Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Pidato Perpisahan


__ADS_3

"Renato!" Pak Roy merangkulku. Di depan gerbang lapas kota. Siang ini, Pak Roy dibebaskan dari tahanan. Ia baru saja berpamitan dengan petugas lapas dan berjalan melewati gerbang. Aku, Jan, dan Putri sudah menunggu di sana. Maka, Pak Roy langsung merangkulku.


Aku diam saja. Jan dan istrinya tersenyum simpul melihat kami.


"Aku sebenarnya tak mengharapkan hal ini. Aku tak mengerti mengapa kau memutuskan untuk melakukan ini, Ren." Pak Roy perlahan melepaskan rangkulannya. Menatapku dengan serius.


"Saya memaafkan, Bapak," jawabku pelan. "Anda adalah bapak saya, tidak mungkin saya benci."


"Tapi aku pantas menerima hukuman, 'kan?"


"Bapak sudah menebus kesalahan bapak, dengan membesarkan saya. Merawat saya setulus hati, dan bapak sudah jujur atas semua perbuatan bapak. Itu cukup!" jelasku.


"Baiklah, Ren. Kita tidak akan berdebat tentang ini. Aku hanya ingin menyampaikan terima kasih. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih padamu!" ucap Pak Roy.


Aku tersenyum penuh ramah. Tak tahu harus berkata apa.


Pak Roy kemudian beralih pada anak kandungnya. Memeluknya penuh kehangatan seperti halnya ia memelukku tadi. Pelukan mereka lagi-lagi terlihat penuh emosional. Sulit dijelaskan.


"Terima kasih juga untukmu, Nak!" ucap Pak Roy.


Selesai dengan rangkulan itu. Jan mendekatiku, ia menjabat tanganku kemudian ganti merangkulku pula. Aku sedikit terkejut, tapi aku membalas saja rangkulannya penuh hangat.


"Terima kasih, Ren!" ucap sahabatku ini. "Terima kasih sekali, atas kebesaran hatimu untuk memaafkan ayahku!"


"Ayah kita, Jan!" ucapku. "Aku yakin yang aku lakukan adalah yang terbaik."


Jan melepaskan rangkulannya, kemudian menepuk-nepuk bahuku. Terlihat sekali raut haru di wajahnya. Kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Sementara Fitri, istri Jan, menyalami ayah mertuanya dengan penuh sopan dan ramah. Pak Roy pun menyambut dengan ramah pula. Terlihat betapa ia bahagia ia menatap Fitri. Menyadari bahwa anaknya yang dikira tewas tiga puluh tahun lalu, ternyata kini sudah menikah. Pak Roy memerhatikan menantunya itu secara detail dari atas sampai bawah. Dan, satu hal telah berhasil menarik perhatiannya.


"Nak, kamu mengandung?" tanyanya.


Sebagai jawaban, Putri tersenyum dan mengangguk sopan.


"Oh, iya. Benar, Pak!" tambah Jan. "Saya lupa belum memberitahu, Fitri mengandung. Usia kandungannya sudah lebih tiga bulan."


"Ya ampun, ini luar biasa. Aku senang sekali mengetahuinya," ungkap Pak Roy. Wajahnya berseri-seri melirik perut Fitri.


"Ternyata hidup memang penuh kejutan, anak-anakku!" ucapnya kemudian. "Seumur hidupku aku tak pernah menyangka bahwa anakku masih hidup. Kemudian lihatlah siang ini, justru aku mengetahui bahwa aku akan punya cucu."


Aku dan Jan sontak kompak tertawa riang. Pak Roy tersenyum bahagia, demikian pula Fitri. Suasana bertahan seperti itu, hingga aku menyela.

__ADS_1


"Oh, ya, Fitri," ucapku. "Apakah Jan sudah membicarakan hal itu dengan kamu?"


"Ah, tentang itu ... Tentu saja sudah," jawab Fitri.


"Benar, Ren," sambung Jan. "Kami sudah sepakat, dan aku sudah mengambil keputusan."


"Jadi?"


"Ya, aku setuju."


"Nah, itu dia sahabatku." Aku langsung melonjak girang. "Terima kasih, Jan. Terima kasih, Fitri. Terima kasih!"


"Sebentar, ada apa ini?" tanya Pak Roy.


"Oh, ya." jawabku. "Begini, Pak, saya 'kan sudah bilang sejak awal. Saya tidak mau jadi direktur. Selama ini kita selalu berdebat tentang ini. Bapak selalu memaksa saya jadi direktur, dan saya selalu menolak. Hingga akhirnya saya terpaksa jadi direktur saat bapak turun. Dan, saya jadi direktur tetap terpaksa. Saya masih pada prinsip saya, tidak mau jadi direktur. Awalnya saya berusaha menerima hal ini, tapi begitu saya tahu bahwa Jan adalah anak kandung bapak. Saya berubah pikiran, jadi saya minta Jan agar bersedia menggantikan saya. Dan sekarang, saya resmi menyerahkan jabatan saya kepadanya."


"Ya ampun, Ren!" Pak Roy menepuk keningnya. "Kau itu benar-benar keras kepala dan tak pernah berubah."


Aku terkekeh.


"Tapi tak apa," lanjut Pak Roy. "Untuk sekali ini, aku setuju denganmu. Jan adalah alternatif sempurna untuk memimpin perusahaan itu. Aku telah sadar memaksakan kehendak itu tidak baik. Kau memang Renato, dan akan terus menjadi Renato. Dan Jan, aku percaya kau bisa memegang tanggung jawab ini. Korp. Masadepan, adalah milikmu sekarang."


Jan tersenyum bangga. "Saya janji, akan pegang amanah ini baik-baik."


"Aku ingat sekali pernah mengatakan itu," jawab Pak Roy. "Sekarang aku benar-benar tenang. Terima kasih, anak-anakku!"


Di tengah pembicaraan kami itu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat sebuah mobil mendekat. Tampak sangat tidak asing. Tak lama, mobil itu pun berhenti persis di depan kami. Seketika aku dan Jan kompak terbelalak, kemudian melongo menatap mobil itu. Bagaimana tidak, mobil tersebut adalah kembaran mobil Jan yang beberapa hari lalu kami temui di tengah kemacetan. Chevrolet Camaro ZL1 warna biru garis putih dengan pelek warna hitam. Sama persis. Serupa pinang dibelah dua.


Dari dalam mobil tersebut, keluar seorang berpakaian supir. Yang kemudian dengan sopan datang menghadap Pak Roy.


"Ja ... Jadi mobil mewah ini punya bapak?" tanyaku.


"Iya, benar. Kenapa?" tanya Pak Roy bingung. "Tadi, aku memang sudah menghubungi asisten pribadiku ini untuk menjemput."


"Bukan masalah itu," ucapku. "Bapak lihat ke sana!"


Pak Roy menoleh ke arah yang aku tunjuk. Di mana terparkir mobil mewah Jan. Seketika Pak Roy terbelalak. Bergantian menatap mobilnya, kemudian mobil Jan, kemudian mobilnya, dengan bingung dan tak percaya.


"Sebuah kebetulan yang unik sekali ya, sama persis!"


"Ternyata kita punya selera yang sama, Pak!" ucap Jan.

__ADS_1


"Yah, sekarang aku mengerti," ucapku. "Aku yakin ini adalah bentuk kontak batin. Meski dulunya sama-sama tidak tahu, tapi tanda-tanda hubungan ayah dan anak ini sudah terlihat. Buktinya saat memilih mobil mewah untuk dibeli, pilihannya sama persis tanpa satupun perbedaan."


Pak Roy dan Jan kompak tertawa.


Maka begitulah siang itu berlalu. Kami bertolak meninggalkan bangunan lapas kota. Aku mengendarai sepeda motor kesayanganku, mengiringi dua unit mobil Chevrolet Camaro ZL1 warna biru garis putih yang bagaikan duo mobil balap kembar sedang parade di jalanan.


***


Esok harinya, pagi-pagi sekali aku berangkat ke kantor. Akhirnya setelah beberapa hari ini selalu sibuk, aku hadir juga ke kantor. Meskipun kali ini aku datang ke kantor bukan untuk mengurus pekerjaan. Bukan sebagai direktur lagi, melainkan sebagai mantan direktur yang hanya menjabat kurang dari seminggu. Aku datang untuk acara serah terima jabatanku dengan Jan. Peresmian direktur baru Korp. Masadepan. Secara hitam di atas putih, kami sudah menyelesaikan penyerahan jabatan direktur ini. Acara ini hanya sebagai simbolis saja. Tentang pergantian direktur ini, sudah disampaikan ke kantor sejak semalam dan telah menggemparkan seisi kantor. Terutama Hadni, dia yang paling terkejut dan syok akan hal ini. Namun, akhirnya masing-masing orang dapat menerima dan menghormati keputusanku serta menerima direktur baru mereka. Itulah mengapa hari ini diadakan acara serah terima jabatan ini.


***


"Inilah dia, sepatah dua kata dari mantan direktur kita, Tuan Renato!" ucap pembawa acara. Suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan aula kantor, tempat di mana acara ini berlangsung.


Aku bangkit dari tempat duduk. Naik ke atas panggung dan berdiri yakin di depan seluruh hadirin. Seluruh karyawan di perusahaan ini. Di barisan paling depan, ada Jan, Fitri, dan Pak Roy di sana. Mereka tersenyum bangga sekaligus haru menatapku.


"Selamat pagi, teman-teman!" sapaku.


"Ya, saya menganggap anda semua teman-teman. Anda semua adalah teman saya, sahabat saya. Bukan bawahan, apalagi anak buah. Jabatan yang tinggi, tidak membuat saya lebih mulia daripada siapapun. Jadi, saya hanya ingin menyampaikan terima kasih. Sekarang saya bukan lagi direktur, bukan siapa-siapa."


Hadirin hening.


"Mungkin ini akan mengejutkan untuk anda semua, tapi saya yakin harus menyampaikan ini. Saya harap, anda menghormati keputusan saya. Mungkin anda semua menganggap ini adalah pidato untuk serah terima jabatan. Sebenarnya iya, tapi ini lebih daripada itu. Pertama-tama, kepada sahabat saya, Tn. Jantoro, saya ucapkan selamat sukses untuk jabatan baru anda. Semoga Korp. Masadepan semakin berjaya di tangan anda. Saya yakin saya tidak salah memilih orang untuk mengemban tanggung jawab ini. Jadi, sekali lagi saya ucapkan, selamat dan terima kasih sebanyak-banyaknya."


Hadirin bertepuk tangan.


"Kedua, seperti yang saya sampaikan tadi, ini bukan sekedar pidato serah terima jabatan. Karena, ini juga merupakan pidato perpisahan. Perpisahan saya dengan anda semua."


Seketika hadirin bergemuruh. Masing-masing bergumam tak percaya.


"Ya, mungkin akan sangat mengejutkan. Saya sudah pernah bilang satu kali kemarin pada Pak Roy, bahwa saya ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini. Dan, itu benar. Hari ini saya tegaskan, saya mengundurkan diri dari perusahaan ini."


Hadirin bertambah bergemuruh. Mereka semua syok dan tak percaya. Termasuk Jan, Fitri, Pak Roy, apalagi Hadni. Mereka semua geleng-geleng kepala. Aku memang belum memberitahukan hal ini sebelumnya.


"Mungkin anda semua bertanya, kenapa? Alasan saya sederhana, saya ingin hidup sederhana. Sederhana. Saya tahu, saya sangat mencintai pekerjaan saya, dan saya senang bekerja di sini bersama orang-orang hebat seperti anda sekalian. Keputusan saya untuk mengundurkan diri, bukan artinya saya tidak lagi senang bekerja di sini atau saya ada masalah di sini. Hanya saja, selama ini saya terus bertanya setiap hari saya bekerja untuk apa? Untuk siapa? Setiap hari saya berlari kencang, tapi mengejar apa? Sebenarnya tujuan hidup saya apa? Kemewahan sudah saya dapatkan, tapi saya tak cukup tenang menjalani hidup. Sampai saya sadar, yang saya butuhkan adalah kesederhanaan. Jadi, saya bulatkan tekad untuk meninggalkan segala kemewahan ini. Saya akan hidup seperti orang biasa. Setelah ini, saya akan membuka bisnis kecil untuk menyambung hidup. Dengan kata lain, saya pensiun."


Hadirin masih belum tenang dari gemuruhnya, masih ribut.


"Usia tiga puluh tahun, mungkin terlalu dini untuk pensiun. Sebenarnya saya tidak benar-benar pensiun, melainkan mencoba hal baru. Saya hanya pensiun dari pekerjaan sebagai agen serba bisa yang mengurus banyak sekali persoalan perusahaan. Saya sudah merencanakan langkah saya selanjutnya, yakni saya akan membuka bisnis sendiri. Memulai dari nol, meniti dari tangga paling bawah. Berjuang merintis karir dalam dunia bisnis, sebagai 'direktur' dalam usaha yang saya dirikan sendiri. Bukan sekedar jabatan yang diwariskan. Dan saya tidak berencana membangun imperium bisnis kelas dunia atau perusahaan raksasa multinasional seperti Korp. Masadepan, tapi cukup sebuah usaha kecil yang penghasilannya mencukupi untuk kehidupan saya. Tentu anda semua mengerti. Intinya saya ingin hidup sederhana."


Aku jeda sejenak. Memperhatikan bagaimana mereka semua terpana dengan pidatoku. Bagaimana Hadni, Jan, dan Pak Roy berkaca-kaca menyerap makna dari kata-kataku.

__ADS_1


"Jadi, hari ini saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar Korp. Masadepan. Pak Roy, ayah angkat saya, direktur perusahaan yang telah membawa kita kepada masa kejayaan. Dani, pemimpin Tim Algojo. Hadni, sekretaris saya yang serba bisa dan paling penyabar. Dan seluruh staf terbaik perusahaan ini, yang saya tahu nama anda semua tapi tidak akan sempat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih telah memberikan banyak pengalaman berharga untuk saya. Saya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan hal ini. Saya senang, haru, dan sedih. Perjalanan saya di sini sangat panjang. Bertahun-tahun lamanya saya bersama-sama dengan anda di sini, dan perjalanan itu berakhir di sini. Pada akhirnya, kita berpisah. Atas segala yang pernah saya lakukan, mungkin kurang berkenan dan menyinggung, saya mohon maaf sebesar-besarnya."


Kali ini hadirin hening. Hening sekali. Bagai terhipnotis oleh kata-kataku. Semua mata terpaku.


__ADS_2