Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Aksi Penyamaran


__ADS_3

Aku terdiam lama bersandar ke tembok itu. Berpikir keras. Jan pun tidak ubahnya, sahabatku itu tersandar ke tembok di depanku. Sama-sama memutar otak dan berpikir keras. Sementara matahari semakin naik di atas kepala.


"Jan," ucapku akhirnya. "Apakah kita tidak bisa meminta bantuan kepolisian setempat?"


"Tidak bisa, Ren," jawab Jan. "Itu akan membuat kita kita mudah diburu pasukan Tengkorak Hitam, dan bisa-bisa kita terjebak oleh kepungan pasukan mereka yang sangat banyak. Sekarang saja, hanya soal waktu untuk pasukan mereka sampai dan bermunculan di sini. Kita harus benar-benar bersiap!"


Aku terdiam. Hanya mendengus dan menghela napas sebal.


"Kita harus mencari cara agar kita tak dikenali agar bisa leluasa menuju ke tujuan kita," ucap Jan.


"Kalau begitu kita menyamar," cetusku. Kali ini aku beranjak dari sandaran dan mendekat ke tempat sahabatku itu.


"Benar juga, kita bisa gunakan pakaian orang berjas hitam ini." Jan menyambut baik ideku itu. Ia mulai mendapat pencerahan.


"Bukan," sanggahku. "Kita tidak akan menyamar menjadi pasukan berjas hitam ini."


"Lalu?" Jan sedikit tercengang dan menatap wajahku bingung.


"Kita tunggu pasukan Tengkorak Hitam sampai ke sini, setidaknya dua orang. Kita akan menyamar menjadi mereka," jelasku.


"Cerdas," timpal Jan. "Benar sekali. Itu akan lebih efisien. Kalau begitu kita harus bergegas!"


Aku mengangguk. Kemudian mencabut pistol dari kantong. Dengan senjata bersiaga di tangan, kami mulai melangkah ke arah luar gang. Dengan langkah penuh waspada, mata mengawasi dengan tajam. Di ambang gang, kami mendekam dulu di pinggir tembok untuk memastikan kondisi di luar baik-baik saja dan aman terkendali. Maka kami pun berangsur keluar.


Kami berjalan dengan santai di tepi jalan raya. Berusaha bergaya seperti pejalan kaki seperti biasa. Mencoba untuk tidak terlihat mencolok. Beberapa meter ke arah utara, kami lewati tanpa halangan. Jalanan cukup padat, pejalan kaki dan pedagang di pinggir juga ramai. Dari pantauan kami sejauh ini, belum ada tanda-tanda kehadiran pasukan Tengkorak Hitam. Situasi di daerah sini masih aman terkendali.


Setelah kami berjalan hampir seratus meter, maka tibalah kami di muka sebuah gang. Aku perkiraan, gang ini tembus ke area perumahan kumuh tempat kediaman Steven tadi. Maka aku buru-buru masuk ke dalam gang itu, kemudian bersembunyi di sisi temboknya. Jan meniru teladanku, ia mendekam di sisi tembok di belakangku. Sigap mengawasi area belakang. Kami tahu, ancaman bisa datang dari arah mana saja. Dalam beberapa detik yang senyap di sepanjang gang, kami saling fokus mengawasi pantauan masing-masing. Dan akhirnya yang ditunggu itu datang.


"Ini dia," bisikku.


"Bagaimana?" sahut Jan pula dengan berbisik.

__ADS_1


"Terlihat mendekat ke arah kita," jawabku dengan mata masih tertuju tajam ke area jalanan. Beberapa meter dari gang tempat aku mengintai, adalah persimpangan empat arah. Dan aku dapat melihat dua orang dengan pistol di tangan muncul dari balik gedung. Mereka berpakaian baju kaus hitam yang dilapis rompi antipuluru, serta menutup kepala dengan topi hitam. Aku tak perlu melihat logo di punggung mereka, aku langsung tahu siapa mereka itu. Pasti pasukan Tengkorak Hitam. Dua orang itu berjalan dengan pandangan beredar ke berbagai arah, tajam mencari mangsa. Pistolnya masing-masing erat digenggaman. Mereka berjalan ke arah gang tempat aku dan sahabatku berada. Bagus sekali. Sesuai dengan rencana kami.


Aku menyeringai puas. Berbisik, "Bersiap, Jan!"


Jan mengangguk. Sahabatku ini berpindah posisi ke sisi gang di seberangku. Ia turut mengintai lawan yang semakin mendekat. Detik demi detik terasa menegangkan, seakan melambat untuk menyaksikan aksi kami. Aku dan Jan saling bertatapan sejenak. Kemudian,


"Hyah!" Kami melompat lincah bagai macan menerkam buruan.


Detik itu, adalah detik di mana kedua pasukan Tengkorak Hitam itu melangkahkan kaki di muka gang. Pada detik itulah kami muncul menyergap mereka. Bukan main kejut mereka, pistolnya menyalak dan menembak sembarangan. Namun, mereka mati langkah, aku berhasil menangkap tubuhnya dan memiting batang lehernya dari belakang. Lengan kanannya kutahan, kemudian kurebut pistol di genggamannya dengan mudah. Pistol itu kulemparkan ke arah gang. Sementara orang ini kubekuk. Di sisi lain, Jan persis begitu juga dengan lawannya sendiri. Maka kedua orang itu kami tarik paksa memasuki gang tadi. Lawanku ini coba berkelit dan meronta, tapi aku mempererat cengkeraman di lehernya hingga ia tercekik dan kesakitan. Lawanku memaksakan diri untuk bergerak, ia ingin menghujamkan sikunya ke perutku. Beruntung aku sigap menangkisnya, lalu menarik paksa tubuh itu ke pinggir gang. Merapat ke tepi tembok.


Pada detik selanjutnya, aku dan Jan melakukan gerakan yang kompak, apik, dan berbahaya. Dengan lengan masih memiting leher lawan, kami melompat dan menerjang tembok gedung di samping. Terjangan itu memberikan tenaga dorongan yang kuat untuk kami. Maka dengan dorongan itu, hanya dalam hitungan kurang dari satu detik pitingan kami lepaskan dan berganti dengan hantaman keras yang menghujam tepat ke wajah, di titik antara kedua mata orang itu. Topi yang mereka kenakan terlempar lepas dari kepala. Mereka serentak terpekik kesakitan dan tumbang ke dasar gang. Tak pelak, mereka tergeletak tak sadarkan diri dengan dahi lebam. Aku dan Jan saling menatap sesaat, kemudian ganti menatap dua korban kami sambil melemaskan otot-otot dan tenaga yang tadi terkuras. Aku menghela napas sebentar, kemudian berlutut mendekati tubuh pasukan Tengkorak Hitam itu.


"Ayo, kita harus buru-buru!" ucapku.


Jan turut berlutut ke dekatku. Kami bekerja sama untuk melepaskan rompi antipuluru milik kedua orang ini secara paksa. Menyisakan baju kaus hitam mereka. Kemudian aku dan Jan melepas jas di badan masing-masing. Jas biru yang sudah aku kenakan sejak kemarin siang akhirnya aku tanggalkan. Sementara Jan, aku tidak tahu sejak kapan jas itu dipakainya. Kedua jas tersebut kami selubungkan ke tubuh dua lawan kami yang telah terkapar itu. Jan lantas buru-buru mengenakan rompi rampasannya itu, membalut kaus hitam di tubuhnya. Sementara aku harus menanggalkan kemaja putihku dahulu hingga menyisakan kaus dalam, barulah rompi antipuluru itu aku kenakan. Kemeja putih tadi aku selubungkan saja menambah jas yang tadi sudah terampar menutup sekujur tubuh tak berdaya orang-orang itu. Terakhir, kami memungut topi yang tadi terlempar dan mengenakannya.


Kemudian aku bersama sahabatku berdiri tegak dan membalik badan penuh gaya. Maka sempurna sudah, Renato dan Jantoro telah berubah menjadi anggota pasukan Tengkorak Hitam. Berharap siapapun yang melihat kami, tidak mengenali identitas kami yang sebenarnya. Termasuk para pasukan Tengkorak Hitam itu sendiri. Semoga saja penyamaran kami ini berhasil.


"Ayo," sahut sahabatku meyakinkan. Ia mengangguk takzim. Aku pun menyeringai yakin pula.


Maka kami mencabut pistol masing-masing. Dengan pistol Glock 17 erat digenggaman siap menyambar siapapun musuh yang mengancam, segeralah kami melangkah. Keluar dari gang, terus ke pinggir jalan raya. Berjalan sambil mengawasi sekeliling, meniru gaya pasukan Tengkorak Hitam tadi. Kami berjalan terus menyusuri trotoar menuju persimpangan jalan, melewati beberapa kerumunan. Kerumunan dan ramainya orang yang kami lewati seketika bubar melihat siapa yang datang. Sebenarnya tadi tempat ini sudah heboh sejak pasukan Tengkorak Hitam yang asli lewat di sini, yang kemudian kami sergap dan kami taklukkan. Kehebohan agak reda beberapa saat. Akan tetapi, begitu kami keluar dari gang, kini kehebohan dan kepanikan terjadi lagi dan menjadi lebih besar karena kami keluar membawa-bawa senjata yang teracung. Orang tua yang membawa anak segera berlari menjauh melindungi anaknya. Begitu pula orang-orang yang berpasangan. Atau mungkin juga yang berjalan seorang diri, segera menjauh untuk mengamankan diri. Mobil atau motor segera tancap gas kabur melaju. Penjaga-penjaga toko yang kami lewati segera masuk bersembunyi. Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin warga kota ini sudah terbiasa dengan munculnya pasukan Tengkorak Hitam di antara mereka. Karena setelah kami lewat, kerumunan tadi—entah yang sedang melakukan jual beli atau apapun—kulihat kembali lagi. Seperti biasa saja.


Aku dan Jan terus menyusur pinggiran jalan raya tersebut. Hingga kami melihat sebuah mobil jip hitam datang ke arah kami. Maka kami berhenti dan tegak menunggu di samping tiang lampu jalan. Bukan karena mobil jip-nya, tapi karena orang di dalam mobil tersebut berpakaian sama persis seperti kami. Dia pasti merupakan pasukan Tengkorak Hitam. Dan sesuai rencana kami, mobil jip itu berhenti dan menyinggahi aku dan sahabatku. Aku dan Jan saling mengerti untuk menunduk, agar wajah kami tak terlalu kelihatan. Untung saja anggota pasukan Tengkorak Hitam dalam mobil jip itu sendirian. Itu sedikit memberikan kemudahan untuk kami.


"Bagaimana?" tanya orang itu. "Apa mereka sudah ditemukan?"


"Sudah, tapi mereka kabur!" jawabku tegas. Aku menjawab dengan suara yang sengaja kuubah sedikit agar terdengar berbeda dan tak mudah dikenali.


"Kabur?"


"Ya, mereka kabur ke selatan," jawabku lagi.

__ADS_1


"Selatan?"


"Iya, makanya kita harus buru-buru, sepertinya mereka mau meninggalkan pulau ini."


Aku dengan berani membuka pintu dan naik ke mobil itu. Duduk di kabin belakang. Melihat aku, Jan pun turut naik dan duduk di sampingku. Si pengemudi mobil tampaknya tidak keberatan.


"Baiklah, ke mana mereka lari?" tanya anggota pasukan Tengkorak Hitam yang asli itu, di kabin kemudi mobil.


"Ke sana!" Aku mengangkat telunjuk ke satu arah.


Tanpa menjawab, sang pengemudi langsung melarikan mobil menuju arah yang aku tunjuk. Kami pun meluncur cepat meninggalkan area kota tersebut. Sepanjang jalan, aku menjadi penunjuk jalan bagi sang pengemudi. Dia terus fokus menyetir, tanpa tahu siapa kami sebenarnya dan ke mana sebenarnya dia sedang dituntun.


Mobil jip itu melesat meninggalkan area pusat kota. Masuk ke daerah pemukiman jarang dan agak sunyi. Pemandangan di kiri kanan jalan adalah rumah-rumah papan yang jarang dan beberapa lahan kosong yang ditumbuhi rerumputan dan semak serta beberapa pohon rimbun. Aku tak tahu daerah apa ini dan ke mana jalan yang kami tempuh ini akan tembus. Aku hanya sedang menuntun orang ini menuju pesisir selatan pulau ini. Namun, dengan sedikit bantuan dari peta di gawai Jan, setidaknya aku bisa menunjukkan arah yang lebih spesifik.


"Sebenarnya ke mana mereka pergi?" tanya anggota pasukan Tengkorak Hitam itu dengan wajah tidak sabar.


"Mereka lari ke arah sini," jawabku sembarangan sambil menunjuk arah pesisir.


"Kau yakin?"


"Yakin," tegasku. "Mereka ingin meninggalkan pulau ini, sedangkan semua pelabuhan pasti sudah dijaga, 'kan?"


"Benar juga," anggota pasukan Tengkorak Hitam itu mengangguk-angguk. Aku menghela napas lega mendengar jawabannya. Karena ucapanku tentang pelabuhan hanyalah tebakan berani, aku sama sekali tak tahu apa-apa. Untung saja aku benar, jadi tidak menimbulkan kecurigaan.


"Mereka pasti akan kabur lewat pantai atau ujung pulau ini yang tidak dijaga," ucapku kemudian.


"Kita ke sana, di sana ada pantai dan bisa untuk jalan keluar," sambung Jan. Akhirnya sahabatku ini bersuara juga sejak tadi. Suaranya pun sama sepertiku dibuat berbeda.


"Ke sana?" Anggota pasukan Tengkorak Hitam itu tercengang dan langsung menginjak rem dalam-dalam. Mobil kami berhenti di muka jalan yang ditunjuk Jan tadi. Masalahnya, jalan itu adalah jalan tanah yang kecil dan diapit semak serta hutan. Si Tengkorak Hitam bingung sebentar dan menatap kami dengan ragu-ragu.


Aku menunduk, mencoba tenang. Kemudian berkata, "Cepatlah, kita harus buru-buru!"

__ADS_1


Si Tengkorak Hitam akhirnya menyingkirkan keraguannya. Menginjak pedal gas, maka mobil jip kami segera masuk menerobos jalan kecil dan penuh semak serta pohon itu.


__ADS_2