
Penerbangan berlangsung berjam-jam lamanya. Namun, aku tak bisa tidur nyenyak selama menunggu waktu ketibaan. Benar-benar tersiksa, harus tertidur sejenak lalu terbangun, tertidur sekelap, terbangun lagi, tertidur lagi, terbangun lagi, begitu seterusnya. Aku sampai berteriak parau di kabin pesawat yang sunyi saking frustrasinya. Meluapkan sebuah ledakan kekesalan yang membuat Kaka Danu terbangun dari tidurnya. Aku buru-buru minta maaf, dan ia memaklumi apa yang terjadi padaku.
Hingga akhirnya pesawat kami tiba di tujuan. Mendarat mulus, tapi bukan di landasan bandara, melainkan di laut. Lebih tepatnya perairan di tepi sebuah pulau kecil yang asing. Berhenti tepat di bibir pantai pulau tersebut. Begitu aku turun dari pesawat dan melihat pemandangan pulau tersebut, reaksi pertamaku adalah terperangah. Aku tak sempat melihat pemandangan dari atas, jadi inilah pertama kali aku melihat rupa pulau ini. Tidak terlalu jauh dari apa yang aku bayangkan, pulau ini terlihat sepi sekali dengan padang rumput yang luas sepi ini mengingatkan aku pada pulau misterius di selatan Pulau Sawu kemarin, pulau yang digunakan Koh Shung untuk menyekap Prof. Ram. Suasana seperti yang aku inginkan. Tidak ada rasa takut atau gentar dalam diriku, aku benar-benar butuh kesendirian untuk bertarung melawan kesedihan dan amarah dalam diriku ini. Maka aku segera melangkah mantap meninggalkan pesawat yang mengapung di bibir pantai. Kaka Danu buru-buru menyusul.
Hari sudah senja, langit mulai gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa selain padang rumput yang mulai redup sampai garis horison di ujung sana. Aku terus berjalan, Kaka Danu mendampingi di sisi. Hanya ada kami berdua di sana, diiringi suara langkah dan debur ombak di kejauhan. Lalu aku mulai tersadar dan berpikir, tidak ada bangunan di sekitar sini. Lantas di mana aku akan bermalam?
Maka langkahku terhenti. Memandang kosong ke sekeliling yang hanya diisi tumbuhan liar dan pemandangan laut jauh di ujung sana. Pulau ini tak berpenghuni. Persis seperti kisahnya yang penuh misteri. Kemudian aku berbalik badan, menatap Kaka Danu dengan bingung.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Ren," ucapnya langsung. "Ini adalah pulau paling misterius yang tidak sembarang orang yang tahu. Bahkan tidak ada dalam peta manapun. Mungkin yang kaulihat hanyalah padang rumput luas tanpa sisi. Dan kau bertanya-tanya 'kan di mana bangunan?"
Aku mendelik heran. Bagaimana orang ini bisa tahu?
"Lihat belakangmu sekarang!"
Dengan heran aku menurut saja. Begitu aku berbalik, seketika mataku terbelalak. Cukup mengagetkan melihat pemandangan yang tadinya hanya padang rumput luas kini tiba-tiba muncul sebuah bangunan di tengah-tengahnya. Aku benar-benar terpengarah, melihat bangunan itu terlihat gagah berdiri setinggi lima lantai. Awalnya aku bingung, tapi kemudian aku mengerti sendiri sebelum dijelaskan oleh Kaka Danu. Aku pernah mendengar sebuah teknologi semacam ilusi optik yang membuat seakan-akan suatu benda tidak ada di tempatnya. Ada sebuah perangkat canggih yang menutupi bangunan ini, sehingga tadi aku hanya melihat padang rumput yang luas.
"Kau mengerti 'kan?" tanya Kaka Danu.
Aku mengangguk sambil tersenyum tawar.
Setelah itu, Kaka Danu mengantar aku masuk ke bangunan itu. Kalau kuteliti, desain luarnya cukup modern, tapi isinya terlihat mengusung nuansa klasik. Aku merasakan sebuah suasana yang sulit dijelaskan. Bangunan ini benar-benar sunyi, sementara senja semakin jatuh di langit. Malam hampir tiba, membuat suasana menjadi lengkap. Sunyi, tidak ada orang lain, malam yang gelap. Sempurna. Aku tidak tahu bagaimana Kaka Danu bisa tahu persis apa yang aku butuhkan. Ia baru mengenal dekat aku beberapa bulan, tapi sudah mengerti banyak tentang bagaimana pribadiku.
Pria itu mengantar aku sampai lantai paling atas. Di sebuah kamar sederhana dengan jendela menghadap pantai. Kondisi ruangan itu temaram, tanpa satupun lampu listrik. Itulah hal unik dari bangunan ini. Tidak ada lampu penerang dari listrik di sana. Bukan karena tidak ada listrik, tapi karena rancangannya memang tidak menyertakan lampu listrik. Penerang bangunan itu adalah lampu-lampu minyak yang tergantung di dinding. Benar-benar hanya itu. Sehingga membawa aku kembali ke masa lalu, di mana belum ada listrik. Rumah sederhana yang redup karena berpenerang lampu minyak. Maka kamar yang kini kutempati juga temaram, membuat aku melupakan sejenak segala kemegahan di kota besar.
Begitu sampai di sana, aku benar-benar langsung melemparkan tubuh ke atas kasur. Menenangkan jiwa dan raga yang benar-benar lelah. Berharap aku bisa tidur bersama kesendirian.
"Ren," ucap Kaka Danu sambil berdiri di depan pintu. Ia menatap diriku dengan prihatin.
Aku bangkit dan duduk. Menatapnya pula dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Aku beritahu padamu," tuturnya. "Pulau ini adalah pulau asing yang tidak ada namanya. Letaknya ada di perairan Laut Maluku, di antara Sulawesi dan Maluku. Dan yang pasti, tidak diketahui oleh siapapun. Jadi, kujamin tidak akan ada orang lain yang tahu kalau kau ada di sini."
"Baguslah kalau begitu."
"Tapi sayangnya aku tidak bisa menemanimu di sini," sambung pria itu. "Aku harus kembali ke Sabu Raijua, banyak hal yang harus aku kerjakan di sana."
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri di sini."
"Informasi untukmu," tambah Kaka Danu pula. "Bangunan ini adalah kepunyaanku. Jadi kau tak perlu khawatir, tidak akan ada orang yang akan mengganggumu di sini. Di sini aman. Di lantai bawah aku juga meninggalkan persediaan makanan untukmu, semoga kau baik-baik saja."
"Baiklah, terima kasih, Kaka!"
"Baik, Ren. Aku pamit, semoga kau menemukan ketenanganmu di sini. Kau boleh hubungi aku kapanpun kau perlu, aku akan datang menjemput. Semoga esok hari kau sudah kembali mendapatkan semangat. Aku harap dengan ini, kau akan pulih. Sampai jumpa!"
Setelah itu, Kaka Danu balik kanan dan berlalu meninggalkanku.
Kaka Danu sontak terhenti dari langkah dan menoleh.
"Siapa saja orang tertentu yang tahu tentang keberadaan pulau ini?" tanyaku.
"Hanya dua orang, Ren."
"Siapa?"
"Aku."
"Yang kedua?"
"Aku tidak bisa beritahu padamu sekarang, nanti kau akan tahu sendiri."
__ADS_1
Segera setelah itu Kaka Danu buru-buru melangkah pergi sebelum aku sempat menahan langkahnya. Aku hendak berseru tapi tertahan. Sudahlah, lupakan saja satu orang itu. Aku memutuskan untuk kembali merebahkan diri.
Maka setelah Kaka Danu berlalu. Tinggallah aku seorang diri di bangunan sunyi itu. Bahkan ruangannya saja temaram, memandang keluar apalagi. Pulau ini penuh misteri, tapi tidak cukup membuat aku gentar ditinggal seorang diri. Dan akhirnya aku mencapai kesendirian ini, jauh dari siapapun di pulau asing yang tak punya nama. Jutaan kilometer dari rumah, dari tanah kelahiran. Di sini aku mengulang tabiat sejak dini, menyendiri ketika bersedih. Aku pun membenamkan wajah ke bantal, memaksa diri untuk tidur.
***
Pagi hari tiba dan aku pun terbangun. Disapa cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Sudah tak bisa lagi aku tidur, kamar ini menjadi sangat terang di pagi hari. Maka aku bangkit dan duduk. Menatap kosong dan samar-samar dengan kepala agak pusing, akibat tidur yang tidak nyenyak. Wajahku kusut. Isi kepala pun sama saja. Mataku masih mengerjap mengumpulkan kesadaran.
Dengan kondisi setengah sadar itu, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang di sampingku.
"Bagaimana tidurmu? nyenyak?"
"Tidak sama sekali. Sepanjang malam pikiranku masih terganggu."
"Kasihan kau, Ren!"
"Begitulah, aku ... EH?" Aku terkesiap. Dengan siapa aku bicara?
Aku benar-benar tersentak dari dudukku yang lemas dan kepala yang masih mengantuk. Aku buru-buru mengusap-usap wajah dan mataku. Dengan kebingungan, aku menoleh ke kiri ke kanan, menatap sekitar. Mencari-cari di mana orang yang mengajak aku bicara.
Sungguh membuat aku syok, ternyata orang itu duduk di tepi jendela, di belakangku. Dengan gaya santai menatapku sambil tersenyum simpul.
Detik aku menatap wajahnya, detik itu juga seketika aku terlonjak dari tempat tidur bagai tersambar petir. Melompat mundur lantas berdiri kaku. Mata melotot. Mulut menganga. Kening berkerut. Jari tangan menunjuk-nunjuk dengan rasa tak percaya berlipat ganda.
Aku benar-benar mematung dengan wajah syok luar biasa. Sementara orang yang kutatap hanya tersenyum menahan tawa melihat aku.
Aku berusaha keras untuk berucap, tapi lidahku kelu karena rasa terkejut yang teramat sangat. Namun, setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya aku berhasil mengeluarkan kata meski terbata-bata.
"J ... J ... Jan!"
__ADS_1