Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Di Ujung Gang


__ADS_3

Mobil masih melaju tanpa tujuan yang jelas. Menikung bagaikan pembalap melewati beberapa kali persimpangan dan belokan. Mobil sport di belakang juga masih memburu dengan buas, bahkan jaraknya semakin dekat. Untung saja petugas polisi yang mengemudikan mobil kami sangat mahir dan lihai, ia melakukan manuver-maniver dan berbelok ke banyak jalan pintas membuat pengejar kami kewalahan.


"Ke mana kita sebenarnya?" Aku berseru.


"Aku juga tidak hapal tempat di sini," jawab Jan. "Pak, sebaiknya kita ke mana?"


"Saya juga belum tahu, tapi tenang saja," jawab petugas polisi itu. "Saya akan buat mereka bingung dan menyasar. Mereka itu bukan orang yang berasal dari sini, terlihat sekali mereka tidak hapal dan tidak tahu jalan-jalan di daerah sini. Itu juga artinya mereka jelas bukan pasukan Tengkorak Hitam yang sedang menyamar."


Aku dan Jan mengangguk takzim. Itu adalah satu keuntungan untuk kami. Namun, kepala kami sekarang dipenuhi pertanyaan dan masalah baru. Siapa sebenarnya orang-orang itu? Ada kaitan apa mereka dengan Tengkorak Hitam? Kalau memang tidak memiliki kaitan dan hubungan apapun, mengapa mereka muncul dari atas kapal itu? Kalaupun mereka punya hubungan dengan Tengkorak Hitam, apa masalah mereka dengan kami sehingga mereka menyerang dan mengejar kami begini rupa? Tidak mungkin Tengkorak Hitam menggunakan pasukan dari pihak lain untuk menyerang kami sedangkan pasukan yang mereka punya tidak ada habisnya. Kalau aku ingat-ingat tadi, orang-orang misterius itu muncul secara tiba-tiba membawa senjata dan langsung menyerang begitu kami tiba di dekat kapal. Itu artinya mereka sudah menunggu kami di sana, dan juga berarti mereka sudah tahu bahwa kami akan datang ke sana. Bagaimana mereka bisa tahu? Jika mereka hanya sensitif dan melindungi diri karena mengira kami polisi, mereka tidak mungkin akan mengejar kami sampai sejauh ini yang bahkan belum berhenti. Jelas sekali mereka punya masalah yang serius dengan kami. Siapapun orang-orang itu, pasti mereka tahu ada aku atau Jan dalam mobil polisi yang mereka buru. Pasti antara kami berdualah yang menjadi sasaran mereka. Entah itu mereka adalah musuh Jan, atau mungkin musuhku. Atau juga musuh kami berdua. Secara profesi, kami memang punya banyak musuh. Lagipula tidak mungkin sekali urusan mereka adalah dengan polisi ini, atau polisi setempat. Polisi teman kami tadi saja sudah bilang bahwa orang-orang itu tidak berasal dari sini. Jadi, siapa mereka sebenarnya?


Kepalaku diselimuti pertanyaan sementara mobil kami masih melaju dan berbelok ke sana-sini. Melaju seakan sudah menempuh perjalanan yang jauh sekali. Padahal dari tadi, polisi yang mengemudikan mobil ini hanya membawa kami berputar-putar keliling kawasan ini melewati jalan-jalan tembusan dan terusan yang banyak sekali. Mobil sport di belakang juga masih membuntuti ke manapun kami pergi.


Sirine mobil dimatikan. Kami memasuki area jalan yang padat kali ini, cukup sulit untuk mengebut seperti tadi. Mau tak mau harus melambat dan berhati-hati. Namun, supir kami sudah ahli dan profesional, ia mampu mengemudi dengan gesit menyelip di antara kepadatan itu tanpa menyenggol satu pun kendaraan lain. Sementara mobil pengejar kami terjebak di belakang, mereka kesulitan menembus bagian jalan yang mulai macet itu. Itu memberikan waktu untuk kami lolos menjauh dan lepas dari perhatian mereka. Ratusan meter ke depan kami melaju dan meninggalkan mereka. Berbelok di persimpangan, mereka pun benar-benar kehilangan jejak kami sekarang.


Tak begitu jauh setelah melaju dari persimpangan, sang supir menginjak pedal rem dalam-dalam sambil memutar setir ke arah sebuah gang yang tampak cukup lebar untuk dimasuki mobil. Roda-roda berdecit dan menggores bekas gesekan di aspal jalan, maka mobil pun segera masuk ke dalam gang di antara dua gedung besar itu. Menyusuri gang kumuh itu sampai ke ujungnya. Ujung dari gang itu adalah sebuah daerah pemukiman warga, deretan rumah-rumah kayu sederhana dan bahkan ada yang lapuk serta terlihat bobrok. Aku sedikit terperangah melihat pemandangan itu. Aku tak menyangka, di belakang gedung-gedung menjulang dan potret kemajuan kota, masih ada kehidupan sederhana dan masih tertinggal tanpa ada sentuhan kemajuan apapun. Ternyata masih ada kompleks perumahan warga ekonomi kelas bawah yang tersembunyi di belakang rumah-rumah mewah dan kawasan pertokoan.


"Kalian turun di sini," ucap polisi teman kami itu. "Maaf, terpaksa harus saya tinggalkan di sini, sementara saya akan pergi untuk mengalihkan perhatian orang-orang tadi dari kalian!"


"Baiklah, Pak. Terima kasih!"


Aku dan sahabatku segera turun dari kendaraan itu tanpa banyak protes dan tanya.


"Baik, sampai jumpa!" ucap polisi itu dari dalam mobil. Setelah itu kaca mobil dinaikkan, mobil itu melaju ke arah samping menuju sebuah gang lain yang tembus kembali ke jalan raya. Menyisakan kami berdua di kawasan pemukiman kumuh itu.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana?" tanyaku pada Jan.


"Sebentar," jawab sahabatku itu sambil membalik badan. Kemudian ia merogoh kantong dan mengeluarkan ponselnya. Membuka kembali peta yang tadi diperlihatkannya. Namun, setelah menatap layar ponselnya beberapa saat, ia tampak terkejut dan wajahnya seperti kecewa.


"Ada apa?"


"Hilang!" jawabnya. "Titik koordinat mereka hilang dari pelacakanku!"


"Apa?" Aku melotot. Lalu segera ikut melirik layar ponsel yang menampilkan peta itu. Masih ada satu titik koordinat yang berkelap-kelip, yakni tempat keberadaan kami saat ini. Sementara titik yang tadi ada di pelabuhan kini tidak ada lagi, bukan berpindah ke manapun melainkan benar-benar hilang. Aku menatap hampa dan tak percaya. Apa-apaan ini? Lagi-lagi ada saja kejutan dalam hidupku.


"Sialan, apa yang terjadi? gerutu Jan. "Kenapa tiba-tiba hilang begitu saja, padahal aku yakin tidak ada yang salah dengan data yang aku masukkan."


Dengan gemas, sahabatku itu mengutak-atik perangkat lunak dalam ponselnya itu. Melakukan serangkaian program, pemuatan, validasi, mulai ulang proses, dan semacamnya itulah. Aku sendiri tidak sabar juga menunggunya.


Jan mendengus kesal. Ia melotot menatap layar ponselnya dengan sangat tidak percaya. Aku langsung mengerti apa maksud hal itu. Sehingga aku menghela napas panjang penuh kekesalan.


"Mungkin saja mereka sudah tahu," ucapku kemudian. "Mungkin saja, 'kan? Mereka sudah tahu bahwa mereka sedang dilacak. Jadi mereka melakukan rekayasa teknologi atau semacamnya, untuk menghilangkan sinyal mereka tadi radarmu, atau satelit. Jadi keberadaan mereka tak bisa terdeteksi."


"Benar juga," sahut Jan dengan nada lesu.


Aku terdiam. Situasi ini sulit. Tidak pernah semulus apa yang aku harapkan. Selalu saja ada hambatan yang menguji kesabaranku. Aku menjadi semakin khawatir dengan Prof. Ram Ranayuda. Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya. Semua ini benar-benar kacau. Aku berpikir keras. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, yang memberikan sedikit rasa lega.


"Jan," ucapku. "Bukankah titik koordinat mereka terakhir terlihat di pelabuhan dan tidak berpindah lagi ke mana-mana? Dan kau bilang tempat itu adalah markas mereka 'kan, berarti mereka pasti sudah ada di sana saat ini dan tidak akan pergi ke mana-mana lagi."

__ADS_1


"Ah, benar juga kau sobat," sahut Jan dengan nada bersenjatakan kali ini. Wajahnya seketika berbinar. "Semoga saja kau benar!"


"Kalau begitu kita harus buru-buru kembali ke tempat itu sekarang," ucapku.


"Ayo!"


Kami segera berbalik badan ke arah gang yang tadi merupakan jalan awal kami datang. Akan tetapi, begitu kami badan kami berbalik, tiba-tiba mata kami menangkap ada empat orang berjas hitam dengan senapan serbu teracung berdiri mencurigakan di ujung gang sana. Mereka lalu masuk dan menyusuri gang itu ke arah kami. Maka tanpa aba-aba, aku dan sahabatku itu spontan melompat ke samping, ke arah yang berbelakangan. Kami bersembunyi, mendekam di tembok gedung. Aku di tempatku, Jan di seberang sana. Kami siaga menatap tajam orang-orang itu. Mereka bertampang sangar, dengan pandangan yang menyorot dan menyelidik ke berbagai arah. Persis, aku yakin mereka adalah bagian dari orang-orang yang menyerang kami sejak di pelabuhan tadi. Sial juga, mengapa mereka tahu kami di sini?


Sementara orang-orang itu semakin mendekat, aku dan sahabatku semakin tajam menelisik. Menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan menyergap mereka. Aku bergantian menatap Jan, dan menatap orang-orang itu. Detik demi detik berlalu menegangkan. Aku dan Jan merogoh kantong, menguarkan senjata masing-masing. Pistol Glock 17 sedia di genggamanku, sementara mataku tak lepas dari orang-orang itu. Memperhatikan lekat-lekat setiap gerak-geriknya.


Keempat orang itu terus melangkah mendekat. Kini hanya berjarak beberapa meter dari pangkal gang, tempat aku dan Jan bersembunyi. Tinggal hitungan detik, aku sudah berencana untuk keluar dan melepaskan tembakan dan melumpuhkan orang-orang itu.


Masalahnya, di luar dugaanku, juga mungkin Jan, tiba-tiba muncul seorang anak kecil dari arah belakangku. Anak kecil itu melenggang santai saja melewati aku, lalu berbelok masuk ke dalam gang di mana ada orang-orang bersenjata tadi. Aku melotot kaget. Aku hendak mengulurkan tangan untuk menarik anak kecil itu cepat-cepat, tapi gerakanku tertahan karena suara bentakan dari salah satu orang-orang tadi.


"Hey, anak kecil, diam di tempat!"


Anak kecil itu terkejut dan terhenti dari langkahnya. Ia benar-benar membeku di tempat kali ini. Wajahnya ketakutan, tubuhnya gemetar, keringat bercucuran di sekujur tubuh. Saat aku mengintip, empat pucuk senapan tertodong ke arah kepalanya. Aku melotot dan menggeram. Apa-apaan orang itu? Kenapa mereka mau mencelakai seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


"Hey, dua orang yang sedang bersembunyi!" panggil salah seorang itu dari tempat mereka. Seketika aku dan Jan saling bertatapan dengan raut terkejut.


"Segera keluar kalian dari sana," sambung orang itu. "Atau anak kecil ini kami habisi!"


Rahangku mengeras. Ini tak bisa aku biarkan. Sesaat aku menatap Jan, memberikan isyarat untuk bergerak keluar bersama-sama. Jan mengangguk. Dalam hitungan detik, kami segera melompat keluar. Dan detik selanjutnya kami beraksi dengan gerakan yang kompak, gesit dan sangat cepat.

__ADS_1


Dalam detik-detik menegangkan itu, aku bergerak menangkap anak kecil tadi melindungi tubuhnya sementara Jan melepaskan dua kali tembakan. Orang-orang tadi merespon dengan memberondong kami menggunakan senapan serbu mereka. Namun, aku dan Jan sudah bergerak lincah melompat kembali ke persembunyian. Dan semua itu berlangsung hanya dalam hitungan detik saja. Sekarang aku mendekap anak kecil tadi, melindunginya di balik tubuhku. Ia melongo dan bingung, masih terlihat ketakutan. Aku menatapnya dengan ramah dan menenangkannya, kemudian meminta agar ia jangan bersuara. Ia mengangguk dengan gemetar.


Dorr! Dorr! Serentetan tembakan tiba-tiba menderu. Aku dapat melihat peluru-peluru berdesing di depan mataku. Aku menatap Jan, kemudian memberikan isyarat lagi padanya. Jan mengangguk paham. Maka pada saat deru tembakan berhenti, Jan melompat keluar dan melepaskan dua kali tembakan akurat kemudian secepat kilat kembali ke persembunyian. Aku mendengar suara teriakan dan geraman. Dua dari empat orang itu tumbang tak berdaya.


__ADS_2