Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Bala Bantuan


__ADS_3

Selama beberapa menit, kami berempat bungkam. Mematung tak bisa berkutik. Bingung sendiri harus berbuat bagaimana. Aku dan Jan juga sama. Sama-sama sedang putar otak mati-matian bagaimana caranya lolos dari pasukan Tengkorak Hitam sebanyak ini. Satu-satunya senjata yang ada di pihak kami hanyalah pistol Glock 24 milik Koh Shung tadi. Sementara di depan sana, ada puluhan pucuk senapan serbu M16 yang jika menyalak sekali saja sudah cukup untuk merontokkan anggota tubuh kami dengan hujan peluru. Situasi ini benar-benar menegangkan.


Celakanya, di tengah suasana genting seperti itu, Koh Shung malah melakukan hal yang sangat tidak kami duga sedikitpun. Aksinya sampai-sampai membuat suasana menjadi bertambah menegangkan berkali-kali lipat. Bagaimana tidak, orang tua ini tiba-tiba saja tanpa berteriak lantang ke arah deretan pasukan di depan sana. Sambil meronta sekuat tenaga dari bekukanku, Koh Shung terus berteriak-teriak bagai orang gila yang sedang mengamuk.


"JIKA KALIAN MAU MEMBUNUH AKU, BUNUHLAH SEKARANG JUGA! BUNUH SAJA TIGA ORANG INI SEKALIAN, AKU TIDAK PEDULI!" Begitulah isi teriakannya.


Sontak saja aku, Jan, dan Prof. Ram langsung melotot kagetnya bukan main. Aku lupa bahwa Koh Shung memang ingin mati, maka jelas situasi seperti ini yang ditunggu-tunggunya dari tadi. Aku langsung panik, bagaimana jika semua pasukan itu langsung patuh dan menurut. Rompi antipuluru memang masih membalut tubuhku dan Jan, tapi dengan jumlah pasukan sebanyak itu hanya menunggu waktu untuk peluru-peluru menembus kepala kami. Suasana menjadi penuh ketegangan.


Ditambah lagi, pasukan bersenjata di depan sana mulai berangsur maju selangkah. Senapan di tangan masing-masing tak sedikitpun turun atau bergeser. Aku menatap kosong pada moncong-moncong senapan tersebut. Tidak adakah jalan keluar? Apa aku harus berakhir di sini? Padahal seharusnya aku sudah berhasil. Prof. Ram sudah selamat. Kami tinggal berangkat pulang menuju kota, mengembalikan kegiatan di laboratorium seperti sediakala. Namun, hidupku adalah hidupku, penuh dengan kejutan. Dan ini adalah kejutan nomor sekian yang aku benci. Aku bungkam dalam rasa bimbang. Seketika aku menjelma menjadi anak kecil yang merengek pada peri khayalan untuk memberi sebuah keajaiban, untuk menyelesaikan semua permasalahan ini. Ayah, apa maksud semua ini?


Beberapa menit kami semua membeku di tempat masing-masing. Sementara pasukan bersenjata itu langkah demi langkah semakin dekat. Semakin rapat. Semakin mengancam. Wajah-wajah beringas dan tak berperasaan mereka semakin terlihat jelas. Jarak kami semakin dekat. Bulir keringat mulai menetes dari keningku, juga kening Jan dan Prof. Ram. Kami mati langkah. Bergerak sedikit saja, tembakan senapan serbu pasti langsung menyambar. Kami terjepit, diam salah, bergerak juga salah. Mau berlari atau bersembunyi entah ke mana.


Di tengah suasana menegangkan itu, tiba-tiba muncul deru bising dari belakang kami. Tepatnya dari udara di atas. Terdengar bising raung mesin dan deru baling-baling. Tiupan angin sangat kuat muncul membuat pepohonan di sekitar melambaikan daun-daunnya. Dua-tiga di antaranya berguguran. Bunyi gemuruh itu semakin kencang laksana ada badai yang menerpa pulau ini. Aku langsung maklum dan tahu, bahwa ada helikopter yang sedang terbang mendekat. Pasukan bersenjata di depan sana langsung mengalihkan pandangan, belasan pasang mata langsung tertuju ke udara menatap awas. Sementara aku dan Jan tak dapat melihat di mana posisi helikopter tersebut, hanya tiupan kencangnya pada dahan-dahan pohon yang terlihat. Berdasarkan arah pandangan mata pasukan Tengkorak Hitam, posisi helikopter itu tersebut pasti ada di belakang kami. Tepat di atas bangunan gubuk ini. Deru baling-balingnya terdengar ramai sekali. Jika aku tidak salah mengira, pastilah ada lebih dari satu helikopter yang datang.


Aku berpikir dan menjadi lebih waspada lagi. Aku berharap helikopter ini adalah pasukan penolong yang akan menyelamatkan kami. Bentuk dari keajaiban yang dari tadi aku tunggu-tunggu. Sebaliknya, bisa saja helikopter itu adalah petaka yang membawa ancaman lebih besar lagi. Keringat khawatir bergulir semakin deras. Nasib kami di ujung tanduk. Bergantung pada helikopter yang sedang terbang membawa ketidakpastian. Aku masih bungkam. Sesekali menatap Jan dan Prof. Ram yang pucat. Sementara Koh Shung terus meronta dan terlihat bersungut.


Pasukan Tengkorak Hitam terlihat kaget melihat kedatangan helikopter tersebut. Mereka mendelik heran dan saling bertatapan satu sama lain. Aku menarik kesimpulan bahwa helikopter di atas bukanlah rekan mereka. Aku harusnya merasa lega. Namun lagi-lagi, bisa saja helikopter itu ancaman dari pihak lain meskipun mereka berseberangan dengan Tengkorak Hitam. Kulihat Jan, ia juga sama bingungnya. Dalam kebingungan kami, dan dalam wajah heran pasukan Tengkorak Hitam, tiba-tiba meledak letusan tembakan.


Dordordordordor...


Terdengar rentetan senapan mesin yang memuntahkan peluru. Helikopter di atas mulai melepaskan tembakan ke arah pasukan Tengkorak Hitam. Pasukan itu terkejut bukan main, mereka langsung berhamburan dan balas menembak. Aku terkesiap dan langsung mundur membawa Koh Shung ke masuk kembali ke dalam gubuk tua tadi. Jan pun sigap melindungi Prof. Ram dan turut masuk ke dalam. Kami segera bertiarap dan berlindung di balik dinding. Aku sekuat tenaga menahan Koh Shung yang berontak. Di luar sana, baku tembak pun pecah. Halaman gubuk ini berubah menjadi medan perang. Pohon-pohon di sekitar berkelotakan ditembus peluru. Pasukan Tengkorak Hitam mulai berguguran diterjang peluru. Laksana dilanda topan, tumbuhan di sekitar bergemuruh diterjang angin dari baling-baling helikopter. Daun-daun kering di tanah berterbangan. Deru tiupan angin itu semakin kencang, karena satu helikopter mulai turun di depan sana. Perlahan-lahan mendarat dengan posisi melintang beberapa meter di depan pintu gubuk. Sementara di atas, masih ada beberapa helikopter lagi yang sibuk menembaki pasukan Tengkorak Hitam dengan senapan mesin. Fokus pasukan itu menjadi terpecah, antara menembaki lawan di atas dan di bawah. Sementara jumlah mereka semakin berkurang.


Aku mengawasi tajam helikopter yang telah sempurna mendarat itu. Pintunya di sisi yang menghadap kami segera terbuka. Aku harap-harap cemas. Dari balik pintu, terlihat sesosok pria bertubuh tegap. Yang ternyata merupakan sosok yang tidak asing. Yakni petugas polisi yang sebelumnya menjemput kami di bandara dan membawa kami ke pelabuhan. Ia terlihat memberi isyarat agar kami buru-buru mendekat dan menaiki helikopter itu. Akhirnya aku merasa benar-benar lega. Aku dan Jan sesaat bertukar tatap. Jan tersenyum simpul. Kami saling mengangguk lalu buru-buru bangkit. Bergerak cepat keluar dari gubuk dengan langkah hati-hati. Rentetan peluru menderu ke arah kami, tapi kami terlindungi oleh badan helikopter yang melintang di depan. Peluru-peluru berdenting menghantam badan helikopter yang tahan peluru. Jan menuntun Prof. Ram hati-hati, mereka berdahulu menaiki helikopter itu. Setelahnya barulah giliran aku yang harus bersusah payah memaksa Koh Shung untuk naik. Begitu kami di dalam, pintu langsung tertutup rapat. Kabin helikopter ini cukup luas dan panjang. Untungnya di dalam sini kami aman. Meskipun di luar peluru-peluru mengepung dari banyak arah.

__ADS_1


"Bagus sekali, anda datang tepat waktu, Pak!" puji Jan. Ia duduk di pinggir jendela, menonton pasukan Tengkorak Hitam yang terus menembaki kami padahal sia-sia.


"Terima kasih, Tn. Jan!" jawab si polisi sambil tersenyum bangga. Kemudian ia beralih menatapku yang masih berdiri dan kerepotan memegangi Koh Shung.


"Siapa ini, Tn. Ren?"


"Nanti saya ceritakan, tolong borgol dulu orang ini!" jawabku singkat.


"Siap!" jawab petugas polisi itu. Tanpa banyak bicara, Ia bergegas beranjak ke belakang dan kembali membawa borgol. Dengan sigap, tangan Koh Shung yang terbekuk ke belakang langsung diborgol. Setelah memastikan borgol terkunci dan aman, orang tua ini kubiarkan duduk di kursi paling belakang tanpa bisa berkutik. Sesaat aku dan orang tua ini bertatapan. Aku menatap miris, sementara ia menatap tajam ke arahku sambil diam seribu bahasa. Di wajahnya terlukis segala macam emosi, mulai dari kebencian dan kesedihan yang bercampur aduk.


Aku kembali ke depan dan duduk di samping Jan. Menyandarkan tubuh dengan rileks. Akhirnya aku bisa menghela napas lega. Menenangkan diri. Mengistirahatkan tubuhku yang mulai terasa nyeri dan pegal di sana-sini.


"Ke mana kita, Tuan-Tuan?" tanya polisi itu.


"Bandara Tardamu!" jawab Jan singkat.


"Pak, sekarang kita berangkat ke Bandara Tardamu!" ucapnya tegas pada pilot di kabin kemudi. Pilot itu mengangguk takzim tanpa banyak bicara. Ia segera menerbangkan helikopter kami. Perlahan-lahan kami mulai naik ke udara. Sekarang aku dapat melihat dengan jelas, beberapa meter di atas atap gubuk, dua unit helikopter taktis yang dilengkapi senapan mesin sedang mengambang di udara sambil memberondong pasukan Tengkorak Hitam di bawah sana. Dua helikopter ini adalah kendaraan tempur milik Korps Brimob Polda Nusa Tenggara Timur, yang tadi sudah ditawarkan oleh polisi itu pada Jan. Sementara dua helikopter itu membereskan pasukan Tengkorak Hitam, helikopter kami segera terbang menjauh. Meninggalkan pulau antah-berantah ini, kembali menuju Pulau Sawu.


"Jadi, siapa orang itu?" tanya sang polisi sambil menuding Koh Shung di belakang sana.


Aku tersenyum simpul. Menjawab, "Namanya Henry Purnomo, tapi anda boleh memanggilnya Koh Shung."


"Koh Shung? Saya sepertinya pernah dengar...."

__ADS_1


"Asal anda tahu saja," tambah Jan. "Dia itulah otak dari penyerangan terhadap Korp. Masadepan. Dia yang mengerahkan banyak pasukan untuk aksi itu. Dia juga bos dari pasukan berjas hitam yang menyerang kita di pelabuhan tadi."


"Ohh, begitu rupanya."


"Kenapa dia melakukan semua itu?"


"Akan sangat panjang untuk diceritakan," jawabku. "Anda dengarkan saja nanti di pengadilan."


"Hmm, baik, baik."


"Oh, ya, lantas bagaimana anda dan pasukan polisi ini bisa sampai ke pulau itu?" tanyaku.


"Aku yang menghubungi mereka, Ren!" jawab Jan lekas.


"Hah?" Aku langsung beralih menatap Jan.


"Ya," ucapnya. "Saat kita berpisah di hutan itu, aku memutuskan untuk menghubungi kepolisian setempat lagi. Meminta bala bantuan. Aku meminta agar nomor teleponku dilacak dan segera menurunkan pasukan tempur ke tempat itu."


"Benar, Tn. Ren," sambung si polisi. "Awalnya, pasukan pertama sudah sampai lewat jalur laut. Beberapa perahu motor kami turunkan. Sialnya, begitu sampai, pasukan kami berpapasan dengan pasukan Tengkorak Hitam. Maka baku tembak tak dapat terelakkan. Terjadi pertempuran cukup lama di pinggir pantai. Banyak korban berjatuhan di pihak kami. Pasukan Tengkorak Hitam juga terus berdatangan menghambat pergerakan kami. Maka gelombang kedua, kami datang dengan helikopter tempur. Begitu sampai ke sana, kami melihat pasukan Tengkorak Hitam sudah mengepung gubuk tua itu. Saya tahu, pasti Tn. Jan dan Tn. Ren ada di sana. Maka langsung saja saya turun tadi itu."


Aku tersenyum bangga. Berkata, "Baguslah kalau begitu."


Setelah itu, aku beralih menatap Prof. Ram yang duduk di kursi di seberangku. Tersenyum ramah padanya.

__ADS_1


"Profesor, anda tidak apa-apa?" tanyaku.


"Aku baik-baik saja, Tn. Ren!" jawabnya dengan suara serak dan terbata-bata. Wajahnya pucat dan ketakutan. Pakaian laboratorium yang masih ia kenakan terlihat lusuh. Ia meringkuk saja di tempatnya. Sejak tadi ia terus terdiam. Aku maklum, orang tua satu ini telah mengalami pengalaman kurang menyenangkan dalam jangka waktu cukup lama. Jadi wajar saja.


__ADS_2