
Padang rerumputan? Di mana aku ini. Aku bangkit berdiri dengan bingung sesaat. Setelah aku teliti, ini bukan padang rumput. Melainkan sebuah lahan kosong bekas hutan yang baru dibuka. Masih ada beberapa pohon yang berdiri, sementara pohon-pohon lain terlihat sudah tumbang ditebang. Ternyata aku tidak jatuh di padang rumput, hanya saja aku jatuh tepat di bagian tanah ditumbuhi rerumputan.
Aku memandang sekeliling. Mataku menemukan seseorang berdiri sama bingungnya dengan aku, beberapa meter di belakang sana. Aku langsung mengenali orang itu.
"Jan," panggilku. "Kemarilah!"
Sahabatku itu langsung datang mendekat. Ia tersenyum semringah begitu tiba.
"Kita sampai, Jan!" ucapku.
"Yeah," Jan berseru tampak begitu antusias. "Akhirnya, kita sampai ke masa lalu. Aku benar-benar tidak bisa percaya hal ini."
Ia berputar memandangi sekeliling lahan luas ini. Dengan wajah yang awalnya takjub dan terpesona bahwa pemandangan ini di masa lalu, kemudian ganti menjadi heran dan bingung karena ia tak tahu di mana tempat ini.
"Ren," ucapnya akhirnya. "Kita benar-benar di dua dekade yang lalu, 'kan?"
"Tentu saja," jawabku.
"Tapi di mana ini?" tanyanya. "Apakah Gerbang Masa Lalu itu berfungsi untuk teleportasi juga? Maksudku, apakah jika kita pergi ke masa lalu kita akan tiba di sembarang tempat yang acak atau di tempat tertentu?"
"Tidak juga," jawabku.
"Kenapa kita ada di sini?"
"Begini aku jelaskan," tuturku. "Saat kita akan memulai perjalanan waktu, kita harus menentukan tanggal, bulan, dan tahun yang kita inginkan. Akan tetapi, kita tidak bisa menentukan tempat yang ingin kita tuju."
"Kalau begitu, berarti kita akan tiba di tempat yang acak, 'kan?"
"Tidak," tegasku. "Kita akan tetap di tempat di mana kita memulai perjalanan waktu itu, hanya saja kondisi sekitarnya akan berganti menjadi seperti pada waktu yang kita tentukan."
"Hah?" Jan yang tadi sibuk menatap pemandangan langsung alih menatapku. "Jadi maksudmu kita ...."
"Benar," potongku. "Kita berada di lokasi gedung auditorium kota, dua dekade yang lalu."
"Wah, gila," seru Jan. "Ternyata dua dekade yang lalu gedung itu belum dibangun. Masih lahan kosong yang baru dibuka. Lihatlah semua pohon-pohon tumbang ini!"
"Ya, begitulah. Aku juga baru mengetahuinya. Tadinya aku juga bingung di mana kita, tapi aku teringat tentang prinsip kerja Bangsal ini yang dijelaskan Prof. Ram kemarin."
"Hmmm," Jan mengangguk-angguk. "Aku merasa asing menatap pemandangan ini. Agak aneh membayangkan bahwa kota kita dulu pernah hijau, mengingat saat ini sudah penuh dengan bangunan yang rapat."
"Baiklah, sobat!" ucapku sambil mulai melangkah. "Kau tidak mau terus di sana saja, 'kan? Ayo kita jalan-jalan."
Jan tersenyum simpul. Ia turut menyusulku. Kami melangkah hati-hati melewati batang-batang kayu yang membujur melintang di sana. Aku memandang jauh ke lurusan depan. Beberapa puluh meter di depan sana, terlihat jalan raya dan gedung-gedung tinggi di seberangnya. Yang mana gedung-gedung tinggi baru berjumlah beberapa dan berdiri tidak terlalu rapat.
"Ren," ucap Jan sambil berhenti sebentar dari langkahnya. "Tolong kau periksa punggungku sebentar. Tolong bersihkan kalau kotor!"
Aku tersenyum sambil menoleh sekilas. Sambil meneruskan langkah aku menjawab, "Tidak sama sekali!"
__ADS_1
"Kau bahkan belum melihatnya," protes Jan. Ia bergegas menyusulku membawa heran.
"Ya, tapi aku sudah tahu bahwa jas yang kaupakai tidak sedikit pun kotor," jawabku.
"Bagaimana maksudmu?" tanya Jan bingung. "Tadi aku jatuh di bagian tanah yang kotor, Ren. Bagaimana mungkin tidak kotor sedikit pun?"
"Karena kita di masa lalu," tegasku.
"Lantas?"
"Kau harus paham prinsip penting dari melihat masa lalu, bahwa apa yang kita lakukan di sini tidak akan berpengaruh pada kondisi semula. Demikian sebaliknya, apa yang ada di sini tidak akan berpengaruh pada kita. Itulah kenapa meski kau jatuh di tanah kotor, jasmu tidak akan menjadi kotor. Lagipula, wujud kita di sini hanyalah visual realitas maya."
"Baik-baik," Jan mengangguk-angguk. "Apakah itu maksudnya kita tidak bisa bersentuhan dengan orang-orang di sini?"
"Tepat," jawabku. "Kita tidak akan bisa bersentuhan dengan orang-orang di sini. Mereka tidak akan melihat kita. Apa yang kita lihat di sini adalah persis seperti apa yang telah terjadi di dua dekade yang lalu, tidak akan ada perubahan sedikitpun."
"Haruskah begitu?"
"Memang hanya itu yang bisa terjadi. Hal ini sudah dirancang di awal perencanaan Bangsal. Itulah hukum mutlak yang perlu diperhatikan saat ingin menciptakan mesin waktu. Dunia kita tidak seperti film fiksi, belajarlah untuk menerima saja realita."
"Haha, benar juga, sobat!" pungkas Jan.
Tak terasa karena asyik mengobrol, kami tiba ujung lahan tersebut. Di pinggir jalan raya, di mana kondisinya sudah padat. Mobil-mobil kuno berlalu-lalang, sepeda motor keluaran lama. Memandang ke area pertokoan di seberang sana, atau gedung di sampingnya, atau penjual es keliling yang kebetulan lewat mengendarai sepeda motor, aku benar-benar merasakan aroma nostalgia. Dua dekade lalu. Membuat aku tersenyum lepas mengenang semuanya.
***
"Sumpah, melihat cat kuno di tembok itu sudah cukup untuk membuat rindu mengulang segalanya," ujar Jan. Kami sedang berdiri di pagar depan bangunan itu. Menatap ke arah taman sekolah yang sepi dan bangunan kelasnya yang berdiri tak jauh dari sana.
"Ada kesedihan dan haru mengingat apa yang sudah kita lalui di sini," tambahku. "Kita adalah duo pemuda paling berbahaya, kata Junior. Semua itu berawal di sini."
"Benar, luar biasa sekali." Jan begitu antusias. Ia meneliti setiap senti bangunan sekolah kami. Aku sendiri juga sama. Rasanya tidak puas untuk menikmati semua nostalgia ini untuk satu-dua jam saja, aku mau seharian di sini, tapi itu tidak mungkin. Waktu yang kami lewati di sini, berjalan sama dengan waktu di dua dekade ke depan di mana orang-orang sedang menunggu kami dalam auditorium. Jadi, jika satu hari lamanya kami di sini, satu hari pula mereka menunggu kami kembali ke masa depan.
"Hey, Ren!"
"Eh," Aku terkesiap dari lamunan.
"Kira-kira apa yang paling ingin kaulihat lagi di sini?" tanya Jan.
"Hmm, kau lihat ini!" jawabku. Aku membuka telapak tangan yang dibalut sarung tangan. Di sana menyala sebuah layar kecil yang menampilkan panel kendali dengan berbagai kolom-kolom pilihan.
"Wah, ternyata sarung tangan ini ada gunanya!" Jan terperangah takjub.
"Tentu saja, inilah alat kendali untuk kita di sini."
"Jadi, apa yang mau kaulakukan?"
"Ini." Aku menekan layar di telapak tanganku. Dalam detik aku menekan layar itu, langit tiba-tiba berubah. Cahaya matahari berganti cepat. Dapat dilihat matahari pagi bergerak naik, orang-orang yang sedang beraktivitas atau kendaraan yang lewat, semua bergerak cepat sekali layaknya dalam video yang dipercepat.
__ADS_1
"Wah, gila!" seru Jan sambil terpana memandang langit. "Kau mempercepat waktu?"
"Itu dia," ucapku. "Bukankah kita hanya sedang menonton video masa lalu. Jadi kita bisa sesuka hati mempercepat, memperlambat, memajukan, memundurkan, atau menghentikan waktu. Persis seperti sedang menonton video."
"Keren sekali, sobat."
"Sekarang kau lihatlah sekolah!" ucapku.
Jan yang tadi asik memandang langit segera kembali menatap sekolah. Aku sudah berhenti mempercepat waktu, sudah sampai pada jam yang aku maksud. Situasi sekitar sudah kembali berjalan dengan kecepatan normal.
"Eh?" Jan seketika melongo begitu menatap taman sekolah. Di tengah-tengah taman itu, aku yang masih kecil tengah dikerumuni enam anak-anak berandal sekolah. Seragam merah putihku lusuh dan acak-acakan, wajah polosku menatap lawan penuh kebencian. Namun, aku tak mampu berbuat apa-apa. Usiaku masih sepuluh tahun. Tubuhku ringkih dan lemah, tak mampu melawan. Apalagi keenam anak nakal itu semuanya adalah kakak kelasku dan badannya lebih besar dari aku. Maka mereka benar-benar mengeroyokku. Segala tinju, pukulan, terjangan, tendangan melayang ke setiap bagian tubuhku. Aku hanya bisa meringis, berseru, mengaduh menahan sakit. Hal itu berlangsung cukup lama. Keganasan mereka tidak berhenti sebelum tubuhku jatuh terempas ke rumput taman. Aku tergeletak lemas, baru mereka pergi sambil tertawa-tawa penuh kemenangan.
"Ren ...." Jan kehilangan kata-kata. Ia benar-benar melongo, melotot, terngaga melihat pemandangan di depannya. Dapat dilihat berapa geramnya ia. Aku sendiri hanya tersenyum miris melihat diriku sendiri tergeletak lemas begitu. Sedih, tapi aku bangga aku mampu bangkit dan tumbuh menjadi lebih kuat.
"Ke mana orang lain?" tanya Jan. "Ke mana aku hari itu? Aku tidak pernah melihat kau dianiaya sebrutal itu, kenapa aku tidak muncul?"
"Biasanya memang tidak sampai separah itu karena kau selalu datang menghajar mereka, tapi hari ini kau tidak hadir sekolah. Mereka leluasa menjadikan aku bulan-bulanan. Anak-anak lain dan guru sudah pulang. Aku juga akan pulang, tapi mereka menyeret aku ke sini."
"Kurang ajar!" seru Jan.
"Sudahlah, sobat!" ucapku. "Jangan lihat aku yang tergeletak itu, lihat aku yang di sampingmu sekarang. Siapa yang berani menantang aku sekarang?"
"Benar juga," Jan mengangguk. "Aku bangga kau akhirnya bisa seperti ini."
"Itulah mengapa aku ingin melihat ini sekali lagi," ucapku. "Aku ingin mengenang saja bagaimana masa kecil yang menyakitkan telah membesarkan aku menjadi sekuat ini."
"Sobat, bisakah kau mundurkan waktu sedikit?" tanya Jan tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Tolong putar lagi adegan kejam tadi," pinta Jan. "Aku ingin melihat lagi wajah-wajah bocah berandal itu lebih teliti."
"Untuk apa?"
"Aku sudah lupa wajah mereka, sobat. Aku sudah tak tahu lagi di mana mereka sekarang. Jadi, aku mau melihat lagi wajahnya. Nanti saat kita kembali ke masa depan, aku akan cari orang-orang ini dan kita balas dendam!"
"Hah?" Aku tercengang. "Itu tindakan yang tidak baik, Jan, tapi sepertinya seru juga, baiklah!"
Jan langsung tertawa tergelak.
Aku membuka layar. Memundurkan waktu ke beberapa menit yang lalu. Adegan berulang. Untuk kedua kalinya kami melihat diriku kecil dianiya dengan keji. Dan di antara tinju dan terjangan yang melayang, tiba-tiba mereka membeku jadi patung di posisi masing-masing. Semua aktivitas lain juga berhenti. Aku menghentikan waktu. Agar lebih leluasa untuk meneliti wajah bocah-bocah sialan itu.
"Bagus, sobat. Mari kita lihat siapa mereka, biar kutandai wajahnya. Nanti mereka akan ... Hey, tunggu sebentar ...." Jan seketika terkejut dan melotot tak percaya. Ia langsung mundur menggeleng-geleng dengan kening berkerut.
Awalnya aku heran, tapi aku akhirnya mengerti mengapa Jan sampai demikian kagetnya. Sebab aku sendiri tak kalah syok setelah menatap wajah bocah-bocah yang mengeroyokku itu. Bagaimana tidak, setelah kami teliti, wajah mereka ternyata sangatlah tidak asing. Kami mengenal siapa mereka. Menjadi kejutan yang benar-benar membuat aku geleng-geleng kepala. Sedikit sulit untuk dipercaya tapi kami tidak mungkin salah lihat.
Aku dan Jan langsung saling bertatapan dengan wajah tak percaya. Lalu dengan serempak mengucapkan hal yang sama.
__ADS_1
"Enam Mata Dadu!"