
Orang-orang berjas hitam itu naik pitam melihat dua teman mereka yang telah terkapar. Mereka menggeram kesal. Dua orang yang tersisa seketika kalap dan segera berlari menuju kami dengan buas. Aku spontan menggendong anak kecil tadi dan mendekapnya lebih erat. Sementara Jan bersiap dengan pistolnya. Kami saling menatap dan bertukar isyarat.
Beberapa detik kemudian, dua orang bersenapan serbu itu keluar dari dalam gang. Muncul di hadapan kami dengan wajah garang. Satu menghadap Jan, satu lagi menghadapku. Sebelum orang itu sempurna sampai di depanku, aku lebih dulu bergerak gesit menyambutnya dengan tendangan mengejutkan. Tendanganku menghantam tangannya. Sehingga senapan yang dipegangnya terpelanting dan jatuh jauh di belakang kami. Orang itu menggeram kesal. Lalu ia melancarkan pukulan-pukulan dengan membabi buta. Aku bergerak menghindar sebisa dan secepat mungkin dengan anak kecil tadi masih dalam dekapanku. Karena aku tak bisa balas memukul, aku hanya terus menghindar dari tadi. Untungnya, lama-lama orang tadi lelah juga terus memukul tanpa satupun pukulannya tepat sasaran. Maka pada saat ia lengah, aku bergeser dan melakukan tendangan. Orang ini tak mampu menghindar. Tendanganku menghantam bahu kanannya, membuat ia terbentur ke tembok beton di samping. Kepalanya bahkan terbentur keras. Ia mengeluh kesakitan. Kemudian aku menerjangnya sekali lagi. Maka tak ampun dadanya terkena terjanganku dengan keras. Sambil terpekik, lawanku ini pun tumbang ke belakang. Terempas ke tanah berbatu. Di saat yang sama, rekannya yang berhadapan dengan Jan juga jatuh terkapar. Jadilah mereka tergeletak bersisian. Sama-sama mengaduh kesakitan. Aku lihat, lawan Jan itu juga tak bersenjata lagi. Senapannya juga dibuat terlempar oleh sobatku itu. Kedua orang itu terlihat tak sadarkan diri dengan luka di kepala masing-masing. Aku pastikan lagi dengan meneliti lebih dekat, mereka memang tidak bergerak lagi. Maka aku menghela napas berat dan penuh kekesalan.
Anak kecil di gendonganku aku turunkan dengan hati-hati. Aku lihat wajahnya yang polos masih melongo dan kebingungan, serta sedikit ketakutan. Aku meneliti anak ini, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Kelihatan agak aneh. Usianya kira-kira delapan atau sembilan tahun. Penampilannya sangat lusuh. Wajahnya kusut dan seperti tidak terurus. Pakaiannya kotor seperti tidak diganti-ganti, bahkan ada yang sobek. Ia juga tidak mengenakan alas kaki. Ia terlihat seperti anak kecil gelandangan yang tak punya rumah. Penampilannya itu sungguh menyedihkan. Dari tadi ia hanya menatapku sambil melongo setengah bingung setengah takut, tetapi akhirnya anak kecil ini memberanikan diri untuk membuka mulut.
"Te ... terima ... kasih, Om, sudah menyelamatkan aku!" ucapnya dengan suara yang gugup. Aku berlutut dan menatap ramah sambil tersenyum pada anak kecil itu. Mengusap bahunya untuk menenangkannya.
"Terima kasih kembali, dik!" jawabku. "Kamu tidak perlu takut sama saya, saya bukan orang jahat!"
"Terus Om ini siapa? Orang itu juga siapa?" tanya anak kecil itu.
"Orang itu ... hmm, mereka orang jahat," jawabku sambil menuding dua orang berjas hitam yang terkapar di depan kami. Jan sahabatku terlihat sedang memeriksa dan menggeledah pakaian orang-orang itu. Mencari data identitas atau apapun yang diperlukan.
"Om bukan penjahat juga, 'kan?" tanya anak kecil. "Karena aku belum pernah lihat Om di sini sebelumnya."
Aku tersenyum. Lalu menjawab, "Tidak, saya bukan orang jahat. Tenang saja, dik!"
Anak kecil itu untuk pertama kali akhirnya tersenyum. Tersenyum polos dalam kondisi tubuh yang lusuh dan ringkih itu. Namun, dalam lusuh dan ringkihnya, aku dapat melihat ketulusan dari senyumnya.
"Nama kamu siapa?" tanyaku.
"Nama aku ... Steven," jawab anak kecil itu. Ia mengulurkan tangannya. "Nama Om siapa?"
"Nama saya Renato." Aku menyambut uluran tangan itu dan berjabat tangan dengannya.
"Oh, Om Renato!" ucapnya dengan wajah polos.
"Umur kamu berapa?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Umur?" Anak itu tiba-tiba berubah menjadi bingung. Ia berpikir lama untuk menjawab sambil garuk-garuk kepala.
"Kenapa?" tanyaku sambil mendelik heran.
"Aku tidak tahu umur aku berapa, Om!" jawab anak kecil bernama Steven ini. Wajahnya terlihat menjadi sedih mengakui hal itu.
"Kenapa kamu bisa tidak tahu?" tanyaku pula.
"Aku tidak sekolah, Om, aku tidak mengerti berhitung!" jawab Steven dengan polosnya. Aku tercengang. Aku tak punya alasan untuk tidak percaya. Anak ini pasti jujur. Kasihan sekali dia.
"Kenapa kamu tidak sekolah, dik?" tanyaku dengan prihatin.
"Tidak ada uang, Om!" jawab Steven.
"Kamu tinggal di mana?"
"Di situ, Om, tidak jauh dari sini," jawab Steven sambil mengacungkan jari telunjuk ke satu arah. Di mana ketika aku memandang ke arah yang ditunjuknya, yang aku lihat adalah deretan rumah gubuk dari papan yang sebagian besar tampak sudah tua dan lapuk. Aku benar-benar jadi penasaran sekarang dengan kehidupan anak ini.
"Ayah ...." Steven tertunduk sejenak. "Ayah aku tidak ada, Om. Ibu juga. Aku tidak tahu siapa ayah dan ibu aku. Aku lahir dan besar di jalanan, sebelum Kakek Baik itu menolong aku."
Seketika hatiku terenyuh mendengar itu. Malang sekali anak ini, ia harus hidup di usia semuda itu tanpa sosok orang tua. Ditambah lagi ia harus bertahan dalam kondisi kesusahan seperti ini, bahkan pakaiannya saja lusuh dan usang. Aku merasa benar-benar prihatin padanya, apalagi aku dan Steven ini satu nasib, yaitu sudah menjadi anak yatim-piatu bahkan sebelum kami beranjak remaja. Kami sama-sama kehilangan kedua orang tua sebelum mengerti tentang dunia. Jadi, aku sangat mengerti apa yang dia rasakan. Aku bisa merasakan seperti apa kesedihan yang dia alami. Aku tahu rasanya jadi dia. Aku pernah berada dalam posisi dia saat ini.
"Maaf ya, Om sudah membuat kamu jadi sedih!" ucapku sambil mengusap bahu dan rambut anak kecil ini. Mencoba menghiburnya.
"Tidak apa-apa, Om!" Steven mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku. Aku terkagum. Kuat sekali hati anak ini, pikirku.
"Jadi, kamu tinggal sama siapa?"
"Aku tinggal sama tinggal sama Kakek Baik," jawab Steven.
__ADS_1
"Kakek Baik?"
"Kakek itu adalah petugas kebersihan di daerah ini," jelas Steven. "Ia tidak punya sanak keluarga siapa-siapa lagi. Jadi, kakek ini berbaik hati menampung kami anak-anak jalanan yang terlantar untuk tinggal di rumah kakek itu. Ada banyak teman-teman aku di sana yang nasibnya hampir sama semua. Kakek itulah yang memberi makan dan menjaga kami setiap hari. Sebenarnya, kakek itu juga bukan orang yang punya banyak uang. Kami tidak bisa sekolah, dan tidak bisa membeli baju-baju bagus, tapi tidak apa-apa, kami bisa makan saja sudah bersyukur."
Aku geleng-geleng kepala serasa tak percaya. Aku benar-benar terharu dengan anak ini. Hidupnya benar-benar malang dan susah, tapi ia masih bisa tersenyum dan bilang ia bersyukur dengan apa yang ada. Ia terdengar bangga sekali menceritakan tentang Kakek baik yang merawatnya, walaupun mereka hidup dalam kesederhanaan, tapi ia merasakan kebahagiaan dan ketenangan hidup dalam keluarga kecil mereka. Benar-benar membuat aku tersentuh.
"Wah, kasihan sekali kamu!"
"Tidak apa-apa, Om!" jawab Steven sambil tersenyum lagi.
"Hmm, maukah kamu mengantar saya ke tempat tinggal kamu? Saya mau melihat-lihat," ucapku.
"Boleh, boleh!" jawab anak itu. "Ayo, Om, ikut aku!"
Anak itu dengan bersemangat langsung menarik lenganku. Mengajak aku melangkah dengan terburu-buru. Ia membawa aku ke arah pemukiman kumuh yang tadi ditunjuknya. Sejauh aku memandang, tidak ada satupun bangunan yang mewah. Semuanya dalam kondisi usang dan bobrok. Aku terperangah, menyadari ada kehidupan yang bertahan di sini.
"Ren," panggil Jan dari belakang. "Mau ke mana?"
"Sebentar," sahutku sambil menoleh. "Kau tunggu sebentar di situ, nanti aku kembali!"
Jan yang terlihat sibuk dengan gawainya mengangguk saja menatapku berjalan berjauh dengan Steven.
***
Aku dan anak kecil itu berjalan melewati deretan bangunan tua selama beberapa menit. Sepanjang jalan itu aku memperhatikan satu per satu rumah-rumah itu, betapa pemandangan itu menampar wajahku dengan keras sekali. Aku berpikir, selama ini aku hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta, segala sesuatu yang aku inginkan bisa aku dapatkan dengan mudah. Semudah aku mengucapkannya, semudah itu semuanya langsung tiba di depan mata. Segala keperluan dan kebutuhan bisa terpenuhi. Hidup lengkap dan tiada kurang. Pekerjaanku juga menyenangkan. Namun, aku selalu berpikir bahwa hidupku ini menderita, aku selalu mengutuk nasib dan takdir tuhan, tak pernah bersyukur atas apa yang aku miliki. Aku selalu merasa hampa, padahal kurang penuh apa hidupku ini. Selama ini aku bekerja dan berkecimpung di dunia bisnis, dengan urusan pekerjaan di mana-mana dan selalu berpindah-pindah. Aku merasa aku sudah menjelajah dan mendatangi banyak tempat di negeri ini. Padahal semua tempat yang pernah aku kunjungi, hanyalah potongan kecil dari kehidupan sesungguhnya. Semua tempat pernah yang aku datangi, masih berada dalam ruang lingkup kekayaan dan kemewahan. Sedangkan di suatu sisi lain dunia ini yang tidak aku ketahui, ada segelintir kehidupan yang bertahan di daerah tertinggal dan kumuh. Hidup dalam kondisi serba kesusahan dan kekurangan. Rumah kediaman yang lapuk dan hampir runtuh. Jangankan memikirkan gaya hidup atau pakaian bagus, untuk sekolah bahkan untuk makan saja mereka susah. Dalam sudut pandang orang seperti aku—yang terbiasa hidup serba ada sejak kecil—, itu adalah kehidupan yang menyedihkan. Namun, Steven sudah memperlihatkan padaku bukti sebuah kebesaran hati. Dari tadi ia kuperhatikan, tidak terlihat raut mengeluh dan sedih. Hanya butuh sebentar untuk ia memulihkan hatinya yang tadi sedikit terguncang dan ketakutan, setelah itu dapat kulihat keceriaan di wajahnya. Semakin lama kami berjalan, semakin kulihat, anak itu terlihat tidak sedikitpun bersedih. Ia justru terlihat bangga akan memperlihatkan kediamannya padaku. Sungguh tamparan keras untukku. Mengapa dengan segala harta yang aku punya, aku justru lebih sering murung daripada tersenyum? Sedangkan orang-orang seperti Steven ini, masih mampu bertahan hidup. Wajahku panas dan malu. Aku benar-benar terharu melihat Steven dan cerita hidupnya ini.
Tidak butuh waktu yang lama, kami tiba di tujuan. Di salah satu rumah panggung yang hampir tidak beda dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, tapi rumah ini terlihat lebih besar dan luas. Kondisinya tua dan usang, dinding-dinding papannya terlihat tua dan sedikit bolong dimakan rayap, atapnya dari daun nipah atau yang seperti itu, konstruksi tiang-tiangnya sudah reyot. Steven membawaku duduk di beranda rumah itu. Aku terperangah memperhatikan bangunan rumah ini. Mataku tak berkedip menatap ke sekeliling. Aku serasa tak percaya, di rumah yang reyot dan tua ini, tinggal sekelompok anak kecil yang bernasib malang.
"Om!"
__ADS_1
"Eh ...." Aku tersentak dan mengerjap. Tersadar dari lamunan.