Jan. "Keempat orang ini sudah kuambil fotonya, dan sudah kukirim ke asistenku di kantor untuk dianalisis. Namun itu membutuhkan waktu yang agak lama untuk menunggu hasilnya. Jadi kita tunggu saja hasilnya nanti!"


Aku beranjak kembali ke dekat Jan. Lalu bertanya, "Jadi kita kembali ke pelabuhan sekarang?"


"Iya." Jan mengangguk sambil menyimpan ponselnya ke dalam kantong celana.


"Bagaimana orang-orang ini?"


"Biar kepolisian setempat yang mengurus," jawab Jan.


"Baiklah."


Setelah itu kami segera melangkah. Berjalan menyusuri gang tadi ke arah luar. Dengan tetap waspada dan siaga akan kemungkinan apapun.


"Pelabuhan tidak jauh dari sini, 'kan?" tanyaku.


"Sebenarnya aku tidak terlalu tahu," jawab Jan. "Tapi aku ingat-ingat rute yang kita lewati tadi, rasanya tidak jauh dari sini."


"Baiklah, kuharap kita tidak datang terlambat!" pungkasku.


"Tentu, kita pasti ... Eh," Jan terhenti dari kalimatnya karena ponselnya tiba-tiba berdering. Ia buru-buru merogoh kantong dan melihat ke layar. Ia tampak sedikit terkejut melihat siapa yang menelepon.

__ADS_1


"Mendekatlah, Ren!" bisik sahabatku itu. Maka aku merapat ke dekatnya. Ia menerima panggilan telepon itu lalu mengaktifkan mode pengeras suara agar aku turut mendengar suara penelepon itu.


"Ini Ferry, rekan tugasku yang sedang menyamar dan menyusup sebagai anggota Tengkorak Hitam!" bisik Jan padaku. Aku mengangguk takzim setelah mengetahui hal itu. Aku langsung paham, pasti ada informasi penting yang akan disampaikan rekan Jan tersebut.


"Selamat siang," sapa Jan.


"Dengarkan aku," sahut Ferry di seberang sana dengan suara tegas. “Jaring dilempar pada sejumlah angka, biru muda warna langit, awan melintas seperti biasa. Lemparkan petir jika berbeda. Delapan, satu, tiga!”


“Delapan enam, terima kasih!” sahut Jan ringkas. Ia memutuskan sambungan telepon tanpa basa-basi. Aku tak bertanya mengapa, tentu saja untuk interaksi sesama agen rahasia dalam penyamaran memerlukan prosedur tertentu, dan juga sandi rahasia dalam bertukar informasi. Setelah memutuskan sambungan telepon, Jan membuka sebuah laman internet di ponselnya. Memasukkan sejumlah kode dan alamat web untuk membuka jalur komunikasi rahasia, sesuai arahan dari rekannya tadi.


Jalur komunikasi rahasia tadi terbuka, terlihat seperti roomchat biasa, tapi hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu yang mengetahui kata rahasia seperti yang disampaikan rekan Jan tadi.


Terlihat di kolom obrolan, pesan masuk dari Ferry, yang berbunyi, "Aku beritahukan pada kalian, jangan mendekati sarang beruang, banyak yang tinggal tulang di sini. Mereka telah mencium bau mangsa. Sekarang gerombolan beruang telah dilepas dari sarang untuk mencari dua ekor mangsa segar, dengan buas."


Aku tercengang dan mengerutkan kening. Aku mengerti, tingkat kerahasiaan komunikasi mereka sangat tinggi, jadi tetap harus menggunakan bahasa sandi. Aku tidak paham keseluruhannya, tapi aku menangkap garis besarnya.


Jan mengetikkan pesan balasan, "Tapi, kami punya hewan buruan yang perlu ditangkap."


Tak menunggu lama, masuk lagi balasan dari Ferry, "Hewan buruan kalian tidak ada di sini. Para beruang tidak pernah memangsa buruan kalian, merpati putih tidak ada di sini."


"Tidak ada?" Jan mengerutkan kening seperti tidak percaya.


Tak berselang beberapa detik, datang lagi pesan susulan, "Serbuan hewan buas terhadap sarang merpati putih, bukan dilakukan oleh peliharaan kami.


Hewan-hewan itu hanya hewan yang kami latih, tapi dipelihara oleh orang-orang penjudi dan dilepas untuk menyerbu sarang merpati."


"Lantas di mana merpati sekarang?" tulis Jan.


"Merpati berada di cengkeraman hewan berbulu hitam tak dikenal. Kami juga tidak tahu siapa tuan mereka." Begitu isi pesan jawaban Ferry.


"Di mana mereka?" tulis Jan lagi.


"Sebuah pulau. Arah selatan dari pulau sekarang."


"Bagaimana dengan beruang?" tanya Jan.


"Bersih. Tidak ada cakar beruang di sana. Hanya sekumpulan hewan tak dikenal itu."


"Baik, terima kasih!" tutup Jan.


"Sama-sama!"


Setelah itu laman web jalur komunikasi rahasia itu ditutup.


Jan menggeram kesal. Aku memang tak mengerti sepenuhnya apa yang mereka bicarakan, tapi seperti yang aku katakan tadi aku dapat menangkap garis besar ke mana arah pembicaraannya.


"Kita ditipu," ungkap Jan sambil menyimpan kembali ponselnya dengan geram.


"Biar aku tebak, Tengkorak Hitam tidak terlibat dalam penculikan ini?"


"Benar," jawab Jan pahit. "Pasukan yang menyerang laboratorium kalian, murni hanya pasukan milik Gedung Lantai Hijau. Dan yang menculik Prof. Ram Ranayuda dan membawanya sampai ke sini, juga pasukan itu, dibantu oleh pasukan berjas hitam yang menyerang kita tadi."


Aku mendengus sebal.


"Aku terkecoh, titik koordinat yang kita buru pasti dipalsukan. Kau benar, sobat, mereka menyadari kita melacak mereka, jadi mereka melakukan rekayasa sinyal atau apalah itu. Mereka membuat seakan-akan mereka berada di pelabuhan, di markas Tengkorak Hitam, dengan titik koordinat palsu untuk menipu kita. Jadi kita akan mencari mereka ke sana, padahal mereka tidak ada di sana. Masalahnya sekarang, pasukan Tengkorak Hitam turun beramai-ramai dan memburu kita di pulau ini. Kita tidak bisa bergerak leluasa di sini."


"Sialan!" Aku menggeram. "Lantas di mana Prof. Ram sebenarnya?"


"Di sebuah pulau," jawab Jan. "Di arah selatan dari sini. Pasukan berjas hitam ini datang dari sana. Pasti Prof. Ram ada di sana."


"Bagaimana cara kita ke sana?"

__ADS_1


"Itu yang aku tidak tahu. Puluhan orang yang mengincar nyawa kita sedang berkeliaran di sekitar sini. Aku tahu kita memang mampu menghadapi mereka, tapi itu pasti akan membuang banyak waktu dan tenaga."


"Bagaimana ini?" Aku bertanya-tanya sendiri sambil mendengus sebal. Aku tertunduk sembari tersandar ke tembok gedung di sisi gang tersebut. Memegangi kepala dengan kedua tangan. Ingin sekali berteriak. Ini kacau sekali. Sudah jauh daripada yang aku bayangkan. Sekarang aku terancam oleh rasa putus asa. Ayah, aku harus bagaimana?


__ADS_2